Tampilkan postingan dengan label yearly recaps. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yearly recaps. Tampilkan semua postingan

01 Februari 2021

Buku Paling Berkesan 2020, Pandemi, dan Lebih Banyak Judul

daftar buku terbaik 2020

“2019 was rough and tough.”

Begitu yang kutulis di pos Instagram saat menyambut 2020 sembari berharap segalanya akan lebih mulus dan ringan. Pada hari terakhir tahun 2019, The Jakarta Post membuat tajuk utama di halaman pertama korannya dengan judul “After hectic year, calm 2020 expected.” Artikel tersebut berisi harapan untuk meninggalkan 2019 yang berisi beragam konflik yang menggelisahkan. Dua belas bulan berselang setelah itu, sepertinya butuh kata-kata harapan pergantian tahun yang lebih meyakinkan. Atau malah tak perlu sama sekali? Tiada yang menyangka pandemi akan mengisi hampir sepanjang 2020. Penyesuaian yang drastis perlu dilakukan agar tetap bertahan, bagaimanapun caranya. Setiap orang dipaksa berubah: tidak saling bertemu langsung dan tetap di rumah. Perubahan pun terjadi pada berbagai aspek. Buatku sendiri, salah satu aspek yang berubah yaitu kegiatan membaca.

Kegandrunganku akan membaca membuatku ciptakan dua mode dalam kegiatan ini: senyap dan ramai. Mode senyap berarti aku berada di kamar dengan suasana tanpa alunan lagu atau ingar-bingar lain yang mengganggu. Mode ramai berarti aku melakukannya saat berada di transportasi umum—terutama saat berkomuter pulang-pergi kantor. Penciptaan mode ini bermanfaat untukku agar tetap berapi-api dalam membaca. Sayangnya, pandemi menggilas dan meluruhkan kesinambungan mode bacaanku. Kehadirannya mengeblokku untuk menyetel mode ramai dan itu membuatku waswas.

11 Januari 2020

Buku Paling Berkesan 2019 dan Kenangan-Kenangan

Edited by me

“Apa rekomendasi di sini?” Pertanyaan itu selalu kuajukan tiap kali ke sebuah restoran atau kafe yang baru kudatangi. Beberapa penjaga kafe memberikan satu pilihan menu signature atau specialty kafe itu. Sebagian yang lain merekomendasikan menu favorit yang banyak dipesan. Aku mendapati respons yang kedua saat mengunjungi sebuah kafe di bilangan Wahid Hasyim, Jakarta. Sang penjaga kafe merekomendasikan minuman bernama Durian Leaf yang langsung kupesan. Setelah duduk, aku membuka laptop dan menilik draf tulisan tentang kaleidoskop 2019 yang sudah kumulai tulis sejak malam pergantian tahun baru. Aku bimbang apakah perlu lanjut menulisnya atau tidak mengingat sekarang sudah hampir pertengahan bulan di tahun baru. Padahal, aku berencana menayangkannya di sini sebelum tanggal 10. Sayangnya, rutinitas dan hal lain yang tiba-tiba muncul menghancurkannya.

Saat sudah memutuskan untuk lanjut menulis dan pemanasan fokus, minuman itu datang. Warnanya hijau muda, sedikit pucat. Aku pikir ukuran gelasnya tidak begitu besar karena harganya cukup murah. Ternyata lumayan banyak. Rasanya enak, perpaduan buah durian yang tidak begitu menyengat dan daun teh. (Atau itu betulan daun pohon durian?) Fokus lanjut menulisku buyar, berpindah ke minuman yang ada di hadapanku. Aku sedikit dongkol. Distraksi-distraksi kecil seperti ini sering terjadi dan menghabisi apa pun yang sedang jadi fokus utamaku tanpa tedeng aling-aling. Aku malah bertanya-tanya berapa banyak distraksi yang menghadangku untuk menuntaskan tulisan ini. Rebahan, tontonan Netflix, buku bacaan, media sosial yang perlu digulir lini masanya, pekerjaan lain, rebahan lagi, tontonan Netflix yang lain lagi. Mungkin ini salah satu resolusiku pada tahun baru 2020: mereduksi distraksi. Karena, sungguh, kamu akan begitu jengkel saat membuang waktu berhargamu alih-alih melakukan apa yang seharusnya kamu kerjakan.

31 Desember 2018

Buku Paling Berkesan 2018

Edited by Me

Beberapa hari lalu akun Twitter-nya Twitter mengepos: “Your 2018 in emojis”. Ketika mau jawab dengan emoji yang berhubungan sama Amerika Serikat, aku bertanya-tanya, “Kayaknya nggak cuma tentang Amerika Serikat deh.” Karena 2018 memang lebih dari itu. Selain ke Amerika Serikat dalam rangka beasiswa kuliah dan magang (lihat di sini), buku antologi yang aku berkontribusi di dalamnya juga akhirnya rilis setelah menunggu selama hampir dua tahun (lihat di sini). Bisa dibilang itu dua sorotan utama tahun ini. Yang lainnya? Mungkin tentang bagaimana aku memenej diri sebagai pelajar, editor di Ruang, dan pembaca. Aku masih mengurusi kanal Fiksi Populer Ruang dengan intensitas yang sedikit dikurangi—terima kasih kepada ibu managing editor Ruang yang memberikan kelonggaran atas target artikel bulanan. Dan aku masih bisa merampungkan tantangan membacaku dengan melahap lebih dari 70 buku selama tahun 2018.

