Kaleidoskop 2016: Sajian Singkat Aneka Peristiwa Perbukuan yang Menimpaku

Edited by Me

Aku masih ingat saat Guru Matematika di sekolah dulu memberi cara mudah menentukan tahun kabisat. “Bagikan saja dengan empat. Bila hasilnya bulat, maka tahun tersebut adalah tahun kabisat.” 2016 termasuk salah satunya. Dan tahukah kamu bahwa pada 31 Desember 2016, setiap jam komputer di seluruh dunia secara bersamaan akan bertambah 1 detik. Jadi, setelah pukul 23:59:59 waktu akan bertambah jadi 23:59:60 baru kemudian masuk 1 Januari 2017. Ini disebabkan fenomena leap second (lompatan detik) atau detik kabisat. Detik kabisat merupakan sebuah gejala alam yang menyebabkan durasi rotasi bumi bertambah 1 detik. Lalu, kenapa aku membicarakan tahun kabisat dan jam di dunia yang akan bertambah 1 detik?

Yah, hal-hal seperti tahun kabisat atau penambahan waktu 1 detik sangat jarang terjadi bukan? Aku hanya mengorelasikannya dengan poin-poin berikut; hal-hal yang aku pikir hanya terjadi pada tahun 2016 dan tidak terjadi pada tahun-tahun sebelumnya atau akan berbeda pada tahun-tahun berikutnya. Lalu, kalau tahun lalu menggunakan istilah Year End Recap, tahun ini aku pakai kata Kaleidoskop. Selain untuk ada pembaruan, aku tidak begitu suka dengan hal-hal yang monoton. Dan yang pasti: lebih sesuai dengan poin-poin berikut.

1. Baca buku lebih sedikit dari tahun 2015

Pertama-tama, mari rekap berapa banyak buku yang kubaca tahun ini. Selama 2016, 88 buku dari berbagai genre sudah kubaca, dari fantasi, romance, sampai buku puisi. Mungkin orang-orang akan terkagum-kagum dengan jumlah tersebut. Namun sebenarnya, itu masih lebih sedikit 3 buku dari tahun lalu yang berjumlah 91 buku. Walaupun memang jumlah tersebut terlampau jauh dari Goodreads Reading Challenge yang kupatok 60 buku, tetap saja itu lebih sedikit. Apalagi bila dibandingkan dengan jumlah halamannya, tahun ini aku hanya membaca 20.564 halaman. Coba bandingkan dengan tahun lalu yang mencapai 21.121 halaman. Yah, tapi setidaknya aku membaca buku-buku tersebut dengan senang hati. Bukankah esensi dari membaca adalah sebagai rekreasi?

2. Paling banyak ikut Posting Bareng BBI

Salah satu resolusi tahun 2016 adalah ikut serta dalam Posting Bareng BBI. Sebelumnya, apa itu Posting Bareng BBI? Kegiatan yang diadakan oleh Divisi Event BBI ini memberikan wadah kepada para membernya untuk berinteraksi dengan postingan di blog sesuai tema yang ditentukan setiap bulannya. Terdengar mudah bukan? Aku pun melihatnya seperti itu. Tapi apa daya, keinginnya untuk ikut setiap bulan, berakhir hanya sekitar 9 tema saja. Lucunya, keikutsertaanku pada tahun ini sebenarnya rutin dari Januari sampai Agustus, namun setelah itu bolong-bolong dan baru ikut lagi pada bulan Oktober. Dan mungkin bulan Desember juga. Tapi, lagi-lagi, setidaknya resolusi yang satu ini tercapai. Hore! Kamu bisa membuktikannya di Posting Bareng BBI 2016.

3. Beberapa kali terpilih #ResensiPilihan

Aku mencoba untuk mulai berimprovisasi dalam setiap ulasan yang kuberikan. Bukan hanya tentang bukunya saja, aku biasanya menambahkan hal-hal yang berkenaan dengan tema, latar, atau sesuatu yang unik dari buku tersebut. Setelah merasa percaya diri dengan tulisanku, aku coba untuk mengikutsertakannya pada #ResensiPilihan. #ResensiPilihan adalah pemilihan resensi terbaik mingguan yang diselenggarakan dan dipilih oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Dan, viola, tiga ulasan bukuku terpilih menjadi #ResensiPilihan. Kesemuanya adalah ulasan dari buku: “Sang Petinju”, “Kota Ini Kembang Api”, dan seri “#YaTuhan”. Sebuah kebanggaan tersendiri tentu saja. Harapanku selanjutnya adalah memenangkan sebuah sayembara resensi buku pada kesempatan berikutnya.

