Tampilkan posting dengan label others. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label others. Tampilkan semua posting

30 April 2017

Memori Beli Buku, Middle Grade, dan Keriuhan MiGaring 2.0


Terkadang, sebuah peristiwa akan memantik memori pada masa lalu. Seorang anak SMA berkacamata menggandrungi sebuah buku dan meracuni teman semejanya untuk tertarik pada hal yang sama. Sejak awal si kacamata punya inisiatif mengajak teman semejanya itu membeli buku yang dibicarakan banyak orang itu. Entah amat baik atau terpaksa karena si kacamata adalah "teman"-nya, sang teman akhirnya mengiakan kala si kacamata memintanya untuk patungan membeli buku epik itu. Butuh beberapa waktu untuk mengumpulkan uang karena buku tersebut lumayan mahal dan bagi seorang anak yang tinggal di sebuah kota kabupaten dan jauh dari toko buku harus membelinya via internet. Kami harus menambahkan uang untuk ongkos kirim. Setelah pas, kami datang ke sebuah bank untuk melakukan transaksi. Si kacamata tahu itu kali pertamanya datang ke sebuah bank dan berhadapan langsung dengan petugas wanita di balik meja untuk membeli buku.

Penggalan di atas adalah secuplik memoriku. Entah bagaimana dengan temanku itu, tapi aku tidak terlalu ingat seberapa senangnya aku ketika mendapatkan buku itu. Buku itu adalah "Nibiru dan Kesatria Atlantis" karya Tasaro GK. Dan kembalinya memori itu dipantik oleh peristiwa yang baru saja diakhiri hari ini: MiGaring 2.0. Aku tak mempersiapkan apa pun untuk membicarakan masa lalu. Aku hanya menyampaikannya. Aku terpancing oleh perkenalan di awal acara yang mengharuskan setiap peserta yang hadir menceritakan tentang novel fantasi apa yang paling disuka. Bisa jadi aku melantur dari konteksnya. Tapi, siapa yang bisa tahan untuk tidak menyampaikan memori berkenaan dengan apa yang disuka? Aku yakin sulit untuk melakukannya.

Apa itu MiGaring 2.0?

Pengujung April, kami berkumpul di salah satu titik lokasi di Kebun Binatang Ragunan untuk melakukan acara yang sudah direncanakan matang-matang: MiGaring 2.0. Mungkin banyak yang bertanya akan acara tersebut. MiGaring 2.0 adalah sebuah perayaan sederhana yang digagas oleh para admin komunitas Penggemar Novel Fantasi Indonesia (PNFI). Tidak lumrah sebenarnya ketika sebuah perkumpulan tidak pernah bertatap muka satu sama lain dan hanya bisa saling berinteraksi di dunia maya saja. Dari keprihatinan tersebutlah admin membuat acara kumpul-kumpul kecil-kecilan yang bersifat sederhana namun tetap legit. Maka itulah disebut MiGaring yang adlaah kependekan dari Mini Gathering. Karena merupakan tahun kedua pelaksanaan, maka acara hari ini bernama MiGaring 2.0. Sungguh kreatif, ya?!

23 Februari 2017

BBI Share the Love 2017: Cuap-Cuap Pamungkas Sharie

Edited by Me

Akhirnya acara yang sedikit bikin pusing ini berada di pengujung. Aku ingat ketika pertama kali berkenalan dengan Sharie dan memintanya untuk memberikan ide segar. Kami memikirkan banyak topik untuk diangkat dalam tukar pos kali ini dan berakhir pada ide untuk menceritakan apa yang membuat masing-masing dari kami begitu menyenangi membaca. Aku menuliskannya di blog Sharie dan begitu pula sebaliknya. Satu hal yang pasti adalah intensitas komunikasi kami semakin sering karena kami sama-sama diskusi untuk menentukan konsep yang berbeda namun tidak sampai membuat kami berdua kerepotan. Yah, kamu tahulah, bagaimana jika orang yang memiliki kesibukan mencoba untuk berkomitmen dengan acara yang diikutinya. 

