18 September 2020

Reading Challenge dan Pertimbangan yang Perlu Disiapkan

reading challenge adalah
Edited by Me

Beberapa waktu lalu, aku dan dua kenalan di Twitter sepakat melakukan baca bersama sebuah buku. Sayangnya, pada saat teman yang lain sudah menyelesaikannya, sekitar seminggu setelah hari dimulai, aku masih berada di halaman 30-an. Aku merasa terseok-seok dalam melanjutkannya. Pilihan bukunya memang bukan genre yang biasa kubaca; nonfiksi, lumayan serius, dan berbahasa inggris. Aku akhirnya memberanikan diri untuk bilang kepada keduanya bahwa aku tidak bisa menuntaskan buku tersebut. Walaupun dimaklumi oleh teman tersebut, ada rasa malu karena kupikir aku bisa menyelesaikannya dengan mudah. Belum lagi soal komitmen yang sama-sama dibuat di awal. Ini membuatku memikirkan apa saja yang perlu dipertimbangkan sebelum menentukan ikut/tidaknya sebuah baca bersama yang termasuk reading challenge ini.

Apa itu reading challenge? Tidak ada definisi terselubung, reading challenge adalah kegiatan menantang diri sendiri untuk membaca sebuah bacaan. Konteks bacaan di sini adalah buku. Kegiatan ini kerap dilakukan secara kolektif dan digagas oleh satu atau beberapa orang yang memilih sebuah buku untuk dibaca bersama. Penggagas kemudian akan mengajak pembaca lain untuk bergabung. Selain pilihan buku, jumlah bacaan dan bentuk tema/genre tertentu kerap menjadi objek dalam tantangan. Salah satu reading challenge yang masyhur di kalangan pembaca buku adalah Goodreads Reading Challenge yang digagas oleh platform basis data buku daring Goodreads. Dalam reading challenge tersebut, pengguna Goodreads ditantang untuk menentukan jumlah buku yang akan dibaca selama setahun. Pada akhir tahun, Goodreads akan menampilkan rekapilutasi keberhasilan reading challenge-nya di akun masing-masing pengguna yang turut serta.

13 Juli 2020

3 Kutipan Menarik dan Penjelasannya dari Normal People

Judul : Normal People
Pengarang : Sally Rooney
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun : 2020
Dibaca : 13 Mei 2020

Saat remaja, pernahkah kamu mengalami cinta monyet? Itu istilah untuk rasa suka pertama kali yang tertuju pada orang lain, biasanya teman sebaya yang sekelas atau beda kelas, walaupun bisa juga kakak atau adik kelas. Bagi anak baru gede, cinta monyet begitu menggairahkan. Janji bertemu di kantin belakang sekolah saja sudah bikin berdebar-debar. Belum lagi jika teman-teman yang lain mengetahui bahwa kamu sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Mereka akan men-“cie-cie”-kan saat kamu pulang bareng dengan si doi. Secara tak sadar, cinta monyet terasa sebentar, main-main, dan terlalu membingungkan, apalagi ketika kamu harus berpisah dengan si doi setelah lulus sekolah. Hal-hal yang terjadi saat cinta monyet juga kerap terpatri dalam memori dan dijadikan bahan pembicaraan di kemudian hari. Walaupun begitu, bagaimana jika si cinta monyetmu kala sekolah terus berkutat di hidupmu sampai beberapa tahun kemudian?

***

Marianne berderap ke pintu depan dan membuka pintu ketika mendengar bel rumahnya berbunyi. Connell berada di sana dan Marianne mempersilakannya masuk. Ibu Connell, Lorraine, bekerja untuk keluarga Marianne. Lorraine kerap datang beberapa kali dalam seminggu untuk membersihkan rumah yang lumayan besar itu. Connell yang tidak sabaran meminta ibunya segera menyelesaikan pekerjaannya lalu pulang. Hanya saja, ada beberapa hal yang Lorraine masih harus bereskan. Rentang waktu itu menjadikan Marianne bisa mengobrol canggung dengan Connell, si cowok populer di sekolah yang sama-sama mereka pergi untuk belajar. Setelah beberapa percakapan, Marianne bilang kepada Connell, “Kau mungkin membenciku, tapi kau satu-satunya teman bicaraku.” Connell membalas, ”Aku tidak pernah bilang aku membencimu.” Beberapa jenak kemudian, Marianne tiba-tiba berkata, “Well, aku menyukaimu.”

