Tampilkan postingan dengan label haru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label haru. Tampilkan semua postingan

24 November 2020

Manajemen Leha-Leha: Hubungan Cuti dan Komoditisasi

manajemen leha-leha
Edited by me

Koloni semut sedang jalan berbaris menuju makanan yang kami pesan, saat aku dan seorang teman sedang akan menyantapnya. Kami coba untuk menyisihkan para semut itu dari makanan kami. Namun, setelah beberapa saat berlalu, mereka kembali lagi dan kami memutuskan untuk membiarkannya. Baris koloni pekerja itu itu semakin ramai. Beberapa sudah ada yang kembali dari piring makanan dengan membawa remahan berwarna terang. Amat kontras dengan badan mereka yang hitam. Mungkin setelah menaruh remahan makanan yang akan menjadi pasokan makanan sang ratu dan koloni, mereka akan kembali lagi ke piring makanan tadi atau mencari makanan lain. Hidup semut hitam pekerja memang begitu terutama untuk kasta pekerja. Mereka akan terus dan terus bekerja tanpa istirahat. Tidak ada yang namanya istirahat apalagi liburan bagi mereka.

Manusia bukanlah semut. Bila semut bisa terus-terusan bekerja selama masa hidupnya, manusia butuh istirahat di sela-selanya. Begini, bila kamu sudah setahun bekerja di sebuah perusahaan tanpa sempat ambil cuti, segera lakukan. Kamu mungkin akan berkilah, “Tapi, ada akhir pekan untuk digunakan untuk istirahat.” Lalu, kamu akan menambahkan, “Bukankah lebih baik jika jumlah hari cutinya diuangkan saja?” Perlu diketahui bahwa (1) mengambil cuti untuk istirahat pada hari kerja punya sensasi berbeda dengan istirahat pada akhir pekan biasa dan (2) tidak semua kantor bisa mencairkan jumlah cuti tahunan menjadi uang. Lalu, kamu akan datang dengan alasan pemungkas, “Tapi, bagaimana kalau cuti malah bikin tidak tenang dan merasa bersalah karena meninggalkan pekerjaan?”

08 Desember 2017

Ulasan Buku: A Thing Called Us

Judul : A Thing Called Us
Pengarang : Andry Setiawan
Penerbit: Haru
Tahun : 2017
Dibaca : 6 Desember 2017
Rating : ★★★

Muhammad sedang bermain dengan seorang anak sembari menggendongnya. Tiba-tiba anak tersebut buang air kecil dalam gendongan Beliau dan mengenai pakaiannya. Sang ibu menarik lalu memarahi anak itu. Melihat sang ibu kasar kepada anaknya, Beliau berkata, "Mengapa engkau memarahi dan merenggutnya dengan kasar? Sesungguhnya, baju yang kotor ini bisa dicuci dan dihilangkan kotorannya. Namun siapa yang bisa menghilangkan kekeruhan jiwa seorang anak atas bentakan dan renggutan yang kasar yang telah dilakukan kepadanya?" Sabda yang diriwayatkan Muslim tersebut menjadi pengingat betapa membentak anak adalah hal fatal. Ilmu pengetahuan pun menggenapinya bahwa suara keras dan bentakan yang ditujukan kepada anak-anak dapat menggugurkan sel otak yang sedang tumbuh. Ingatan seputar bentakan dari orang tua akan terngiang terus sampai sang anak dewasa.

***

Tiga orang sahabat itu sudah tak lagi bersatu sejak Shinji pergi tanpa kabar. Sesekali Shinji mengirimi Kotoha dan Shun kabar namun itu tidak bertahan lama. Kotoha masih meminta Shun terus mencari Shinji. Kotoha pikir perginya Shinji adalah kesalahannya. Seharusnya ia tidak menyatakan cintanya kepada pria yang selalu ia anggap kakak itu. Tentu saja Shinji tidak enak dengan status mereka sebagai pacar. Apa Kotoha tidak memikirkan perasaan Shun yang sebenarnya menyukainya juga? Kotoha begitu egois dengan perasaannya. Namun, benarkah karena itu Shinji pergi?

Shun tahu sudah waktunya untuk melanjutkan hidup. Itu berarti ia harus sudahi usahanya mencari-cari Shinji. Sahabat keparat yang tidak pernah mengabarinya sejak lima tahun lalu. Ke mana dia pergi? Kenapa Shinji meninggalkan Shun dan terutama Kotoha? Sekarang Shun-lah yang harus bergelut dengan perasaannya sendiri. Saat ia ingin Kotoha melupakan Shinji, Kotoha malah memintanya untuk terus mencari pria itu. Tahukah Kotoha apa yang dirasakannya? Mana yang lebih baik, terus-menerus menuruti keinginan Kotoha atau menyudahinya? Bagaimana dengan perasaannya yang dipendam selama ini?