Pada pos kali ini. Aku ingin bercerita tentang Sharie yang sangat menyukai buku-buku karya Agatha Christie. Aku bertanya tentang karakter favoritnya dari karya Agatha Christie dan jawabannya adalah: Aku suka Miss Marple karena kami sama-sama perempuan. Terus aku merasa kalau Miss Marple itu adalah Agatha Christie. Hehe. Selain itu, mungkin karena aku suka orang yang terlihat biasa-biasa saja namun menghanyutkan. Tahu kan kalau Miss Marple itu perempuan tua? Tapi karena kesehatannya yang rentan itu, kadang ia tidak "dianggap" oleh si tersangka. Selain itu, kala menyelidiki secara personal, ia bisa membuat penyamaran dengan merumpi. Padahal sebenarnya ia sedang menggali informasi. Jadi ingin seperti Miss Marple dari segi ketajaman pikirannya. Dan berharap kalau tua nanti masih bisa menikmati bacaan bergenre kriminal dan thriller. 

Aku tidak pernah tahu siapa itu Miss Marple. Aku baru membaca satu buku karya Agatha Christie yang berjudul "And Then There Were None" dan itu juga karena aku menyukai serial televisinya yang sudah diadaptasi pada 2015 lalu. Dan, memang, bagus. Aku sempat mencari referensi karya Agatha Christie lain yang mungkin bisa kubaca dan beberapa teman memberi rekomendasi buku yang judulnya "Murder on the Orient Express". Doakan aku, teman-teman, agar bisa membacanya suatu hari nanti. Terima kasih.

14 Februari 2017

BBI Share the Love 2017: Sharie dan Kecintaannya pada Membaca + Giveaway

Edited by Me

Sebenarnya sudah sejak lama aku kenal dengan istilah Hari Kasih Sayang atau yang biasa disebut Valentine. Selama itu pulalah aku bertanya-tanya apa sih yang dilakukan orang-orang pada Hari Kasih Sayang. Apakah mereka saling berpelukan dalam kurun waktu beberapa menit? Saling memberi hadiah seperti cokelat atau bunga? Menyalurkan kebahagiaan bersama orang-orang tedekat dengan cara mentraktir mereka? Atau apa? Bukannya kasih sayang sudah semestinya ada setiap manusia itu bernapas? Pertanyaan itulah yang kemudian membuatku bertanya kepada beberapa teman tentang arti Hari Kasih Sayang menurut mereka. Setelah tahu jawabannya, aku pun tahu bahwa mereka sebenarnya juga tidak merayakan Hari Kasih Sayang.

Seperti Hari Ibu yang merupakan saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaan sayang kepada ibu tercinta, Hari Kasih Sayang juga dibuat sebagai momentum untuk merayakan perasaan kasih dan sayang masing-masing individu. Bila lebih dibuat simpel lagi, ini juga seperti perayaan ulang tahun. Kita tahu bahwa setiap harinya umur kita bertambah. Namun, ada satu momen ketika kita berada tepat pada hari ketika umur kita bertambah. Dan hal itu membuat kita ingat bahwa kita sudah semakin tua dan harus menjadi lebih dewasa.

Pada momen Hari Kasih Sayang tahun ini, BBI membuat acara BBI Share the Love 2017 yang salah satu tujuannya adalah menunjukkan kasih sayang dengan memberikan hadiah buku sesama anggota. Aku yang ingin tetap eksis di komunitas ini tentu tidak mau ketinggalan. Setelah mendaftarkan diri, aku mendapatkan pasangan untuk saling menunjukkan kasih sayang dengan cara saling membelikan buku. Pasanganku adalah seorang wanita yang berdomisili di Karawang bernama Ratna Sari atau yang dirinya sendiri ingin kupanggil Sharie. Sebenarnya kami sudah saling berinteraksi melalui media sosial, namun tidak sampai sejauh itu.

08 Januari 2017

[Wrap Up] Read and Keep Reading Challenge


Ingat celengan siluman di atas? Aku pernah memperkenalkannya pada pos artikel "Read and Keep Challenge". Kamu tahu beratnya berapa sekarang? Jangan tanya karena aku pun tidak tahu jawabannya. Pokoknya, celengan tersebut sudah terisi banyak. Aku menabung sekaligus mengikuti tantangan Mbak Alvina dalam "Read and Keep Challenge". Lebih tepatnya, aku tidak akan menabung bila tidak ada tantangan ini. Jadi, aku beterima kasih kepada sang penantang. Namun sayangnya, aku semakin keranjingan menabung sehingga sepertinya akan kubiarkan tidak terbuka sampai benar-benar tidak bisa dimasukkan uang logam dan kertas lagi. Atau sampai aku benar-benar membutuhkan uang.

