Tampilkan postingan dengan label marjin kiri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label marjin kiri. Tampilkan semua postingan

25 April 2021

Melongok Kisah Korok dalam Tahun Penuh Gulma

review buku tahun penuh gulma

“Bahwa orang bisa memilih apa yang dimakan atau digunakan, benar-benar tidak pernah terpikir olehnya.” (hlm. 89)

Sebelum berkunjung ke India tepatnya Desa Gondi yang menjadi latar utama buku ini, mari sejenak berkujung ke Desa Wadas, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Sebuah insiden terjadi di Desa Wadas yang melibatkan warga desa dan aparat kepolisian beberapa hari lalu. Insiden bermula saat warga desa, yang di barisan paling depan merupakan para ibu berpakaian merah-merah, melakukan aksi blokir jalan dengan cara duduk-duduk dan bersawalat. Mereka menghadang rombongan yang dikawal polisi dan TNI yang akan merangsek memasuki desa. Rencananya, mereka akan menggelar “sosialisasi pemasangan patok trase dan bidang tanah”. Perang urat tak terhindarkan dan bentrokan terjadi. Aparat kepolisian menarik beberapa orang, kebanyakan mahasiswa yang menemani para warga aksi. Gas air mata dilancarkan yang praktis membubarkan aksi. Aksi ini mungkin tidak akan pernah warga desa lakukan jika tanah mereka tidak akan dijadikan lokasi pertambangan batu andesit penyuplai material sebuah proyek bendungan.

23 Februari 2021

Belajar Melawan dari Si Beruang Kutub

Kenang-kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub

Pertemuan seseorang dan buku yang dibacanya selalu menarik untuk diceritakan. Begitupun dengan pertemuanku dan “Kenang-kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub” karya Claudio Orrego Vicuña. Sejak awal Februari, aku dan Danang sepakat untuk mengontrak sebuah rumah di Jogja. Selama proses adaptasi kondisi di kontrakan baru, aku yang tetap ingin membaca buku memutuskan untuk menikmati bacaan yang tipis-tipis saja. Salah dua buku yang kubaca yaitu “Sengkarut” dan “Cerita, Bualan, Kebenaran”. Saat beres-beres, aku mendapati buku karya Vicuña ini di tumpukan buku koleksi Danang. Tidak ada harapan apa pun waktu itu. Namun, semakin menyimak kisahnya, semakin aku tenggelam dalam kondisi terkungkung yang dinarasikan oleh si beruang kutub. Saking tenggelamnya, perasaanku dibuat menggebu-gebu untuk menuliskan sebuah ulasan.

“Kenang-kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub” menghadirkan seekor beruang kutub sebagai tokoh utama. Ia dibawa dari habitatnya di kutub untuk ‘dirumahkan’ di sebuah kebun binatang. Beruang kutub yang dinamakan Baltazar oleh manusia-manusia di sekitarnya itu menceritakan kisah hidupnya selama berada di dalam jeruji kandang: pertemuannya dengan seorang gadis yang tidak punya tempat tinggal lalu diselamatkan seorang nyonya tua, nostalgianya seputar kisah asmara perdananya yang membuatnya mabuk kepayang tanpa pujaan hatinya tahu, dan—yang paling utama—penemuannya atas kedamaian di dalam kendang untuk sisa hidupnya. Bagian terakhir inilah yang membuatku merasa perlu untuk menuangkan pemikiranku sebagai respons atas pembacaan buku ini.