Mendengar itu, Connell diam. Untungnya, Lorraine memecah kebuntuan karena sudah menyelesaikan pekerjaannya. Connell tidak merespons apa pun pada Marianne setelahnya hari itu. Yang Connell tahu, ia akan berkunjung lagi ke rumah Marianne untuk menjemput ibunya tapi dengan sedikit lebih awal. Dan itulah yang benar-benar dilakukan Connell. Keduanya mulai menjalin hubungan. Hanya saja, Connell memilih bahwa hubungan mereka berdua harus dirahasiakan karena Connell tidak ingin teman-temannya tahu. Marianne tidak mempermasalahkan hal itu. Hubungan sembunyi-sembunyi keduanya berjalan baik sampai tiba saat mereka harus kuliah dan pindah ke luar kota. Walaupun kuliah di tempat yang sama, Connell merasa dirinya terabaikan sedangkan Marianne berubah jadi begitu populer sampai-sampai ia selalu ada di setiap pesta dan perkumpulan elite.

23 Juni 2020

Tawar Buku: Kerja Volunter, Kamar Kos, dan Hubungan Keduanya

donasi untuk sokola institute
Edited by Me

Bekerja memang identik dengan mendapatkan timbal balik. Dengan menghabiskan waktu dan tenaga untuk bekerja, kebanyakan orang merasa harus mendapat imbalan berbentuk uang, barang, atau pujian. Kita selalu diiming-imingi imbalan setelah membantu pekerjaan orangtua saat masih kecil. Semakin dewasa, kita semakin berpandangan bahwa timbal balik yang tepat dari sebuah pekerjaan adalah ketiga jenis di atas. Namun, ada bentuk imbalan lain yang bisa kita dapatkan dari bekerja, seperti kawan baru. Bentuk kerja dengan imbalan semacam itu disebut kerja volunter.

Kerja Volunter

Selain menimba ilmu, pilar lain dalam program yang membuatku terbang ke negeri Paman Sam adalah kerja volunter atau disebut juga community service. Setelah melakukan kerja volunter di sana dalam jumlah jam yang ditentukan, aku mendapat pandangan baru. Bagaimanapun, bekerja tentu membuat kita mengharapkan timbal balik. Jika kerja sesuai profesi atau keahlian akan berbalas uang, kerja volunter atau kerja secara sukarela akan berbalas imbalan yang sedikit berbeda: kepuasan batin, wawasan, dan kawan baru. Seperti salah satu kerja volunter yang kulakukan di sebuah festival di kota Phoenix. Tugasku di senjaga area tong sampah dan mengedukasi pengunjung yang membuang sampah tentang beberapa jenis sampah. Beberapa saat sebelumnya, aku diberi brief tentang jenis sampah yaitu organik dan anorganik, juga perbedaannya. Itu membuatku paham tentang sampah; membuatku menerima wawasan baru. Saat kerja volunter itu, aku juga mengobrol dengan volunter lain yang mengaku bahwa kerja volunter sudah jadi kebiasaan dan merupakan bagian dari hidupnya.

22 Mei 2020

Ulasan Buku: Efek Jera

Judul : Efek Jera
Penulis: Tsugaeda
Penerbit: One Peach Media (indie)
Tahun : 2020
Dibaca : 20 Mei 2020
Rating : ★

“Yayasan (sosial) seperti itu sudah banyak. Kita pakai pendekatan baru. Kita tidak langsung menolong orang susah. Tapi kita mengganggu orang yang bikin susah.” (hlm. 44)

Pernahkah membayangkan hidupmu sebelumnya biasa-biasa saja akan berubah pada keesokan hari? Mungkin itu yang ada dalam pikiran remaja 19 tahun bernama Dio. Sehari-hari, ia yang sebatang kara (setidaknya begitu menurut narasi yang kutangkap) tinggal di bedeng di pinggiran rel stasiun Pondok Cina. Tidak hanya untuk ditinggali, bedeng itu juga digunakan Dio untuk mencari rezeki sebagai penjual DVD bajakan. Di sela-sela waktunya, ia suka membaca buku yang membuatnya kritis terhadap lingkungan sosialnya. Di salah satu dinding bedengnya, terpampang poster tak bergambar bertuliskan “Dinodai Kapitalisme”. Bagi orang awam, mungkin tanda itu tidak berarti apa pun. Namun bagi Dio, kata-kata itu mengucurkan semangat. Begitupun bagi seseorang yang tiba-tiba datang ke bedengnya dan menawarinya pekerjaan.

