12 Januari 2014

Boone's Generation

Sampul
Judul : Pengacara Cilik
Judul Asli : Theodore Boone: Kid Lawyer
Pengarang : John Grisham
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2010
Dibaca : 12 Januari 2014
Rating : ★★★★

5 jam. Sekitar itulah waktu yang kubutuhkan untuk melahap habis novel satu ini.

Beda dan baru. Karena kedua hal itu yang membuatku terus melahap kata demi kata. Beda, karena ceritanya yang bercerita tentang seorang anak tiga-belas tahun yang membantu mengungkap kebenaran pada satu kasus pembunuhan terpopuler di Kota Strattenburg. Baru, karena terang saja, aku baru pertama kali membaca tulisan om Grisham.

Theodore Boone adalah anak berumur tiga-belas yang aku ceritakan tadi. Dia sebenarnya hanya seorang anak kelas delapan biasa yang bersekolah di Sekolah Menengah di Strattenburg. Tapi yang berbeda dengan anak seumurannya adalah dia sangat suka dengan hal-hal tentang hukum, pengadilan, sidang, pengacara, dan kasus-kasus. Beda kan!

Tentu saja seperti itu. Buah toh tidak jatuh jauh dari pohonnya. Ayah dan Ibunya adalah pengacara yang lumayan terkenal di kota. Mr. Boone adalah pengacara di bidang real-estate sedangkan Mrs. Boone adalah pengacara dalam kasus kasus perceraian. Mereka memiliki biro jasa pengacara bernama Boone & Boone. Mereka selalu sibuk; sibuk membantu setiap klien mereka menyelesaikan kasus-kasus. Sibuk bukan berarti tidak memperhatikan buah hati, Mr. dan Mrs. Boone selalu menyisakan waktu untuk makan malam setiap jam tujuh bersama Theo.

Dalam kisah ini, Theo tahu dia terlalu ikut campur dalam kasus yang benar-benar bukan untuk main-main. Biasanya Theo hanya membantu menyelesaikan kasus teman-temannya; seperti kasus anjing peliharaan Hallie yang lari dari rumahnya atau membantu mencari pengacara yang cocok untuk kasus Sandy dan Woody juga menjadi tempat yang aman untuk bercerita bagi April, teman sedari kecilnya yang memiliki kasus perceraian orang tuanya. Beruntunglah kalian yang memiliki orang tua harmonis. Perceraian itu membingungkan. Kalian harus memilih salah satu antara Ayah atau Ibumu. Bersyukurlah!

Kasus kali ini adalah pembunuhan seorang suami terhadap istrinya di rumahnya sendiri yang diketuai oleh Hakim Agung Henry Gantry. Theo kenal beliau; Theo kenal hampir seluruh orang di Gedung Pengadilan. Terdakwa, Mr. Pete Duffy, menyangkal dari tuduhan yang disarangkan Penuntut Umum kepadanya. Dengan sedikit bukti yang sangat lemah, membuat Mr. Duffy sedikit lagi terbebas dari tuduhan itu bila Julio, adik kelas Theo, dan sepupunya tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Yeah, pencuri tidak mungkin mengakui perbuatannya.

Lalu bagaimana selanjutnya? Apa yang akan Theo lakukan setelah mendengar kesaksian dari Julio dan sepupunya? Theo memang bicara kepada pamannya Ike Boone, adik ayahnya, yang dulunya juga seorang pengacara. Tapi apa yang terbaik yang harus dilakukan Theo? Dia bahkan baru tiga-belas tahun?

Banyak pengetahuan yang kau dalami dalam buku ini. Terlepas dari penulisnya yang memang menulis tentang hukum dan keadilan, buku ini jauh lebih bisa dicerna. Mungkin memang target pembaca adalah remaja berumur tiga-belas. Pengetahuan tentang proses persidangan dari awal hingga akhir, juga tentang istilah-istilah seperti imunitas hukum. Dan kau tidak perlu serius mempelajarinya.

Tentu saja tidak hanya pengetahuan tentang hukum. Buku ini memberikan informasi tentang bermain golf. Mr. Boone sangat gemar bermain golf. Golf adalah hobinya. Dan Theo selalu diajak setiap hari Sabtu untuk bermain bersama ayahnya. Kata-kata seperti putterputting greenfairway, dan tee off sering muncul.


