16 April 2020

Mencari Makna Hidup Melalui Logoterapi dan Ikigai

Edited by Me

Kondisi beberapa bulan terakhir sungguh tidak diekspektasi oleh siapa pun (kecuali mungkin oleh beberapa orang yang bisa menerawang). Alih-alih bermacet-macetan di jalan dan berdesak-desakan di dalam transportasi umum, kamu harus tetap berada di rumahmu untuk bekerja. Alih-alih bersiap untuk vakansi pada tanggal yang sudah ditandai bahkan dengan bersusah-payah meminta izin cuti dari atasan, kamu masih harus tetap berada di rumah dan terpaksa membatalkannya. Segala rutinitas dan rencana yang kamu anggap berjalan mulus terhalang oleh apa yang World Health Organization (WHO) sebut dengan pandemi. Amarah dan kekesalan meluap yang kemudian merembet ke pertanyaan-pertanyaan frustratif. Apa kamu akan berada dalam kondisi ini terus-menerus? Bagaimana dengan hal-hal yang kamu impikan akan terjadi sepanjang tahun ini? Kapan semua ini akan berakhir?

Tidak terkecuali denganku. Sejak wabah (sebelum ditetapkan sebagai pandemi) ini riuh di Indonesia, kantorku sudah memberi kebijakan agar karyawannya bekerja dari rumah (istilah kerennya work from home). Sialnya, aku terjebak di dalam indekos sejak awal pandemi yang mengharuskanku putar otak agar tetap waras sekaligus tetap produktif. Rasa rindu bertemu dan bercakap dengan orang lain melambung. Penyakit mati bosan pun sudah menjangkiti berkali-kali. Hal-hal di luar kendali yang tak diantisipasi tersebut membuatku merasa menderita.

Menderita. Sebuah kata yang amat dekat dengan “Man’s Search for Meaning” karya Viktor E. Frankl. Buku yang kubaca seminggu sebelum work from home itu menjelaskan tentang pencarian makna yang berhubungan dengan penderitaan sebagai salah satu cara yang ditempuh untuk menemukannya dalam konsep yang disebut logoterapi. Setengah pertama buku itu menceritakan tentang Frankl serta penderitaan di kamp konsentrasi Nazi. Dua minggu berikutnya, ketika aku membagikan postingan blog sebelum ini di Twitter, seorang kawan merespons agar aku menerapkan ikigai, sebuah konsep makna kehidupan dari Jepang yang tidak kuketahui. Atas dasar itu, aku membaca dua buku populer tentang ikigai: (1) “Ikigai: The Japanese Secret to a Long and Happy Life” karya Héctor García & Francesc Miralles, dan (2) “The Book of Ikigai” karya Ken Mogi. Menariknya, logoterapi dan ikigai memiliki keterikatan satu sama lain.

Pencarian Makna Hidup dari Balik Kamp Konsentrasi Nazi

Edited by Me

“Man’s Search for Meaning” karya Viktor E. Frankl memang diawali dengan kisah sang pengarang sendiri. Tidak tanggung-tanggung, Frankl menghabiskan lebih dari setengah bukunya untuk menceritakan bagian dirinya dan penderitaan yang dialaminya bersama para penghuni lain di kamp konsentrasi Nazi selama sekitar tiga tahun (1942-1945). Walaupun terasa lama, pembaca diajak mendalami sisi psikologis tawanan dengan penjelasan nantinya bakal merujuk pada konsep yang Frankl ciptakan dengan sebutan logoterapi. Secara harfiah, logoterapi terdiri atas kata “logos” yang dalam bahasa Yunani berarti “makna” dan “therapy” yang artinya bisa kita temukan sendiri di kamus. Konsep logoterapi tersebut dijelaskan secara teoretis dan metodis di paruh terakhir buku ini.

“Buku ini tidak mengklaim diri sebagai catatan berbagai fakta dan peristiwa, melainkan sekadar catatan berbaga pengalaman pribadi, penderitaan yang tak putus-putus sebagaimana ditanggung oleh para tawanan Nazi. Ini adalah kisah nyata dari dalam sebuah kamp konsentrasi, yang diceritakan oleh salah seorang penyintas.” (hlm. 3 – Man’s Search for Meaning)

Kalimat di atas mengawali bab pertama buku ini. Sejak masuk kamp konsentrasi di Auschwitz yang merupakan penjara pertamanya, Frankl berniat untuk menulis sebuah buku. Pada saat masuk pertama kali, ia membawa gulungan kertas di saku jaketnya dan memberi tahu kepada tawanan lain bahwa ia harus menyimpan naskah calon buku ilmiahnya itu karena itu “merupakan karya seumur hidupnya”. Gulungan naskah itu bagai sumber kekuatannya. Dan walaupun ia menggambarkan penderitaan di kamp konsentrasi, pada saat yang sama Frankl juga mendeskripsikan semangatnya untuk terus hidup. Terkesan ganjil memang. Bagaimana orang yang menderita masih punya semangat hidup?

