Tampilkan posting dengan label noura books. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label noura books. Tampilkan semua posting

30 November 2016

Ulasan Buku: Show Your Work!

Judul : Show Your Work!
Pengarang : Austin Kleon
Penerbit : Noura Books
Tahun : 2014
Dibaca : 25 November 2016
Rating : ★★★★

Progres yang kubuat pada tahun ini adalah membaca buku nonfiksi. Tahun lalu, aku ingat betapa tidak tertarik dan merasa alergi dengan buku-buku motivasi, pengembangan diri, apalagi yang berbau-bau tekstual. Rasa bosanlah yang menjadi kekhawatiran utama dalam mencoba genre nonfiksi. Banyaknya fakta, teori, dan petuah, tidak diimbangi dengan narasi yang mengimaji masih belum bisa kuhadapi. Untungnya, aku banyak mendapat info tentang buku nonfiksi yang lumayan keren. Selain bisa menyelesaikannya, tentu aku juga mendapatkan intisari buku melalui sudut pandangku. Satu hal yang menarik adalah betapa nonfiksi memberikan pandangan yang subjektif dari sisi penulis lebih-lebih pembaca yang membaca karyanya.

***

Aku sungguh terkesan dengan cara penyampaian Austin Kleon dalam karyanya. Setelah "Steal Like An Artist", aku merasa harus membaca karya-karyanya yang lain. Dan buku ini yang paling bisa diraih untuk mengentaskan hasrat tersebut. Bisa dibilang, "Show Your Work" semacam implikasi dari "Steal Like An Artist". Jika kamu sudah menemukan hal terbaik dalam dirimu, lalu apa yang akan kamu lakukan? Mengerjakan proses kreatif untuk menjadikan karya saja ternyata tidak cukup. Ada hal penting setelahnya yang harus kamu lakukan yaitu menunjukkan karyamu itu. Tapi ternyata tidak semudah itu. Kamu harus mengetahui ke mana karyamu akan dipertontonkan. Dunia maya menjadi langkah paling mudah, namun apa sudah?

Selain tentang mempertontonkan karya, buku ini juga berperan sebagai stimulan melalui poin-poin yang diterangkan. Banyak pengalaman dari para kreator dunia yang sedikit-sedikit disebutkan pada buku ini sehingga menjadikannya inspirasi untuk tetap bekerja; berkarya. Ada beberapa poin yang terbilang umum seperti mengutamakan proses ketimbang hasil dan berbagi hal kecil setiap hari. Namun aku mendapatkan poin yang mungkin tak bisa kudapatkan bilamana tidak membaca buku ini. Salah satunya adalah tentang menceritakan yang baik-baik saja dan jangan jadi manusia penyampah. Keduanya akan kuulas singkat setelah ini.

20 Oktober 2016

5 Hal dari Steal Like an Artist yang (Mungkin) Bisa Mengubah Hidupmu


Aku penasaran, apa yang kamu harap dapatkan dari setiap buku pengembangan diri yang kamu baca. Sebuah perubahan drastis yang akan membuatmu lebih baik atau hanya sebagai penyemangat hidup? Dari data yang kutemukan dalam sebuah riset, 51% partisipan membaca buku pengembangan diri karena keinginan untuk bertransisi yang langsung berdampak pada kehidupan mereka. Transisi di sini dibagi menjadi empat tipe yaitu: karier, hubungan, kesehatan atau kesejahteraan, dan kombinasi dari semua tipe tersebut. Salah satu partisipan yang membaca buku pengembangan diri untuk kariernya berkata, "Saya sudah bekerja selama satu tahun, lalu tiba-tiba saya dan beberapa rekan saya dipecat." Itulah mengapa ia membutuhkan sebuah buku untuk bertransisi dari kesialannya tersebut.

Well, aku tidak seserius itu. Pertama, aku jarang baca buku nonfiksi apalagi genre pengembangan diri. Kedua, aku selalu tidak sejalan dengan bahan bacaan nonfiksi bagai buku teks mata pelajaran sekolah yang kaku. Ketiga, saat sekali-kalinya baca buku pengembangan diri, aku membacanya hanya untuk "membaca" tanpa berharap perubahan dalam kehidupan yang sebenarnya sudah lebih dari 20 tahun kujalani. Nggak ngefek, istilahnya.

Lalu hadirlah buku ini yang meruntuhkan segala persepsiku tentang buku nonfiksi lebih-lebih pengembangan diri. Seperti tersihir, karya pertama Austin Kleon yang kubaca ini membuatku ingin segera melakukan apa yang tertulis di dalamnya. Aku merasa bertalian dengan hal-hal yang diangkat oleh buku ini; tentang kreativitas, tentang ide, dan tentang mencuri yang sudah ada dan menciptakan yang baru.

Seperti yang tertulis pada halaman terakhir buku ini bahwa tidak semua nasihat itu sehat—jangan ragu mengambil yang sesuai, dan abaikan lainnya—aku pun tidak menelan bulat-bulat semua petuah sang penulis. Kalau penulis membuat tagline 10 hal yang tak seorang pun beri tahu tentang menjadi kreatif, maka aku mengambil lima hal yang mungkin bisa mengubah hidupku secara personal, dan hidupmu secara umum. Ini berdasarkan aku yang merasa tertampar, tertohok, dan tergurui oleh hal-hal tersebut. Berikut daftarnya.

02 Juli 2016

Ulasan Buku: Get Me Out of Here!

