05 September 2013

Koin Terakhir

Sampul
Judul : Koin Terakhir
Pengarang : Yogie Nugraha
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun : 2013
Dibaca : 4 September 2013
Rating : ★★

Sempat terkejut karena jalan ceritanya sangat mirip dengan Digital Fortress-nya Dan Brown.

Kisah ini menceritakan benda yang sangat berpengaruh bagi stabilitas negara yang berpindah tangan. Seseorang yang pandai dari Badan Intelejen Negara (BIN), Zen Wibowo, harus mencarinya hingga dia harus berpindah-pindah negara untuk mencari orang yang memegang benda itu. Bedanya, benda yang dicari dan negara mana yang sedang mencari.

Perbedaan lainnya adalah ada kelompok lain yang juga mencari benda itu; konspirasi yang ada di Indonesia untuk menentang kapitalisme negeri Barat. Mulia, namun cara yang dipakai itu salah.

Kita diberikan pengetahuan tentang Badan Intelejen Negara Indonesia dan teori Karl Marx tentang kapitalisme. Sedikit rumit dan sulit dipahami, tapi usaha yang bagus. Sedikit menambah perbendaharaan pengetahuan bagi mereka yang haus ilmu.

Oh ya, satu lagi, tentang setting cerita yang berpindah-pindah, aku acungkan jempol. Perancis, Spanyol, Italia, Inggris dan Rusia sangat digambarkan dengan baik oleh penulis. Sepertinya penulis benar-benar tahu bagaimana kondisi negara-negara di Eropa itu, walaupun hanya satu kota per negara. Jarang ada penulis lokal yang bisa mengetahui seluk-beluk lokasi cerita yang berada di luar negeri. Bilapun ada, itu sangat dipaksakan. No offense!

Setelah membacanya, masih banyak hal-hal yang tidak dilanjutkan; seperti siapa kelompok itu? Dan bagaimana dengan Zen yang akan melangsungkan pernikahannya? Aku harap ada sekuelnya untuk melengkapi cerita yang masih bolong-bolong ini. Good effort bagi penulis Indonesia!

01 September 2013

Unwind

Sampul
Judul : Pemisahan Raga
Judul Asli : Unwind
Pengarang : Neal Shusterman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2013
Dibaca : 31 Agustus 2013
Rating : ★★★★★

Sampulnya keren ya... Seger kayak buah jeruk yang baru dipetik. Beda banget sama sampul asli yang diterbitkan oleh Simon & Schuster Books.

Wow! Bahkan ketika jumlah halaman tidak lagi penting, kau akan terus membaca ketika jalan ceritanya begitu memikat. And, I felt that! Sangat disayangkan karena harga novel yang tidak murah harus aku baca dengan sangat cepat. Tapi apa? Itu berarti aku sangat menikmati ceritanya bahkan ingin cepat-cepat sampai di bagian akhir cerita.

Sampul yang Serem
Okay, hold on! Aku akan berbagi tentang ide cerita. Entah penulis yang begitu cerdas mengalun kata atau karena penulis memang sangat melihat peluang dalam satu masalah kecil yang bahkan tak seorangpun ingin mengangkatnya menjadi suatu kisah pelajaran. Mungkin penulis sungguh orang yang sangat peduli dengan lingkungan dengan sosialnya karena penulis memilih pemisahan raga yang selama ini, di dunia nyata, menjadi hal yang tabu dan sangat rahasia.

Apa itu pemisahan raga? Singkatnya, mereka adalah orang atau oknum yang menjual organ-organ dalam tubuh mereka kepada para pembeli yang membutuhkan hidup.See? Itu sangat umum, bahkan di Indonesia praktek semacam itu banyak diberitakan. Jadi itu kisah nyata.

Nah! Dari ide cerita atau ide penulisan atau apapun itu namanya, penulis membuat sendiri kisah tentang suatu kondisi dunia ketika pemisahan raga itu dilegalkan dan diatur. Tapi para korban adalah para anak-anak di bawah 18 tahun. Ketika ada peraturan, pasti ada pelanggaran. Itulah yang dilakukan Connor, Risa, dan Lev. Mereka berpikir bahwa bertahan hidup itu perlu dan mati memang tidak dengan seperti itu.

