Tampilkan posting dengan label short stories. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label short stories. Tampilkan semua posting

19 Maret 2017

Ulasan Buku: Tuhan Tidak Makan Ikan dan Cerita Lainnya

Judul : Tuhan Tidak Makan Ikan dan Cerita Lainnya
Pengarang : Gunawan Tri Atmodjo
Penerbit : DIVA Press
Tahun : 2016
Dibaca : 12 Maret 2017
Rating : ★★★★

"Aku sering berkhayal, andai saja ada kesempatan memilih cita-cita selain nelayan, aku ingin menjadi agen koran dan buku agar bisa membaca sepuas-puasnya." —Tuhan Tidak Makan Ikan (hal. 119)

Sebenarnya, aku sedang bertanya tentang buku terbitan DIVA Press berjudul "Sejumlah Alasan Mengapa Tiap Anak Sebaiknya Melahirkan Seorang Ibu" yang menjadi pilihan salah satu pemenang giveaway #BBIShareTheLove kepada Mas Dion Yulianto. Kenapa Mas Dion? Karena dia bisa memberikan diskon yang lumayan saat kamu berniat untuk membeli buku-buku terbitan DIVA Press. Setelahnya, aku yang berbasa-basi dan tidak sedang sungguh-sungguh ingin menambah lagi timbunanku meminta rekomendasi buku terbitan DIVA Press yang terbit baru-baru ini kepadanya. Ia menyebut buku karya Gunawan Tri Atmodjo ini dan aku dibuat penasaran karena hampir semua ulasannya memuaskan. Walaupun sampul bukunya tidak terlalu memikat (wajah siapa sih itu), aku langsung pesan bukunya. Harus menunggu keesokan harinya sampai bukunya siap karena stok yang ada di kantor habis dan harus mengambil dari gudang. Yah, setidaknya bagaimana aku mendapatkan buku ini bisa menjadi pengantar untuk ulasan kali ini. Lumayan panjang juga ya.

***

Seorang anak laki-laki dihadapkan pada kemiskinan yang membuat dirinya cepat-cepat pergi melaut bersama ayahnya untuk menambah pundi-pundi kehidupan keluarganya. Ia yang sebenarnya punya mimpi lain dan berkeinginan lanjut sekolah harus mengandaskannya karena orang tuanya berpendapat kalau dia terlahir sebagai seorang nelayan. Seperti ayahnya. Seperti nenek moyangnya. Ia sebenarnya amat suka membaca. Ia membaca koran-koran yang tersedia di rumah. Ia bahkan sangat merasa bersalah ketika mengambil buku di perpustakaan sekolahnya dulu dan hingga kini belum dikembalikan. Ada delapan buku yang terdiri dari tiga buku keagamaan, dua buku cerita rakyat, dua buku pertanian berjudul sama, dan satu buku keterampilan. Ia telah berjanji—setidaknya kepada dirinya sendiri—akan mengembalikan buku-buku itu ke perpustakaan sekolah setelah membacanya dan akan ditepati.

Hingga pada suatu ketika musim paling berat dari yang paling berat itu tiba. Ia bersama ayahnya tidak banyak mendapatkan ikan dan berangsur-angsur yang mereka dapatkan dari laut hampir nihil. Mereka bahkan berhutang untuk membeli bahan bakar perahu. Begitupun dengan nelayan-nelayan lain di desanya. Sampai pada suatu keputusan bahwa mereka akan melalukan persembahan kepada Tuhan. Seluruh nelayan di desa akan mengumpulkan semua hasil tangkapan ikan untuk dikurbankan seberapa pun hasilnya. Ternyata pada saat hari persembahan, anak laki-laki dan ayahnya mendapatkan banyak hasil tangkapan, bahkan ada cumi-cumi berukuran agak besar yang lezat dan bernilai jual tinggi. Bagaimanapun, mereka sudah berjanji untuk mempersembahkan hasil tangkapan hari itu kepada Tuhan. Yah, apa boleh buat. Mereka hanya bisa menelan ludahnya sendiri. 

18 September 2016

Ulasan Buku: Fiksi Lotus

Judul : Fiksi Lotus: Kumpulan Cerita Pendek Klasik Dunia
Penerjemah : Maggie Tiojakin
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2012
Dibaca : 17 Agustus 2016
Rating : ★★★

"Sebut saja pembersih sarung tangan. Mungkin saja cairan ini bisa membersihkan sarung tangan. Saya belum pernah mencobanya. Ada juga yang menyebutnya sebagai pembersih nyawa. Kadang-kadang nyawa pun perlu dibersihkan." (Ramuan Cinta - John Collier, hal. 11)

Aku ingat pernah membaca salah satu cerita pendek dari "Fiksi Lotus" dan aku bertanya-tanya di mana aku membacanya. Buku ini mengingatkanku dengan kumpulan cerita Amerika Latin yang pernah kubaca berjudul "Matinya Burung-Burung". Sempat berpikir beberapa cerita yang ada pada buku ini sama dengan cerita yang ada pada buku satunya. Namun setelah dicek satu-satu, tidak ada nama penulis apalagi judul cerita yang sama. Jadi, mungkin aku hanya halu~

