06 Oktober 2017

Merawat Kenangan Bersama Forgotten Colors

Edited by Me

"We are always remaking history. Our memory is always an interpretive reconstruction of the past, so is perspective." —Umberto Eco

Akhir-akhir ini, aku senang karena berteman dekat dengan periset sejarah. Nilai Sejarah waktu sekolah dulu tidak bagus-bagus amat tapi aku punya antusiasme tinggi akan apa yang terjadi pada masa lalu. Setelah diceritakan secara gamblang propaganda pemerintah akan Gestapu, beberapa hari lalu aku juga diberi tahu intrik-intrik Hari Sumpah Pemuda yang dicetuskan oleh Presiden Soekarno. Pada 28 Oktober 1928 adalah hari berlangsungnya Kongres Pemuda Kedua. Kongres tersebut tidak pernah menghasilkan keputusan apa pun. Apalagi menghasilkan tiga bait Sumpah Pemuda yang amat terkenal itu. Istilah Sumpah Pemuda baru dikenalkan pada masa pemerintahan Soekarno. Penuturan temanku itu didukung oleh artikel dari Inilah.com. Tulisan dua tahun lalu tersebut menjabarkan bahwa tidak ada dokumen dan bukti sejarah otentik perihal Sumpah Pemuda.

"History has been written by the victors." Adagium tersebut konon dilontarkan oleh Winston Churchill. Ada pula yang mengatakan itu sudah lebih dulu dinyatakan oleh Napoleon. Siapa pun yang mengungkapkannya, kita tidak bisa tidak setuju dengan hal tersebut. Lalu, apa hubungannya dengan "Forgotten Colors" karya Valiant Budi?

17 September 2017

Penerbit Indie dan Penerbit Mayor Jalan Berbarengan

Edited by Me

Saat berada di Jogja beberapa waktu lalu, aku sempat mengobrol dengan teman komunitas yang merupakan salah satu editor penerbitan di sana. Tidak ingat bahasan apa yang kami obrolkan waktu itu, tapi ada satu kepingan obrolan yang masing terngiang dalam benak. Aku bertanya tentang beberapa buku terjemahan dari penerbit-penerbit indie. Sepengetahuanku, beberapa penerbit indie tidak hanya menerbitkan terjemahan klasik yang hak penerjemahannya sudah jadi ranah publik (public domain), tetapi juga buku-buku yang baru belasan tahun lalu diterbitkan di negara asal mereka. Temanku itu mengatakan secara gamblang bahwa kebanyakan dari penerbit indie di Indonesia tidak memikirkan hak penerjemahannya. Mereka hanya terjemahkan dan terbitkan. Bukan lagi rahasia, hal yang sama pun disampaikan oleh Teddy W. Kusuma dalam acara Beranda Sastra #9 Sabtu kemarin.

***

Intermeso sebelum melanjutkan topik penerbit indie itu. Belakangan ini, aku kerap menayangkan hal-hal yang menurutku penting untuk dibagi melalui Instagram Story. Saat acara Beranda Sastra #9, aku membagikan poster acara dengan catatan tambahan: "kalo nggak baca buku, nulis tentang buku, ya datang ke acara buku". Tak berapa lama, seseorang berkomentar "flat life". Di situ saya tertohok. Saya tahu dia, dia bahkan juga suka membaca. Mungkin itu adalah sikap impulsifnya. Atau mungkin dia bercanda. Banyak pengandaian yang saya pasang untuk mengurungkan rasa benci saya. Tapi, tidak bisa. Saya membalas, "Emang hidup lo nggak flat?"

Saking terpikirkannya pernyataan itu, saya sampai membagikan percakapan itu di Instagram Story. Beberapa teman pembaca meresponsnya. Seorang menimpali, "Kalau saya sih hidupnya round. Saya nggak percaya yang flat-flat. Apalagi flat earth." Sungguh respons yang bikin sedikit tergelak. Teman lain berujar, "Nggak tau sensasinya mungkin yang komentar, Raaf." Yang lain lagi berkata, "Kupikir itu malah seru banget. Beda orang beda kesukaan sih." Sampai pada pernyataan itu, aku diingatkan kembali betapa membaca buku adalah hobi. Sama dengan aku yang tidak hobi makan, rekan kerja saya itu juga tidak terlalu suka membaca. Satu respons terakhir dari seseorang yang menggenapi pernyataan sebelumnya: "balas gini aja, 'If I'm living pursuing things I like and love, how could it be flat?'" Lalu, apa intinya? Aku hanya ingin berbagi pengalaman saat suatu hal yang kamu sukai dinilai "flat life". Jadi, bijak-bijaklah dalam berkomentar.

