Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri rick riordan. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri rick riordan. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

16 Oktober 2013

The Kane Chronicles

Lagi, aku merangkum ulasanku tentang satu serial novel terbaik menurutku dan menurut penggemar fantasi, I guess.

Kali ini giliran karya penulis ternama favoritku, Rick Riordan yang mengambil tema mitologi Mesir dengan dewa-dewi yang khas. Kekhasan itu dicampur dengan cerita dua kakak-beradik yang ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia di masa modern.

Seperti biasa, om Rick menguntai setiap kalimat dengan bijak dan mudah dipahami, mengingat novel ini ditujukan bagi anak-anak sekolah. Berikut review singkat trilogi Kane Chronicles.

***
Sampul
Judul : The Red Pyramid
Pengarang : Rick Riordan
Penerbit : Mizan Fantasi
Tahun : 2011
Dibaca : 7 September 2013
Rating : ★★★★


Memang sudah sepantasnya karya om Rick Riordan ini mendapat applause yang membahana. Tak ada yang meragukan kekuatan modern dengan kisah mitologi jaman dahulu tentang dewa-dewi Yunani dan Romawi juga dibawa ke kisah dewa-dewi Mesir.

Tak heran mengapa setiap karyanya menjadi best-seller. Sangat memikat hati anak-anak bahkan dewasa seperti aku sangat menikmati kisahnya.

Seperti kebanyakan novel fantasi lainnya, tokoh utama adalah anak-anak berusia 14 dan 12. Yang membuat berbeda adalah mereka kakak-beradik yang mencari ayah mereka yang ditawan oleh dewa jahat. Tadinya, mereka adalah dua kakak-adik biasa yang tidak saling kenal dan hanya bertemu dua kali setahun.

Misi yang terlihat sederhana. Hanya saja, penulis sangat bisa membuat cerita menjadi beralur panjang hingga mencapai 500 halaman (dalam bahasa Indonesia) dan tidak membuat kita bosan membacanya. Malah kita disihir untuk terus membacanya karena aksi yang memukau dari kedua kakak-beradik itu dengan para dewa-dewi yang membantu misi mereka. Juga ada Dewan Kehidupan yang mencoba menghentikan mereka.

Ceritanya mengagumkan, as always. Inti dari cerita ini adalah kita diajarkan untuk saling mengasihi di antara saudara kandung. Kita sering kali acuh terhadap orang terdekat kita di rumah, tapi bila dihadapkan dalam situasi yang sama, kita diharuskan untuk bersatu untuk mendapatkan apa yang kita mau.

Tapi kenapa cuma empat dari lima? Karena aku rada gak tahan sama tokoh utama pria, alias Carter Kane. Kok kalah pamor ya sama Sadie Kane? Aku malah lebih mengunggulkan Sadie daripada Carter. 

Ah, pokoknya keren! Yang belum baca, harus baca! Yang cuma tahun kisah Percy Jackson, harus baca! Yang memang penggemar novel fantasi sejati, harus baca! Dan yang penasaran tentang kisah sihir yang dibuat oleh om Rick Riordan, juga harus baca!

***
Sampul
Judul : The Throne of Fire
Pengarang : Rick Riordan
Penerbit : Mizan Fantasi
Tahun : 2012
Dibaca : 9 September 2013
Rating : ★★★★★


Ya, jadi sudah berapa novel om Rick yang aku baca selama aku hidup? Tapi mengapa aku bahkan menginginkan om Rick terus melantunkan kata-kata dalam novel-novel lainnya?

Hal itu yang teringat ketika aku selesai membaca novel ini. Jadi ini adalah novel ke... emm... kesepuluh om Rick. Sebanyak itu? Ya. Alasannya karena dia sangat pintar menyatukan fakta dan mitologi yang sebenarnya tidak ada. Sangat membingungkan! Menbingungkan yang indah!

Masuk ke cerita: Carter dan Sadie kembali dengan petualangan untuk menyelamatkan bumi dari Apophis, Dewa Kekacauan yang akan muncul untuk mengobrak-abrik bumi. Meyakinkan ya misinya. Tapi tidak dengan perjalanan mereka.

Mereka harus mencari Kitab Ra, Sang Dewa Matahari, Raja dari segala Dewa untuk membangun-kannya. Aku bilang tidak meyakinkan dan juga tidak mudah. Mereka harus melawan Dewa-Dewi yang tidak percaya pada kebangkitan Ra dan juga sedikit oknum Dewan Kehidupan yang sungguh memberi ketegangan. Itu sih intinya....

Oh iya. Aku sempat menangis terharu di saat Carter dan Sadie bertemu Dewi Kuda Nil, Tawaret. Mereka sedikit kikuk ketika mengetahui kisah Bes, Dewa Orang Cebol yang terlalu baik dan lugu. Juga menangis ketika Carter dan Sadie bertemu kedua orang tuanya di Aaru. yah reuni keluarga yang sangat tidak biasa. Dan lagi, menangis ketika tahu takdir Bes yang sangat menyentuh. Aku tak akan membicarakannya. Kalian harus membacanya...

Kisah epik yang memberi pengetahuan yang bermanfaat, juga pesan-pesan tersirat dan tersurat mengenai pengorbanan, keberanian, dan keputus-asaan yang harus dihindari jauh-jauh jika tujuan ingin diraih, juga bagaimana mengendalikan emosi dan hasrat.

Lima bintang untuk petualangan yang seru dan tangisanku! Ya, harus ada bayaran untuk air mata!

Dan coba camkan dalam hati: "Tiap fajar baru adalah sebuah dunia baru." - Julius Kane, Ayah Carter dan Sadie Kane. Mungkin berguna! Selamat membaca!


***
Sampul
Judul : The Serpent's Shadow
Pengarang : Rick Riordan
Penerbit : Mizan Fantasi
Tahun : 2013
Dibaca : 15 Oktober 2013
Rating : ★★★★★

Bagus seperti biasanya, maksudku dalam pembawaan ceritanya. Dan tentang isinya, aku yakin kalian tak akan dikecewakan dengan hal itu.