Putter adalah stik golf.
Putter
Putting green adalah area pukulan yang menggunakan putter dan bagi sebagian besar pegolf merupakan area tersulit karena lebih sempit.

Putting Green
Fairway adalah lapangan dipotong pendek sehingga bola mudah untuk dipukul.

Fairway
Tee off adalah sebuah pasak kecil dengan atas cekung untuk memegang bola golf untuk drive awal. 
Tee Off
Buku yang ringan dibaca dan cocok untuk mengisi hari minggu kalian daripada hanya berdiam diri atau menonton televisi. Tentu saja untuk mengisi otak lagi dengan pengetahuan-pengetahuan baru. 

Ada sekuelnya? aku tidak sabar mengetahui bagaimana Theo menghadapi menyelesaikan kasus-kasus baru, dengan cara seorang remaja ABG yang masih ragu dalam mengambil keputusan dan yang pasti masih membutuhkan bantuan. Aku menikmati!

07 Januari 2014

The 5th Wave

Sampul
Judul : Gelombang 5
Judul Asli : The 5th Wave (The 5th Wave, #1)
Pengarang : Rick Yancey
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2013
Dibaca : 7 Januari 2014
Rating : ★★★★
Novel ini adalah pemberian giveaway dari Sang Penerjemah, mba Angelic Zaizai di grup facebook yang aku buat. Sangat terharu...

Oke. Aku penasaran sama senapan M16 dan pisau-mengerikan-sepanjang-25-centimeter. Jadi ini penampakannya:


M16

description
Pisau Mengerikan Sepanjang 25 Centimeter
Kenapa aku penasaran? Karena kedua benda itu yang terlintas ketika mengingat nama Cassiopeia Marie Sullivan atau biasa dipanggil Cassie. Cassie selalu membawa M16 pemberian ayahnya yang awalnya dia heran karena dia belum pernah menggunakan senjata apapun. Dan pisau-mengerikan-sepanjang-25-centimeter? Dia menemukannya di gudang senjata Markas Makhluk Lain.

Jadi, kenapa Cassie berhubungan dengan kedua benda itu? Itu bermula ketika Makhluk Lain yang menyerang Bumi dan membuat Bumi dan isinya (read: manusia) menjadi kacau-balau. Hampir seluruh populasi di Bumi menurun drastis karena serangan bergelombang Makhluk Lain itu. Ya. Beberapa gelombang, hingga hampir saja (lagi) Cassie mati di gelombang yang ini, gelombang kelima.

Cassie tahu bahwa Kedatangan Makhluk Lain merubah kehidupan biasanya: sekolah, menaksir Ben Parish, berlatih karate, dan lainnya. Cassie harus mencari adiknya, Sammy, yang dibawa Makhluk Lain. Bersama Evan Walker, pria yang menyelamatkan hidupnya di tengah badai salju yang dingin menggigit, Cassie mencoba menerobos markas Makhluk Lain yang mana manipulasi fakta dihadapkan pada anak-anak berumur di bawah 14 tahun. Memang pintar makhluk Lain itu! Sial!

Jadi, apa sih sebenarnya Makhluk Lain itu? Alien? Ya. Bisa dikatakan semacam itu karena arti kata alien adalah makhluk asing (read: makhluk lain) yang datang dari luar Bumi. Tapi wujudnya? Bukan, bukan makhluk dengan kepala besar bermata hitam lonjong dan berjari tangan tiga atau apapun itu. Makhluk ini ada dalam diri manusia. Bingung? Mungkin kalian harus mencari tahu sendiri. Kekeke...

Dengan adanya Makhluk Lain yang tidak digambarkan seperti biasanya, menjadikan ceritanya menjadi ingin-cepat-diketahui. Sudahlah, aku beri dua jempol karena menggugah pandanganku tentang alien atau Makhluk dari luar Bumi atau apapun kalian ingin sebutkan yang bisa datang kapan saja ke Bumi. Kita tidak tahu mungkin mereka sudah mengintai Bumi dan manusianya selama beberapa abad. Dan kita juga tidak tahu mungkin saja mereka sudah ada disini, di Bumi. Oh, aku ngelantur...