***

Seperti yang tertera pada sampul utama, buku ini berisi 14 cerita pendek klasik dunia. Nama-nama yang pernah kudengar antara lain: Franz Kafka dengan cerpennya berjudul "Pesan Sang Kaisar" yang diterjemahkan dari "A Message from the Emperor" yang pertama kali diterbitkan pada 1917, cerpen Ernest Hemingway berjudul "A Clean, Well-Lighted Place" yang terbit pertama kali pada 1926 dan pada buku ini diterjemahkan menjadi "Persinggahan Malam", dan Anton Chekhov yang cerpennya pada buku ini—"Gegap Gempita"—diterjemahkan dari "Rapture" dan pertama kali diterbitkan pada 1884.

***

Aku pernah bilang pada ulasan cerita pendek sebelumnya bahwa satu di antara sekian banyak cerpen dalam kumpulan cerpen pasti melekat di benak. Pada "Fiksi Lotus Vol.1" ini, benak saya dilekatkan pada cerita karya Shirley Jackson berjudul "Charles" yang pertama kali diterbitkan pada 1948. Hentakan plot yang diberikan pada akhir cerita "Charles" memberiku pelajaran tentang bagaimana membuat cerpen yang sempurna dan membekas. Hal brilian itu adalah kejutan tak tertuga pada akhir cerita.

23 Agustus 2016

Ulasan Buku: Kereta Tidur

Judul : Kereta Tidur
Pengarang : Avianti Armand
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2011
Dibaca : 17 Agustus 2016 (via SCOOP)
Rating : ★★★★

"Mesaud dan Sania membuka tutup peti itu. Di dasarnya, mereka menemukan sebuah pintu. Di balik pintu itu terhampar semua yang mereka inginkan. Sejenak mereka berpandangan, tersenyum, lalu sambil bergandengan tangan, melangkah masuk." - Dongeng dari Gibraltar (hal. 27-28)

Kapan terakhir kali membaca kumpulan cerpen ya? Sekitar satu atau dua bulan lalu. Kumpulan cerita memang punya daya pikat tersendiri. Pembaca dibawa merasakan secuplik kisah yang tidak lama untuk disimak namun bisa jadi tidak sebentar melekat di benak. Yakinlah bahwa dari sekumpulan cerita dalam sebuah buku terdapat satu kisah yang menggema dalam ruangmu. Aku mendapatkannya pada cerita yang berjudul "Sempurna" di buku ini. Dan kalau boleh, aku akan menempatkan "Dongeng dari Gibraltar" dan "Perempuan Tua dalam Kepala" di urutan berikutnya.

***

"Sempurna" berkisah tentang seorang gadis yang hidupnya sempurna dari segala sisi; paras, harta, hingga lelaki yang mencintainya. Kesempurnaan itu hancur ketika sang kekasih memberi tahunya bahwa mereka tidak bisa bersama lagi karena sudah memiliki wanita pujaan lain. Saat itulah sang gadis merasa hancur. Ia melakukan hal nekat pada lelaki tersebut; sebuah perlakuan yang dianggapnya sempurna.

30 Juni 2016

Ulasan Buku: 14th Guardian

Sampul
Judul : Fantasteen Numb3rs: 14th Guardian
Pengarang : Dwi Pratiwi, dkk.
Penerbit : DAR! Mizan (Mizan)
Tahun : 2016
Dibaca : 26 Juni 2016
Rating : ★★★

"Ketika kamu ingin melampaui satu, ingatlah bahwa sesuatu di atas satu adalah nol. Dan nol menandakan ketiadaan." (hal. 17)

Tidak ragu lagi untuk membeli buku ini karena salah satu teman komunitas menjadi kontributor di dalamnya. Cerita yang ditulisnya menjadi judul buku ini dan dibuatkan komiknya. Siapa sih yang tidak bangga bila hal yang diidam-idamkannya terwujud? Temanku ini juga sudah lama menginginkan tulisannya diterbitkan—bahkan dalam pengantarnya dia menulis, "Satu dari sekian banyaknya kutu buku yang bercita-cita jadi penulis". Dan akhirnya dia meraih cita-citanya itu! Selamat ya, Ratih!

***

Buku ini berisi lima cerita pendek dan dua di antaranya ditampilkan dalam bentuk komik. Kesemuanya memang memiliki satu kesamaan, yaitu sama-sama berjudul angka atau mengandung angka. Walaupun memang cerita-cerita di dalamnya tidak memberikan satu benang merah yang membuat pembaca harus membaca keseluruhan cerita. Tapi buku dengan tebal tidak sampai 100 halaman ini patut untuk dibaca karena setiap cerita memberikan keseruannya masing-masing.

22 Februari 2016

Reruntuhan Musim Dingin Blog Tour + Giveaway


Raafi dan Bibli kembali dipercaya menyelenggarakan blog tour sekaligus giveaway bersama Penerbit DIVA Press. Kali ini, kumpulan cerita pendek karya Sungging Raga menjadi tamunya. Jujur, aku belum membaca satu pun cerpennya. Bagaimana ya gaya penceritaannya? Langsung ditilik saja!

