04 Januari 2019

Cerita dari Gurun: Setengah Jalan Lagi

Edited by Me

Lega rasanya setelah mengeluarkan perasaan terpendam pada tulisan terakhir. Aku juga coba menyampaikan unek-unek itu kepada orang lain dan dia bilang, “Kamu cuma lagi enggak ngerjain apa-apa aja. Kamu tertekan karena biasanya kamu beraktivitas rutin.” Mungkin dia benar. Setelah menghabiskan sekitar lima hari bervakansi, aku masih punya sekitar dua minggu sebelum aktivitas berikutnya yang walaupun diisi dengan membaca, menulis, dan bekerja, tetap tidak beranjak tempat.

Sudah hampir enam bulan tinggal di Amerika Serikat dan sudah beradaptasi dengan hampir segala hal. Berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Menggunakan transportasi publik. Berbelanja di Walmart atau Fry’s. Menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan. Mandi pakai pancuran. Memasak dengan microwave dan oven. Melihat kendaraan berjalan di sisi kanan alih-alih kiri. Mengendarai skuter elektronik berbayar. Mengenakan baju tertutup karena suhu yang rendah. Dan banyak hal lain yang mungkin akan ditambahkan bila teringat.

Prosedur Singkat CCI Program

Pada 31 Desember lalu, AMINEF menutup pendaftaran registrasi Community College Initiative Program (CCI Program). Selama dibuka sebulan, beberapa calon kandidat bertanya kepadaku melalui Instagram—yang sekarang sudah kuhapus hoho—dari tentang prosedur registrasi sampai tentang bagaimana caraku sampai lolos pergi ke Amerika Serikat. Aku jawab dengan senyuman tentu saja. Pertanyaan terakhirlah yang menarik perhatianku. Bagaimana caraku lolos program ini? Jawabanku: lakukan segala prosedur seleksi dengan sungguh-sungguh.

02 Januari 2019

A Reason to Stay Alive: Pulang

Edited by Me

Setiap orang punya masa paling berat dalam hidupnya. Mungkin sekitar Januari tahun lalu, seorang teman yang kukenal dari komunitas buku menghubungiku untuk bertemu. Kami pernah dekat tetapi kehadirannya kala itu berbeda. Dia mengatakan ada masalah dengan semua orang; pacarnya mengekangnya, ayahnya dalam keadaan sakit keras yang tak bisa membuat beliau melakukan aktivitas, ibunya selalu memintanya uang padahal segala yang dia punya telah diserahkan, belum lagi masalah pekerjaannya. Dia meracau, lalu menangis setelahnya. Dia bahkan sempat mengatakan bahwa dia ingin mengakhiri hidupnya. Aku yang kala itu merasa hidupku tidak ada apa-apanya hanya bisa mendengarkan—membiarkan dirinya mengeluarkan segala yang ingin dikeluarkannya. Dia kebingungan dan kerap tiba-tiba diam di sela-sela curhatannya—dua tanda depresi yang aku tahu sebagai orang awam.

Dia terus menghubungiku dan meminta bertemu. Awalnya, aku merasa risih karena aku pernah punya rasa padanya dan aku ingin menguburnya. Aku juga punya prioritas lain yang perlu diurusi. Namun, aku bertanya dalam hati: Bagaimana kalau aku berada dalam posisinya? Mungkin cuma aku yang dibutuhkannya saat itu dan menceritakan semuanya dari awal lagi kepada orang lain sungguh melelahkan. Meluluhkan ego, aku menerima untuk terus berhubungan dengannya. Kadang kami bertemu selepas jam kantor, kadang kami bertemu saat akhir pekan—pernah suatu hari kami menghabiskan waktu seharian penuh mengunjungi Perpusnas dan Monas. Aku kemudian muncul dengan pemikiran bahwa berada di sampingnya cukup untuk menghilangkan rasa depresinya walau barang sejenak.