Selanjutnya tentang kedua cowok yang digambarkan sangat menawan. Yang satu cowok yang Cassie taksir sedari SMA, sebelum Kedatangan; Ben Parish. Satu lagi cowok yang Cassie taksir setelah Kedatangan; Evan Walker. Apa yang harus kukatakan? Evan membantu Cassie mencari adiknya. Ben pun sudah kenal adiknya akhir-akhir ini di Markas Makhluk Lain dan juga ingin menyelamatkan Sam. Jadi siapa yang Cassie pilih? Apakah cinta masih penting mengingat akhir peradaban manusia sudah di ujung tanduk? Menarik. Aku yakin ini kisah cinta yang nge-twist banget...

PoV-nya tidak melulu Cassie; ada Sam dan Ben juga di dalamnya sehingga tidak membuat bosan. Perbedaan pandangan dari setiap karakter pun berbeda, misalnya Sam dengan lagak kekanak-kanakannya (pastilah, karena dia masih berumur lima tahun). Asli, mungkin kalau PoV novel setebal lima-ratusan halaman ini cuma Cassie, aku bakal meninggalkannya. Ups.

Novel ini penuh dengan cerita pengorbanan, kegigihan, kesetiaan, dan kepercayaan. Kental juga dengan kisah cinta, maksudku bukan cuma cinta antara lelaki dan perempuan, tetapi juga kakak dan adik. Sungguh, setelah kalian membaca ini, kalian tidak akan menyia-nyiakan saudara kandung kalian. Kalian tahu apa maksudku...

Satu lagi kisah fantasi yang membuat khayalan dan imajinasiku semakin bertambah. Ini yang aku suka dari novel fantasi.

Lanjutannya? Aku menanti...

23 Desember 2013

The Eyes of The Dragon

Sampul
Judul : Mata Naga
Judul Asli : The Eyes of The Dragon
Pengarang : Stephen King
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2012
Dibaca : 23 Desember 2013
Rating : ★★★★

Pertama kali membaca karangan seorang Stephen King dan... aku terhanyut. Asli, lebay!

Jadi buku ini bercerita tentang penunggang, naga dan api yang menyembur keluar dari mulutnya? Bukan. Tidak seperti itu. Aku terkecoh dengan judul buku ini. Dan mungkin kalian juga begitu. Hanya satu naga yang tercerita di kisah ini, bahkan itu hanya sebuah cerita di dalam cerita. You know what I mean. You don't? You have to do it!

Jadi, ini adalah cerita tentang kerajaan; sebuah kerajaan bernama Delain. Bercerita tentang kisah Raja Roland yang tidak gagah, tidak terlalu pintar, juga tidak bijaksana yang memerintah Delain dengan bantuan seorang Penyihir bernama Flagg, seorang Penasehat Raja. Roland memiliki satu istri yang dinikahinya di usia tua karena didesak untuk memiliki keturunan untuk meneruskan tahta, bernama Sasha, juga dua orang anak. Dan ceritanya adalah bukan tentang Roland, tetapi mengenai kedua anaknya, Peter dan Thomas. Walaupun begitu, asal-muasal cerita memang dari Raja yang suka mabuk-mabukan itu.

Singkat cerita, Sasha dan Roland meninggal ketika Peter berumur 17 tahun dan Thomas 12 tahun. Jangan ditanya kenapa Sasha dan Roland meninggal atau siapa yang akan meneruskan tahta. Semuanya ada hubungannya dengan Penasehat Raja itu. Ya, Flagg.

Dan bagaimana itu bisa berhubungan? Apa yang terjadi pada Peter dan Thomas setelah kedua orang tua mereka meninggal? Aku tak mau menceritakannya.

Novel ini penuh dengan cerita keberanian, kepemimpinan, kesetiaan, persahabatan, juga tentang kelicikan dan rasa puas diri yang salah kaprah. Oh, kalian pasti tahu ulah siapa itu! Tapi aku yakin yang menjadi Raja Delain di kemudian hari itu adalah seorang raja yang pintar, bijaksana, dan berani.