03 Oktober 2015

Kukila

Sampul
Judul : Kukila
Pengarang : M. Aan Mansyur
Penerbit : Gramedia Pustaka utama
Tahun : 2012
Dibaca : 1 Oktober 2015
Rating : ★★★

"Catatan harianku, apakah kau sepakat jika aku mengatakan agama itu rupanya sebuah beban mahaberat? Aku yakin telah berjuta-juta pasangan kekasih ditimpa beban berat agama, seperti penduduk kampung tertimpa musibah, bencana." (Kukila - halaman 27)

Buku ini berisi 16 cerita. Aku tidak bisa menyebutnya 16 "cerita pendek". Cerita berjudul "Kukila" termuat 60 halaman—cerpen biasanya tidak lebih dari 10 halaman. "Lebaran Kali Ini Aku Pulang" malah sebaliknya, berisi bab-bab sangat pendek yang membentuk satu cerita. Cerita lainnya berjudul "Setia adalah Pekerjaan yang Baik" bahkan berformat kultwit (kuliah twitter), berisi deret kicauan beruntun yang bercerita. Beragam sekali.

Cerita-cerita yang diangkat adalah seputar kegelisahan hati dan kekejian ego. Ada cerita tentang ditinggal pergi suami. Ada cerita tentang selingkuh. Ada cerita tentang sakit hati. Dan ingatlah bahwa pengarang sungguh ajaib memuisikan kata-kata; membuat cerita-cerita yang dituturkan menjadi lebih indah dan berkelas.

Aku sangat ingin menjabarkan pengalaman membaca cerita-cerita dalam buku ini, satu per satu. Tapi mungkin akan begitu menyebalkan bila kutulis semua; terlalu capai kan menggulirkan layar monitor dan telepon pintar ke bawah? Aku pilih saja tiga cerita yang kusebutkan di atas: Kukila, Lebaran Kali ini Aku Pulang, dan Setia adalah Pekerjaan yang Baik.

17 Agustus 2015

Perempuan Patah Hati

Pengarang : Eka Kurniawan
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun : 2015
Dibaca : 16 Agustus 2015
Rating : ★★★★

Aku mendapatkan buku ini sebagai hadiah dari seseorang pada pertemuan komunitas Klub Buku Tangerang beberapa bulan lalu. Dan baru kali ini aku menyempatkan baca. Buku ketiga penulis yang kubaca setelah Corat-Coret di Toilet dan Lelaki Harimau. Tidak seperti karya-karya sebelumnya, hampir seluruh cerpen pada buku ini lebih mengedepankan latar tempat.

Sebenarnya aku mau mengulas kesemua cerpen pada buku ini. Tapi judulnya sungguh banyak. Sepuluh? Lebih. Buku ini berisi lima belas cerita pendek yang sebelumnya pernah dimuat di surat kabar nasional seperti: Kompas, Koran Tempo, dan Media Indonesia. Tapi anehnya buku ini tidak lebih dari 170 halaman. Jadi aku hanya akan membeberkan judul, kutipan, serta rating dari setiap cerpen. Monggo!

***

Gerimis yang Sederhana (3/5)
"Ya, ya, aku tahu. Aku juga pernah kenal seorang lelaki yang selalu mencopot cincin kawinnya setiap bertemu perempuan baru." (hal. 11)

08 Agustus 2015

Malam Terakhir

Sampul
Judul : Malam Terakhir
Pengarang : Leila S. Chudori
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tahun : 2012
Dibaca : 6 Agustus 2015
Rating : ★★★★

Setelah "Pulang" yang membuatku kesengsem dengan gaya bercerita Leila, aku coba membaca kumpulan cerpennya dengan buku ini. Sembilan cerpen masuk dalam buku cetak ulang ini; cetakan pertama terbit pada 2009. Hampir kesemuanya ditulis Leila sejak tahun 80-an, hanya satu cerpen yang ditulisnya pada 1996. Cerita-ceritanya begitu menggugah, bahkan indah. Serius. Aku akan memberikan detailnya.

21 Juni 2015

Kata Kota Kita

Sampul
Judul : Kata Kota Kita
Pengarang : 17 Penulis Gramedia Writing Project Batch 1
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2015
Dibaca : 21 Juni 2015
Rating : ★★★

Buku ini adalah hadiah giveaway yang diselenggarakan oleh salah satu penulis cerpennya, Utha alias Tsaki Daruchi. Sebenarnya sudah sejak Maret buku ini berada di rumah, tapi karena banyak timbunan lain yang lebih memikat, aku baru bisa menyelesaikannya sekarang.

Merupakan kumpulan cerpen 17 penulis Gramedia Writing Project (GWP) yang diselenggarakan oleh penerbit tersebut untuk mencari bakat-bakat menulis terpendam dari seluruh penulis di Indonesia. Kurang lebih seperti itu. Buku ini menonjolkan setting tempat sebagai tema utama. Seberapa menarikkah buku ini? Berikut ulasan singkat dari setiap cerpen di buku ini. Ada 17 lho!

