31 Desember 2016

Kaleidoskop 2016: Sajian Singkat Aneka Peristiwa Perbukuan yang Menimpaku

Edited by Me

Aku masih ingat saat Guru Matematika di sekolah dulu memberi cara mudah menentukan tahun kabisat. "Bagikan saja dengan empat. Bila hasilnya bulat, maka tahun tersebut adalah tahun kabisat." 2016 termasuk salah satunya. Dan tahukah kamu bahwa pada 31 Desember 2016, setiap jam komputer di seluruh dunia secara bersamaan akan bertambah 1 detik. Jadi, setelah pukul 23:59:59 waktu akan bertambah jadi 23:59:60 baru kemudian masuk 1 Januari 2017. Ini disebabkan fenomena leap second (lompatan detik) atau detik kabisat. Detik kabisat merupakan sebuah gejala alam yang menyebabkan durasi rotasi bumi bertambah 1 detik. Lalu, kenapa aku membicarakan tahun kabisat dan jam di dunia yang akan bertambah 1 detik?

Yah, hal-hal seperti tahun kabisat atau penambahan waktu 1 detik sangat jarang terjadi bukan? Aku hanya mengorelasikannya dengan poin-poin berikut; hal-hal yang aku pikir hanya terjadi pada tahun 2016 dan tidak terjadi pada tahun-tahun sebelumnya atau akan berbeda pada tahun-tahun berikutnya. Lalu, kalau tahun lalu menggunakan istilah Year End Recap, tahun ini aku pakai kata Kaleidoskop. Selain untuk ada pembaruan, aku tidak begitu suka dengan hal-hal yang monoton. Dan yang pasti: lebih sesuai dengan poin-poin berikut.

30 Desember 2016

Kenangan Tentang SCOOP Agar Tidak Lekas Pudar

Edited by Me
Hal yang umum jika setiap orang yang kautemui selalu bertanya tentang apa dan di mana kau bekerja. Tidak terkecuali aku. Selama sembilan bulan ini menjawab apa dan di mana aku bekerja, hampir selama itu jugalah aku menerima respons, "Oh, SCOOP yang jual aksesoris itu? Yang di mal itu?" Saat itulah aku tahu bahwa aku akan selalu mendapat respons yang sama dari sebagian besar orang yang bertanya hal yang sama pula. Diawali tawa, dengan antusias, aku menjabarkan tempat kerjaku. "Hahaha. Bukan. SCOOP yang ini merupakan aplikasi untuk membaca buku, majalah, dan koran secara digital melalui gawai." Lalu, aku akan panjang lebar menjelaskan secara detail tentangnya. Dan ketika aku sudah merasa SCOOP sebagai anak kandung bandel yang selalu merajuk ingin selalu diperhatikan, aku harus merelakannya. Menyerahkannya kepada mereka yang aku yakin akan betul-betul memperlakukannya sama dengan yang kulakukan.

Sebenarnya tidak terpikir akan menulis tentang apa untuk yang satu ini. Sepertinya hanya sebuah ego sesaat yang sulit untuk dilepaskan dan menjadi semacam keharusan untuk menuliskannya agar kenangan yang terjadi selama sembilan bulan ini tidak pudar. Jadi, mungkin aku akan memberikan hal-hal menarik tentang SCOOP menurut versiku sendiri. Sudah siap untuk bukaan kartuku?

26 Desember 2016

Alasan Memilih untuk Tidak Menikah dalam Elegi Rinaldo

Edited by Me

Apa yang kamu pikirkan saat mendengar kata ‘menikah’? Sebagian besar orang pasti akan berkeringat dingin saat membicarakannya. Pernikahan memang bukan hal main-main. Bukan hanya merasa bahagia lalu mengucap janji suci, namun juga soal ketulusan yang besar untuk hidup bersama sampai ajal. Siapkah dengan semua itu? Saking rumitnya, sebagian orang memilih untuk tidak dekat-dekat dengan kata 'menikah'. Membicarakannya saja tidak mau, apalagi mencari pasangan untuk diajak hidup bersama.

Tentu mereka beralasan. Alasan kebanyakan adalah mereka ingin mengejar kariernya dulu dan tidak mau buru-buru. Sebuah badan riset di Amerika Serikat melakukan survei komparasi rata-rata tahun orang-orang menikah pada dua masa yang berbeda. Hasilnya menyebutkan bahwa pada 1980, rata-rata pria menikah adalah umur 25 tahun dan wanita 22 tahun. Sedangkan pada 2011, rata-ratanya meningkat; untuk pria adalah 29 tahun dan 27 tahun untuk wanita. Hasil tersebut memberikan konklusi bahwa orang zaman sekarang tidak ingin buru-buru untuk menikah dan menjadi orang tua. Alasan yang masuk akal kan? Lalu, apa alasan lainnya seseorang memilih untuk tidak menikah?

22 Desember 2016

Kemenangan Tunggal Sayembara Novel DKJ 2016 Ingatkan Kembali Memori Tahun 2008

Edited by Me

Aku tidak pernah mengantisipasi "Tanah Tabu" sebelumnya. Membelinya hanya karena label 'Pemenang I Sayembara Novel DKJ 2008' yang terpampang pada sampul depan. Sampai pada Minggu lalu Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) mengumumkan pemenang sayembara yang telah diselenggarakan sejak Juni bertajuk 'Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016'. Lalu, muncullah nama Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie sebagai pemenang pertama sekaligus pemenang satu-satunya pada tahun ini. Usut punya usut, hal yang sama terjadi pada 2008 yang "Tanah Tabu" dinobatkan sebagai pemenang. Pada tahun itu juga tidak ada pemenang kedua dan ketiga.