Orang itu meminta untuk dipanggil Om Jon. Setelah dijelaskan kenangan yang memantik memorinya, Dio akhirnya ingat siapa orang itu. Om Jon adalah guru mengaji dan silatnya dulu saat masih kecil. Dio begitu menyegani pria yang berdinas di Kodam Jaya itu. Bernama asli Sarjono, Om Jon menawarkan Dio sebuah pekerjaan. Dio menolak karena dia merasa tidak bisa bekerja di perusahaan dengan alasan, “Bukannya bikin perusahaan berkembang, malah nanti hancur lebur.” Anehnya, Om Jon tersenyum lebar sembari berkata, “Kebetulan sekali, Dio. Yang dicari memang orang yang suka menghancurkan perusahaan.” Dio dibuat bingung karenanya. Apakah Dio menerima pekerjaan itu? Apa pula yang dimaksud Om Jon dengan pekerjaan menghancurkan perusahaan?

16 April 2020

Mencari Makna Hidup Melalui Logoterapi dan Ikigai

Edited by Me

Kondisi beberapa bulan terakhir sungguh tidak diekspektasi oleh siapa pun (kecuali mungkin oleh beberapa orang yang bisa menerawang). Alih-alih bermacet-macetan di jalan dan berdesak-desakan di dalam transportasi umum, kamu harus tetap berada di rumahmu untuk bekerja. Alih-alih bersiap untuk vakansi pada tanggal yang sudah ditandai bahkan dengan bersusah-payah meminta izin cuti dari atasan, kamu masih harus tetap berada di rumah dan terpaksa membatalkannya. Segala rutinitas dan rencana yang kamu anggap berjalan mulus terhalang oleh apa yang World Health Organization (WHO) sebut dengan pandemi. Amarah dan kekesalan meluap yang kemudian merembet ke pertanyaan-pertanyaan frustratif. Apa kamu akan berada dalam kondisi ini terus-menerus? Bagaimana dengan hal-hal yang kamu impikan akan terjadi sepanjang tahun ini? Kapan semua ini akan berakhir?

Tidak terkecuali denganku. Sejak wabah (sebelum ditetapkan sebagai pandemi) ini riuh di Indonesia, kantorku sudah memberi kebijakan agar karyawannya bekerja dari rumah (istilah kerennya work from home). Sialnya, aku terjebak di dalam indekos sejak awal pandemi yang mengharuskanku putar otak agar tetap waras sekaligus tetap produktif. Rasa rindu bertemu dan bercakap dengan orang lain melambung. Penyakit mati bosan pun sudah menjangkiti berkali-kali. Hal-hal di luar kendali yang tak diantisipasi tersebut membuatku merasa menderita.

Menderita. Sebuah kata yang amat dekat dengan “Man’s Search for Meaning” karya Viktor E. Frankl. Buku yang kubaca seminggu sebelum work from home itu menjelaskan tentang pencarian makna yang berhubungan dengan penderitaan sebagai salah satu cara yang ditempuh untuk menemukannya dalam konsep yang disebut logoterapi. Setengah pertama buku itu menceritakan tentang Frankl serta penderitaan di kamp konsentrasi Nazi. Dua minggu berikutnya, ketika aku membagikan postingan blog sebelum ini di Twitter, seorang kawan merespons agar aku menerapkan ikigai, sebuah konsep makna kehidupan dari Jepang yang tidak kuketahui. Atas dasar itu, aku membaca dua buku populer tentang ikigai: (1) “Ikigai: The Japanese Secret to a Long and Happy Life” karya Héctor García & Francesc Miralles, dan (2) “The Book of Ikigai” karya Ken Mogi. Menariknya, logoterapi dan ikigai memiliki keterikatan satu sama lain.