Kisahnya dimulai ketika Aphopis yang terus menerus menginginkan kekacauan menjadi kebebasan di dunia. Hal itu akan terus terjadi hingga puncaknya saat ekuinoks musim gugur. Carter dan Sadie lagi-lagi harus menyelamatkannya, supaya keseimbangan antara kekacauan dan keteraturan itu kembali. Terlihat tidak mudah untuk anak seusia mereka, tapi mereka keluarga Kane.

Menariknya di setiap seri, tenggat waktu yang diberikan semakin sedikit oleh sang penulis. Pada seri pertama diberikan waktu lima hari, lalu seri kedua tiga hari dan seri terkahir ini menjadi dua hari. Ya. Hal ini bisa menjadi tantangan yang semakin sulit yang membuat para pembaca ingin segera tahu apakah Carter dan Sadie bisa melakukan hanya dalam waktu sesingkat itu.

Yang jadi bahan perbandingan dengan seri Percy Jackson adalah sang lakon. Aku pikir Sadie cenderung memiliki peran yang lebih besar dalam keseluruhan cerita, namun tidak bisa pula Carter diabaikan. Ya 55-45 lah. Sadie selalu menjadi perhatian, selalu bisa datang di saat sang kakak dalam kesusahan, dan kisah cintanya itu lho... lebih kompleks dan terlalu banyak dibicarakan. Jadi sang pahlawan dan yang paling banyak disorot di sini adalah wanita, berbeda dengan Percy Jackson yang kalian tau lah.... (atau mungkin saja aku yang terkagum-kagum oleh Sadie. Ya! Tidak! Bisa jadi!)

Terlepas dari siapa yang jadi pahlawan dan yang paling banyak disorot, cerita ini masih menjadi kisah yang mengajarkan bagaimana kerjasama antar-saudara sangat dibutuhkan dalam keluarga. Lagi-lagi om Rick memberikan sentuhan pendidikan yang kental yang sangat pas untuk dibaca oleh anak-anak.

Selain itu, om Rick sangat pandai membuat teka-teki sehingga pembaca sangat ingin terus memegang novelnya hingga akhir cerita.

Great as Always! Good job, uncle Rick!

14 Januari 2016

Ulasan Buku: The Sword of Summer

Sampul
Judul : The Sword of Summer
(Magnus Chase and the Gods of Asgard #1)
Pengarang : Rick Riordan
Penerbit : Mizan Fantasi (Noura Books)
Tahun : 2015
Dibaca : 11 Januari 2016
Rating : ★★★★

Jadi, mari kita mulai dengan Rick Riordan. Penulis yang terkenal dengan karya fantasi-mitologi remaja bergaya konyol dan tengil ini sudah menjadi penulis favoritku sejak Percy Jackson yang kutemui sekitar tiga tahun lalu. Lucunya, aku yang tiga tahun lalu tidak tahu apa itu genre fantasi membaca seri "The Heroes of Olympus" terlebih dahulu yang seharusnya dibaca setelah seri "Percy Jackson and The Olympians". Lalu, aku merambah membaca "Kane Chronicles" dan hampir semua karyanya.

Berita tentang Rick membuat buku bertema mitologi Nordik sontak membuat penggemarnya histeris, termasuk aku. Bagaimana tidak? Selama ini penggemarnya hanya disuguhkan cerita tentang mitologi Yunani dan Romawi melulu. Malah banyak yang beranggapan kalau Rick susah move on. Dan sebagai implikasinya, aku membaca buku dengan tebal lebih dari 600 halaman ini hanya dalam waktu empat hari, yang menurutku adalah suatu pencapaian.

***

Magnus Chase adalah gelandangan berumur 16 tahun, berambut pirang gondrong, dan kata ibunya mirip Kurt Cobain. Sudah dua tahun ia benar-benar hidup di jalanan bersama Blitz dan Hearth. Mereka berdua dianggap orangtua Magnus karena selalu ada di dekatnya. Dan Blitz-lah yang memberi tahu Magnus bahwa ada dua orang layaknya ayah dan anak perempuannya membagi-bagikan selebaran yang memuat nama dan foto Magnus.

Magnus sedang berada di Jembatan Longfellow bersama Randolph. Pamannya meminta Magnus mencari pedang yang sudah ditakdirkan menjadi miliknya. Magnus tentu kebingungan setengah mati. Pedang itu tertarik begitu saja ke tangannya layaknya palu Thor yang tertarik otomatis ke tangan Thor. Pedang itu menarik perhatian sang raksasa api hingga Magnus akhirnya mati.

29 Desember 2017

Buku Paling Berkesan 2017 dan Sedikit Racauan

Edited by Me

Halo! Wah, kita sudah berada pada pengujung tahun 2017.

Seperti penggila film yang akan menuliskan film-film terbaik yang ditontonnya, penyuka musik yang akan menuliskan lagu-lagu atau album-album yang bikin mereka terpukau dengan lirik yang kuat, juga seperti para petualang yang akan membuat daftar tempat-tempat terindah yang sudah dikunjungi selama setahun ini, aku si kutu buku tidak akan melewatkan pengujung tahun ini dengan hanya berdiam diri. Seperti tahun lalu, aku membuat daftar bacaan yang membuatku berkesan pada tahun 2017 ini. Buku-buku yang kusebutkan masuk kriteria tak bisa dilupakan—baik itu dari ceritanya maupun karakternya. Tidak perlu berlama-lama lagi, berikut daftarnya yang kuurutkan dari buku yang paling awal kubaca pada tahun ini.