***

Ora - Ayu Rianna
(2/5)

Cerpen pertama. Aku bertanya-tanya kenapa cerpen ini ditaruh paling pertama. Setelah kutelisik, ternyata cerpen diurutkan sesuai abjad penulisnya. Latar Ora masih belum terasa untuk kumpulan cerpen yang katanya menonjolkan latar kota. Cerita romensnya sebatas cowok yang terlalu mendesak cewek masa lalunya yang sudah menikah untuk kembali ke Jakarta. Move on dong, Mas.

13 Juni 2015

Matinya Burung-burung

Sampul
Penyusun : Ronny Agustinus
Penerbit : Moka Media
Tahun : 2015
Dibaca : 10 Juni 2015
Rating : ★★★

Seperti yang tertulis di sampul, buku ini berisi kumpulan cerita sangat pendek dari Amerika Latin. Bila kalian lebih jeli, di atas aku menulis "penyusun" bukan "pengarang" seperti ulasan-ulasan sebelumnya. Ronny Agustinus adalah penyusun sekaligus penerjemah buku lebih dari 30 penulis ini.

Aku tertarik dengan buku ini karena cerpen yang ditaruh di awal: "Simulakra", diterjemahkan dari "Simulacros" karya Edmundo Paz Soldán asal Bolivia. Bercerita tentang seorang bocah pandai berbohong sedari kecil. Ia tetap melakukannya hingga hal yang sangat krusial terjadi dan ia tetap berbohong.

***

Penyusun benar-benar pandai dalam menyusun cerita-cerita pendek dalam buku ini. Awalan yang menggugah dengan cerpen "Simulakra" karya Edmundo Paz Soldán dan diakhiri cerpen "Bau Mayat" yang diterjemahkan dari "Del hedor de los cadáveres" karya Sergio Ramírez asal Nikaragua. Bau mayat-nya pasti akan terngiang-ngiang di benak pembaca seusai membaca.

18 Mei 2015

Senja yang Mendadak Bisu Blog Tour + Giveaway


Yeay! Bibli dipercaya lagi untuk mengadakan blog tour di blog Bibli. Kali ini Bibli bekerja sama dengan Penerbit DIVA Press dan Kampus Fiksi untuk membagikan satu buku "Senja yang Mendadak Bisu" karya teman-teman alumni Kampus Fiksi pada ulang tahun kedua Kampus Fiksi. Kita cari tahu seberapa bagus fiksi para kandidat ini!

10 April 2015

Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali

Pengarang : Puthut EA
Penerbit : INSISTPress
Tahun : 2009
Dibaca : 7 April 2015
Rating : ★★★★

Aku belum pernah mendengar nama Puthut EA sampai beberapa waktu lalu seorang teman memaksaku untuk coba membaca bukunya. Aku datang ke rumahnya dan aku dipinjami buku ini. Terang saja, waktu itu aku tidak janji mengabulkan permohonannya, sampai aku membuka halaman pertama.

Buku ini berisi lima belas cerita pendek penulis yang sebagian besar sudah pernah dimuat di media massa seperti Kompas dan Media Indonesia. Lima cerita pendek pertama belum pernah dipublikasikan. Aku mengulas setiap cerpennya singkat.

***

Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali (belum dipublikasi sebelumnya)
Bercerita tentang dua pria yang sudah lama kenal dan sedang mengobrolkan masa lalu. Ketika salah satu dari mereka memiliki pengalaman yang membuatnya tidak mau lagi makan makanan dari bebek, bahkan peristiwa itu membawanya ke nasib buruknya.

17 Februari 2015

Filosofi Kopi

Sampul
Judul : Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade
Pengarang : Dee
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun : 2012
Dibaca : 15 Februari 2015
Rating : ★★★★

Buku kedua Dee yang kubaca setelah Perahu Kertas yang sudah lama dibaca; sekitar SMA kelas satu atau dua. Aku ingat, buku itu kupinjam dari seorang teman yang kini sudah berstatus mantan pacar. Sedih mengingatnya. Ini kenapa jadi curhat gini?

Aku tertarik karena melihat poster film yang berseliweran di twitter dan portal-portal hiburan. Awalnya aku kira buku ini sebuah novel; ternyata kumpulan cerita pendek dan prosa ini. Mungkin hanya cerita berjudul "Filosofi Kopi" saja yang difilmkan. Aku bertanya-tanya bagaimana kalau Rico de Coro difilmkan.

12 September 2014

Dubliners

Sampul
Judul : Ibunda
Judul Asli : James Joyce: Great British and Irish Short Stories
Pengarang : James Joyce
Penerbit : Nuansa
Tahun : 2004
Dibaca : 12 September 2014
Rating : ★★★★

Edisi terjemahan ini adalah kumpulan empat dari lima belas cerita pendek karya penulis yang terdapat dalam Dubliners, buku yang terbit pertama kali pada tahun 1914. Penerbit dari Kuala Lumpur membuat edisi lebih tipis dengan mengangkat empat cerita pendek: Araby, The Sisters, Eveline, dan A Mother yang berjudul James Joyce: Great British and Irish Short Stories; kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan diterbitkan dengan judul Ibunda.

