28 Maret 2020

Babak Baru: Jargon "Follow Your Passion" yang Salah Paham

Edited by Me

“Kok aku juga ikutan sedih. Gramedia x Abduraafi itu sebuah perpaduan yang klop sekali kelihatannya. Semoga karier barunya bisa membawa Aki ke mimpi-mimpinya ya. 😊”

Seorang teman mengirimkan pesan privat tersebut setelah aku mengepos foto nametag kantor lamaku sebagai tanda pengunduran diri di Instagram Story pada awal Maret lalu. Rintangan-rintangan kecil yang berubah jadi pilihan-pilihan sulit buatku memutuskan untuk pindah dari sebuah perusahaan di bawah naungan grup Kompas Gramedia. Sesungguhnya, pengunduran diri ini sudah kupikirkan sejak pertengahan 2019 lalu. Setelah Ruang pupus, aku seperti anak ayam yang kehilangan induk. Aku tanpa sadar angguk-angguk saja untuk pindah ke divisi lain. Walaupun kerjaannya tidak jauh-jauh dari menulis seputar buku bacaan dan mewawancarai penulis, tetap saja aku masih merasa Ruang-lah satu-satunya tempat pulang saat itu.

Tulisan ini kubuat untuk menjelaskan alasan utamaku pindah dari kerjaan yang “gue banget” ke perusahaan yang, bisa dibilang, “bukan gue banget”. Alasannya tidak jauh-jauh dari jargon “follow your passion” yang begitu riuh dielu-elukan dan diinginkan banyak orang. Hanya saja, jargon itu bagai pisau bermata dua; ia juga penuh tipu daya.

Babak Sebelumnya

Babak ini dimulai sekitar tahun 2012-2013. Saat itu, aku sedang kuliah jurusan Manajemen Informatika—jurusan yang tidak begitu kuinginkan dan terasa menyebalkan. Hari-hari berjalan monoton, tanpa gairah. Sebagai imbalan, aku diberi waktu luang yang tumpah-ruah. Aku ingat bisa selesaikan serial tv dalam waktu singkat seperti Breaking Bad dari musim pertama sampai terakhir, drama Korea The Queen’s Classroom, dan variety show Running Man. Di sela-sela itu, aku sembari mencari buku yang cocok untuk kubaca. Sebagaimana pepatah “read what you love until you love reading”, akhirnya aku menemukan bacaan yang kusuka. “The Lost Hero” karya Rick Riordan jadi pintu gerbang aku untuk gemar membaca terutama novel-novel bergenre fantasi.

(Penggemar Rick Riordan mungkin akan mengernyitkan dahi. Aku memang memulai seri The Heroes of Olympus terlebih dahulu dan membaca seri Percy Jackson and The Olympians belakangan. Harusnya memang sebaliknya, tapi aku tetap menyukai mereka!)

Pada saat itu, aku memutuskan bahwa membaca adalah hobiku—pelarianku dari rutinitas harian yang membosankan. Tapi tidak itu saja, aku juga bertekad untuk berkontribusi agar lebih banyak orang suka membaca entah bagaimana caranya. Aku menemukan passion-ku! Singkat cerita, dengan banyak lika-liku aku bisa mewujudkannya; dari membuat komunitas buku daring bersama teman-teman, menulis ulasan di Goodreads, menciptakan blog khusus buku, sampai bekerja di industri buku.

Aku merasa berada di puncak karier sesuai passion-ku saat menjadi editor untuk Ruang. Aku bisa bereksperimen dengan menulis sesuai topik-topik bahasan yang sedang populer, berdiskusi dengan kawan editor lain yang hebat-hebat, dan bertemu beberapa penulis untuk diwawancarai. Aku ingat penulis pertama yang kuwawancarai untuk Ruang adalah Lala Bohang. Pada masa itu, aku begitu bahagia.