07 April 2019

Lawan Reverse Culture Shock dengan Daftar Buku-Buku Keinginan

Edited by Me

Tersisa kurang dari 40 hari lagi sebelum kembali ke Jakarta dan bersua lagi dengan keluarga, teman-teman, dan kolega. Bahagia bercampur haru dan khawatir adalah perasaan yang tak bisa ditangkis. Kekhawatiran itu muncul karena apa yang dinamakan dengan reverse culture shock—sebuah keadaan ketika aku harus mengalami perubahan kembali setelah pulang ke kampung halaman. Di sini, aku sudah terbiasa dengan berjalan di lajur sebelah kanan, menghitung uang menggunakan dolar, menggunakan microwave, sampai minum air langsung dari keran. Saat pulang nanti, tentu saja sebagian besar kebiasaan itu sudah tidak bisa diaplikasikan. Setidaknya, aku sedang berpikir untuk membeli microwave atau rice cooker di tempat tinggal baru nanti. Itu baru hal-hal kecil yang terlihat remeh. Ada yang lain lagi seperti khawatir tidak menemukan perpustakaan yang selengkap di sini dari buku-buku fiksi klasik, fiksi remaja, buku bergambar anak-anak, sampai kaset DVD film dari tahun 80-an sampai sekarang. Dari semua kekhawatiran yang kusebutkan itu, satu kekhawatiran terbesarku adalah melakukan rutinitas yang monoton setiap harinya—bekerja Senin sampai Jumat dari jam 9 pagi sampai 5 sore dan tidak berdaya pada akhir pekan. Aku tahu ini terdengar dungu tetapi aku ingin melakukan hal lain selain mencari uang untuk hidup.

Bruce LaBrack, direktur Pacific Institute for Cross-Cultural Training di University of the Pacific’s School of International Studies, menjabarkan sepuluh tantangan yang akan dihadapi siswa/siswi ketika pulang ke negaranya setelah mengenyam studi di luar negeri. Salah satunya adalah reverse “homesickness” di mana seseorang akan merindukan tempat mereka tinggal saat studi sebagaimana ia merindukan kampung halamannya saat awal-awal berada di negara tempatnya menimba ilmu. Perasaan kehilangan yang ia alami adalah “bagian integral dari perjalanan internasional yang harus diantisipasi dan diterima sebagai hasil alami dari belajar di luar negeri.” Salah satu tip untuk mengatasi reverse culture shock dari LaBrack adalah mempersiapkan proses penyesuaian—berpikirlah apa yang akan terjadi saat pulang nanti. Mengetahui tip itu, aku bertanya-tanya apa yang bakal kulakukan di Indonesia nanti. Lalu aku memutuskan: Oh, tentu saja beli buku!

31 Desember 2014

The Blood of Olympus

Sampul
Judul : The Blood of Olympus (The Heroes of Olympus #5)
Pengarang : Rick Riordan
Penerbit : Mizan Fantasi (Noura Books)
Tahun : 2014
Dibaca : 25 Desember 2014
Rating : ★★★★★

"Bangsa Yunani dan Romawi bergerak bersama-sama, berdiri bersisian sementara bumi berguncang di sekeliling mereka." (hal. 444)

Pernyataan di atas menjelaskan betapa serunya novel pamungkas ini. Aku ingat ketika pertama kali membeli The Lost Hero sekitar dua tahun lalu. Serial ini membuatku langsung jatuh cinta dengan genre fantasi.

01 Maret 2014

The House of Hades

Sampul
Judul : The House of Hades (The Heroes of Olympus #4)
Pengarang : Rick Riordan
Penerbit : Mizan Fantasi (Noura Books)
Tahun : 2014
Dibaca : 26 Februari 2014
Rating : ★★★★★

"Menurutku alam semesta ini pada dasarnya seperti mesin. Aku tidak tahu siapa yang membuatnya, entah itu Moirae, dewa-dewi, Tuhan yang Maha Esa, atau siapalah. Tapi biasanya, alam semesta semata-mata berjalan seperti seharusnya. Memang, terkadang komponen-komponen kecil mengalami kerusakan atau ada yang korsleting, tapi lazimnya ... segala sesuatu terjadi karena suatu sebab...." Leo Valdez (hal. 560)

Ah, akhirnya ada waktu juga buat mengulas novel epik ini. Tahu tidak, baca novel tanpa mengulasnya seperti ada gundukan tanah tinggi yang menghalangi jalanku. Entahlah, aku pikir ulasan buku juga penting sebagaimana membacanya. Yuk mari!

Aku menyesal karena tidak mengulas tiga novel seri House of Hades sebelumnya. Entah karena kecapaian sehabis membaca novel yang rata-rata lebih dari 600 halaman atau karena aku memang belum penuh tekad untuk mengulas buku. Tapi, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali kan? Lebih baik mengulas langsung ke buku empat daripada tidak. Okesip.

***

Jadi, kita mulai dari mana? Ide cerita serta gaya penulisan? Aku pikir tak usah dibahas lagi karena ala om Rick selalu unik dan berbeda. Om Rick selalu memberikan sisipan pelajaran kehidupan bagi para middle-grader di dalam setiap ceritanya. Seperti ucapan Leo di atas. Jadi, jangan ragukan novel ini...

Untuk terjemahannya, aku lihat ada tiga penerjemah. Wow! Sesusah itukah? Atau setebal itukah? Atau seepik itukah? Sehingga ada tiga orang yang menerjemahkan? Tapi itu terbayar dengan bahasa yang pas dan sesuai dengan karakter masing-masing blasteran. Kalimat dan perkataannya juga tidak ada yang rancu. Sang Editor bekerja dengan sangat baik!

Dan sampulnya? Argo II berlayar di atas awan dengan beberapa blasteran mencuat di sana? Itu sangat keren!

Ah, sebenarnya aku sudah bilang berkali-kali: ceritanya seru banget! Siapa yang tidak menunggu-nunggu cerita yang sangat krusial ini? Setelah Percy dan Annabeth jatuh ke Tartarus, om Rick dengan menyebalkannya menghentikannya di buku tiga. Jadi, semua dibayar sekitar satu tahun berikutnya. Menyebalkan sekali kan?