Aku tahu, aku tahu. Aku sok tahu tentang dia yang mungkin depresi. Kala itu, aku tidak bilang padanya bahwa dia depresi—demi Tuhan, siapa aku bisa mendiagnosis seseorang memiliki “sesuatu”. Aku cuma bilang dia mungkin sedang berada dalam masa-masa terberatnya—masa terkelamnya. Aku hanya bersabar menemaninya—cuma itu yang kulakukan. Dan, hei, itu salah satu dari daftar bagaimana bersanding dengan seseorang yang menderita depresi atau kecemasan dalam “Reasons to Stay Alive” karya Matt Haig. Buku yang membuatku lebih paham tentang depresi dan kecemasan.

31 Desember 2018

Buku Paling Berkesan 2018

Edited by Me

Beberapa hari lalu akun Twitter-nya Twitter mengepos: “Your 2018 in emojis”. Ketika mau jawab dengan emoji yang berhubungan sama Amerika Serikat, aku bertanya-tanya, “Kayaknya nggak cuma tentang Amerika Serikat deh.” Karena 2018 memang lebih dari itu. Selain ke Amerika Serikat dalam rangka beasiswa kuliah dan magang (lihat di sini), buku antologi yang aku berkontribusi di dalamnya juga akhirnya rilis setelah menunggu selama hampir dua tahun (lihat di sini). Bisa dibilang itu dua sorotan utama tahun ini. Yang lainnya? Mungkin tentang bagaimana aku memenej diri sebagai pelajar, editor di Ruang, dan pembaca. Aku masih mengurusi kanal Fiksi Populer Ruang dengan intensitas yang sedikit dikurangi—terima kasih kepada ibu managing editor Ruang yang memberikan kelonggaran atas target artikel bulanan. Dan aku masih bisa merampungkan tantangan membacaku dengan melahap lebih dari 70 buku selama tahun 2018.

Bisa dibilang membaca buku menjadi bagian yang paling butuh usaha. Selain harus meluangkan waktu untuk membacanya, aku yang berpindah ke Amerika Serikat ini sedikit kesulitan dalam beradaptasi terutama dalam pemilihan buku. Mungkin aku pernah bilang di suatu pos di blog BIbli ini bahwa aku jarang sekali membaca buku berbahasa Inggris. Bukan karena tidak bisa, tetapi karena malas dan kadang kesulitan dalam mengartikan kata, frasa, dan kalimat dalam bahasa Inggris. Hampir putus asa tidak bisa menyelesaikan tantangan, akhirnya pada September lalu aku memberanikan diri untuk fokus melahap buku berbahasa Inggris. Masak tinggal di Amerika Serikat tidak membaca buku bahasa Inggris? Dan sesungguhnya akses menemukan buku di sini itu mudah dan gratis—tinggal datang ke perpustakaan dekat tempat tinggal, pinjam, lalu mulai membaca.

24 Desember 2018

Ulasan Buku: Ya, Aku Lari! + Giveaway

Judul : Ya, Aku Lari!
Pengarang : Hasan Aspahani
Penerbit: DIVAPress
Tahun : 2018
Dibaca : 15 Desember 2018
Rating : ★★★

Mengetahui pengarang adalah penyair yang melalui karyanya mendapat gelar buku puisi terbaik Anugerah Hari Puisi dan Yayasan Hari Puisi tahun lalu, aku antusias dengan karya novel Hasan. Sebuah pertanyaan selalu mengemuka tentang hal itu: Kenapa pada akhirnya sang penyair yang biasanya menciptakan puisi lantas menelurkan novel? Namun, sebenarnya Hasan tidak bisa diberikan pertanyaan seperti itu. Ditilik dari bibliografinya, walaupun ia seorang penyair dengan menelurkan beberapa buku kumpulan puisi, ia juga pernah merilis sebuah buku biografi berjudul “Chairil” yang mengupas sosok Chairil Anwar. Mengingat belum membaca satu pun karyanya, aku coba melahap “Ya, Aku Lari” ini tanpa ekspektasi apa pun. Tiada garam, tiada merica, tiada saus tomat maupun kecap manis. Aku baca saja.