Bisa dibilang membaca buku menjadi bagian yang paling butuh usaha. Selain harus meluangkan waktu untuk membacanya, aku yang berpindah ke Amerika Serikat ini sedikit kesulitan dalam beradaptasi terutama dalam pemilihan buku. Mungkin aku pernah bilang di suatu pos di blog BIbli ini bahwa aku jarang sekali membaca buku berbahasa Inggris. Bukan karena tidak bisa, tetapi karena malas dan kadang kesulitan dalam mengartikan kata, frasa, dan kalimat dalam bahasa Inggris. Hampir putus asa tidak bisa menyelesaikan tantangan, akhirnya pada September lalu aku memberanikan diri untuk fokus melahap buku berbahasa Inggris. Masak tinggal di Amerika Serikat tidak membaca buku bahasa Inggris? Dan sesungguhnya akses menemukan buku di sini itu mudah dan gratis—tinggal datang ke perpustakaan dekat tempat tinggal, pinjam, lalu mulai membaca.

29 Desember 2017

Buku Paling Berkesan 2017 dan Sedikit Racauan

Edited by Me

Halo! Wah, kita sudah berada pada pengujung tahun 2017.

Seperti penggila film yang akan menuliskan film-film terbaik yang ditontonnya, penyuka musik yang akan menuliskan lagu-lagu atau album-album yang bikin mereka terpukau dengan lirik yang kuat, juga seperti para petualang yang akan membuat daftar tempat-tempat terindah yang sudah dikunjungi selama setahun ini, aku si kutu buku tidak akan melewatkan pengujung tahun ini dengan hanya berdiam diri. Seperti tahun lalu, aku membuat daftar bacaan yang membuatku berkesan pada tahun 2017 ini. Buku-buku yang kusebutkan masuk kriteria tak bisa dilupakan—baik itu dari ceritanya maupun karakternya. Tidak perlu berlama-lama lagi, berikut daftarnya yang kuurutkan dari buku yang paling awal kubaca pada tahun ini.

01 Januari 2017

Buku Paling Berkesan 2016 dan Sedikit Gunjingan

Edited by Me

Halo! Selamat tahun baru 2017!

Untuk menggenapkan resolusi 2016 tentang Posting Bareng BBI, pada hari pertama bulan pertama tahun baru ini aku akan menulis sesuai tema yang diberikan. Tema Posting Bareng bulan Desember 2016 yang disiapkan oleh Divisi Event BBI adalah #BBITopChoice. Sesuai temanya, kali ini aku akan memberikan buku-buku paling berkesan yang kubaca selama 2016. Setelah pada tahun lalu ada lima buku, tahun ini aku akan pilih tiga buku saja yang kisahnya benar-benar melekat dalam memori. Apakah ketiganya itu?

31 Desember 2016

Kaleidoskop 2016: Sajian Singkat Aneka Peristiwa Perbukuan yang Menimpaku

Edited by Me

Aku masih ingat saat Guru Matematika di sekolah dulu memberi cara mudah menentukan tahun kabisat. "Bagikan saja dengan empat. Bila hasilnya bulat, maka tahun tersebut adalah tahun kabisat." 2016 termasuk salah satunya. Dan tahukah kamu bahwa pada 31 Desember 2016, setiap jam komputer di seluruh dunia secara bersamaan akan bertambah 1 detik. Jadi, setelah pukul 23:59:59 waktu akan bertambah jadi 23:59:60 baru kemudian masuk 1 Januari 2017. Ini disebabkan fenomena leap second (lompatan detik) atau detik kabisat. Detik kabisat merupakan sebuah gejala alam yang menyebabkan durasi rotasi bumi bertambah 1 detik. Lalu, kenapa aku membicarakan tahun kabisat dan jam di dunia yang akan bertambah 1 detik?

Yah, hal-hal seperti tahun kabisat atau penambahan waktu 1 detik sangat jarang terjadi bukan? Aku hanya mengorelasikannya dengan poin-poin berikut; hal-hal yang aku pikir hanya terjadi pada tahun 2016 dan tidak terjadi pada tahun-tahun sebelumnya atau akan berbeda pada tahun-tahun berikutnya. Lalu, kalau tahun lalu menggunakan istilah Year End Recap, tahun ini aku pakai kata Kaleidoskop. Selain untuk ada pembaruan, aku tidak begitu suka dengan hal-hal yang monoton. Dan yang pasti: lebih sesuai dengan poin-poin berikut.

31 Desember 2015

Year End Recap 2015

Satu hal. Kata di atas bukan typo atau kesalahan huruf baca ya. Bukan cairan kental manis berwarna hitam yang selalu menemani makan bakso atau soto. Bukan bahan makanan yang terbuat dari kacang kedelai dan diberi label salah satu nama burung. Itu sudah benar.

***

Setelah melihat Mba Ren @ Ren's Little Corner dan Mba Opat @ Casual Book Readers yang menulis semacam summary tentang membaca selama tahun 2015, Raafi tidak mau kalah. Bermodalkan niat tidak mengerjakan kerjaan kantor pada jam kantor, Raafi coba menulis semacam summary tentang membacanya sendiri.

Tahun ini merupakan tahun membaca paling produktif untuk Raafi. Ada lebih dari sembilan puluh buku bacaan yang sudah dilalap habis olehnya. Wow! Percaya? Jangan! Kepercayaan merupakan hal yang sensitif. Jadi, anggap saja informasi ini hanya sekadar informasi yang tidak perlu dimintai penjelasan lebih lanjut.