11 Mei 2014

The Demigod Files

Sampul
Judul : The Demigod Files
Pengarang : Rick Riordan
Penerbit : Nourabooks 
Tahun : 2014
Dibaca : 3 Mei 2014
Rating : ★★

Sudah lima belas buku  –dengan ini– penulis yang kubaca, tapi aku masih merasa kagum. Ceritanya seru dan tidak membosankan seperti biasa. Begitu juga dengan buku ini yang berisi tentang cerita pendek petualangan Percy Jackson dan kawan-kawannya. Selain itu ada juga wawancara penulis dengan beberapa demigod krusial seperti Percy, Annabeth dan juga Grover.

Ada tiga buah cerita pendek yang tersaji dalam buku ini. Yang pertama adalah Percy Jackson dan Kereta Perang Curian, Percy Jackson dan Naga Perunggu, serta Percy Jackson dan Pedang Hades. Ketiganya sepertinya cerita yang krusial mengingat tidak terjamah di seri Percy Jackson & The Olympians dan The Heroes of Olympus.

***

Chariot
Dalam cerpen pertama, Percy Jackson berurusan dengan kereta perang milik Clarisse yang dicuri oleh saudara dewanya Clarisse yaitu Phobos dan Deimos. Nama kedua saudara Clarisse terdengar seperti dua satelit yang mengelilingi planet Mars. Memang nama bulan itu diambil dari kedua dewa minor itu.

Phobos melambangkan ketakutan. Deimos melambangkan teror. Kata phobia juga berasal dari nama Phobos ini. Anyway, mereka berdua sungguh jahil terhadap Clarisse. Dengan mengambil dan menyembunyikan Kereta Perang milik ayah Clarisse, Ares, membuat Clarisse takut setengah mati bila misi mengembalikan kereta itu gagal. Ares akan sangat marah.

Di situlah Percy datang. Membantu Clarisse –yang walaupun bukan teman baik– menemukan Kereta Pedang itu. Seru! Kita jadi lebih mengenal Clarisse dengan membaca ini. Bagaimana Clarisse takut pada sang ayah dan bagaimana detail-detail lain mengenai dirinya terkuak. Mau tahu? Bacalah...

“Dewa rasa takut tampak ketakutan.” (hal. 36)

***

Percy kembali bertualang, masih di sekitar Perkemahan Blasteran di Long Island. Kali ini dengan Charlie Beckendorf dan Tim Biru melawan Annabeth Chase, Silena Beauregard, dan Tim Merah dalam permainan Tangkap Bendera. Tapi ada yang salah...


The Couples
Yah. Apa sih yang ga ada yang salah bagi para demigod? Kali ini adalah kepala Naga Perunggu yang dibawa oleh semut raksasa. Mereka ingin mengambil kepala itu. Dan mulailah petempuran seru antara Percy, Annabeth, dan Silena melawan kawanan semut raksasa. Beckendorf? Dia ditawan oleh kawanan itu ketika memutuskan untuk mengambil kepala naga raksasa itu tanpa pikir panjang. Sehingga teman-temannya harus menyelamatkannya.

***

Ketiga adalah petualangan anak tiga dewa utama: Zeus, Poseidon, dan Hades dalam menyelamatkan pedang hades yang dicuri. Mereka bertiga adalah Thalia, Percy, dan Nico. Pedang ini sangat penting karena bias mengubah kekuasaan Hades menjadi lebih tinggi seperti Zeus dan Poseidon.

Persephone
Istri Hades-lah yang membuat mereka bertiga bertemu dan memberikan misi; Persephone, karena Hades terlalu malu untuk meminta bantuan bahkan pada anak demigodnya sendiri. Aku tak perlu memberi tahu siapa pencuri pedang Hades itu.

Di sini juga pertemuan Percy dengan Bob. Salah satu anak utama Titan yang bernama asli Iapetus. Kalau kalian sudah baca The House of Hades dan bingung dengan sosok Bob, di sini tempat kalian membuang kebingungan itu.

04 Mei 2014

Corat-Coret di Toilet

Sampul
Judul : Corat-Coret di Toilet
Pengarang : Eka Kurniawan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2014
Dibaca : 26 April 2014
Rating : ★★

Sebagai lulusan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada pada masa itu, sudah barang tentu penulis memiliki kemampuan bersastra yang baik. Termasuk di kumpulan cerpen ini. Begitu kental dengan kritik sosial-politik di tahun 1999 dan 2000. Memang pada tahun-tahun itu adalah awal dari masa reformasi Indonesia.

Corat-Coret di Toilet adalah salah satu cerita pendek yang terdapat di kumpulan cerpen ini. Dan ada sepuluh cerpen lainnya karya penulis yang dibuat sekitar tahun 1999 dan 2000. Yang paling mengena adalah cerpen Corat-Coret di Toilet dan Kandang Babi.