Terlepas dari itu semua, aku mau membahas tentang kenapa aku terhanyut dengan gaya penulisan om King. Aku seperti didongengi oleh dia. Kau tahu kalau ada yang mendongeng pasti ada sebagian kalimat subjektif tentang bagaimana pendongeng memberi tahu perasaannya tentang cerita yang sedang dibuatnya. Begitulah om King, dan aku baru sekali ini membaca begitu diperhatikan. Diperhatiin buku?! Please deh!

Aku sempat berkicau sehabis membaca tuntas novel ini. Aku bilang: One more epic-fantasy tale about family, friendship & dark-side. So classic! Dan aku tidak akan mencabut kata-kataku itu mengingat novel ini tercipta dua-puluhan tahun lalu. Aku tahu bahkan buku yang baru diterbitkan baru-baru ini juga bisa disebut buku klasik. Tapi novel ini berisi sesuatu yang akan terus kau ingat, tentu saja bila kau membacanya. Baca dan nilai sendiri!

11 Desember 2013

The Hunger Games

Jadi, serial novel ini adalah salah satu yang "harus-dibaca" bagi para penggemar novel fantasi. Aku mengakuinya. Memang cerita fantasinya berbeda dengan yang lainnya. Walaupun sama-sama tentang kehancuran suatu negara atau wilayah yang biasa disebut novel bergenre distopia, tetapi ide ceritanya berbeda dengan yang lain.

Seri ini bercerita tentang suatu kondisi negara bernama Panem yang setiap tahun mengadakan acara tahunan sebagai bentuk rasa syukur dan rasa berterima kasih rakyat kepada pemimpin. Disini terlihat kepemimpinan yang otoriter sedang dijalankan oleh Panem.

Acara tahunan itu adalah The Hunger Games. Seperti namanya, acara ini merupakan permainan yang para pemainnya atau disebut "tribut" harus saling membunuh. Yang salah adalah para tribut ini harus berusia di bawah 18 tahun.

Nah... Nah... Menarik bukan? Berikut adalah ulasan trilogi The Hunger Games yang mana setiap filmnya masuk deretan teratas box office (walaupun sampai ulasan ini diturunkan, baru dua film yang sudah rilis). Ough!

***
Sampul
Judul : The Hunger Games
Pengarang : Suzanne Collins
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2009
Dibaca : 31 Oktober 2013
Rating : ★★★★
Akhirnya selesai juga. Seru! Suatu konsep dunia yang baru, layaknya The Maze Runner atau Delirium dengan aksi yang kental. Bela-belain baca dan membuat review se-dini hari ini.

Fantasi? Tentu saja aku mencari-cari ada entitas yang tidak biasa dalam ceritanya, tapi aku hanya bertemu gerombolan serigala berdiri di akhir cerita yang bahkan hanya lewat setengah hari saja. Itu yang membuatku mengurungkan membuat nilai sempurna.

Seorang anak dilahirkan untuk diundi dan diserahkan untuk mati dalam suatu "ajang pencarian bakat". Seperti X-Factor? Ya, harus ada pemenang. Tapi, tidak semudah dan sesimpel itu. Kau harus bertarung dan bertahan hidup hingga kau menjadi penghuni terakhir yang masih hidup. Penghuni Terakhir ya? Kayak ajang pencarian bakat di salah satu stasiun televisi nasional itu. Hahaha....

Tentang peraturan ajang tersebut tidak akan kuceritakan karena akan menghabiskan waktu. Tapi tentang pemikiran subjektifku akan ajang tersebut... Aku berpikir, berarti hampir di semua ajang pencarian bakat itu seperti ini di dunia nyata? Benarkah? Suatu waktu ada yang pernah bilang kalau ajang tersebut hanya untuk menarik para penonton dan sponsor agar bisa memberikan sumbangsihnya untuk acara. Semacam charity? Bukan, ini dilakukan dengan pamrih. Semua untung. Semua kebagian. Dan mungkin para peserta juga dibuat sedemikian rupa untuk berlaga layak drama. Atau mungkin dalam setiap minggunya sudah ditentukan siapa yang akan dieliminasi dan dibayar atas itu? Hmmm... pemikiran ini terlalu buruk. Tapi, siapa yang tahu?