13 September 2017

Mentertawakan Hidup Bersama Belajar Lucu dengan Serius

Judul : Belajar Lucu dengan Serius
Pengarang : Hasta Indriyana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2017
Dibaca : 12 September 2017 (via SCOOP)
Rating : ★★★★

"O, maaf, bagaimana kalian akrab
Dengan maaf? Apakah kalian
Teman-teman maaf?"

—Teman-Teman Maaf  (hal. 29)

Halo! Apa kabar, kawan? Menjadi orang yang punya resolusi dan harus menyesuaikan diri dengan keinginan tersebut sungguh melelahkan ya. Resolusi tahun ini untuk mempos ulasan lebih sering ternyata, bisa dibilang, gagal total. Tapi setidaknya, aku berusaha melakukannya minimal sekali sebulan. Tentu aku tidak menganggap resolusi dan menggenapinya adalah hal yang enteng. Malah aku hampir bertanya-tanya kenapa aku semakin jarang menulis padahal itulah keahlian yang seharusnya lebih banyak diasah. Bagaimana bisa terampil bila tidak dilakukan secara rutin dan kontinu? Lihat betapa hal itu harus dipikirkan. Aku tidak bisa tidak mengindahkan apa saja yang kuhadapi lebih-lebih masalah yang datang. Segalanya harus dipikirkan matang-matang. Rencana hari ini harus benar-benar jelas, harus ditulis di secarik kertas, agar tidak terlewat. Kalau tiba-tiba masalah datang, aku harus memiliki banyak jurus untuk menghadapinya dan menyelesaikannya.

Pandangan diriku yang kaku dan serius ditonjok begitu saja oleh "Belajar Lucu dengan Serius". Dinding kekakuan itu penyok dan membuatku harus cepat-cepat memilih jurus yang tepat untuk memperbaikinya. Itu yang seharusnya kulakukan. Tapi, dinding penyok itu sedikit demi sedikit kubiarkan. Toh hanya penyok kan? Tidak runtuh seluruhnya. Aku tidak bisa menjadikannya seperti semula. Pun ketika diperbaiki, pasti tidak akan sempurna seperti sedia kala. Aku hanya butuh membiarkannya, menerimanya, dan melanjutkan apa yang seharusnya kukerjakan. Atau bisa saja aku membuatnya lelucon. Atau membuat gambar dari hal penyok itu. Perlu rasanya untuk menertawakan diri sendiri bak Gusdur. Atau "menikmatinya dengan ringan sebagaimana punakawan" seperti yang disampaikan Hasta.

22 Agustus 2017

Ulasan Buku: AndaiKita + Giveaway

Edited by Me

Seorang penulis yang didiagnosis mengidap skizofrenia, Pamela Spiro Wagner, sempat menulis puisi berjudul How to Read a Poem: Beginner’s Manual. Puisi yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Hasan Aspahani itu menyiratkan bahwa membaca puisi tidak perlu keahlian khusus. Bagai membaca jenis bacaan lain, membaca puisi ya hanya membaca saja tanpa perlu risau bingung atas apa maksud penyair dalam puisinya atau bagaimana menginterpretasikan puisi-puisi tersebut. Wagner juga menulis: Jangan anggap makna bersembunyi menghindarimu: / Makna puisi terbaik ada dalam apa yang terkatakan padanya. Tidak lagi menyiratkan apa yang harus dilakukan, ia benar-benar menyuratkan secara gamblang untuk membaca saja. Di akhir sajaknya, Wagner mengingatkan: Bila kau bisa menyebut lima nama penyair / tidak termasuk Bob Dylan, / dan bahkan kau melebihi jumlah itu / tanpa kau menyadarinya, / maka berhentilah membaca manual ini. Kamu bisa membaca puisi lengkapnya di sini. Jadi, baca sajalah puisinya!