Begini, pernahkah kamu membuat target sesuatu pada awal tahun dan mengubahnya di tengah tahun? Atau, pernahkah kamu bertekad menabung untuk beli sebuah buku pertama dari seri kesukaanmu dan pada pertengahan tahun tekadmu menjadi berlebih sehingga keinginanmu pun diperbesar menjadi boxset seri kesukaanmu itu karena kamu tahu bahwa kamu sanggup membelinya? Nah, itulah yang terjadi dengan si celengan siluman. Awal mengikuti tantangan ini, aku tidak ada tujuan apa pun dengan uang yang kusisihkan. Hanya untuk 'tantangan' saja. Sampai di tengah jalan, aku membuat sebuah nazar dan berpikir bahwa lebih baik mengalokasikan tabungan dari si celengan siluman itu untuk mewujudkannya.

07 Januari 2017

Read and Review Challenge 2017

Edited by Me

Awalnya, berpikir untuk tidak mengikuti tantangan membaca apa pun pada tahun ini. Namun, rasanya hambar bila hanya membaca tanpa target lainnya. Ada "Goodreads Reading Challenge" yang sejak 2013 berhasil dilakukan sih, tapi itu kan cuma tantangan membaca buku sesuai dengan jumlah buku yang ditentukan. Itu sih semacam kamu punya target makan tiga kali sehari yang akan kamu lakukan sehari-hari karena ya itu memang kebutuhan sehari-hari. Bedakan bila, misalnya, kamu harus makan makanan berbahan sayur-mayur pada hari Senin dan makanan berbahan dasar seafood pada hari Sabtu. Terlihat lebih menantang, bukan?

Kabar gembira! Divisi Event BBI yang biasa menyelenggarakan acara daring maupun tidak membuat terobosan baru tahun ini. Menggantikan Posting Bareng BBI yang sudah dilakukan beberapa tahun terakhir, Divisi Event BBI akhirnya membuat tantangan "Read and Review Challenge 2017". Pertanyaan selanjutnya: apakah itu? Simpel, itu adalah tantangan membaca dan mengulas. Tapi, sudahkah cukup sampai di situ? Tidak. Para tertantang harus mengumpulkan poin dari setiap buku yang dibaca dan diulas tersebut sesuai kategori yang diberikan. Ada 25 kategori biasa dan 5 kategori luar biasa! Nah, sudah merasa panas?

01 Januari 2017

Buku Paling Berkesan 2016 dan Sedikit Gunjingan

Edited by Me

Halo! Selamat tahun baru 2017!

Untuk menggenapkan resolusi 2016 tentang Posting Bareng BBI, pada hari pertama bulan pertama tahun baru ini aku akan menulis sesuai tema yang diberikan. Tema Posting Bareng bulan Desember 2016 yang disiapkan oleh Divisi Event BBI adalah #BBITopChoice. Sesuai temanya, kali ini aku akan memberikan buku-buku paling berkesan yang kubaca selama 2016. Setelah pada tahun lalu ada lima buku, tahun ini aku akan pilih tiga buku saja yang kisahnya benar-benar melekat dalam memori. Apakah ketiganya itu?

31 Desember 2016

Kaleidoskop 2016: Sajian Singkat Aneka Peristiwa Perbukuan yang Menimpaku

Edited by Me

Aku masih ingat saat Guru Matematika di sekolah dulu memberi cara mudah menentukan tahun kabisat. "Bagikan saja dengan empat. Bila hasilnya bulat, maka tahun tersebut adalah tahun kabisat." 2016 termasuk salah satunya. Dan tahukah kamu bahwa pada 31 Desember 2016, setiap jam komputer di seluruh dunia secara bersamaan akan bertambah 1 detik. Jadi, setelah pukul 23:59:59 waktu akan bertambah jadi 23:59:60 baru kemudian masuk 1 Januari 2017. Ini disebabkan fenomena leap second (lompatan detik) atau detik kabisat. Detik kabisat merupakan sebuah gejala alam yang menyebabkan durasi rotasi bumi bertambah 1 detik. Lalu, kenapa aku membicarakan tahun kabisat dan jam di dunia yang akan bertambah 1 detik?

Yah, hal-hal seperti tahun kabisat atau penambahan waktu 1 detik sangat jarang terjadi bukan? Aku hanya mengorelasikannya dengan poin-poin berikut; hal-hal yang aku pikir hanya terjadi pada tahun 2016 dan tidak terjadi pada tahun-tahun sebelumnya atau akan berbeda pada tahun-tahun berikutnya. Lalu, kalau tahun lalu menggunakan istilah Year End Recap, tahun ini aku pakai kata Kaleidoskop. Selain untuk ada pembaruan, aku tidak begitu suka dengan hal-hal yang monoton. Dan yang pasti: lebih sesuai dengan poin-poin berikut.