***

Ceritanya begitu berbeda. Aku baru membaca jenis cerita pendek seperti ini. Kisahnya tak ada lakon utama, cuma ada setting utama yaitu toilet. Toilet ini adalah toilet umum biasa yang penuh dengan coretan sebagaimana yang sering kita lihat di sekolah, kampus, terminal, dan tempat-tempat umum lainnya.

Kalian yang tahu Bahasa Sunda, mungkin mengerti ini
Bagaimana ya. Aku yakin kalian akan merasakan hal berbeda dengan membaca cerpen ini. Singkatnya, toilet ini adalah toilet umum di suatu kampus. Mahasiswa yang buang air di situ saling berbalas argumen dengan mencorat-coret pada dinding toilet. Hal itu membuat dinding begitu penuh dengan tulisan yang tidak teratur.

Yang membuatku kagum adalah bagaimana penulis membuat cerita yang sederhana ini menjadi kritik politik yang pedas. Dengan mengandalkan hal-hal yang biasa dilakukan, penulis dapat mengantarkan pesannya dengan penuh cibiran keras terhadap pemerintahan masa itu. Pembaca mungkin saja kaget karena hal yang tidak begitu dipedulikan bisa menjadi ajang berorasi. Hal itu adalah: Corat-Coret di Toilet.

“Aku tak percaya bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya kepada dinding toilet.” (hal. 29)

***

Lagi. Aku dibuat heran bagaimana penulis mengambil kisah-kisah yang tidak banyak orang pedulikan. Kali ini dengan cerita seorang mahasiswa yang homeless (atau kost-less) bernama Edi. Tak punya tempat untuk bermalam, membuat Edi tidur di Kandang Babi yang masih berada di kompleks kampusnya setiap malam.

Kandang Babi ini tentu saja kiasan. Karena sebenarnya Edi menempati bekas ruangan yang dipakai untuk mengoperasikan mesin stensil yang belakangan tergusur setelah penemuan teknologi komputer yang edan-edanan. (hal. 104)

Ceritanya lagi-lagi sederhana. Hanya si Edi yang –sangat beruntung dia mendapat perhatian penulis– hidup sebagai mahasiswa biasa yang tiap hari hutang sana-sini untuk mengisi perutnya yang selalu bersuara lantang. Suatu ketika Kandang Babi Edi terkunci dan barang-barangnya tergeletak di luar. Edi bingung dan terpaksa mencari tempat lain untuk bermalam.

Edi juga menceritakan bagaimana ia bertemu kawan yang dulu seangkatan dan sudah lulus, Laura, yang menjadi dosen di kampus yang sama. Edi dengan kurang ajar berhutang pada Laura dengan berdalih untuk mencari kontrakan. Tapi, tidak. Edi Idiot tak melakukannya. Edi Idiot masih menempati Kandang Babi yang sama.

Mungkin ini kritik sosial. Mungkin ini pelajaran bagaimana menjadi seseorang yang berprinsip dan bertekad untuk mencapai tujuan. Mungkin ini cerita tentang bagaimana hidup harus dijalani dengan usaha keras dan kemauan yang sungguh. Dan aku bilang itu bukan kemungkinan, itu yang aku dapatkan setelah membaca ini.

"Dialah Edi Idiot. ... Hanya Tuhan yang tahu bagaimana orang yang menurut sistem pendidikan nasional dibilang goblok ini bisa masuk universitas." (hal. 106)

***
Bersanding dengan Pramoedya Ananta Toer dan Suharto
Eka Kurniawan. Sastrawan Indonesia yang mungkin saja berakhir seperti Chairil Anwar yang karya-karyanya masih terekam jelas hingga kini, walaupun hanya di buku teks pelajaran Bahasa Indonesia.

"... Huh, dasar laki-laki mata-ke-ranjang, kataku dalam hati." (hal. 44)

23 April 2014

Just So Stories

Sampul
Judul : Sekadar Cerita
Judul Asli : Just So Stories
Pengarang : Rudyard Kipling
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2011
Dibaca : 17 April 2014
Rating : ★★

Satu hal yang pasti tentang bagaimana penulis mengecohkan pemikiran pembaca tentang penciptaan hal-hal unik pada hewan, itu satu poin yang aku suka. Seperti terciptanya tutul macan, punuk unta, dan belalai gajah.


Rudyard Kipling (1865-1936) 
Ini adalah kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh penulis. Aku tahu bahwa cerita pendek itu memiliki keterbatasan karakter dan masa (lama waktu) cerita. Tapi, buku ini membuatku terngiang-ngiang tentang hal-hal menarik itu. Cerita pendek memang pendek, tapi kalau membuatmu terus mengingat ceritanya walau sebagian, itu mungkin suatu hal yang hebat. Right?

***

Selain cerita tentang hewan (kebanyakan memang tentang hewan), ada satu atau dua cerita yang sungguh menggelikan. Yaitu tentang bagaimana huruf ditemukan. Yap, ceritanya tentang keluarga yang hanya berbicara satu sama lain, tidak dapat menulis dan belum ada huruf yang tercipta.