Ah, That moment!
Lagi-lagi, kita disuruh belajar tentang mitologi Yunani dan Romawi dengan cara yang berbeda. Om Rick sangat bisa memikat pembaca untuk terus membaca sampai tuntas dengan keseruan dan kekocakan gaya penulisannya. Nge-troll banget!

Mau aku ceritakan ketujuh blasteran? Masing-masing dengan satu kalimat saja. Hazel berperan penting dalam misi ini, sangat penting malah. Frank menjadi lebih seksi dan keren. Leo mungkin akan mendapat pacar baru seusai semua ini berakhir. Jason sangat Yunani sekarang! Percy is the most important thing for Annabeth. Annabeth adalah blasteran tergenius sepanjang masa.

Tambahan satu: Nico, ya ampun, apa itu benar? Segala yang kamu rasakan selama ini terpendam begitu saja?

Dari kesemuanya, akhirnya mereka bertujuh plus Nico kembali bersama di atas Argo II menuju Athena. Bagaimana cerita Percy dan Annabeth di Tartarus? Dan apa kekocakan yang lagi-lagi dibuat Leo? Bagaimana dengan Nico? Apa dia ikut ke Athena melawan Gaea?

Cukuplah kiranya aku mengulas satu lagi novel serial keren om Rick yang keren! Epik! Seru! Berharap membaca seri selanjutnya? Tentu saja! Siapa yang tak mau melihat ketujuh blasteran menghadapi Dewi Bumi nan kejam itu? Blood of Olympus!

18 Mei 2016

Ulasan Buku: Percy Jackson's Greek Gods

Pengarang : Rick Riordan
Penerbit : Mizan Fantasi (Noura Books)
Tahun : 2015
Dibaca : 24 April 2016
Rating : ★★★

"Kalau kau seorang manusia fana dan sesosok dewi muncul tepat di sampingmu, dan kalau kau masih ingin bertahan hidup beberapa menit mendatang, hal yang sebaiknya kaulakukan adalah menjatuhkan dirimu dan menyembah-nyembah." (hal. 234)

Aku senang akhirnya ada lagi kisah berbeda dari penulis yang tidak menceritakan tentang blasteran yang mengemban misi dan harus menyelesaikan dalam tenggat waktu yang singkat. Aku tahu, bagi para blasteran, hal seperti itu sudah menjadi rutinitas mereka sehari-hari. Tapi saatnya mencoba melakukan hal lain: belajar tentang dewa-dewi Yunani terhormat dan paling mulia bersama Percy.

***

Percy sedang "baik" karena mau menceritakan kisah dewa-dewi Yunani primer. Dengan gayanya yang sarkastis dan penuh kejutan, Percy menjabarkan dari awal permulaan penciptaan hingga hadirnya para dewa-dewi dan manusia. Tentu semua dikisahkan berdasarkan kepercayaan Yunani. Dua belas dewa-dewi yang diungkap Percy pada buku ini adalah (sesuai urutan halaman): Hestia, Demeter, Persephone, Hera, Hades, Poseidon, Zeus, Athena, Aphrodite, Ares, Hephaestus, Apollo, Artemis, Hermes, dan Dionysus.

Dalam setiap bab penceritaan masing-masing dewa-dewi, Percy menjabarkan tentang bagaimana mereka hadir di alam dunia dengan cerita-cerita paling populer tentang mereka. Contohnya ketika Poseidon menikahi kuda dan mempunyai anak dari si kuda itu atau tentang kisah cinta "paksa" Persephone dengan Hades. Juga tentang hadirnya Arachne di dunia buah karya Athena yang murka. Yah, hal-hal semacam itu.

28 Maret 2020

Babak Baru: Jargon "Follow Your Passion" yang Salah Paham

Edited by Me

“Kok aku juga ikutan sedih. Gramedia x Abduraafi itu sebuah perpaduan yang klop sekali kelihatannya. Semoga karier barunya bisa membawa Aki ke mimpi-mimpinya ya. 😊”

Seorang teman mengirimkan pesan privat tersebut setelah aku mengepos foto nametag kantor lamaku sebagai tanda pengunduran diri di Instagram Story pada awal Maret lalu. Rintangan-rintangan kecil yang berubah jadi pilihan-pilihan sulit buatku memutuskan untuk pindah dari sebuah perusahaan di bawah naungan grup Kompas Gramedia. Sesungguhnya, pengunduran diri ini sudah kupikirkan sejak pertengahan 2019 lalu. Setelah Ruang pupus, aku seperti anak ayam yang kehilangan induk. Aku tanpa sadar angguk-angguk saja untuk pindah ke divisi lain. Walaupun kerjaannya tidak jauh-jauh dari menulis seputar buku bacaan dan mewawancarai penulis, tetap saja aku masih merasa Ruang-lah satu-satunya tempat pulang saat itu.

Tulisan ini kubuat untuk menjelaskan alasan utamaku pindah dari kerjaan yang “gue banget” ke perusahaan yang, bisa dibilang, “bukan gue banget”. Alasannya tidak jauh-jauh dari jargon “follow your passion” yang begitu riuh dielu-elukan dan diinginkan banyak orang. Hanya saja, jargon itu bagai pisau bermata dua; ia juga penuh tipu daya.

15 Januari 2017

[Wrap Up] Fantasy, Science Fiction, Dystopia Reading Challenge 2016 + The Winner


Aku lupa untuk memasukkan tantangan membaca ini ke dalam kaleidoskop 2016. Kala itu, membuat Fantasy, Science Fiction, Dystopia Reading Challange 2016 adalah sebuah tantangan tersendiri. Setelah membuat pos opini tentang perbedaan genre fantasi, fiksi ilmiah, dan distopia, aku memberanikan diri untuk membuat tantangannya. Salah satu alasanku menyelenggarakannya adalah cari tahu berapa banyak pembaca yang menyukai genre campur-aduk ini. Alasan lainnya karena aku sendiri ingin mengukur seberapa jauh aku masih menggemari genre-genre ini. Sampai akhirnya memutuskan untuk memberi hadiah yang lumayan bagi pemenangnya, aku tahu bahwa tantangan ini harus berjalan apa pun risikonya. Dan tak dinyana, pada dua bulan pertama, sudah ada 80 tautan yang disetorkan. Sangat di luar dugaanku!