Aku mulai menyukai gaya penulisan om Neal ketika tiga narasi dari tiga bocah itu dipertemukan dalam satu waktu. Padahal sebelumnya masing-masing dari mereka meiliki narasi yang berbeda. Dan itu mengagumkan! Tiga narasi digabungkan dalam satu waktu. Oh, mungkin kalian belum mengerti maksudku, tapi kalian akan mengerti pada waktu membacanya. Dijamin!

Sayang sekali, gaya penulisan yang begitu memikat harus dibayar dengan tulisan yang masih ada salahnya. Aku bisa menghitung paling tidak ada lima kesalahan, walaupun tidak terlalu fatal, namun sangat mengganggu dan membuat jalan cerita menjadi berbeda sehingga aku harus membaca ulang di bagian itu. Ayolah, para editor, bekerjalah lebih keras!

Secara keseluruhan, novel ini: juara! Kalian harus membacanya! Walaupun bukan merujuk ke novel fantasi, namun gaya ceritanya hampir sama: rencana, petualangan, hal yang baru, dan akhir yang mendebarkan. Oh, tunggu. Bicara tentang akhir, aku sangat berharap seri selanjutnya cepat diterjemahkan dan diterbitkan.

Aku mengambil beberapa teori yang kukutip dari isi novel:
1. Teori Mengibaskan Tangan di Atas Api oleh Hayden (halaman 149).

“Api cuma bisa membakar tanganmu kalau kau bergerak terlalu pelan. Kau bisa memainkannya semaumu dan tak akan pernah terbakar, asal kau cukup cepat. Semua orang memang tahu hasilnya, tapi tak ada yang tahu cara kerja pemisahan raga. Aku kepingin tahu bagaimana prosesnya. Apakah seketika itu juga, atau mereka menyuruhmu menunggu? Apakah mereka memperlakukanmu dengan baik, atau malah tak acuh?”

2. Teori Jiwa dan Cinta oleh Diego (halaman 237).

“Seseorang tak punya jiwa sampai dia dicintai. Jika seorang ibu mencintai bayinya, menginginkan bayinya, bayi itu mendapat jiwa sejak ibu mengetahui kehadirannya. Saat kau dicintai, itu saat kau mendapat jiwa.”

Aku yakin itu bukan spoiler karena tidak ada hubungannya sama sekali dengan jalan cerita, hanya sebagai perenungan pembaca. Dan aku harus menuliskannya untuk diriku sendiri, tentu saja. Juga untuk kalian yang mungkin, akan sangat ingin tahu setelah membaca review ini. Tertarik? Jangan bengong saja di situ! Lari ke toko buku, beli dan baca!

25 Agustus 2013

Delirium

Sampul
Judul : Delirium
Pengarang : Lauren Oliver
Penerbit : Mizan Fantasi
Tahun : 2012
Dibaca : 25 Agustus 2013
Rating : ★★★


Akhirnya selesai juga menghabiskan satu buku ini. Butuh waktu yang lumayan lama untuk membacanya. Berapa lama? Berapa lama? Hampir dua bulan! Wow! *Standing-ovation*

Kenapa begitu? Karena aku berpikir cerita ini begitu feminin, terlalu banyak drama dan bertele-tele. Mengingat tokoh utama adalah seorang wanita dan sang penulis adalah seorang wanita membuatnya menjadi “lebih mengerti wanita” atau “cewek banget.” Entahlah, aku selalu berpikir bahwa penulis wanita itu lebih berhati-hati dan berlaku sempurna dalam menulis. Tapi hal itu malah membuat hasilnya terlalu kaku. Sorry to say that!

Jalan ceritanya sebenarnya menarik, yaitu tentang suatu kondisi dunia dimana cinta adalah hal yang terlarang. Penyakit mematikan. Sungguh mengerikan. Oh, ayolah!

Hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga…
Oh begitulah kata para pujangga…
(sing a song)


Dan memang, lagu itu benar. Coba pikirkan: bagaimana bisa kita menikah, menjalin hubungan suami-istri, dan memiliki anak hanya dengan suatu prosedur tanpa ada rasa saling cinta? Prosedur. Semacam hal yang telah menjadi peraturan dan harus dipatuhi seluruh manusia.