Bersama Lala Bohang (Foto: Adhytia Putra)

Sementara itu, bagai pepatah semakin tinggi pohon semakin kencang angin, rintangan-rintangan mulai bermunculan. Mulai dari rasa enek melihat buku, jarangnya menulis di blog buku pribadi, sampai harus membuat reading border—sebuah batasan imajiner yang kubuat sendiri dengan begitu hati-hati untuk memisahkan antara bacaan untuk kerjaan dan bacaan untuk kesenangan pribadi. Apalagi adanya fakta Ruang bubar yang membuatku begitu kecewa. Aku dipindahkan untuk mengurusi blog Gramedia.com yang tujuannya sebagai media advertorial dan promosi alih-alih media jurnalistik. Yah, setidaknya aku masih bisa menulis tentang buku bacaan dan mewawancarai penulis. Namun pada saat yang sama, reading border-ku harus dipopok lebih tebal agar tetap waras.

Aku cari cara untuk bertahan dengan pekerjaan itu. Setelah kukulik, ada satu cara yang sekiranya tepat! Aku harus punya apa yang disebut dengan coping mechanism—sebuah strategi untuk mengatasi emosi dan stres yang sulit dikontrol. Aku pikir menciptakan reading border sudah cukup. Namun ternyata ada hal lain yang baru kusadari beberapa waktu lalu: membeli buku dan menimbunnya yang membuatku jadi lebih boros. Aku tulis cerita lengkapnya di laman Kompasiana ini.

Puncaknya, ada sebuah kejadian yang mengakibatkan reading border yang sudah kubuat hati-hati dan kupopok begitu tebal roboh. Aku tidak perlu menceritakan detailnya. Tapi sejak robohnya border itu, aku merasa muak dan tidak tahan lagi. Akhirnya aku menyimpulkan aku harus memilih di antara dua hal: "kerjaan tetap tapi ganti hobi" atau "hobi tetap tapi ganti kerjaan". Sungguh, keduanya pilihan yang sulit. Setelah menimbang-nimbang beberapa lama dan masak-masak, aku memberanikan diri untuk pilih yang kedua. Hobi tetap tapi ganti kerjaan.

Jargon “Follow Your Passion” Bagaikan Pisau Bermata Dua

Seperti yang kubilang di awal, bekerja atau membanting tulang atau mencari uang atau apa pun itu istilahnya dengan mengikuti passion itu bagaikan pisau bermata dua. Bagi yang belum tahu maksud pepatahnya, itu secara sederhana berarti memiliki sisi positif dan negatif. Mereka yang bekerja mengikuti passion mungkin akan begitu passionate (menggebu-gebu) untuk mengerjakan apa pun kerjaannya. Namun, ada hal lain yang luput diantisipasi oleh mereka yang mengikuti passion-nyatermasuk aku. Biar aku buatkan contoh agar lebih jelas.

Edited by Me

Bayangkan kamu seorang yang hobi melukis lalu kamu memutuskan untuk menjual hasil lukisanmu sebagai medium cari uang. Kamu mungkin akan bahagia di awal karena itu adalah hal yang kamu senang lakukan dan akan terus melakukannya. Hanya saja, akan ada saat ketika kamu merasa bosan melakukannya. Hal itu terjadi terus-menurus selama berhari-hari bahkan bertahun-tahun dan menjadi rutinitas. Walaupun kamu memiliki jeda dan waktu luang, kamu tidak tahu lagi apa yang harus kamu lakukan karena hobimu sudah beralih fungsi dan tidak lagi menyenangkan. Pada titik itu, kamu berpikir harus melakukan hal lain alias mencari kesenangan lain alias mencari hobi lain agar kondisi jiwamu tetap terjaga.