“Ya, Aku Lari!” berkisah tentang seorang narapidana yang baru keluar dari penjara bernama Mat Kid yang memiliki masa lalu kelam dan ingin mengenyahkannya. Ia berupaya untuk memperbaiki diri dengan mengajak anak gadisnya, Alta, hadir kembali ke kehidupannya. Tentu saja masa lalu akan selalu menempel di kening sejauh apa pun Mat Kid beranjak dan sebesar apa pun tekadnya ingin meninggalkannya. Suatu ketika Alta hampir menjadi korban penembakan di kafe tempatnya bekerja. Usut demi usut, ternyata “kawan lama” Mat Kid-lah yang berulah atas kejadian itu. Kewalahan, Mat Kid merasa harus mengenyahkan masa lalunya itu.

Kisah bukan hanya berpusat pada Mat Kid, hadir pula seorang remaja-menuju-dewasa bernama Barbar. Ia barista di sebuah kedai kopi yang juga tempat Alta bekerja. Barbar cuma nama panggilan—ia suka memutar lagu-lagu band rock legendaris God Bless yang dipunggawai oleh Ahmad Albar. Barbar kerap meracik hidangan kopi baru dengan komposisi berbeda dari jenis-jenis kopi yang ada dan menamainya sesuai dengan komentar dari si pencicip hidangan kopi barunya itu. Seperti Kopi Penjara yang dikomentari Mat Kid “seperti berada di gerbang penjara ketika saya pertama kali keluar setelah bertahun-tahun menjalani hukuman.”

01 Oktober 2018

Cerita dari Gurun: Setelah 50 Jam Jadi Sukarelawan

Edited by Me

Hari Sabtu kemarin, jam sukarelawanku menembus angka 50. Sebuah pencapaian bagiku karena: (1) aku mendedikasikan jam-jam tersebut untuk—kalau kata KBBI—melakukan kerja sukarela tanpa paksaan, dan (2) aku tidak pernah berpikir untuk melakukan hal itu. Kesibukan sebagai “pekerja teks komersial” dan prestise sebagai manusia milenial ibukota tidak sedikit pun mencetuskan diri ini untuk kerja sukarela. Aku terlalu berkutat pada kebahagiaan pribadi. Kehidupan di Amerika Serikat benar-benar mengubahku.

Kerja sukarela populer di Amerika Serikat. Saat bertanya ke seorang instruktur kampus tentang bagaimana orang Amerika Serikat melihat kerja sukarela, dia menjawab itu tergantung. Beberapa orang mungkin begitu individualistis dan apatis sehingga tidak pernah melakukan hal itu. Namun, sebagian besar orang Amerika Serikat sangat suka kerja sukarela sehingga bisa menjadi gaya hidup. Ada kepuasan batin yang muncul seusai meluangkan waktu untuk membantu. Saat kerja sukarela kemarin, aku sempat mengobrol dengan beberapa dari sukarelawan di acara tersebut. Mereka suka bekerja sukarela.

Bentuk kerja sukarelanya pun bisa apa saja. Ada sebuah organisasi bernama Feed My Starving Children yang selalu membuka sesi dua jam kerja sukarela untuk mengepak bahan makanan yang nantinya akan disumbangkan kepada anak-anak yang kelaparan di negara-negara berkembang dan terbelakang. Selain itu, seiring terdepannya Internet, ada sebuah situs yang khusus untuk mencari kerja sukarela bernama volunteermatch.org. Melalui situs itu, kamu bisa mencari bentuk kerja sukarela yang sesuai dengan kepribadianmu. Kamu bisa memilih berdasarkan preferensi, jenis kerja sukarela, dan organisasi yang membutuhkan sukarelawan. Proses adaptasi menjadi masyarakat Amerika Serikat ini begitu seru.