13 Februari 2020

Abridged Books: Kenapa Ada Buku versi Ringkas?

Edited by Me

Baru-baru ini, aku menyelesaikan karya klasik "Little Women" karya Louisa May Alcott. Versi yang kubaca hanya setebal 60-an halaman dan ada sisipan ilustrasi di setiap halaman. Versi itu diterbitkan oleh penerbit Indonesia namun berbahasa Inggris dengan kosakata yang mudah dipahami. Pada bagian akhir buku, terdapat glosarium daftar kata bahasa Inggris yang—kemungkinan—sulit dipahami lalu dijajari dengan terjemahan bahasa Indonesia-nya. Versi itu dicetak dengan sampul keras dan berukuran kecil. Pada bagian sampul, gambar empat bersaudara March dibuat semenarik dan seberwarna mungkin agar lebih memikat. Di bawah judul terdapat tulisan "retold from the story by Louisa May Alcott". Bila ditelusuri lebih lanjut, di halaman awal terdapat nama penulisnya yaitu Samantha Noonan.

Aku sengaja membeli dan membaca "Little Women" versi itu karena buru-buru ingin membaca. Sebagai persona yang menganut aliran baca-dulu-tonton-kemudian, aku tidak mau kecolongan menonton film "Little Women" gubahan Greta Gerwig yang tayang sejak awal Februari di Indonesia. Dan aku amat ingin menonton filmnya karena pemainnya yang begitu menggoda: Timothée Chalamet (yang aku suka dari "Call Me by Your Name"), Saoirse Ronan (kusuka sejak "Lady Bird"), Florence Pugh (dari "Midsommar"), dan tentu saja Emma Watson (yang selalu kuagung-agungkan karena kecantikan dan keintelekannya). Aku juga kaget ternyata ada Bob Odenkirk (yang sudah tak asing sejak dia main di "Breaking Bad"). Alasan-alasan itulah yang membuatku harus lekas mencari bukunya dan membacanya. Untung saja ada versi ringkas "Little Women" yang diterbitkan Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) ini.

11 Januari 2020

Buku Paling Berkesan 2019 dan Kenangan-Kenangan

Edited by me

“Apa rekomendasi di sini?” Pertanyaan itu selalu kuajukan tiap kali ke sebuah restoran atau kafe yang baru kudatangi. Beberapa penjaga kafe memberikan satu pilihan menu signature atau specialty kafe itu. Sebagian yang lain merekomendasikan menu favorit yang banyak dipesan. Aku mendapati respons yang kedua saat mengunjungi sebuah kafe di bilangan Wahid Hasyim, Jakarta. Sang penjaga kafe merekomendasikan minuman bernama Durian Leaf yang langsung kupesan. Setelah duduk, aku membuka laptop dan menilik draf tulisan tentang kaleidoskop 2019 yang sudah kumulai tulis sejak malam pergantian tahun baru. Aku bimbang apakah perlu lanjut menulisnya atau tidak mengingat sekarang sudah hampir pertengahan bulan di tahun baru. Padahal, aku berencana menayangkannya di sini sebelum tanggal 10. Sayangnya, rutinitas dan hal lain yang tiba-tiba muncul menghancurkannya.

Saat sudah memutuskan untuk lanjut menulis dan pemanasan fokus, minuman itu datang. Warnanya hijau muda, sedikit pucat. Aku pikir ukuran gelasnya tidak begitu besar karena harganya cukup murah. Ternyata lumayan banyak. Rasanya enak, perpaduan buah durian yang tidak begitu menyengat dan daun teh. (Atau itu betulan daun pohon durian?) Fokus lanjut menulisku buyar, berpindah ke minuman yang ada di hadapanku. Aku sedikit dongkol. Distraksi-distraksi kecil seperti ini sering terjadi dan menghabisi apa pun yang sedang jadi fokus utamaku tanpa tedeng aling-aling. Aku malah bertanya-tanya berapa banyak distraksi yang menghadangku untuk menuntaskan tulisan ini. Rebahan, tontonan Netflix, buku bacaan, media sosial yang perlu digulir lini masanya, pekerjaan lain, rebahan lagi, tontonan Netflix yang lain lagi. Mungkin ini salah satu resolusiku pada tahun baru 2020: mereduksi distraksi. Karena, sungguh, kamu akan begitu jengkel saat membuang waktu berhargamu alih-alih melakukan apa yang seharusnya kamu kerjakan.