Kamu akan bertanya, “Ah, masa segitunya sih?” Memang begitu. Kamu bisa memahaminya lewat utas Twitter ini. Pembuat utas, Fauzia Chang, mencuit pada twit pertama, “Kuselalu menyarankan agar kalian yang sudah menjadikan hobi kalian sebagai pekerjaan utama, bisa punya hobi lain buat coping stress.” Pada twit selanjutnya, ia menghubungkannya dengan kesehatan mental yang akan berpengaruh pada kesehatan fisik—yang mana penting sekali untuk diperhatikan. Walaupun konteks dari utas itu untuk para pekerja kreatif, aku pikir hal tersebut juga berlaku pada siapa saja yang bekerja sesuai passion-nya.

Bila kamu mencari di kolom pencarian daring “should I follow my passion”, ada banyak artikel yang malah mengajakmu untuk tidak mengikuti passion-mu terutama dalam konteks pekerjaan. Salah satu yang menjabarkan secara sederhana perihal topik ini adalah artikel dari 80000hours.org yang ditulis oleh direktur eksekutif media itu sendiri bernama Benjamin Todd. Todd menjelaskan bahwa jargon “follow your passion” banyak disalahpahami. Salah satunya adalah membatasi pilihan yang ada dan fokus pada satu hal saja. Ia lalu menjelaskan orang-orang passionate selalu mengembangkan passion mereka seiring dengan kesuksesan yang mereka raih, bukannya memulai bekerja sesuai passion sejak awal.

Dari Fauzia Chang dan Benjamin Todd, bisa disimpulkan bahwa jargon “follow your passion” harus dimaknai ulang. Mungkin passion itu bisa jadi modal awal memulai karier, tapi jangan menutup hal lain yang hadir di sekitar. Keterbukaan amat dibutuhkan agar jargon itu tidak jadi bumerang pada diri sendiri. Alih-alih mencari hobi baru, aku memilih untuk mengganti pekerjaan sehingga aku masih bisa melakukan hobiku secara maksimal. Entah itu merupakan sikap keterbukaan atau bukan. Yang kutahu pasti, hidup itu pilihan dan aku betul-betul harus memilih.

Babak Baru

Babak ini dimulai pada 2020. Aku resmi pindah kerja. Selain temanku yang berkomentar di atas, para mutual Instagram-ku yang lain pun bertanya ke mana aku pindah kantor. Biar aku jawab di sini: kantor baruku adalah perusahaan startup media kesehatan bernama Hello Sehat, dengan aku bertitel Daily Editor. Betul, aku memang banting setir ke bidang/industri lain. Walaupun aku tidak berpengalaman sama sekali dengan konten-konten kesehatan, aku merasa punya pengalaman yang cukup dalam editing baik itu naskah buku maupun artikel. Hal lain yang buatku memutuskan untuk pindah ke perusahaan ini adalah aku ingin memperdalam keterampilan Search Engine Optimization (SEO) yang saat ini masih berada di ambang standar.

Bersama Rintik Sedu (Foto: M. Fachrio Alhadar)

Di sisi lain, aku berharap tetap meluangkan waktu untuk membaca, menulis ulasan buku, dan bekerja sampingan lainnya yang berhubungan dengan buku. Di masa depan, aku pasti akan rindu untuk menulis artikel perihal buku bacaan dan mewawancarai penulis seperti Rintik Sedu. Tapi untuk saat ini, biarkan aku belajar lain hal dulu. Biarkan aku terkungkung dengan hal-hal baru sambil tetap mengerjakan apa yang aku suka tanpa batasan.

Bila ada yang bertanya apakah aku masih "follow my passion", aku tanpa tedeng aling-aling akan menjawab, “Tentu saja!”

Sekadar informasi: "Aki" adalah sebutan lainku.

