11 April 2021

Unsur Puisi Anak yang Diinginkan Enid Blyton dalam Bisikan Anak-Anak


Memasuki kuartal kedua 2021, jumlah bacaan yang sudah kuselesaikan ada 20 buku. Itu berarti sudah lebih dari sepertiga target jumlah buku yang mesti dibaca tahun ini. Walau begitu, aku tetap akan membaca buku-buku yang ingin kubaca sesuai dengan tema bulanan yang kutentukan sendiri. Aku tertarik melakukan metode membaca ini sejak Maret 2021 ketika aku bertekad untuk lebih banyak membaca karya dari penulis perempuan. Hasilnya tidak buruk. Lima dari enam buku yang kubaca bulan lalu ditulis oleh pengarang perempuan. Nah, metode membaca dengan menentukan satu topik bacaan kucoba lakukan lagi pada April ini. Kuputuskan topiknya yaitu buku anak-anak. Aku terpantik dengan topik ini setelah membaca kumpulan esai “Kitab Cerita”. Bagi penyuka karya tulis anak-anak, buku  karya Setyaningsih tersebut bisa dijadikan referensi (ulasan di sini). Nah, sekarang aku mengulas kumpulan puisi “Bisikan Anak-Anak” yang berjudul asli “Child Whispers” karya Enid blyton.

11 Maret 2021

Seputar Kegiatan Blogging: Definisi, Tren, dan Alasan Bertahan

tren kegiatan blogging

Baru delapan tahun blog ini berdiri, aku sudah diminta menjadi pembicara dalam acara komunitas buku Kumpulbaca. Ini bermula awal Februari lalu saat dikontak panitia acara ulang tahun Kumpulbaca berkonsep webinar dan ditawari menjadi pembicara dengan bahasan perkembangan literasi di dunia digital. Medium digital yang utama bagi mereka yaitu blog, podcast, dan YouTube. Muncul tiga anggapan yang kureka sendiri perihal alasan Kumpulbaca memilihku untuk berpartisipasi dalam perayaan HUT mereka: (1) aku kenal salah satu penggawa Kumpulbaca, (2) aku mudah dikontak melalui media sosial, atau (3) aku termasuk segelintir blogger buku yang masih beredar di platform maya. Terlepas mana alasan yang benar, aku putuskan untuk menyanggupi tawaran dari teman-teman Kumpulbaca.

Seminggu sebelum acara, aku tampil dalam IG Live bersama Kumpulbaca dalam rangka promosi acara dengan membahas pengalaman membaca. Aku kaget saat tahu mereka menayangkan rangkuman IG Live-nya di sebuah akun Medium milik Kumpulbaca. Tidak ada info apa pun dari pihak panitia perihal ini karena selama IG live aku cuma asal ceplos. (Tahu begitu kan aku bakal lebih mempersiapkan diri.) Kadung mengunjungi blog Medium Kumpulbaca, aku sekalian berselancar dan membaca beberapa artikelnya. Blog tersebut terbilang baru, entri tulisan pertamanya terbit pada September 2019. Meski begitu, jumlah tulisannya lumayan banyak dengan konten yang beragam. Selain ulasan buku, ada postingan artikel trivial seperti cara mengulas buku dan cara memotivasi diri untuk membaca. Mereka juga membagikan pengantar dan/atau ringkasan kegiatan acara yang mereka selenggarakan, termasuk acara yang kuhadiri sebagai pembicara bertajuk “Serunya Literasi di Media Digital”.

23 Februari 2021

Belajar Melawan dari Si Beruang Kutub

Kenang-kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub

Pertemuan seseorang dan buku yang dibacanya selalu menarik untuk diceritakan. Begitupun dengan pertemuanku dan “Kenang-kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub” karya Claudio Orrego Vicuña. Sejak awal Februari, aku dan Danang sepakat untuk mengontrak sebuah rumah di Jogja. Selama proses adaptasi kondisi di kontrakan baru, aku yang tetap ingin membaca buku memutuskan untuk menikmati bacaan yang tipis-tipis saja. Salah dua buku yang kubaca yaitu “Sengkarut” dan “Cerita, Bualan, Kebenaran”. Saat beres-beres, aku mendapati buku karya Vicuña ini di tumpukan buku koleksi Danang. Tidak ada harapan apa pun waktu itu. Namun, semakin menyimak kisahnya, semakin aku tenggelam dalam kondisi terkungkung yang dinarasikan oleh si beruang kutub. Saking tenggelamnya, perasaanku dibuat menggebu-gebu untuk menuliskan sebuah ulasan.