4. Ulas buku puisi

Ini lucu. Aku baru sadar beberapa waktu lalu dengan poin yang satu ini. Sebelum 2016, aku sama sekali tidak pernah mengulas buku puisi, padahal aku menyukai buku puisi. Sebuah buku kumpulan puisi terlalu rumit untuk direpresentasikan. Mudah saja bagi anak sastra yang mungkin ada mata kuliah khusus untuk pembahasan puisi. Tapi aku? Tidak mudah, sungguh. Buku puisi pertama yang kuulas adalah “Love & Misadventure” karya Lang Leav yang dialihbahasakan oleh M. Aan Mansyur. Terhitung, ada lima ulasan buku puisi yang telah kubuat pada tahun ini. Kamu bisa mencari tahunya melalui label ‘poetry’.

5. Ganti template blog

Salah satu yang menggangguku dengan tampilan basis dari Blogger adalah tidak memberikan fitur responsif. Fitur responsif di sini maksudnya tampilan melalui web browser dan melalui mobile adalah sama sehingga memengaruhi unsur estetika blog dan membuat pengunjung betah berlama-lama di blog. Dari situlah aku memutuskan untuk mengganti tampilannya menjadi responsif dan menjadi yang seperti sekarang. Coba saja kunjungi Bibli baik melalui laptop maupun melalui gawai, pasti akan sama dan—setidaknya—terlihat rapi. Keinginan untuk membuat tampilan yang menyenangkan mata pengunjung blog semoga benar-benar tersampaikan.

akhirnya ganti tampilan yang responsif. semoga semakin senang berlama-lama di blog Bibli. https://t.co/s4vJyvu0Dy

— Abduraafi Andrian (@raafian) November 2, 2016


6. PNFI menang

Oke. Sekarang tentang komunitas yang amat kucintai ini. Aku ingat kala membuat grup ini di Facebook sekitar 3 tahun lalu. Banyak sekali yang bilang grup ini meniru grup buku bergenre fantasi lain dan grup fantasi dari suatu penerbit. Memang. Aku pun tidak membantahnya. Tapi perbedaannya, Penggemar Novel Fantasi Indonesia (PNFI) dibentuk tanpa campur tangan penerbit manapun sehingga siapa pun bisa bertanya tentang novel fantasi apa pun tanpa sungkan. Tahun ini, PNFI lagi-lagi ikut serta dalam Festival Pembaca Indonesia 2016 untuk yang ketiga kalinya. Jerih payah (tidak seberapa) dari teman-teman admin terutama yang mengurusi games dan sponsorship terbayar. Kami dinobatkan sebagai Booth Terheboh! Cerita lengkapnya bisa kamu temukan melalui laporan ini.

7. Lebih banyak baca ebook

Yang ini sudah kuceritakan pada postinganku sebelumnya. Bekerja di sebuah perusahaan ebook digital mengharuskanku untuk adaptasi dengan bentuk bacaannya. Ternyata tidak sulit-sulit amat kok membaca secara digital. Aku sih membacanya sebagai selingan baca buku fisik. Tidak serta-merta meninggalkan buku fisik juga. Timbunan yang semakin menggunung itu tidak bisa berkompromi. Sungguh.

***


Secara keseluruhan, tahun 2016 adalah sebuah proses yang progresnya begitu kentara bagiku. Aku lebih dikenal sebagai anak komunitas dan bloger buku. Banyak juga penulis yang memintaku untuk membaca dan mengulas karya-karyanya. Harapanku adalah aku dapat melakukan semua itu tanpa paksaan. Walaupun terkadang aku merasa mood dan egoku masih jadi jawara, semoga pada 2017 aku bisa menyampingkannya secara berangsur-angsur. Terlihat mustahil namun patut dicoba. Sampai di sini, apakah ada pertanyaan tentang ketujuh poin di atas? Aku bersedia menjawab pertanyaan yang kamu ajukan.

Akhir kata, Raafi dan Bibli mengucapkan selamat tahun baru 2017! Semoga harapan-harapan pada tahun yang anyar tercapai!

(Sumber referensi: Beritagar.id)