17 komentar :

  1. Halo, Raaf. aku ga akan pernah lupa masa-masa kita eyel-eyelan waktu bikin resensi/artikel buat Jurnal Ruang :DDD. but that's not the point here.

    emm... may I say something? (curhat maksudnya hahaha) motto-ku dalam hidup adalah "you cannot have it all". coz aku sudah merasakannya sendiri. bisa dibilang harus memilih antara "pekerjaan" dan "passion" emang berlaku banget buatku. karena aku memilih untuk bekerja di industri buku dan menjadi penerjemah lepas (solely because I love writing) akhirnya aku cuma jadi kere dengan penghasilan yang tidak tetap dan hidup serba pas-pasan. ketika teman-teman buku pada beli dan menimbun buku, aku cuma bisa nyari gratisan di sana-sini. karena pilihanku ini juga aku mesti mengorbankan satu-satunya impian dan cita-cita dalam hidupku. apa aku menyesal? awalnya iya, tapi lama-lama nggak. aku merasa aku lebih suka begini. kenapa? karena aku tipe orang yg tidak mau dipaksa (atau terpaksa) melakukan sesuatu yg aku tidak suka. ini bukan privilege, ini pilihan. karena toh aku mengorbankan keuangan dan impianku.

    masalah apakah kita butuh hobi lain supaya tidak stres saat hobi utama kita sudah menjadi pekerjaan (kadang-kadang nerjemahin mulu bikin eneg juga hahahaha), ya, aku setuju. mungkin karena itulah kalo ada waktu aku justru lebih banyak nonton serial Mandarin daripada baca buku (baca buku jadi terasa eneg juga soalnya wkwkwkwk). tapi paling tidak, aku masih tetep punya "passion" untuk baca buku. seperti yg selalu aku bilang, aku terobsesi jadi orang pintar, dan baca buku adalah salah satu jalannya.

    kayaknya dulu waktu ikutan GA di blog ini aku pernah bilang kalo kamu tuh mengingatkanku pada diriku yg dulu waktu masih muda, pas masih seumuran kamu. waktu aku masih bersemangat meraih mimpi dan begitu menggebu-gebu. kamu punya impian dan cita-cita, dan kamu punya semangat. makanya aku berharap kamu benar-benar bisa meraih apa yg menjadi tujuan/impian/cita-citamu APA PUN ITU. jangan sampai kamu jadi kayak aku yg harus mengorbankan impianku karena keadaan yg tidak memungkinkan (dan karena pilihan yang aku ambil, tentunya). aku berharap jalan apa pun yang kamu ambil, kamu tetap bahagia. kamu masih muda, pilihan hidupmu masih banyak, dan alhamdulillah kamu lebih beruntung daripada aku. apa pun yang kamu inginkan semoga tercapai. aamiin.

    TETAP SEMANGAT!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Ratih, aku tentu saja masih ingat waktu kita eyel-eyelan itu. Hahaha. Aku pun jadi belajar bagaimana penyampaian sudut pandang dari Mbak Ratih. Aku pikir Mbak Ratih sudah menemukan pilihannya dan itu berarti Mbak Ratih menerima apa pun konsekuensinya. Yang penting, tetap bahagia ya, Mbak!

      Terima kasih sudah membaca dan berbagi di sini. Terima kasih juga atas doanya!

      Hapus
  2. Kadang aku suka mikir. Kapan aku bisa kerja yang sesuai dengan passion ku. Tapi kadang apa yang kita inginkan bukanlah apa yang kita butuhkan.

    Saat sesuatu yang membuat kita nyaman tetiba terlepas dari genggaman, rasanya memang menyakitkan. Tapi juga terlalu lama berada di zona nyaman juga kelak akan memberikan rasa bosan.

    Apapun yang kau pilih, semoga itu akan membuat rasa sakitmu pulih. Apapun yang kau lakukan, semoga itu akan membawa kan kebahagiaan. Apapun yang kau jalani, semoga bisa dilakukan dengan sepenuh hati. Apapun yang kelak kau pelajari, semoga menjadi ilmu yang tak akan kau sesali.

    Ah, aku memang banyak bicara.