30 Desember 2016

Kenangan Tentang SCOOP Agar Tidak Lekas Pudar

Edited by Me
Hal yang umum jika setiap orang yang kautemui selalu bertanya tentang apa dan di mana kau bekerja. Tidak terkecuali aku. Selama sembilan bulan ini menjawab apa dan di mana aku bekerja, hampir selama itu jugalah aku menerima respons, "Oh, SCOOP yang jual aksesoris itu? Yang di mal itu?" Saat itulah aku tahu bahwa aku akan selalu mendapat respons yang sama dari sebagian besar orang yang bertanya hal yang sama pula. Diawali tawa, dengan antusias, aku menjabarkan tempat kerjaku. "Hahaha. Bukan. SCOOP yang ini merupakan aplikasi untuk membaca buku, majalah, dan koran secara digital melalui gawai." Lalu, aku akan panjang lebar menjelaskan secara detail tentangnya. Dan ketika aku sudah merasa SCOOP sebagai anak kandung bandel yang selalu merajuk ingin selalu diperhatikan, aku harus merelakannya. Menyerahkannya kepada mereka yang aku yakin akan betul-betul memperlakukannya sama dengan yang kulakukan.

Sebenarnya tidak terpikir akan menulis tentang apa untuk yang satu ini. Sepertinya hanya sebuah ego sesaat yang sulit untuk dilepaskan dan menjadi semacam keharusan untuk menuliskannya agar kenangan yang terjadi selama sembilan bulan ini tidak pudar. Jadi, mungkin aku akan memberikan hal-hal menarik tentang SCOOP menurut versiku sendiri. Sudah siap untuk bukaan kartuku?

12 Desember 2016

(Sekadar) Laporan Seputar Festival Pembaca Indonesia 2016

Edited by Me

Festival Pembaca Indonesia atau Indonesia Readers Festival (IRF) kembali digelar tahun ini. Acara yang diselenggarakan oleh Goodreads Indonesia tersebut mengangkat tema "7 Keajaiban Membaca" pada tahun ketujuhnya. Dan pada tahun ini, setidaknya aku sudah menghadiri IRF yang keempat setelah pertama kali datang pada 2013. Kala itu, aku menghadiri acara bincang-bincang penulis "Koin Terakhir" dan "Rencana Besar". Semakin ke sini, sepertinya pamor IRF semakin meningkat sebagai salah satu acara tahunan yang ditunggu-tunggu para pencinta buku tanah air. Termasuk komunitas buku, terutama Penggemar Novel Fantasi Indonesia (PNFI).

Penggemar Novel Fantasi Indonesia (PNFI) lagi-lagi memeriahkan IRF. Terhitung sudah tiga kali PNFI membuka stan pameran buku di IRF sejak 2014. Kali ini, PNFI membuat kuis yang lumayan terstruktur yang membuat pengunjung ingin tahu tentang kuis tersebut. Banyak penggemar novel fantasi yang ikutan kuis, bahkan ada juga yang minim wawasan tentang genre fantasi namun tertarik dengan kuisnya. Setelah kerja keras dari teman-teman admin dan grup, PNFI yang selalu ramai pengunjung dinobatkan sebagai "Booth Terheboh" pada IRF 2016 oleh Goodreads Indonesia. Bahkan saat penyerahan hadiah, tidak ada satu pun dari teman-teman PNFI yang ikut mengabadikannya. Tidak masalah karena yang penting aktivitas di stan kami berakhir sukses.

Yang tidak kalah menarik adalah pada IRF tahun ini aku menjadi salah satu narasumber pada bincang-bincang seri buku "Mythical Creatures" karya Cypress Ruby terbitan Mizan Fantasi. Sayangnya, aku tidak tampil maksimal karena minim persiapan dan belum membaca buku tersebut secara keseluruhan. Dan untungnya acara selesai lebih cepat, dari yang tadinya dijadwalkan 90 menit, hanya terpakai 60 menit bahkan kurang. Yang penting, maksud dari bincang-bincang tersebut tersampaikan. Bahwa "Mythical Creatures" adalah buku yang wajib dibeli bagi penggemar novel fantasi—dan jadi bacaan menarik bagi para pembaca pada umumnya.