Begitulah yang kulakukan ketika membaca setiap buku puisi yang ada di hadapanku. Aku mengerti dengan apa yang ingin disampaikan oleh Wagner. Bahwa banyak dari pembaca yang ogah-ogahan untuk membaca puisi karena merasa khawatir bila apa yang dibacanya tidak dapat dimengerti. Bahwa banyak di antara mereka yang masih mencari-cari arti dan maksud dari puisi-puisi karangan sang penyair. Apalagi bila diksinya asing dan berbunga-bunga yang sebenarnya sudah sewajarnya. Padahal, kalau mengesampingkan hal-hal tersebut, puisi-puisi itu akan habis dibaca. Benar butuh waktu dan suasana yang tepat ketika membaca puisi, karena aku pun begitu. Jika kamu salah satu yang merasa seperti itu, ciciplah buku puisi yang satu ini. Mungkin kamu akan berubah pikiran.

21 Agustus 2017

Ulasan Buku: Lady Susan

Judul : Lady Susan
Pengarang : Jane Austen
Penerbit: Qanita
Tahun : 2016
Dibaca : 14 Juni 2017
Rating : ★★★

"Aku hendak memintamu, Alicia sayang, untuk memberiku selamat: aku kembali menjadi diriku sendiri, ceria dan berjaya!" (hal. 87)

Pada pos sebelumnya, aku bertekad mengejar ketertinggalanku dalam mengulas buku-buku yang kubaca sejak Juni lalu. Dan, tahukah kamu bahwa hal ini sungguh jadi beban berat? Aku tetap membaca buku-buku namun keinginan untuk mengulas masih stagnan alias tidak ada kemajuan. Hal itu mengakibatkan tumpukan buku-buku-yang-sudah-dibaca-tetapi-harus-diulas semakin meninggi. Aku coba mencari-cari penyebab atas kemunduranku yang satu ini. Yang paling bisa diterka adalah waktu kerjaku yang terlalu fleksibel tapi kurang disiplin. Selain itu, juga karena kerjaanku sekarang menuntut harus dilakukan tanpa cela sehingga memerlukan fokus tinggi. Apalagi pekerjaannya adalah menulis. Serasa semua konsentrasiku harus tertuju pada pekerjaanku saja tanpa memikirkan rutinitasku yang lain, seperti menulis ulasan buku.

Pos kali ini adalah ulasan novel klasik yang selesai dibaca pada minggu kedua bulan Juni lalu. Lady Susan adalah karya Jane Austen pertama yang kucicipi. Membelinya karena sangat ingin baca karya penulis klasik wanita termasyhur ini namun yang tidak tebal-tebal amat. Memang, bukunya tidak kurang dari 130 halaman. Dan membaca buku ini sungguh menyenangkan. Aku membayangkan cerita ala-ala sinetron yang dibuat pada masa silam dengan latar kehidupan orang-orang borjuis. Mereka yang selalu mengenakan gaun-gaun menggembung dan tuksedo-tuksedo dengan celana yang tingginya di atas mata kaki.

***

Susan Vernon atau biasa kalangan atas memanggilnya Lady Susan sedang berkabung atas kematian suaminya. Bersamaan dengan itu, ia yang selalu hidup dalam gelimangan harta tidak mau berlama-lama meratapi nasib dan harus mencari suami baru yang kaya raya untuk dirinya sendiri dan untuk putrinya, Frederica. Keinginan yang menggebu-gebu ditambah kecantikannya yang tidak bisa ditolak oleh para laki-laki menimbulkan rumor buruk di masyarakat London. Lady Susan membawa Frederica terpaksa pindah ke rumah adik iparnya di desa untuk sementara waktu untuk meredakan rumor yang mengintainya. Apakah tujuan utamanya dalam mencari pasangan baru membuahkan hasil mengingat ia harus pindah ke tempat lain? Bagaimana dengan Frederica yang juga sebenarnya sudah harus mencari pasangan untuk dirinya sendiri?