Mari bicara data. 32 orang berani mendaftarkan diri dalam Fantasy, Science Fiction, Dystopia Reading Challange 2016. Dari tiga level kesulitan, yang memilih level Muggle dan Elf sama kuat yaitu masing-masing 15 orang. Sedangkan untuk level Dragon ada 2 orang. Dan jumlah dari seluruh ulasan yang disetor: pada periode Januari - Februari 2016 sebanyak 80 tautan, periode Maret-April 2016 sebanyak 44 tautan, periode Mei-Juni 2016 sebanyak 20 tautan, dan periode Juli-Desember 2016 sebanyak 43 tautan. Totalnya 187 tautan. Ada yang janggal? Jika disimak baik-baik, jumlah tautan pada periode enam bulan saja kalah dengan yang ada pada periode dua bulan pertama; hampir setengahnya. Tidak semua orang bisa konsisten dengan apa yang mereka harapkan di awal tahun. Salah satu penyebabnya adalah karena kesibukan. Aku tidak akan berkomentar lebih jauh. Sampai di sini dan aku masih belum berbicara ada berapa orang yang berhasil dengan tantangan membacanya. Aku berharap ada.

20 Februari 2014

The Demigod Diaries

Sampul
Judul : The Demigod Diaries
Pengarang : Rick Riordan
Penerbit : Mizan Fantasi (Noura Books)
Tahun : 2013
Dibaca : 20 Februari 2014
Rating : ★★

Ini sebenarnya kumpulan cerita pendek yang tidak aku tunggu-tunggu karena aku pikir, tidak membaca ini pun tidak mempengaruhi dalam membaca novel-novel seri yang utama. Tapi aku salah. Ini penting! Penting untuk dibaca bagi kalian yang benar-benar blasteran.

Kenapa penting? Karena bagian-bagian lain dari perjalanan hidup blasteran yang kita kenal yang seharusnya kita tahu, ada di sini. Sebut saja cerita tentang Luke dan Thalia yang menemukan Annabeth.

Juga cerita-cerita lain seperti pacarannya Percy dan Annabeth beberapa saat setelah mengalahkan Kronos. Ada juga cerita Leo, Jason dan Piper yang kalap mencari satu benda penting. Benda yang bila tidak ditemukan selama satu jam, Argo II yang sedang dibuat Leo akan hancur. Nah. Nah. Seru kan? Seperti biasa...

Yang paling mewah; dalam artian sesuatu yang langka dan begitu menarik adalah cerita tentang seorang blasteran antek-antek Kronos yang diceritakan oleh Haley Riordan. Memang, buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Begitupun Haley, anak pertama om Riordan ini juga ikut andil. Haley menulis satu cerita pendek di akhir buku dengan judul Putra Sihir.

This, prove anything!
Jadi, Putra Sihir? Blasteran antek-antek Kronos? Oke. Singkat saja, kisahnya bercerita tentang seorang Blasteran bernama Alabaster, anak Dewi Sihir, Hecate. Jadi, Alabaster ini dikejar oleh saudara kandungnya, seekor monster yang akan membunuhnya. Seru deh! Pokoknya, kisah ini adalah tentang Blasteran dari sisi yang berbeda; dari blasteran yang bertarung di pihak Kronos dalam invasi ke Manhattan. Dan, Haley membuatnya ketika usianya masih 16.

Oh ya, buku ini juga diselingi kuis-kuis. Ya, ada tebak kata, tebak nama Dewa-Dewi, dan acak huruf. Juga ada ilustrasi beberapa blasteran. Nah, bagaimana? Masih kurang seru apa coba?

"Aku masih punya satu pertanyaan lagi, Hecate." Claymore menguatkan diri, sebagaimana yang pasti dilakukan Alabaster saat berbicara di hadapan hadirin yang menghadiri ceramahnya. "Kalau kau sendiri adalah dewi, lantas, kau berdoa kepada siapa?"
Hecate terdiam sejenak, menoleh kepada Claymore, dan membuka mata hijaunya yang cemerlang. Kemudian, seolah-olah jawabannya sudah jelas, sang dewi tersenyum dan berkata, "Aku berdoa semoga kau menemukan jawabannya."
(dikutip dari hal. 337)

30 November 2019

Di Balik Tirai Aroma Karsa: Buku untuk Tiga Bidang Profesi

Edited by Me

Bila ditanya apakah Dee Lestari adalah salah satu pengarang favoritku, secara kilat kujawab iya. Namun, itu jawaban bersyarat. Berbeda dengan karya-karya fantasi Rick Riordan atau karya-karya-karya puisi Theoresia Rumthe dan Weslly Johannes yang kubaca hampir semua sehingga aku bisa menobatkan mereka sebagai pengaang favorit, aku luluh dan menjadikan Dee Lestari sebagai pengarang favorit hanya dengan membaca “Aroma Karsa”. Awalnya, melihat buku setebal lebih dari 700 halaman itu sudah bikin ketakutan dan bertanya-tanya apakah aku bisa menyelesaikannya. Namun, malam pertama memegang kopinya, aku sudah menghabiskan setidaknya sepertiga bagian buku. Aku begitu terlena. Saking sukanya, aku—yang jarang membaca buku nonfiksi—memutuskan untuk membaca buku “Di Balik Tirai Aroma Karsa” yang berisi pengalaman Dee Lestari dalam meriset dan menciptakan kisah “Aroma Karsa” serta petuah-petuahnya sebagai penulis profesional selama 17 tahun.