26 November 2016

Para Penyedia Layanan Book Subscription Box di Indonesia (Book Subscription Box - Part II)

Edited by Me

Melanjutkan bahasan tentang book subscription box atau kotak langganan buku, langsung saja kita cari tahu tentang para penyedia layanan kotak langganan buku yang ada di Indonesia. Pada artikel sebelumnya, aku mewawancarai empat penyedia layanan, kini aku tambahkan satu lagi penyedia layanan kotak langganan buku yang banyak teman-teman bilang bahwa ini yang pertama di Indonesia yaitu Peti Buku. Berikut penuturan para penyedia layanan tentang profil lengkap dan keunggulan dari masing-masing kotak langganan buku. Dengan pos ini, aku harap kamu bisa lebih mudah memutuskan kotak langganan buku asal Indonesia mana yang cocok dengan selera kamu.

16 November 2016

Tentang Book Subscription Box yang Sedang Naik Daun di Indonesia (Book Subscription Box - Part I)

Edited by Me

Istilah book subscription box mungkin masih terdengar awam bagi kalangan pembaca di Indonesia. Bisa dibilang kotak langganan bulanan berisi buku ini baru naik daun sejak 2016 ini. Bermula dari banyaknya postingan artikel teman-teman di blog dan media sosial, aku penasaran dengan fenomena yang satu ini. Nah, karena kita orang Indonesia, bagaimana kalau kita ubah istilah book subscription box menjadi kotak langganan buku? Setuju? Setuju sajalah ya, biar cepat.

Awalnya, aku ingin menuliskan tentang pengetahuanku yang terbatas tentang kotak langganan semacam ini. Namun supaya lebih valid, aku mencoba menghubungi beberapa layanan kotak langganan buku yang sudah beroperasi di Indonesia. Setelah bertanya-tanya kepada beberapa teman di grup dan berselancar sendiri, akhirnya aku menemukan empat layanan kotak langganan buku yang berdomisili di Indonesia. Aku mengontak mereka dan masing-masing merespons positif permintaan untuk menjawab beberapa pertanyaan dariku.

Ada lima pertanyaan dasar yang kuajukan kepada masing-masing layanan yang kesemuanya menggunakan media sosial Instagram untuk membuka lapak layanan kotak langganan buku. Pertanyaannya adalah: (1) pengertian kotak langganan buku, (2) alasan mengapa membuka layanan ini di Indonesia mengingat minat bacanya rendah, (3) perbedaan masing-masing layanan dari layanan lainnya, (4) prediksi kotak langganan buku di masa depan, dan (5) profil singkat masing-masing layanan. Setelah menerima jawabannya, aku sempat bingung bagaimana cara menyampaikan semua jawaban karena begitu panjang. Jadi, aku memutuskan untuk membagi dua postingan artikel tentang kotak langganan buku.

09 November 2016

Genius: Kisah 'Bromance' Penulis dan Editornya

Edited by Me

Sejujurnya aku harus menghitung banyak kancing dari baju yang kumiliki tentang haruskah aku menuliskan ulasan "Genius" atau tidak. Ini tentu beralasan. Aku tidak pernah sekalipun menulis ulasan film. Aku tidak tahu variabel-variabel yang harus diulas, tidak mengerti batasan sejauh mana aku harus menceritakan kisah di dalamnya, juga yang terpenting apakah nantinya aku malah membuat semacam *spoiler* yang sebagian besar orang membencinya. Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sepertinya membuat karakter terlalu-banyak-berpikirku bekerja dengan baik. Tapi toh film adalah bentuk lain dari sebuah 'cerita' yang pastinya memiliki poin-poin untuk diulas.

***

Hari yang basah pada 1929 di New York, Maxwell 'Max' Perkins (diperankan oleh Colin Firth) dimohon untuk memeriksa sebuah naskah dari Aline Bernstein (diperankan oleh Nicole Kidman) yang adalah seorang desainer panggung. Lucunya, itu bukan naskah yang ditulisnya, naskah tersebut adalah milik Thomas 'Tom' Wolfe (diperankan oleh Jude Law) yang diakui sebagai "orang yang dilindungi" oleh wanita berparas cantik itu. Max membaca naskah tersebut seketika itu juga, bahkan membawanya ke rumah karena ia tidak berhenti membaca. Ada yang unik dari naskah yang sudah ditolak banyak penerbit lain itu. Keesokan harinya, Max meminta Tom datang ke kantor Charles Scribner's Sons. Sang editor memberitahukan penulis bahwa naskahnya akan naik cetak dan dijual ke publik.