Keriuhan kemenangan satu-satunya Ziggy dengan naskahnya yang berjudul "Semua Ikan di Langit" membuat orang-orang bertanya-tanya betapa juri gegabah untuk tidak memilih pemenang kedua dan ketiga. Seperti yang diwartakan Tempo.co, para dewan juri yaitu Bramantio, Seno Gumira Ajidarma, dan Zen Hae beralasan adanya perbedaan mutu yang tajam antara pemenang pertama dan naskah-naskah lainnya. Lalu melalui laman resmi DKJ, dewan juri menjabarkan secara runut pertanggungjawaban terpilihnya satu naskah saja sebagai pemenang. Penjelasan ini tentu memberikan napas lega bagi 300-an pembuat naskah lainnya dan mereka yang bertanya-tanya.

Perbedaan mendasar dari kemenangan "Tanah Tabu"-nya Anindita S. Thayf dan "Semua Ikan di Langit" adalah maraknya pemberitaan yang beredar di media cetak maupun daring. Seperti memberikan gambaran bahwa sekarang ini orang-orang sudah pada melek sastra. Setidaknya melek bacaan yang bagus. Atau melek internet. Yah, pokoknya melek tentang pemberitaan semacam ini lah. Jujur, aku susah mencari artikel seputar kemenangan "Tanah Tabu" melalui mesin pencarian. DKJ pun tidak mewartakan apa pun pada laman resminya tentang kemenangan tunggal "Tanah Tabu". Hanya Wikipedia saja yang memberikan data yang—semoga—benar. Apakah pada 2008 lalu internet masih menjadi hal yang susah digapai? Terkumpulnya rasa penasaran itulah yang membuatku ingin gegas menyelesaikan "Tanah Tabu".

Sebenarnya, fenomena kemenangan tunggal Sayembara Novel DKJ 2016 juga pernah terjadi pada 2012—malah sama persis. Kala itu, "Semusim, dan Semusim Lagi" menjadi jawara tunggal yang diikuti empat naskah lainnya sebagai unggulan. Namun, karena sudah membacanya, aku menyangkutpautkannya dengan "Tanah Tabu" yang belum kujamah. Toh mereka sama-sama pemenang tunggal dan kupikir ini waktu yang tepat untuk mengingat kembali kemenangan pada 2008 lalu melalui kisahnya.

17 Desember 2016

Ulasan Buku: Selestia dan Penjara Teka-Teki

Judul : Selestia dan Penjara Teka-Teki
Pengarang : Yozar Firdaus Amrullah
Penerbit : Buah Hati (imprint Lentera Hati)
Tahun : 2016
Dibaca : 12 Desember 2016
Rating : ★★★★

Usai gelaran Festival Pembaca Indonesia yang menobatkan stan PNFI sebagai "Booth Terheboh", seseorang mendatangi kami dan menawarkan buku karyanya untuk diulas. Seketika itu juga memoriku menyelusup ke beberapa buku karya teman-teman lain yang sudah kudapatkan namun belum kubaca dan kuulas. Aku langsung berkata jujur padanya bahwa aku tidak bisa dengan segera membaca dan mengulas karyanya. Katanya bukan masalah dan tetap memberikannya padaku. Keesokan harinya, aku yang penasaran dengan gambar sampul depan dan sinopsis sampul belakangnya, memberanikan diri untuk membuka segel dan mulai membaca. Tak berapa lama, aku sudah terhanyut dalam cerita dan merasa yakin untuk menyelesaikannya pada hari itu juga.

***

Selestia sedang mencari jawaban dari rubrik teka-teki di majalah "Pelangi" ketika ibunya pulang membawa buku rapor kelas VII miliknya. Selestia tidak masuk sekolah karena hari itu adalah hari pengambilan rapor dan orang tua yang harus mengambilnya. Setelah memberi tahu bahwa Selestia naik kelas dengan nilai memuaskan, ibunya memberikan berita yang tidak mengenakkan. Janji kedua orang tuanya untuk jalan-jalan sekeluarga ke Singapura saat liburan kenaikan kelas harus batal karena kesibukan yang mendera kedua orang tuanya. Sebagai gantinya, Selestia ditawari untuk berlibur di rumah Tante Suryani di desa. Dan menurut Selestia itu bukan ide yang buruk.

Berlibur di desa tempat tinggal Tante Suryani tidak mengecewakan Selestia. Ia bisa bermain bersama Raka, anak Tante Suryani yang sekaligus sepupunya. Raka juga ternyata memiliki beberapa teman yang seru-seru juga. Ada Herman yang bertubuh tambun, Mutun yang berkacamata, dan Nori yang selalu berdandan menor. Suatu hari mereka bermain layang-layang. kelelahan serta kelaparan setelah bermain mendera mereka. Untungnya datanglah Pak Lik Sarlito yang menjajakan jajanan pasar khas desa, seperti nagasari, onde-onde, gemblong, dan semar mendem.

Jajanan pasar yang enak itu dibuat oleh seorang nenek yang tinggal di dalam hutan bernama Nenek Gayatri. Usut punya usut, sang nenek tinggal sendirian dan tidak ada yang membantu pembuatan jajanan pasar tersebut. Sebuah hal yang mustahil dan perlu diselidiki. Dengan penuh rasa ingin tahu, Selestia dan teman-temannya mengunjungi rumah Nenek Gayatri di dalam hutan. Sayangnya, sang nenek sedang tidak ada di rumah. Lalu apa yang akan dilakukan Selestia, Raka, Herman, Mutun, dan Nori?