23 Februari 2017

BBI Share the Love 2017: Cuap-Cuap Pamungkas Sharie

Edited by Me

Akhirnya acara yang sedikit bikin pusing ini berada di pengujung. Aku ingat ketika pertama kali berkenalan dengan Sharie dan memintanya untuk memberikan ide segar. Kami memikirkan banyak topik untuk diangkat dalam tukar pos kali ini dan berakhir pada ide untuk menceritakan apa yang membuat masing-masing dari kami begitu menyenangi membaca. Aku menuliskannya di blog Sharie dan begitu pula sebaliknya. Satu hal yang pasti adalah intensitas komunikasi kami semakin sering karena kami sama-sama diskusi untuk menentukan konsep yang berbeda namun tidak sampai membuat kami berdua kerepotan. Yah, kamu tahulah, bagaimana jika orang yang memiliki kesibukan mencoba untuk berkomitmen dengan acara yang diikutinya. 

Pada pos kali ini. Aku ingin bercerita tentang Sharie yang sangat menyukai buku-buku karya Agatha Christie. Aku bertanya tentang karakter favoritnya dari karya Agatha Christie dan jawabannya adalah: Aku suka Miss Marple karena kami sama-sama perempuan. Terus aku merasa kalau Miss Marple itu adalah Agatha Christie. Hehe. Selain itu, mungkin karena aku suka orang yang terlihat biasa-biasa saja namun menghanyutkan. Tahu kan kalau Miss Marple itu perempuan tua? Tapi karena kesehatannya yang rentan itu, kadang ia tidak "dianggap" oleh si tersangka. Selain itu, kala menyelidiki secara personal, ia bisa membuat penyamaran dengan merumpi. Padahal sebenarnya ia sedang menggali informasi. Jadi ingin seperti Miss Marple dari segi ketajaman pikirannya. Dan berharap kalau tua nanti masih bisa menikmati bacaan bergenre kriminal dan thriller. 

Aku tidak pernah tahu siapa itu Miss Marple. Aku baru membaca satu buku karya Agatha Christie yang berjudul "And Then There Were None" dan itu juga karena aku menyukai serial televisinya yang sudah diadaptasi pada 2015 lalu. Dan, memang, bagus. Aku sempat mencari referensi karya Agatha Christie lain yang mungkin bisa kubaca dan beberapa teman memberi rekomendasi buku yang judulnya "Murder on the Orient Express". Doakan aku, teman-teman, agar bisa membacanya suatu hari nanti. Terima kasih.

30 Juni 2016

Akhirnya Raafi Mengaku


Sedikit dilema dengan topik bahasan Posting Bareng BBI bulan ini. Pertama, topik yang diusung tentang "pengakuan" membuatku bingung karena sebenarnya tidak ada hal yang ditutup-tutupi ataupun hal yang spesial selama aku menjadi pembaca aktif. Tapi setelah dipikir-pikir lagi ternyata ada satu hal yang ternyata kusembunyikan tanpa kusadari. Apa itu?

Pembaca Aktif

Aku mulai menjadi pembaca aktif sejak awal kuliah. Waktu yang begitu luang membuatku semakin keranjingan membaca karena pada saat itu hanya membaca yang bisa kulakukan. Sembari melakukan hal yang selanjutnya kusebut hobi itu, aku berpikir kalau aku bisa melakukan sesuatu dari hobiku tersebut—tidak cuma membaca. Dan setelah mengetahui daya baca di Indonesia minim, aku bertekad membuat diriku berguna dalam kemajuan literasi, setidaknya waktu kuliah dulu hal yang paling mudah kulakukan adalah membuat satu grup khusus baca dengan menggunakan media sosial.

25 Januari 2016

[Pernak-Pernik 2016] Young Adult Reading Challenge 2016

Banner
Setelah mengikuti "Young Adult Reading Challenge 2015" tahun lalu yang sudah direkap di sini dan sukses, aku merasa tertantang lagi dengan tantangan membaca yang sama pada tahun ini. Dan untungnya, Mba Faraziyya @ Faraziyya's Bookshelf bersedia menjadi penyelenggara tantangan membaca ini.

Aku mematok sendiri target buku bergenre young adult yang harus kubaca tahun ini. Level yang diberikan pada tantangan membaca ini ada tiga: "Freshmen" dengan jumlah 1-13 buku, "Junior" dengan jumlah 14-21 buku, dan "Senior" dengan jumlah lebih dari 21 buku. Dan aku pilih level "Senior". Dengan post ini, semoga komitmen yang dibuat sejak awal selama tahun 2016 ini terlaksana hingga akhir. Dan target level tercapai, tentunya.

03 Mei 2015

[Reading Challenge] Lucky No.15 Reading Challenge


Sudah bulan 05 di 2015 dan Lucky No.15 Reading Challenge masih bergaung di telinga. Entah karena ke-15 kategori tantangan yang benar-benar menantang atau karena ini adalah tantangan bergengsi. Dua-duanya mungkin benar. Pada akhirnya aku coba ikuti tantangan ini.

Lucky No.15 Reading Challenge adalah tantangan membaca yang berisi 15 kategori tantangan yang harus diselesaikan dalam kurun waktu satu tahun dimulai 15 Januari 2015 hingga 15 Januari 2016. Setiap kategori harus diisi minimal satu ulasan. Berikut 15 kategori Lucky No.15 Reading Challenge (yang dilanjutkan ulasan buku yang dibaca sesuai kategori).

08 April 2015

The Colossus Rises

Sampul
Judul : Kebangkitan Kolosus
Judul Asli : The Colossus Rises (Seven Wonders, #1)
Pengarang : Peter Lerangis
Penerbit : Metamind (Tiga Serangkai)
Tahun : 2014
Dibaca : 6 April 2015
Rating : ★★

Seperti yang kubilang, usai membaca ini aku merasa sedih; tentunya sedih yang beralasan. Sedih karena membacanya seperti dikejar-kejar vromaski yang bahkan penggambaran entitas itu tidak terdeskripsikan dengan baik. Sedih karena terjemahannya yang amat kacrut dan membuatku mencacat di notes tentang kekacrutannya.