    Di mana pun kamu berada, semoga tetap bahagia ya, Fi!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku baca respons Teh Mar ini kayak baca kartu ucapan. Bahasanya cantik tapi tetap dalem. Semoga Teteh juga dapat menemukan apa yang diinginkan dan dibutuhkan lalu menyeimbangkannya. Terima kasih sudah kasih jejak di sini!

      Hapus
  3. Raaf, sukses terus di mana pun berada! 🤗

    BalasHapus
  4. Mungkin menjadi seorang editor itu sebenarnya passion-mu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin ya, Mbak. Aku juga baru menyadarinya.

      Hapus
  5. Semangat Raf, dan nyalakan lagi dunia buku dengan lebih menyenangkan dan membahagiakan. Stop stress ya.

    BalasHapus
  6. Haloo, Raafiii... Selamat yaaa sudah berani mengambil langkah baru. Duluuuu ada seorang teman yang mengatakan padaku untuk mulai sedikit sedikit membuka kursus bahasa inggris sendiri alih2 terus berada di naungan nama besar kantorku. Tapi kupikir ngapain repot bikin baru kalo yang lama sudah bikin aku nyaman dan dapat duit? Tapi akhirnya langkah berani kumulai awal tahun lalu. Dengan banting setir mulai usaha bisnis di rumah, jual ini dan itu, ternyata aku masih menyimpan hasrat untuk terus mengajar. Jadi akhirnya aku memulai nasehat temanku itu: merintis usaha kursus sendiri.

    Untuk hobi, sekarang memang agak susah ya. Sejak blog ku terpasang adesnse, jadi kepikir untuk membaca dan menulis review buku yang sedang hit. Tapi belum tentu itu adalah genre favoritku. Jai dilema juga sih ya. Antara pengen dapat koin receh dari Google tapi ngga enjoy dengan bacaan, atau membaca sesuai genre sendiri, tapi recehan adsense blas ngga mampir wkwkwkwk...

    Sekian ah curhatku... Selamat menempuh hidup baru, eh, menikmati tempat yang baru. sukses selalu yaaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dengan secuplik cerita di atas aku ngeliat Mbak Lila begitu sungguh-sungguh dengan pilihannya. Jangan capek-capek ngajarin anak-anak bahasa Inggris sampai "fluent" ya! Terima kasih sudah berbagi di sini!

      Hapus
  7. That's me waktu lagi asyik-asyiknya jadi blogger buku. Banyak hal yang dicoba karena memang suka; baca buku, bikin ulasan, posting di blog. Tapi lambat laun, kesenangan itu hilang ketika satu persatu tuntutan datang, salah satunya adalah target membaca buku (dari kehendak pribadi dan orang lain) yang tidak sehat. Kegiatan membaca pun jadi terasa memuakkan. Akhirnya memutuskan untuk vakum, cukup lama, sampai keinginan untuk membaca kembali sudah nggak bisa ditahan.

    Anyway, good luck buat pekerjaan barunya, Raf. Semoga betah dan berkah!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin itu sedang fasenya saja ya. Tapi aku yakin kalo emang sudah suka sama sesuatu, pasti akan kembali lagi ke sesuatu itu sebosan apa pun kita. Rajin-rajin ngeblog ya, Shan! Semakin ke sini, teman-teman blogger buku yang masih aktif semakin menyusut.

      Hapus
  8. Aku juga lagi ada di fase enek banget sama kerjaan dan lagi pengen banting setir ke industri yang benar-benar beda. Pengen mencoba buka usaha, dan lagi ngumpulin modal juga. Btw, sukses terus buat karier, Raaf!

    BalasHapus
  9. Wuih semangat. Kelihatannya bisa banget nih nantinya merumuskan gimana caranya biar kualitas tulisan tetep oke sama SEO bisa klop, ga saling tindih, sebuah permasalahan abad ini.
    Kangen Ruang juga. :(

    BalasHapus
  10. Hai, Raafi. Selamat untuk pekerjaan barunya. Semoga sukses di sana, ya.

    BalasHapus