Tom begitu senang dan mendedikasikan buku pertamanya yang awalnya ia beri judul "O Lost" itu kepada Aline Bernstein—bisa dibilang kekasihnya. Tak dinyana, "Look Homeward, Angel" menjadi buku terlarik di Amerika Serikat kala itu. Semua orang mengelu-elukan sang penulis. Ia diminta untuk cepat-cepat menerbitkan karya berikutnya. Dan pada saat itulah ketenarannya harus dibayar. Ia menulis satu naskah berjumlah puluhan ribu lembar tulisan yang jika dihitung-hitung bisa mencapai 5.000 halaman untuk sekali cetak. Max memintanya untuk bekerja keras memotong bagian-bagian yang tidak diperlukan. Tom menurut. Karena ia lebih sering bersama dengan Max, Aline tersulut api dan berulah. Ada apa sebenarnya di balik kisah Tom dan Max? Kenapa Aline begitu cemburu akan kedekatan mereka berdua?

31 Oktober 2016

Masha: Karya Supernatural Lokal Tanpa Mengekor Fantasi Luar?

Edited by Me

Halo, teman-teman! Kembali lagi dengan Bibli di sini! Siapa sangka kalau Posting Bareng BBI 2016 bulan ini mengambil tajuk supernatural. Dari sekian banyak tema yang bisa diambil dari Divisi Event untuk merayakan Halloween, kenapa tema supernatural yang diambil? Itu kan susah sekali. Apalagi hanya satu dua buku yang ada di timbunan Raafi dari tema tersebut—sedikit pilihan. Lagi pula Divisi Event kan bisa pilih tema lain seperti horor, misteri, thriller, atau hal paling simpel: muka Raafi.

Dan Raafi sudah menyerah untuk mencari tahu apa yang harus dilakukan untuk Posting Bareng kali ini. Setelah absen pada Posting Bareng BBI bulan lalu, bulan ini tidak boleh tidak ikutan. Jadi, sekarang giliran Bibli yang ambil bagian. Setelah dikulik-kulik bahan apa yang cocok untuk tema supernatural, Bibli menemukan satu ulasan buku Raafi yang kurang lebih bersangkutan dengan tema tersebut. Adalah buku "Sumur Hitam" karya Haditha yang bertema klenik yang kakak-adikan dengan supernatural yang bisa dijadikan bahan. Tapi kan sudah dibuat ulasannya, lalu bagaimana? Karena Raafi sangat dekat dengan sang penulis, jadi Bibli mencoba untuk melakukan pendekatan.

Tidak. Tidak. Tidak sampai sejauh yang kamu bayangkan tentang pendekatan Bibli dengan pria yang akrab dipanggil Masha di kalangan komunitas Penggemar Novel Fantasi Indonesia (PNFI) ini. Bibli hanya betanya seputar buku-buku yang sudah diterbitkannya dan tentang menulis secara umum. Oh ya, penasaran karena ia dipanggil Masha? Karena dia namanya Haditha! Serius! Untuk kesopanan bagi yang lebih tua, kami menggunakan kata depan "Mas". Lalu, karena terlalu malas untuk mengetik spasi dan namanya yang terlalu panjang itu, maka kami semua mengubahkan nama panggilannya menjadi Masha, yang merupakan singkatan dari Mas Ha. Bukan masalah, toh dia menerimanya juga.

23 Oktober 2016

Festival Menulis: Membaca Adalah Modal Utama

 Edited by Me

Pada satu pagi, rekan komunitasku yang berdomisili di Ambon memberi informasi tentang Festival Menulis di Tempo. Ia hanya membuat pesan, "Pagi Bro. Ada festival menulis di Tempo tanggal 22 besok." Pagi itu tanggal 13 Oktober dan itu berarti kurang dari dua minggu sebelum acara. Aku mengulik apa itu Festival Menulis. Sebuah acara yang diselenggarakan Tempo Institute tentang kelas-kelas kepenulisan dalam satu hari. Tertarik? Tentu! Saat itu juga! Akhir-akhir ini, aku mulai tertarik dengan segala hal tentang menulis karena (1) itu sudah menjadi profesi utama dan (2) aku sadar bahwa menulis itu mengobati. Namun, kendala utama dari acara ini adalah acaranya berbayar. Waktu yang mepet dan tanpa persiapan apa pun menjadi kendala berikutnya.