Suatu ketika sang ayah dan anak memancing dan bertemu dengan orang asing yang berbeda bahasa dengan mereka. Si anak meminta pertolongan orang asing itu untuk membantunya melakukan sesuatu dengan gambar yang dibuat di selembar kulit dahan pohon. Tapi tetap saja orang asing itu tak mengerti. Sungguh menggelikan bagaimana cerita itu terjadi; bagaimana mereka saling menerka-nerka apa yang dimaksud.

Hingga setelah kejadian yang tidak berakhir bagus itu, si anak dan sang ayah mencoba membuat karakter untuk memudahkan mereka beraktivitas. Diawali dengan membuat huruf A yang mereka buat dari mulut ikan yang terbuka terbalik dan diberi garis horisontal di tengahnya. Lalu huruf O yang tercipta karena ketika mengucapkannya tampak bulat seperti sebutir telur. Dan huruf-huruf lainnya pun tercipta.

***

Menggelikan bukan? Bagaimana kesederhanaan pemikiran yang membuat kita memikirkan hal itu seperti lelucon adalah hal yang bagus untuk diceritakan. Sesekali aku sempat berpikir: "Oh, iya ya. Benar juga." atau "Oh. Bisa juga mereka terbentuk dengan cara seperti itu." Aku yakin kalian akan mengingat hal itu bila membacanya.

Ini memang cerita yang hanya sekadar cerita, seperti judulnya. Tetapi jangan remehkan hal-hal di dalamnya. Kalian akan tertawa dan terheran-heran bagaimana penulis membuat cerita ini seperti masuk di akal! Atau mungkin saja benar-benar begitulah apa yang terjadi.

Oh ya, aku hampir lupa. Kepulauan Indonesia juga masuk dalam cerita, dalam cerpen "Kepiting dan Lautan Luas". Walaupun waktu itu Indonesia belum terbentuk; walaupun tertulis dengan nama pulaunya -Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, Jawa, berikut pulau lain yang berada di sekitar daerah kepulauan Malaka- tetapi aku bangga karena ditulis oleh penulis di tahun 1902. Pasti mengenalkan pembacanya akan Indonesia.

Aku juga diberitahu tentang peribahasa: "Mind Your Ps and Qs!"

Everglades, Florida. Juga Disebut-sebut oleh Penulis.
Klasik dan sederhana! Makin suka dengan bacaan klasik!


"... Ayah pikir putri Ayah yang cerdas telah berhasil menemukan sesuatu yang penting. Lebih penting dari hal-hal lain yang pernah ditemukan sejak Suku Tegumai menggunakan gigi ikan hiu bukannya batu api sebagai mata tombak. Ayah percaya kita telah menemukan rahasia besar untuk seluruh dunia!" (hal. 95-96)

20 Februari 2014

The Demigod Diaries

Sampul
Judul : The Demigod Diaries
Pengarang : Rick Riordan
Penerbit : Mizan Fantasi (Noura Books)
Tahun : 2013
Dibaca : 20 Februari 2014
Rating : ★★

Ini sebenarnya kumpulan cerita pendek yang tidak aku tunggu-tunggu karena aku pikir, tidak membaca ini pun tidak mempengaruhi dalam membaca novel-novel seri yang utama. Tapi aku salah. Ini penting! Penting untuk dibaca bagi kalian yang benar-benar blasteran.

Kenapa penting? Karena bagian-bagian lain dari perjalanan hidup blasteran yang kita kenal yang seharusnya kita tahu, ada di sini. Sebut saja cerita tentang Luke dan Thalia yang menemukan Annabeth.

Juga cerita-cerita lain seperti pacarannya Percy dan Annabeth beberapa saat setelah mengalahkan Kronos. Ada juga cerita Leo, Jason dan Piper yang kalap mencari satu benda penting. Benda yang bila tidak ditemukan selama satu jam, Argo II yang sedang dibuat Leo akan hancur. Nah. Nah. Seru kan? Seperti biasa...

Yang paling mewah; dalam artian sesuatu yang langka dan begitu menarik adalah cerita tentang seorang blasteran antek-antek Kronos yang diceritakan oleh Haley Riordan. Memang, buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Begitupun Haley, anak pertama om Riordan ini juga ikut andil. Haley menulis satu cerita pendek di akhir buku dengan judul Putra Sihir.

This, prove anything!
Jadi, Putra Sihir? Blasteran antek-antek Kronos? Oke. Singkat saja, kisahnya bercerita tentang seorang Blasteran bernama Alabaster, anak Dewi Sihir, Hecate. Jadi, Alabaster ini dikejar oleh saudara kandungnya, seekor monster yang akan membunuhnya. Seru deh! Pokoknya, kisah ini adalah tentang Blasteran dari sisi yang berbeda; dari blasteran yang bertarung di pihak Kronos dalam invasi ke Manhattan. Dan, Haley membuatnya ketika usianya masih 16.

Oh ya, buku ini juga diselingi kuis-kuis. Ya, ada tebak kata, tebak nama Dewa-Dewi, dan acak huruf. Juga ada ilustrasi beberapa blasteran. Nah, bagaimana? Masih kurang seru apa coba?