Namun sebagian dari mereka membangkang. Mereka menganggap bahwa cinta adalah hal yang lumrah dan setiap manusia memang harus memilikinya. Mereka disebut Simpatisan. Selain itu, untuk mereka yang terinfeksi virus cinta harus dikeluarkan dari wilayah Negara, diasingkan ke luar perbatasan. Mereka disebut Invalid. Menarik ‘kan ide ceritanya?

Kondisi seperti itulah yang tengah dirasakan oleh Lena, seorang gadis 17 tahun yang hidup bersama bibinya karena kedua orang tuanya telah tiada. Ayahnya meninggal dan ibunya dibunuh karena tidak dapat disembuhkan dari cinta. Invalid. Hingga suatu saat Lena bertemu dengan Alex yang begitu mencintainya. Romantis bukan? Selanjutnya baca sendiri ya….

Overall, novel ini menyuguhkan kisah fantasi yang berbeda dari cerita-cerita lain. Ide ceritanya keren! Ending cerita pun sungguh mendebarkan. Membuat para wanita menangis dan teriak histeris. (Oh, come on, Dude!) Menarik pembaca untuk meneruskan kisahnya di seri selanjutnya: Pandemonium.

Namun sayang, terlalu banyak narasi dan sedikit dialog membuat pembaca menjadi bosan, jenuh, dan lelah. Seperti ingin tidur saja. Serius. Aku mengalaminya sendiri.Hahaha

Di setiap kisah pasti ada pelajaran yang didapat. Aku mempelajari tentang bagaimana tekad yang kuat harus dibarengi dengan tindakan yang tepat. Bagaimana bisa kita mencintai seseorang tanpa berkorban untuk mendapatkannya? Intinya sih, berkorban demi dia yang kamu cinta.

Aku mengambil sedikit kutipan di akhir novel ini:

“Tapi, aku punya sebuah rahasia. Kau bisa saja membangun tembok setinggi langit dan aku akan selalu menemukan cara untuk melompatinya. Kau bisa saja mengimpitku dengan ratusan ribu lengan, tapi aku akan menemukan cara untuk melawan."

See? So mellow! So poetic! So beautiful! Ya’all have to read it, Ladies! Tapi tidak untuk para lelaki macho dengan brewok dan kumis yang tebal. Ini terlalu feminin! Ini terlalu tidak cocok!

02 Agustus 2013

The Immortals of Meluha

Sampul
Judul : The Immortals of Meluha
Pengarang : Amish Tripathi
Penerbit : Mizan Fantasi
Tahun : 2013
Dibaca : 1 Agustus 2013
Rating : ★★

Ayurvati. Brihateshpuram. Chenadhwaj. Chitraangadh. Vishwadyumna.

Nama-nama tersebut sempat membuatku mengeja dua kali karena gabungan huruf yang terlalu asing untuk digunakan. Sempat pula membuatku tergelak karena aneh dan uniknya nama-nama itu.

Masih banyak lagi keunikan yang ditampilkan dalam novel ini. Ditampilkan? Ya. Novel ini menceritakan tentang kerajaan yang berasal di tanah India. Mengetahui hal itu, aku berpikir tentang sinetron-sinetron laga yang ditampilkan di televisi swasta nasional. Lucu sekali.

Jujur, awalnya, bahkan sampai pertengahan membaca, aku tidak berselera karena cerita yang begitu biasa, mudah ditebak dan twist yang terlalu “aman”. Mungkin cerita kerajaan memang seperti itu. Itu berarti aku tidak terlalu tertarik dengan genre novel fantasi macam ini. Menyedihkan.

Masuk ke cerita: Shiva adalah lelaki kekar biasa yang memimpin kerajaan kecil biasa. Kerajaannya memiliki musuh yang selalu menginginkan wilayahnya, sampai berperang merupakan hal yang biasa. Suatu cerita kehidupan kerajaan yang sangat biasa. Dan, bisakah aku berhenti menulis kata biasa? Oh, ayolah… Ceritanya memang biasa saja.