Frankl menjawab pertanyaan itu dengan memusatkan pada masa depan atau ia menyebutnya dengan logoterapi. Konsep ciptaannya itu berfokus pada pertanyaan makna hidup apa yang kamu cari dan harus dilakukan di masa depannya. Ia mengaitkannya dengan kutipan dari Nietzsche yang berbunyi, “Dia yang memiliki mengapa untuk hidup bisa menghadapi semua bagaimana.” Frankl juga menyimpulkan bahwa ada tiga cara yang bisa ditempuh manusia untuk menemukan makna hidup: (1) melalui pekerjaan atau perbuatan; (2) degan mengalami sesuatu atau melalui seseorang; dan (3) melalui cara kita menyikapi penderitaan yang tidak bisa dihindari.

Itu berarti, kalau sekarang kamu merasa kondisi sekarang adalah penderitaan, yang kamu lakukan adalah memusatkan pada apa yang ada di masa depan. Jawablah beberapa pertanyaan seperti apa yang akan kamu lakukan jika pandemi ini sudah selesai atau makna hidup apa yang akan kamu terapkan di masa depan. Berpegang teguhlah pada itu sampai penderitaan itu berakhir sebagaimana Frankl yang memegang erat keinginannya untuk menerbitkan karyanya selama berada di kamp konsentrasi. Namun, Frankl juga menegaskan bahwa tidak perlu menunggu penderitaan itu datang untuk menemukan makna hidup. Ingatlah bahwa ada dua cara lain yang ia sebutkan di atas.

Pencarian Makna Hidup dari Orang-orang Berumur Panjang di Jepang

Edited by Me

Berbeda dengan pencarian makna berkonsep logoterapi yang diciptakan oleh seseorang, konsep pencarian makna bernama ikigai tidak dicetuskan oleh seorang individu. Atau setidaknya itulah penjelasan yang aku tangkap setelah membaca dua buku tentang ikigai yaitu karya García dan karya Mogi. Secara harfiah, ikigai berasal dari bahasa Jepang “iki” yang berarti “untuk hidup” dan “gai” yang berarti “alasan”. Jadi, ikigai adalah alasan atau makna kehidupan. Menariknya, ikigai erat dihubungkan dengan mereka yang berumur panjang. Berumur panjang di sini maksudnya adalah mereka yang hidup sampai umur lebih dari 100 tahun.

Aku lebih dulu mengulas karya García, buku pertama tentang ikigai yang kubaca. Buku ini menjelaskan ikigai secara praktis. Bahasan yang disajikan pun tematik dengan tujuan utama adalah bagaimana agar hidup panjang umur. Ada satu bab tentang diet ikigai yang menjelaskan tentang makanan apa saja yang dimakan oleh orang berumur panjang di Jepang. Ada juga bab tentang olahraga yang dipraktikkan oleh mereka yang dijelaskan bahkan sampai langkah-langkahnya. Bagian itu menggangguku karena melulu membahas cara agar umur panjang. Bagian yang kusuka adalah bab di mana García dan temannya mengunjungi Ogimi, Okinawa, sebuah desa yang dihuni orang-orang berumur panjang di Jepang.

Ada perbedaan dengan karya Mogi. Penjelasannya lebih naratif dengan menghadirkan cerita-cerita dari budaya Jepang dan tokoh-tokohnya. Yang paling kentara adalah Mogi membuat catatan di awal tentang lima pilar ikigai, yaitu: (1) awali dengan hal yang kecil, (2) bebaskan dirimu, (3) keselarasan dan kesinambungan, (4) kegembiraan dari hal-hal kecil, dan (5) hadir di tempat dan waktu sekarang. Bab-bab berisi kisah budaya Jepang atau tokoh-tokoh di dalamnya akan disangkut-pautkan dengan satu, dua, atau lima pilar ikigai di atas. Beberapa penjelasannya sedikit memaksa, tapi lebih banyak yang masuk akal. Yang aku ingat adalah bagian tentang sumo yang para pemainnya memiliki lima pilar ikigai tersebut.

Secara keseluruhan, karya García dan karya Mogi sama-sama menjelasnya ikigai yang berkiblat di Okinawa, Jepang. Keduanya juga menyebut-nyebut Blue Zones atau lima daerah yang berada di Bumi yang rata-rata penduduknya diklaim memiliki umur panjang yang Okinawa termasuk salah satu di antaranya. Selain itu, keduanya juga mengambil contoh tokoh pendiri Studio Ghibli Hayao Miyazaki dan—kejutan!—pendiri Apple Steve Jobs. Oke sajalah kalau Hayao Miyazaki karena ia berasal dari Jepang, tapi Steve Jobs?