"Aku masih punya satu pertanyaan lagi, Hecate." Claymore menguatkan diri, sebagaimana yang pasti dilakukan Alabaster saat berbicara di hadapan hadirin yang menghadiri ceramahnya. "Kalau kau sendiri adalah dewi, lantas, kau berdoa kepada siapa?"
Hecate terdiam sejenak, menoleh kepada Claymore, dan membuka mata hijaunya yang cemerlang. Kemudian, seolah-olah jawabannya sudah jelas, sang dewi tersenyum dan berkata, "Aku berdoa semoga kau menemukan jawabannya."
(dikutip dari hal. 337)

27 Oktober 2013

Orang-orang Tanah

Sampul
Judul : Orang-orang Tanah
Pengarang : Poppy D. Chusfani
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2013
Dibaca : 27 Oktober 2013
Rating : ★★

Awalnya aku berpikir bahwa karya yang direkomendasikan oleh orang lain tidak dapat aku dapatkan walau aku sangat ingin. Tapi bagaimana jika itu bukan prioritas, bukan sesuatu yang masuk dalam list yang penting? Hingga pada suatu saat ada orang yang memberikan karya itu secara cuma-cuma. Sehingga aku berpikir my dream comes true.

Karya itu adalah Orang-orang Tanah, bahkan sang Penulis pun membubuhkan tanda tangan dengan namaku terpampang di halaman pertama. Terima kasih.

Jujur, ini adalah kali pertama aku membaca kumpulan cerita pendek yang dijadikan satu, bukan novel, bukan komik. Jadi, bagaimana baiknya? Apa baiknya aku mengulas satu per satu dari setiap cerpen atau di-review sekaligus? Aku punya pilihan di sini. Mungkin beberapa judul saja yang akan aku komentari karena ceritanya yang sangat berkesan. Dan akan sangat singkat mengingat malam ini tim jagoanku akan berlaga. *abaikan*


Aku pilih tiga judul: Pelarian, Dewa Kematian, dan Orang-orang Tanah. (Setelah aku crosscheck lagi, ternyata dua dari tiga judul itu ada dalam sinopsis cerita di sampul belakang. Sangat kebetulan?)

Pelarian.

Ide cerita yang sangat bagus. Maksudku, kisah fantasi tentang seorang anak perempuan yang pandai berenang karena memiliki insang dan selalu menjadi perhatian di lingkungan kerajaan, itu pasti sangat revolusioner untuk menjadi entitas fantasi yang baru. Mungkin bisa jadi Manusia Setengah Salmon. Oh, come on, that's so mainstream! Apapun nama entitas baru itu, harusnya dia juga menjadi keturunan Poseidon dan berkerabat dekat dengan Percy Jackson. 

Barangkali sang penulis mau meriset mengenai hal ini, mungkin memang benar ada entitas seperti itu di dunia dan pasti akan sangat membantu untuk memperpanjang cerita dan menjadikannya sebuah novel. Biarkan aku memberi masukkan tentang judul novelnya: Half-Blood Princess Conspiracy atau Daughter of Poseidon.

Dewa Kematian.

Jujur aku merenung cukup lama untuk memahami kisahnya. Masih bingung dengan kata ganti orang kedua tunggal untuk menjadi subjek utama. Sangat baru, tapi sangat membingungkan. Maksudku bingung yang baru. Ya... baru bingung. Oh... Shut up!!!Tapi, serius, aku baru baca kisah dengan kata "kau" sebagai pemeran utama. Untung saja ini hanya beberapa halaman. Dan judul ini menjadi urutan pertama dalam blacklistpengembangan cerpen menuju novel. What did I say?

Oke. Jadi aku harus mengganti setiap kata "kau" menjadi "aku" atau "dia" untuk sekejap. Ceritanya sangat menyentuh. Terang saja, beberapa hari yang lalu Ayahku meninggal karena hal yang tidak diduga, yang tidak nyata. Aku terus membaca dan ada satu kalimat yang aku ingat dalam cerpen ini: "Kenyataan tergantung dimana dirimu berada..." Itu sudah cukup untuk membuatku bangkit.

Dan selamat kepada Penulis karena bisa mempengaruhi pembaca karena karyanya. (Bukankah itu yang diidam-idamkan setiap Penulis?)

Orang-orang Tanah.

Bagus. Sangat spooky. Penempatan yang tepat di akhir karena citra tentang perempuan yang terhisap oleh tangan-tangan itu pasti terngiang di kepala para pembaca. Lagi-lagi aku berharap ini diperpanjang menjadi sebuah novel dengan cerita keganasan sang ibu atas anaknya, macam Carrie atau The Conjuring gitu.... Hihihi....Keep up!

Overall, semua kisah sungguh menarik. Berisi tentang kehidupan kelam beberapa wanita (by the way, hampir semua tokoh utamanya itu wanita) yang penuh dengan kesengsaraan hidup, penindasan, dan kekalahan atas gender yang dibungkus secara simpel dan indah. Ada beberapa kisah yang membuatku masih bertanya, kenapa hal-hal aneh selalu menjadi hal yang menarik untuk diketahui lebih dalam?

Selamat malam....
Back to Top