Sampai suatu saat, ada utusan dari kerajaan lain yang memberi tawaran Shiva dan penduduknya untuk berpindah karena wilayahnya yang selalu tidak aman dan penduduknya yang semakin sedikit karena terus menerus berperang melawan musuh. Shiva terus dipusingkan oleh kerajaannya yang di ujung tanduk. Apakah Shiva menerima atau menolak? Apa pula tujuan utusan kerajaan itu hingga secara tiba-tiba mereka berbaik hati menawarkan kerajaan lain untuk “bergabung” dengan kerajaan mereka?

Pada akhirnya, kisah ini begitu menarik. Dilihat dari perjalanan hidup Shiva dari seorang lelaki kekar biasa yang memimpin kerajaan kecil biasa menjadi seorang Mahadewa, bisa dibilang novel ini menjadi salah satu novel perjuangan terbaik.

Hanya saja, dalam konteks penulisan cerita, novel ini begitu salah kaprah. Tak ada sudut pandang yang jelas. Dalam satu adegan saja, misalnya, dua tokoh dapat mengetahui tentang isi cerita. Itu membuat pembaca kebingungan. hal itu mungkin dikarenakan novel terjemahan dari Bahasa Inggris dan yang berbahasa Inggris adalah terjemahan dari Bahasa India menjadikan konteks penulisan menjadi kacau-balau. Mungkin. Salah satu yang saya tidak suka dari novel terjemahan: cerita menjadi berbeda karena diterjemahkan ke bahasa berbeda.

Baiknya, hanya ada satu kelemahan. Secara keseluruhan novel ini begitu apik memberi tahu tentang peradaban India. Para dewa-dewi, berbagai sungai suci, hingga pakaian yang dikenakan tergambar secara detail dalam cerita.

Mengingat ini merupakan novel berseri, novel ini sangat bisa menarik minat pembaca untuk mengambil seri selanjutnya di rak toko buku, dan yang pasti membayarnya. Akhir yang “menggantung” menambah pembaca untuk menyisihkan sebagian uang jajan mereka untuk membeli seri selanjutnya.

Akhir kata, novel ini sangat direkomendasikan untuk mereka yang suka dengan cerita klasik dilatari kisah kerajaan; para pejuang sejati, mungkin. Kesetiaan, keberanian, dan perjuangan adalah pembelajaran tersirat dari cerita Sang Neelkanth ini. Sang Neelkanth? Siapa dia? Kau harus membaca untuk mengetahuinya!

20 Juli 2013

A Thousand Splendid Suns

Sampul
Judul : A Thousand Splendid Suns
Pengarang : Khaled Hosseini
Penerbit : Qanita
Tahun : 2010
Dibaca : 19 Juli 2013
Rating : ★★★★

Bicara tentang cerita kehidupan, novel ini sangat lengkap mengalunkan kisahnya. Hal-hal seperti penderitaan dan pengorbanan sangat jelas terasa dalam novel ini. Juga tentang kebahagiaan dan indahnya cinta kasih terhadap sesama tergambar jelas di dalamnya.

Dilatari negeri Afghan yang tandus, kisah ini menyuguhkan berbagai dampak kekejaman perang dan lelaki di sekitarnya. Dua wanita Afghan mencoba bertahan dalam dentingan suara tembakan dan kerasnya suami mereka.

Diceritakan dengan begitu mendetail, pembaca diajak mempelajari sejarah Afghanistan yang kelam dan penuh kekejaman dengan lika-liku penderitaan korban perang selama lebih dari tiga dekade. Pembaca juga diperkenalkan dengan agama Islam yang sangat berpengaruh di negara itu.

Pada akhirnya kisah ini memberikan begitu banyak balasan indah atas segala bentuk pengorbanan yang dilakukan dan penderitaan yang dirasakan. Tak ada yang lebih berguna selain menjadi orang yang memberi pengaruh besar dalam hidup seseorang hingga akhir hayat. Dan memang benar, setelah kesulitan itu pasti ada kemudahan.

Kisah fiksi yang begitu nyata! Mengajarkan pembaca tentang pentingnya arti cinta dan kasih antar sesama manusia. Dan yang terpenting arti cinta dan kasih dengan Sang Pencipta.