Kembali ke novel, kisah ini menceritakan dua pasangan dalam satu ajang yang dipaksauntuk saling mencinta, dipaksa saling berakting untuk mendapat sponsor. Tapi, selain itu, mereka juga harus berjuang untuk hidup. Entah bagaimana hingga akhirnya mereka benar-benar jatuh cinta dalam kehidupan nyata, tanpa berpura-pura, tanpa naskah skrip, tanpa berakting. Bisakah?

Satu cerita yang bisa mengajarkan arti hidup dengan segala kamuflase agar manusia mendapatkan uang, tetap mengisi perut yang selalu ingin minta tambah, dan tetap hidup. Dengan superioritas diktator yang menganggap diri mereka pengatur kehidupan dan manusia menghamba dengan paksa kepadanya. Kehidupan yang mengerikan!

Semua itu berpadu dengan sikap rela berkorban dan tidak memikirkan diri sendiri. Itu yang mungkin dijelaskan dalam novel ini.

***
Sampul
Judul : Tersulut
Judul Asli : Catching Fire
Pengarang : Suzanne Collins
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2010
Dibaca : 8 November 2013
Rating : ★★★★

Buku kedua. Ketika cerita mulai menjadi lebih kompleks.

Tapi sebenarnya ini membosankan. Maksudku, dalam seri ini. Kenapa harus ada Hunger Games lagi? Walaupun dengan nama Quarter Quell, tapi kalau format permainannya sama, bagaimana pembaca (read: me) ingin lanjut membaca? Tidak! Tidak lima bintang!

Terlepas dari Hunger Games yang menguras tenaga dan jiwa, ide cerita yang sangat ditonjolkan disini adalah "pemberontakan". Kalau dengar kata berontak, pasti kita teringat akan tahu. Tahu berontak? Bukan, bukan. Kalau dengar kata berontak, pasti teringat tentang kehancuran daerah itu yang berlanjut ke akhir dunia.

Tapi novel ini belum. Belum akhir, masih pada bagian awal dan pada saat "deklarasi" tak bertoa yang memecah distrik-distrik di Panem untuk memulai. Seru? Pasti! Karena Katniss dan Peeta bahkan tidak tahu apa-apa mengenai rencana itu. Para peserta yang adalah para pemenang Hunger Games sebelumnya malah menjadi penggagas pemberontakan. Ah, pokoknya seru!

Lalu, penambahan karakter yang banyak memberi keberagaman dalam cerita. Sedikit pusing tentang siapa dari distrik mana, tapi selebihnya tidak masalah karena karakter utama seperti Katniss, Peeta, Gale masih lebih menonjol. Tapi ada karakter tambahan yang menonjol: Finnick. Si six-pack impian para wanita Capitol dari distrik... empat kalau tidak salah.

Tentang kisah cinta, mengingat seri ini ber-genre Young-Adult, Katniss dan Peeta masih memerankan sepasang kekasih, bahkan lebih seru lagi ketika Peeta memberitahu bahwa Katniss sedang hamil. Padahal ya, semua itu palsu... su... su...

Pelajaran yang dapat diambil adalah kesetiaan, bagaimana Katniss ingin berusaha agar Peeta tetap hidup. Bagaimana Finnick melindungi Katniss dan Peeta, pasangan pionir atas pemberontakan. 

Selanjutnya adalah rasa persatuan. Persatuan atas pemberontakan, atas sama-sama ditindas oleh Capitol dan ingin berubah. Persatuan ketika pemberontakan menjadi kunci untuk perubahan.

Jadi, setelah membaca buku satu, bacalah buku dua! Dan mungkin kalian ingin membaca buku ketiga...

***
Sampul
Judul : Mockingjay
Pengarang : Suzanne Collins
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2012
Dibaca : 11 Desember 2013
Rating : ★★★★

Bahagia. Senang. Itu perasaanku setelah membaca lengkap semua seri The Hunger Games ini. Sepertinya aku lolos mejadi menjadi seorang fanatik fantasi. Sebenarnya ini terlalu subjektif, tapi berilah keleluasaan untukku!