Beruntungnya aku. Bang Steven, rekan komunitasku tersebut, dengan baik hati bersedia membayar kontribusi acara. Melihat peluang itu, aku tidak pikir dua kali. Kesempatan emas ini tak akan kulewatkan. Kendala waktu dan persiapan tidak kupikirkan lagi. Akhirnya, Sabtu kemarin (22/10) aku melenggangkan kaki pertama kali ke Gedung Tempo yang bau catnya masih menyengat itu dengan penuh harap dan antusiasme.

Aku sama sekali tidak tahu-menahu perihal acara yang akan kuikuti; bagaimana mekanisme acaranya, siapa saja pemateri dan latar belakangnya—kecuali Leila S. Chudori—serta harapan apa yang ingin kudapatkan setelah acara usai. Saat pendaftaran, aku diminta memilih kelas apa yang akan kuikuti. Aku sempat terdiam beberapa detik karena bingung mau pilih kelas yang mana. Tebersit keinginan untuk mengikuti kelas menulis fiksi bersama Lelia S. Chudori yang notabene seorang novelis dan peraih Khatulistiwa Literary Award, tapi aku bahkan tidak menulis hal lain selain artikel apalagi fiksi. Jadi, aku memutuskan memilih kelas menulis populer di media sosial dengan pemateri Mardiyah Chamim karena setidaknya aku generasi milenial yang sebagian besar waktunya digunakan untuk berselancar di media sosial. Selanjutnya, acara dimulai dengan pengantar dari setiap pemateri. Kecuali Arif Zulkifli yang hadir belakangan, Mardiyah Chamim, Leila S. Chudori, dan Eko Endarmoko menyambut para peserta di pagi berawan itu.

02 September 2016

Stack of Books Giveaway

Edited by Me

Selamat September! Minggu lalu aku terlalu lama menghabiskan waktu sendiri untuk membaca dan menonton serial tv. Tapi karena bosan melakukan keduanya, aku memutuskan untuk melakukan hal lain: mengeluarkan semua buku yang disimpan dalam kantong besar dan kardus-kardus. Aku coba menghitung semuanya, dan, tebak ada berapa! Lima puluh? Salah! Pokoknya lebih. Dan yang lebih mengenyakkan lagi, mereka semua masih belum terbaca.

Tapi sesungguhnya aku tidak ingin menyombongkan timbunanku—toh itu juga hanya buku-buku yang sebagian orang tidak peduli keberadaannya. Aku hanya mau membagikan beberapa buku yang ada di timbunan tersebut bersama kalian. Kupikir aku terlalu serakah membeli buku segala genre karena alasan yang sepertinya semua penimbun—barang apa pun—sepakat: (1) punya uang, (2) kesempatan yang menurut mereka tidak datang dua kali, dan (3) lebih baik membeli daripada menyesal kemudian karena tidak membeli. Jadi inilah dia, Stack of Books Giveaway!

05 Juli 2016

Raafi & Bibli's Summer Reading List

Edited by Me

Membaca bukan hal sulit bagi Pembaca Aktif untuk dilakukan baik pada hari-hari biasa maupun liburan seperti saat ini. Seperti juga Pembaca Aktif yang mendedikasikan hidupnya untuk buku dan membaca, Raafi dan Bibli juga bertekad untuk mengisi libur Lebaran kali ini dengan membaca. Walaupun liburan hanya seminggu dan selanjutnya berkutat kembali dengan sibuknya pekerjaan. Maka itu Raafi dan Bibli membuat sebuah postingan tanpa embel-embel liburan tetapi musim panas. Yah, bulan Juli memang identik dengan musim panas kan?

Bersamaan dengan tema Posting Bareng BBI bulan Juli, #BBIHoliday, setiap peserta diharuskan membuat master post seputar daftar bacaan yang akan dibaca bulan ini. Jadi, karena Raafi dan Bibli sedang bersama-sama ingin membabat timbunan pada liburan kali ini, dan karena Raafi dan Bibli ingin merasakan suasana musim panas walaupun di Indonesia tidak terjadi tapi tetap ingin merasakannya, maka Raafi dan Bibli membuat "Raafi & Bibli's Summer Reading List". Apa saja buku yang akan diikutsertakan dalam acara kali ini?