Dan yang paling membuatku sedih adalah dari semua genre fantasi yang kuelu-elukan, baru buku ini yang mendapat rating terendah; karena mencoba menyukai buku ini, bahkan sampai halaman terakhir, tapi tetap tidak bisa.

11 Mei 2014

The Demigod Files

Sampul
Judul : The Demigod Files
Pengarang : Rick Riordan
Penerbit : Nourabooks 
Tahun : 2014
Dibaca : 3 Mei 2014
Rating : ★★

Sudah lima belas buku  –dengan ini– penulis yang kubaca, tapi aku masih merasa kagum. Ceritanya seru dan tidak membosankan seperti biasa. Begitu juga dengan buku ini yang berisi tentang cerita pendek petualangan Percy Jackson dan kawan-kawannya. Selain itu ada juga wawancara penulis dengan beberapa demigod krusial seperti Percy, Annabeth dan juga Grover.

Ada tiga buah cerita pendek yang tersaji dalam buku ini. Yang pertama adalah Percy Jackson dan Kereta Perang Curian, Percy Jackson dan Naga Perunggu, serta Percy Jackson dan Pedang Hades. Ketiganya sepertinya cerita yang krusial mengingat tidak terjamah di seri Percy Jackson & The Olympians dan The Heroes of Olympus.

***

Chariot
Dalam cerpen pertama, Percy Jackson berurusan dengan kereta perang milik Clarisse yang dicuri oleh saudara dewanya Clarisse yaitu Phobos dan Deimos. Nama kedua saudara Clarisse terdengar seperti dua satelit yang mengelilingi planet Mars. Memang nama bulan itu diambil dari kedua dewa minor itu.

Phobos melambangkan ketakutan. Deimos melambangkan teror. Kata phobia juga berasal dari nama Phobos ini. Anyway, mereka berdua sungguh jahil terhadap Clarisse. Dengan mengambil dan menyembunyikan Kereta Perang milik ayah Clarisse, Ares, membuat Clarisse takut setengah mati bila misi mengembalikan kereta itu gagal. Ares akan sangat marah.

Di situlah Percy datang. Membantu Clarisse –yang walaupun bukan teman baik– menemukan Kereta Pedang itu. Seru! Kita jadi lebih mengenal Clarisse dengan membaca ini. Bagaimana Clarisse takut pada sang ayah dan bagaimana detail-detail lain mengenai dirinya terkuak. Mau tahu? Bacalah...

“Dewa rasa takut tampak ketakutan.” (hal. 36)

***

Percy kembali bertualang, masih di sekitar Perkemahan Blasteran di Long Island. Kali ini dengan Charlie Beckendorf dan Tim Biru melawan Annabeth Chase, Silena Beauregard, dan Tim Merah dalam permainan Tangkap Bendera. Tapi ada yang salah...


The Couples
Yah. Apa sih yang ga ada yang salah bagi para demigod? Kali ini adalah kepala Naga Perunggu yang dibawa oleh semut raksasa. Mereka ingin mengambil kepala itu. Dan mulailah petempuran seru antara Percy, Annabeth, dan Silena melawan kawanan semut raksasa. Beckendorf? Dia ditawan oleh kawanan itu ketika memutuskan untuk mengambil kepala naga raksasa itu tanpa pikir panjang. Sehingga teman-temannya harus menyelamatkannya.

***

Ketiga adalah petualangan anak tiga dewa utama: Zeus, Poseidon, dan Hades dalam menyelamatkan pedang hades yang dicuri. Mereka bertiga adalah Thalia, Percy, dan Nico. Pedang ini sangat penting karena bias mengubah kekuasaan Hades menjadi lebih tinggi seperti Zeus dan Poseidon.

Persephone
Istri Hades-lah yang membuat mereka bertiga bertemu dan memberikan misi; Persephone, karena Hades terlalu malu untuk meminta bantuan bahkan pada anak demigodnya sendiri. Aku tak perlu memberi tahu siapa pencuri pedang Hades itu.

Di sini juga pertemuan Percy dengan Bob. Salah satu anak utama Titan yang bernama asli Iapetus. Kalau kalian sudah baca The House of Hades dan bingung dengan sosok Bob, di sini tempat kalian membuang kebingungan itu.

04 Desember 2013

A World Without Heroes

Sampul
Judul : A World Without Heroes (Beyonders, #1)
Pengarang : Brandon Mull
Penerbit : Noura Books
Tahun : 2013
Dibaca : 4 Desember 2013
Rating : ★★★★★

Satu lagi kisah fiksi fantasi yang epik! Sangat klasik! Dan ... tebal!

Awalnya aku ragu dengan novel setebal hampir 600 halaman ini. Dengan kertas buram dan berat yang hampir 300 gram (kurang lebih). Tapi, itu baru kesan pertama dari bentuk luar. Seperti sebuah kurma yang keriput dan terlalu tidak menarik jika dilihat, tetapi bila dimakan terasa manis dan legit. Seperti itu lah...

Ya, memang, awalnya juga aku menebak-nebak kisah dari negeri manakah, kisah dari mitologi bangsa apakah yang diceritakan oleh om Brandon disini? Mungkin karena aku terlalu terpengaruh oleh kisah-kisah om Rick Riordan yang setiap kisahnya bercerita tentang sejarah mitologi.

Tapi memang tidak ada kesamaan. Ini kisah pure fantasi yang setting-nya dibuat oleh Penulis sendiri. Aku pikir itu sangat cerdas melihat kisah sebesar ini dibangun sendiri oleh penulis. Berbeda dengan kisah mitologi yang ceritanya sebagian sudah termaktub di telinga para leluhur. Namun, kembali lagi, tingkat kreativitas penulisan setiap orang itu berbeda. Aku belum membaca The Lord of The Ring atau buku yang katanya epik lainnya. Mungkin kurang lebih seperti ini. Just maybe. Klasik!