Selanjutnya apa? Sebelumnya di buku dua, Katniss tidak sadar atas apa yang dilakukannya di arena Quartel Quell karena dia benar-benar tidak tahu apa yang sedang direncanakan untuk dirinya. Di buku tiga, Katniss tetap menjadi seorang yang rapuh dilihat dari kondisi fisiknya yang menurun.

Distrik Tiga Belas, yang Capitol bilang sudah menjadi distrik yang hangus ternyata masih ada. Para penduduknya bersembunyi di lorong-lorong bawah tanah yang luas tanpa sepengetahuan Capitol dan distrik lain. Tiga belas menjadi savior bagi para korban yang selamat dari pengeboman di Distrik Dua Belas. Dua Belas sudah hancur dan tengkorak-tengkorak korban bergelimpangan di sana. Tiga Belas, bersama Presiden Alma Coin, menjadi 'hal yang sangat berpengaruh' dalam pergerakan pemberontakan.

Tidak. Aku tidak akan menceritakan secara detail tentang bagaimana kehidupan di Tiga Belas yang pastinya berbeda dengan di Dua Belas. Aku bercerita tentang pemberontakan. Katniss Everdeen menjadi pionir dalam tersulutnya api pemberontakan. Ia harus mempengaruhi seluruh distrik dalam pemberontakan melawan Capitol. Ia juga harus tampil sebagai Mockingjay untuk dapat memberikan rasa percaya pada seluruh warga Panem.

Sebenarnya buku ini hanya empat ratus dua puluh halaman, tapi aku kalang-kabut untuk menceritakan inti ceritanya karena setiap potongan cerita itu layaknya inti cerita. Itulah yang mungkin menjadi dasar pembuatan dua bagian film dalam satu buku ini.

Maaf, tapi aku bingung harus bercerita sampai mana agar tidak memberikan spoiler. Mungkin aku hanya akan bilang: pada akhirnya Katniss hidup bahagia bersama kedua anaknya dengan berbagai kematian tragis yang terus membayanginya. Tidak, Katniss tidak akan memberitahukan hal itu kepada anaknya hingga mereka dewasa dan mengerti.

Jadi, bagaimana cara Katniss mempengaruhi seluruh penduduk Panem untuk melakukan pemberontakan? Apakah Katniss berhasil menjatuhkan Capitol? Dan siapa saja nyawa yang dikorbankan atas pemberontakan itu? Tidak! Aku tidak akan menyebut satu pun sampai kalian mengetahuinya sendiri.

Cerita yang sangat memukau, aku tak pernah merasa begitu dalam mengikuti alur ceritanya yang mendebarkan. Dengan aksi yang sangat kental, kau tak akan pernah merasa bosan dan ingin terus membaca hingga akhir. Twist yang keren dan tidak terduga masih menjadi ciri khas penulis. Tidak lupa dengan kisah romansa antara Katniss dan Peeta atau ... Gale? Atau keduanya...

Kutipan dari Plutarch Heavensbee tentang filosofi manusia setelah semua kejadian yang menimpa negeri Panem, Capitol dan distrik-distrik:

"Pikiran kolektif biasanya tak berumur panjang. Manusia adalah makhluk plin-plan dan bodoh, dengan ingatan yang payah dan diberkahi kemampuan menghancurka diri sendiri. Walaupun tak ada yang bisa menerka masa depan, mungkin inilah saatnya perdamaian. Mungkin inilah saatnya menyaksikan evolusi manusia."

Jadi, akhir yang bahagia? Entahlah... Baca dan nilai sendiri!

04 Desember 2013

A World Without Heroes

Sampul
Judul : A World Without Heroes (Beyonders, #1)
Pengarang : Brandon Mull
Penerbit : Noura Books
Tahun : 2013
Dibaca : 4 Desember 2013
Rating : ★★★★★

Satu lagi kisah fiksi fantasi yang epik! Sangat klasik! Dan ... tebal!

Awalnya aku ragu dengan novel setebal hampir 600 halaman ini. Dengan kertas buram dan berat yang hampir 300 gram (kurang lebih). Tapi, itu baru kesan pertama dari bentuk luar. Seperti sebuah kurma yang keriput dan terlalu tidak menarik jika dilihat, tetapi bila dimakan terasa manis dan legit. Seperti itu lah...