“The happiest people are not the ones who achieve the most. They are the ones who spend more time than others in a state of flow.” (hlm. 86 – Ikigai: The Japanese Secret to a Long and Happy Life)

Satu hal lagi yang paling utama ada di kedua buku tentang ikigai tersebut adalah tentang konsep flow (mengalir). Konsep ini menjelaskan bahwa untuk mendapatkan ikigai, seseorang harus mencari kegiatan atau aktivitas yang membuatnya larut sehingga rasanya tidak ada hal lain yang penting. Flow itu sesederhana mencari tahu hal apa yang bikin kamu terus bergerak tanpa merisaukan hal lain. Mereka yang sudah menemukan flow-nya berarti sudah tahu makna hidupnya. Konsep flow inilah yang menurutku landasan untuk menemukan ikigai atau makna hidup. Pertanyaannya, sudahkah kamu menemukan flow-mu di tengah kondisi seperti ini?

Pencarian Makna dalam Kondisi Saat Ini

Edited by Me

Mengapa aku berani mencampurkan konsep logoterapi dan ikigai? Karena mereka memang berhubungan erat. García bahkan mendedikasikan satu bab khusus untuk membahas hubungan logoterapi dengan ikigai. Dalam bab itu, sebetulnya García hanya merangkum apa yang ada dalam buku “Man’s Search for Meaning” dan menambahkan kaitannya dengan ikigai. García menulis pada halaman 40, “… Above all, he (Frankl) has to find his purpose, his reason for getting out of bed—his ikigai.” Mogi pun sama. Pada halaman 137, Mogi menulis, “Jika kita terus mengamati bagian seninya, kita akan temukan bahwa kita pun bisa saja menemukan ikigai, secara ironis….” Bagian itu mengingatkan pada konsep makna hidup yang ditemukan setelah bertemu penderitaan.

Aku sendiri akan mengambil benang merah bahwa konsep logoterapi adalah awalan untukku mencari makna hidupku sendiri di tengah-tengah penderitaan sekalipun. Bila sudah menemukannya, makna hidup itu bisa aku pertahankan dengan konsep ikigai. Ketika terus berpikiran positif dan tahu apa yang akan kulakukan sepanjang hidupku, aku akan mendapatkan keuntungan ketenangan dalam hidup dengan kemungkinan bonus memiliki umur yang panjang. Tidak buruk-buruk amat kan?

Penjelasan panjang-lebar di atas terkesan begitu naif. Namun, kalau coba mengikuti langkahnya, bisa jadi pencarian makna bisa membantumu untuk tetap di kondisi seperti sekarang. Sebagai catatan juga, pencarian makna hidup itu amat subjektif dan harus dimulai dari yang benar-benar nyata sekecil apa pun itu. Frankl menulis pada halaman 160, “Makna hidup yang sebenarnya harus ditemukan di dalam dunia dan bukan di dalam batin atau jiwa orang tersebut.” Paling tidak, mulailah dengan menjawab pertanyaan seperti yang diajukan Mogi: Apa hal-hal kecil yang bisa memberimu kesenangan?

Salah satu kegiatan kecil menyenangkan yang bisa kita mulai adalah menghindar dari berita-berita buruk yang frustratif dan depresif. Kalau itu terlalu agresif, setidaknya cobalah kelilingi diri kita dengan berita-berita baik untuk mengimbangi berita-berita buruk yang berseliweran. Contohnya, mengikuti akun @goodgoodgoodco di Instagram. Akun itu secara rutin mengepos cuplikan-cuplikan kabar baik dari portal berita atau akun media sosial lain. Itu mungkin bisa sedikit menenangkan dan menyenangkanmu.

“Orang harus punya alasan untuk ‘merasa bahagia’. Namun, begitu alasan tersebut ditemukan, secara otomatis orang tersebut akan merasa bahagia.” (hlm. 197 – Man’s Search for Meaning)

Aku sungguh berterima kasih buat kamu yang sudah membaca sampai sini. Semoga mendapatkan sedikit wawasan tentang bagaimana menghadapi kondisi yang disebabkan oleh pandemi ini dari sudut pandang logoterapi dan ikigai.

***
Judul : Man's Search for Meaning
Pengarang : Viktor E. Frankl
Penerbit : Noura Books
Tahun : 2019
Dibaca : 14 Maret 2020

***
Judul : Ikigai: The Japanese Secret to a Long and Happy Life
Pengarang :  Héctor García & Francesc Miralles
Penerbit : Penguin Books (Kindle Edition)
Tahun : 2017
Dibaca : 3 April 2020

***
Judul : The Book of Ikigai
Judul Asli : The Little Book of Ikigai: The essential Japanese way to live a happy and long life
Pengarang : Ken Mogi
Penerbit : Noura Books
Tahun : 2019
Dibaca : 10 April 2020

1 komentar :

  1. Aku membaca buku Pak Frankl sudah lama. Dan betul terasa hingga saat ini. Bahkan ketika masa sulit hadir, seolah ada yang membisikkan kalimat sederhana "cari maknamu teruslah cari" yang membuatku bertahan hingga saat ini.

    BalasHapus