30 Juni 2016

Akhirnya Raafi Mengaku


Sedikit dilema dengan topik bahasan Posting Bareng BBI bulan ini. Pertama, topik yang diusung tentang "pengakuan" membuatku bingung karena sebenarnya tidak ada hal yang ditutup-tutupi ataupun hal yang spesial selama aku menjadi pembaca aktif. Tapi setelah dipikir-pikir lagi ternyata ada satu hal yang ternyata kusembunyikan tanpa kusadari. Apa itu?

Pembaca Aktif

Aku mulai menjadi pembaca aktif sejak awal kuliah. Waktu yang begitu luang membuatku semakin keranjingan membaca karena pada saat itu hanya membaca yang bisa kulakukan. Sembari melakukan hal yang selanjutnya kusebut hobi itu, aku berpikir kalau aku bisa melakukan sesuatu dari hobiku tersebut—tidak cuma membaca. Dan setelah mengetahui daya baca di Indonesia minim, aku bertekad membuat diriku berguna dalam kemajuan literasi, setidaknya waktu kuliah dulu hal yang paling mudah kulakukan adalah membuat satu grup khusus baca dengan menggunakan media sosial.

30 Mei 2016

Menyoal Hari Buku Nasional

Selamat Hari Buku Nasional
Minat Baca di Indonesia

Minggu (15/5), Goodreads Indonesia mengadakan acara bertajuk "Book Blind Date". Setiap peserta yang datang diharuskan membawa buku yang dibungkus kertas cokelat dan memberikan hint singkat pada paket bukunya. Pada saat acara, peserta diberikan kesempatan untuk memilih paket buku sesuai hint yang paling menarik mereka. Setelah itu, peserta diminta menjelaskan paket buku yang didapat dan apakah buku itu jodoh mereka atau bukan, seperti blind date. Acara yang dihadiri sekitar 20 orang itu diselingi dengan games berhadiah buku dan voucher e-book.

Acara tersebut sebenarnya ajang tukar buku seperti yang biasa diadakan oleh komunitas tersebut hanya saja dengan konsep berbeda. Tujuannya untuk mempertemukan para pembaca juga membuat acara seru yang tidak hanya berbasis daring, tetapi juga kopi darat.

"Book Blind Date" merupakan satu dari banyaknya kegiatan komunitas buku untuk mengentaskan minat baca di Indonesia yang rendah. Sejak 2012, Indonesia ditakut-takuti survei yang menyatakan minat baca masyarakatnya rendah, lebih rendah dari India dan Thailand. Rata-rata lama membaca buku masyarakat Indonesia hanya 6 jam per minggu (Kompas 15/9/2015). Selain itu survey juga menunjukkan bahwa hanya 1 dari 1.000 orang di Indonesia yang memiliki minat baca serius dengan rata-rata kurang dari satu buku yang dibaca per tahun (UNESCO 2012).

Angka-angka tersebut sungguh memprihatinkan mengingat penerbit buku dan bentuk literasi lain di Indonesia begitu gencar menerbitkan buku. Gramedia Pustaka Utama, misalnya, bisa menerbitkan lebih dari 20 buku setiap bulan dalam beragam genre. Tapi adakah yang membaca buku-buku tersebut?

30 April 2016

Salahkah Dewasa Membaca Buku Anak?

Sumber Gambar

Untuk memeriahkan #BBIChildrenBooks, awalnya aku cuma ingin membuat ulasan salah satu bukunya. Namun, melihat waktu yang begitu mepet yang sudah hampir Mei, dan tidak ada satu pun buku anak yang kubaca bulan ini, maka aku memutuskan untuk membuat artikel tentang Buku Anak. Jadi, mari kita mulai dengan betapa Buku Anak begitu menyenangkan.

29 April 2016

[Announcement] Pemenang Malam-malam Terang Giveaway


Saatnya pengumuman "Malam-malam Terang Giveaway"Ada lebih dari 15 komentar berisi jawaban tentang apa yang dapat dipelajari dari sosok Kartini bertepatan dengan Hari Kartini yang jatuh 21 April lalu. Aku sedikit bingung untuk memilih pemenang karena semua pendapat teman-teman sangat meyakinkan dan begitu menggugah. Jadi, aku memilih acak saja.

Lalu siapakah pemenang Malam-malam Terang Giveaway di blog Bibli yang berhak mendapatkan satu buku "Malam-malam Terang" karya Tasniem Fauzia Rais dan Ridho Rahmadi? Sebelumnya, aku berterima kasih kepada penyelenggara blog tour ini dan juga penulis yang telah memberikan kepercayaannya. Baiklah. Pemenangnya adalah:

Back to Top