Seorang anak laki-laki berusia tiga belas tahun yang terdampar di negeri Lyrian yang sangat kuno bernama Jason Walker. Walker? Paul Walker? RIP Paul Walker! Dia dihadapkan pada kenyataan bahwa dia harus mencari Kata untuk menggulingkan kekuasaan jahat seorang Kaisar di negeri tersebut, Maldor yang sudah bertahun-tahun lamanya menguasai negeri Lyrian. Tidak ada seorang pun yang belum bisa menggulingkannya, menjadi pahlawan yang menyelamatkan negeri. No heroes has figured it out in the world without heroes!

Bersama Rachel, teman-tersesat-di-negeri-antah-berantah itu, Jason memulai petualangan mereka.

Mereka bertualang menyusuri Lyrian untuk mencari setiap potongan (silabel) Kata yang berbeda. Setiap Kata dimiliki oleh makhluk-makhluk yang berbeda di tempat yang berbeda dengan tingkat pencapaian menuju tempat tersebut yang berbeda pula. Itulah yang membuat kisah ini sangat adiktif: apa silabel Kata selanjutnya dan seberapa sulitnya mencapai daerah berbahaya tempat bersemayam makhluk-makhluk yang memiliki Kata itu?

Dengan Kata itu Maldor bisa lenyap dan Lyrian kembali menjadi negeri idaman para rakyatnya. Apakah Jason dan Rachel menemukan semua Kata? Apakah Kata itu sungguh bisa melenyapkan Maldor dan kekuasaan kejinya itu? Dan, bagaimana cara Jason dan Rachel kembali ke Bumi, ke dunia mereka yang sebenarnya? Apakah mereka berpisah atau bersatu untuk menyelesaikan misi tersebut?

Novel ini penuh kisah perjuangan, rasa rela berkorban, rasa kepahlawanan dan rasa tidak mementingkan diri sendiri. Novel ini juga menjelaskan tentang tipu daya, tentang bagaimana hidup penuh kesenangan adalah salah. Semua itu dibalut jadi satu menjadi kisah petualangan yang sangat seru!

Sedikit kutipan tentang arti seorang pahlawan.

"Bagi begitu banyak orang, pahlawan adalah orang yang menang di medan pertempuran, komandan legiun, penguasa suatu bakat atau keahlian yang langka. Memang, banyak pahlawan yang cocok dengan gambaran itu, Tapi, banyak penjahat juga yang juga cocok dengan gambaran itu. Pahlawan berkorban untuk kebaikan yang lebih besar. Pahlawan memiliki hati nurani. Singkatnya, kepahlawanan berarti melakukan kebenaran, apa pun konsekuensinya. Pilihlah hari ini untuk menjadi salah satu dari mereka."

Kutipan tentang arti kesenangan.

"Kesenangan adalah hampa. Tak ada kepuasan sejati dalam semburan kegembiraan yang tak bermakna. Kau mencoba menutupi kehampaan itu dengan semakin berfoya-foya, hanya untuk menemukan kegembiraan itu semakin tidak memuaskan dan semakin singkat. Kesenangan sebaiknya dicicipi sebagai bumbu penyedap, bukan hidangan utama."

Selamat menikmati satu lagi novel epik-klasik yang akan menjadi kisah populer di masa depan!

11 Januari 2020

Buku Paling Berkesan 2019 dan Kenangan-Kenangan

Edited by me

“Apa rekomendasi di sini?” Pertanyaan itu selalu kuajukan tiap kali ke sebuah restoran atau kafe yang baru kudatangi. Beberapa penjaga kafe memberikan satu pilihan menu signature atau specialty kafe itu. Sebagian yang lain merekomendasikan menu favorit yang banyak dipesan. Aku mendapati respons yang kedua saat mengunjungi sebuah kafe di bilangan Wahid Hasyim, Jakarta. Sang penjaga kafe merekomendasikan minuman bernama Durian Leaf yang langsung kupesan. Setelah duduk, aku membuka laptop dan menilik draf tulisan tentang kaleidoskop 2019 yang sudah kumulai tulis sejak malam pergantian tahun baru. Aku bimbang apakah perlu lanjut menulisnya atau tidak mengingat sekarang sudah hampir pertengahan bulan di tahun baru. Padahal, aku berencana menayangkannya di sini sebelum tanggal 10. Sayangnya, rutinitas dan hal lain yang tiba-tiba muncul menghancurkannya.

Saat sudah memutuskan untuk lanjut menulis dan pemanasan fokus, minuman itu datang. Warnanya hijau muda, sedikit pucat. Aku pikir ukuran gelasnya tidak begitu besar karena harganya cukup murah. Ternyata lumayan banyak. Rasanya enak, perpaduan buah durian yang tidak begitu menyengat dan daun teh. (Atau itu betulan daun pohon durian?) Fokus lanjut menulisku buyar, berpindah ke minuman yang ada di hadapanku. Aku sedikit dongkol. Distraksi-distraksi kecil seperti ini sering terjadi dan menghabisi apa pun yang sedang jadi fokus utamaku tanpa tedeng aling-aling. Aku malah bertanya-tanya berapa banyak distraksi yang menghadangku untuk menuntaskan tulisan ini. Rebahan, tontonan Netflix, buku bacaan, media sosial yang perlu digulir lini masanya, pekerjaan lain, rebahan lagi, tontonan Netflix yang lain lagi. Mungkin ini salah satu resolusiku pada tahun baru 2020: mereduksi distraksi. Karena, sungguh, kamu akan begitu jengkel saat membuang waktu berhargamu alih-alih melakukan apa yang seharusnya kamu kerjakan.