“Kenang-kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub” menghadirkan seekor beruang kutub sebagai tokoh utama. Ia dibawa dari habitatnya di kutub untuk ‘dirumahkan’ di sebuah kebun binatang. Beruang kutub yang dinamakan Baltazar oleh manusia-manusia di sekitarnya itu menceritakan kisah hidupnya selama berada di dalam jeruji kandang: pertemuannya dengan seorang gadis yang tidak punya tempat tinggal lalu diselamatkan seorang nyonya tua, nostalgianya seputar kisah asmara perdananya yang membuatnya mabuk kepayang tanpa pujaan hatinya tahu, dan—yang paling utama—penemuannya atas kedamaian di dalam kendang untuk sisa hidupnya. Bagian terakhir inilah yang membuatku merasa perlu untuk menuangkan pemikiranku sebagai respons atas pembacaan buku ini.

01 Februari 2021

Buku Paling Berkesan 2020, Pandemi, dan Lebih Banyak Judul

daftar buku terbaik 2020

“2019 was rough and tough.”

Begitu yang kutulis di pos Instagram saat menyambut 2020 sembari berharap segalanya akan lebih mulus dan ringan. Pada hari terakhir tahun 2019, The Jakarta Post membuat tajuk utama di halaman pertama korannya dengan judul “After hectic year, calm 2020 expected.” Artikel tersebut berisi harapan untuk meninggalkan 2019 yang berisi beragam konflik yang menggelisahkan. Dua belas bulan berselang setelah itu, sepertinya butuh kata-kata harapan pergantian tahun yang lebih meyakinkan. Atau malah tak perlu sama sekali? Tiada yang menyangka pandemi akan mengisi hampir sepanjang 2020. Penyesuaian yang drastis perlu dilakukan agar tetap bertahan, bagaimanapun caranya. Setiap orang dipaksa berubah: tidak saling bertemu langsung dan tetap di rumah. Perubahan pun terjadi pada berbagai aspek. Buatku sendiri, salah satu aspek yang berubah yaitu kegiatan membaca.

Kegandrunganku akan membaca membuatku ciptakan dua mode dalam kegiatan ini: senyap dan ramai. Mode senyap berarti aku berada di kamar dengan suasana tanpa alunan lagu atau ingar-bingar lain yang mengganggu. Mode ramai berarti aku melakukannya saat berada di transportasi umum—terutama saat berkomuter pulang-pergi kantor. Penciptaan mode ini bermanfaat untukku agar tetap berapi-api dalam membaca. Sayangnya, pandemi menggilas dan meluruhkan kesinambungan mode bacaanku. Kehadirannya mengeblokku untuk menyetel mode ramai dan itu membuatku waswas.

24 November 2020

Manajemen Leha-Leha: Hubungan Cuti dan Komoditisasi

manajemen leha-leha
Edited by me

Koloni semut sedang jalan berbaris menuju makanan yang kami pesan, saat aku dan seorang teman sedang akan menyantapnya. Kami coba untuk menyisihkan para semut itu dari makanan kami. Namun, setelah beberapa saat berlalu, mereka kembali lagi dan kami memutuskan untuk membiarkannya. Baris koloni pekerja itu itu semakin ramai. Beberapa sudah ada yang kembali dari piring makanan dengan membawa remahan berwarna terang. Amat kontras dengan badan mereka yang hitam. Mungkin setelah menaruh remahan makanan yang akan menjadi pasokan makanan sang ratu dan koloni, mereka akan kembali lagi ke piring makanan tadi atau mencari makanan lain. Hidup semut hitam pekerja memang begitu terutama untuk kasta pekerja. Mereka akan terus dan terus bekerja tanpa istirahat. Tidak ada yang namanya istirahat apalagi liburan bagi mereka.

Manusia bukanlah semut. Bila semut bisa terus-terusan bekerja selama masa hidupnya, manusia butuh istirahat di sela-selanya. Begini, bila kamu sudah setahun bekerja di sebuah perusahaan tanpa sempat ambil cuti, segera lakukan. Kamu mungkin akan berkilah, “Tapi, ada akhir pekan untuk digunakan untuk istirahat.” Lalu, kamu akan menambahkan, “Bukankah lebih baik jika jumlah hari cutinya diuangkan saja?” Perlu diketahui bahwa (1) mengambil cuti untuk istirahat pada hari kerja punya sensasi berbeda dengan istirahat pada akhir pekan biasa dan (2) tidak semua kantor bisa mencairkan jumlah cuti tahunan menjadi uang. Lalu, kamu akan datang dengan alasan pemungkas, “Tapi, bagaimana kalau cuti malah bikin tidak tenang dan merasa bersalah karena meninggalkan pekerjaan?”