04 Januari 2020

Ulasan Buku: Poem PM

Edited by Me

Hari Sabtu aku pergi ke sebuah mal di bilangan BSD City untuk bertemu dengan rekan kantor lama. Kami makan di sebuah restoran lalu mengobrol selama lebih dari dua jam. Setelah berfoto bersama dan meminta tagihan makanan, kami berdiskusi akan melakukan apa. Aku memberi ide untuk berkunjung ke toko buku dan yang lain setuju. Setiap ke pusat perbelanjaan, aku menyempatkan diri untuk ke toko buku. Bisa dibilang, aku paham buku apa saja yang baru rilis dan yang paling laris, juga terbitan yang sedang tren. Beberapa tahun lalu ada novel-novel adaptasi dari aplikasi menulis Wattpad. Dua tahun belakangan ada buku-buku puisi bersampul keras.

Hari Kamis buku puisi karya Putri Marino terbit. Hal itu ditandai dengan dirinya yang membagikan foto salah satu halaman bukunya melalui akun Instagram-nya. Putri kemudian menyematkan takarir dengan tagar #bukupoempm. Hal yang amat wajar karena setiap penulis yang baru merilis buku pasti melakukannya. Tak dinyana, postingan tersebut menuai respons masif nan kontroversial terutama di jagat Twitter. Seorang netizen mengatakan bahwa ia tidak memaafkan puisi-puisi Putri Marino (maksudnya, bahwa karya-karyanya itu tidak baik untuk si netizen). Seorang yang lain membandingkan puisi Putri Marino dengan puisi Sutardji Calzoum Bachri (yang jujur aku baru tahu nama itu). Tapi, apakah mereka sudah membaca bukunya?

30 November 2019

Di Balik Tirai Aroma Karsa: Buku untuk Tiga Bidang Profesi

Edited by Me

Bila ditanya apakah Dee Lestari adalah salah satu pengarang favoritku, secara kilat kujawab iya. Namun, itu jawaban bersyarat. Berbeda dengan karya-karya fantasi Rick Riordan atau karya-karya-karya puisi Theoresia Rumthe dan Weslly Johannes yang kubaca hampir semua sehingga aku bisa menobatkan mereka sebagai pengaang favorit, aku luluh dan menjadikan Dee Lestari sebagai pengarang favorit hanya dengan membaca “Aroma Karsa”. Awalnya, melihat buku setebal lebih dari 700 halaman itu sudah bikin ketakutan dan bertanya-tanya apakah aku bisa menyelesaikannya. Namun, malam pertama memegang kopinya, aku sudah menghabiskan setidaknya sepertiga bagian buku. Aku begitu terlena. Saking sukanya, aku—yang jarang membaca buku nonfiksi—memutuskan untuk membaca buku “Di Balik Tirai Aroma Karsa” yang berisi pengalaman Dee Lestari dalam meriset dan menciptakan kisah “Aroma Karsa” serta petuah-petuahnya sebagai penulis profesional selama 17 tahun.

26 November 2019

Kim Ji-young, Born 1982: Menjadi Laki-Laki adalah Privilese

Edited by Me

Aku masih SMP. Kala itu, jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh. Aku harus berjalan kaki sekitar 5-10 menit untuk sampai di alun-alun kecamatan. Aku harus menunggu bus tanggung atau angkot yang kadang-kadang butuh 15 menit lalu menempuh waktu 15-20 menit untuk sampai di sekolah. Beberapa teman yang rumahnya berdekatan menggunakan sepeda motor ke dan dari sekolah tapi aku terlalu mandiri untuk berangkat dan pulang bersama mereka. Suatu hari—lupa apa penyebabnya—aku terpaksa harus pulang petang. Ponsel masih belum zaman. Aku tidak memberi tahu ibuku bahwa aku akan pulang terlambat. Aku ingat hari menjelang gelap. Azan magrib berkumandang. Beberapa puluh meter dari rumah, aku melihat ibu dan adikku berdiri di jalan depan rumah. Mereka menungguku. Saat sudah dekat, ibuku bilang bahwa ia mengkhawatirkanku. Aku yakin hari itulah pertama kalinya aku pulang hampir malam.

Aku lahir dan besar dari keluarga yang mayoritas laki-laki—ayahku, aku, dan dua adikku. Ibuku satu-satunya perempuan. Aku sempat berharap adik bungsuku perempuan tapi ternyata laki-laki. Aku bertanya-tanya apakah ibuku punya harapan yang sama. Lalu, bertanya-tanya apa yang akan beliau lakukan jika anak perempuannya mengalami hal yang sama denganku di atas. Bagaimana jika anak perempuannya pulang menjelang malam tanpa ada kabar apa pun? Ibuku mungkin akan meminta salah seorang kerabat yang memiliki sepeda motor untuk menjemputnya. Mungkinkah beliau akan memarahinya karena tidak memberi info apa pun dan sudah membuatnya khawatir? Bisa jadi akan lebih berlebihan. Aku bertanya-tanya apakah ibuku akan bersikap lebih keras atau lebih lemah lembut jika salah satu anaknya adalah perempuan.