Ya, memang, awalnya juga aku menebak-nebak kisah dari negeri manakah, kisah dari mitologi bangsa apakah yang diceritakan oleh om Brandon disini? Mungkin karena aku terlalu terpengaruh oleh kisah-kisah om Rick Riordan yang setiap kisahnya bercerita tentang sejarah mitologi.

Tapi memang tidak ada kesamaan. Ini kisah pure fantasi yang setting-nya dibuat oleh Penulis sendiri. Aku pikir itu sangat cerdas melihat kisah sebesar ini dibangun sendiri oleh penulis. Berbeda dengan kisah mitologi yang ceritanya sebagian sudah termaktub di telinga para leluhur. Namun, kembali lagi, tingkat kreativitas penulisan setiap orang itu berbeda. Aku belum membaca The Lord of The Ring atau buku yang katanya epik lainnya. Mungkin kurang lebih seperti ini. Just maybe. Klasik!

Seorang anak laki-laki berusia tiga belas tahun yang terdampar di negeri Lyrian yang sangat kuno bernama Jason Walker. Walker? Paul Walker? RIP Paul Walker! Dia dihadapkan pada kenyataan bahwa dia harus mencari Kata untuk menggulingkan kekuasaan jahat seorang Kaisar di negeri tersebut, Maldor yang sudah bertahun-tahun lamanya menguasai negeri Lyrian. Tidak ada seorang pun yang belum bisa menggulingkannya, menjadi pahlawan yang menyelamatkan negeri. No heroes has figured it out in the world without heroes!

Bersama Rachel, teman-tersesat-di-negeri-antah-berantah itu, Jason memulai petualangan mereka.

Mereka bertualang menyusuri Lyrian untuk mencari setiap potongan (silabel) Kata yang berbeda. Setiap Kata dimiliki oleh makhluk-makhluk yang berbeda di tempat yang berbeda dengan tingkat pencapaian menuju tempat tersebut yang berbeda pula. Itulah yang membuat kisah ini sangat adiktif: apa silabel Kata selanjutnya dan seberapa sulitnya mencapai daerah berbahaya tempat bersemayam makhluk-makhluk yang memiliki Kata itu?

Dengan Kata itu Maldor bisa lenyap dan Lyrian kembali menjadi negeri idaman para rakyatnya. Apakah Jason dan Rachel menemukan semua Kata? Apakah Kata itu sungguh bisa melenyapkan Maldor dan kekuasaan kejinya itu? Dan, bagaimana cara Jason dan Rachel kembali ke Bumi, ke dunia mereka yang sebenarnya? Apakah mereka berpisah atau bersatu untuk menyelesaikan misi tersebut?

Novel ini penuh kisah perjuangan, rasa rela berkorban, rasa kepahlawanan dan rasa tidak mementingkan diri sendiri. Novel ini juga menjelaskan tentang tipu daya, tentang bagaimana hidup penuh kesenangan adalah salah. Semua itu dibalut jadi satu menjadi kisah petualangan yang sangat seru!

Sedikit kutipan tentang arti seorang pahlawan.

"Bagi begitu banyak orang, pahlawan adalah orang yang menang di medan pertempuran, komandan legiun, penguasa suatu bakat atau keahlian yang langka. Memang, banyak pahlawan yang cocok dengan gambaran itu, Tapi, banyak penjahat juga yang juga cocok dengan gambaran itu. Pahlawan berkorban untuk kebaikan yang lebih besar. Pahlawan memiliki hati nurani. Singkatnya, kepahlawanan berarti melakukan kebenaran, apa pun konsekuensinya. Pilihlah hari ini untuk menjadi salah satu dari mereka."

Kutipan tentang arti kesenangan.

"Kesenangan adalah hampa. Tak ada kepuasan sejati dalam semburan kegembiraan yang tak bermakna. Kau mencoba menutupi kehampaan itu dengan semakin berfoya-foya, hanya untuk menemukan kegembiraan itu semakin tidak memuaskan dan semakin singkat. Kesenangan sebaiknya dicicipi sebagai bumbu penyedap, bukan hidangan utama."

Selamat menikmati satu lagi novel epik-klasik yang akan menjadi kisah populer di masa depan!
Back to Top