Sampul
(Middle School #2)
Pengarang : James Patterson & Chris Tebbetts
Penerbit : Noura Books
Tahun : 2014
Dibaca : 2 Juli 2016
Rating : ★★★★

"Percayalah pada ibukamu bukanlah satu-satunya anak yang berkeliaran di Cathedral yang berpikir apakah mereka cukup bagus. Seni merupakan dunia yang sangat kompetitif, bahkan di sekolah menengah." (hal. 169)

Buku pertama yang membuat kesal karena kelakuan pembuat masalah Rafe tidak menghalangiku untuk meneruskan buku selanjutnya. Untungnya, aku disuguhkan dengan cerita yang tidak melulu tentang Rafe yang berbuat onar dan menjadi biang masalah dan mendapat lebih banyak masalah lagi. Pada buku keduanya ini, aku merasakan Rafe yang lebih berhati-hati dalam bertindak dan meskipun masalah tidak pernah pergi dari Rafe, yang dialaminya kali ini bukan semua salahnya.

***

Rafe pindah ke kota karena nasib membawanya harus ke sana. Ia yang mengidamkan sekolah seni di Airbrook harus mengubur impiannya itu. Restoran tempat ibunya bekerja dilalap si jago merah yang membuat mereka menumpang di rumah sang nenek dan membuat Rafe harus tidur di sofa karena rumah sang nenek yang sempit. Satu pagi, Rafe diminta bersiap diri untuk wawancara masuk sekolah barunya yang untungnya adalah sekolah seni publik seperti di Airbrook yang diidam-idamkannya. Apakah Rafe bisa lulus dan melanjutkan sekolah di sana?

24 Juni 2016

Ulasan Buku: The Worst Years of My Life

Sampul
Judul : Middle School: The Worst Years of My Life
(Middle School #1)
Pengarang : James Patterson & Chris Tebbetts
Penerbit : Noura Books
Tahun : 2013
Dibaca : 11 Juni 2016
Rating : ★★★

Aku buru-buru membaca ini setelah mengetahui bakal ada adaptasi filmnya yang bakal tayang dalam waktu dekat. Yah, siapa tahu akan beda jalan cerita dengan karya aslinya. Dan sepertinya memang begitu. Jadi, sebelum menikmati film yang diperankan oleh Griffin Gluck dan Lauren Graham, mari cari tahu seberapa nakal si pemeran utama bernama Rafe ini.

***

Rafe Khatchadorian mungkin hanya ingin membuat hari-hari membosankannya di sekolah menjadi menyenangkan. Dia mendapatkan buku "Tata Tertib Hills Village Middle School" saat Pertemuan Akbar Sekolah. Buku itu berisi semua hal menyangkut apa yang perlu siswa-siswi ketahui tentang yang boleh dan tidak boleh dilakukan di sekolah. 

Rafe melihat Leo membalik buku itu dan menunjukkannya gambar seorang anak yang begitu keren dan jauh lebih menyenangkan darinya. Setelahnya, ide muncul di benak Rafe. Ide sangat besar dan superkonyol. Ide yang mengalirinya seperti banjir bandang. Sebentar, Leo itu siapa?

18 Mei 2016

Ulasan Buku: Percy Jackson's Greek Gods

Pengarang : Rick Riordan
Penerbit : Mizan Fantasi (Noura Books)
Tahun : 2015
Dibaca : 24 April 2016
Rating : ★★★

"Kalau kau seorang manusia fana dan sesosok dewi muncul tepat di sampingmu, dan kalau kau masih ingin bertahan hidup beberapa menit mendatang, hal yang sebaiknya kaulakukan adalah menjatuhkan dirimu dan menyembah-nyembah." (hal. 234)

Aku senang akhirnya ada lagi kisah berbeda dari penulis yang tidak menceritakan tentang blasteran yang mengemban misi dan harus menyelesaikan dalam tenggat waktu yang singkat. Aku tahu, bagi para blasteran, hal seperti itu sudah menjadi rutinitas mereka sehari-hari. Tapi saatnya mencoba melakukan hal lain: belajar tentang dewa-dewi Yunani terhormat dan paling mulia bersama Percy.

***

Percy sedang "baik" karena mau menceritakan kisah dewa-dewi Yunani primer. Dengan gayanya yang sarkastis dan penuh kejutan, Percy menjabarkan dari awal permulaan penciptaan hingga hadirnya para dewa-dewi dan manusia. Tentu semua dikisahkan berdasarkan kepercayaan Yunani. Dua belas dewa-dewi yang diungkap Percy pada buku ini adalah (sesuai urutan halaman): Hestia, Demeter, Persephone, Hera, Hades, Poseidon, Zeus, Athena, Aphrodite, Ares, Hephaestus, Apollo, Artemis, Hermes, dan Dionysus.

Dalam setiap bab penceritaan masing-masing dewa-dewi, Percy menjabarkan tentang bagaimana mereka hadir di alam dunia dengan cerita-cerita paling populer tentang mereka. Contohnya ketika Poseidon menikahi kuda dan mempunyai anak dari si kuda itu atau tentang kisah cinta "paksa" Persephone dengan Hades. Juga tentang hadirnya Arachne di dunia buah karya Athena yang murka. Yah, hal-hal semacam itu.

04 November 2015

Halaman Terakhir

Sampul
Judul : Halaman Terakhir
Pengarang : Yudhi Herwibowo
Penerbit : Noura Books
Tahun : 2015
Dibaca : 31 Oktober 2015
Rating : ★★★

"Pada saat itulah, laju mobil tiba-tiba berhenti. Suara pintu kemudian terdengar dibuka dengan terburu-buru. Satu dari laki-laki itu membuka ikatan di matanya, lalu begitu saja mendorong tubuhnya keluar mobil. Sumaryah jatuh dengan pakaian nyaris lepas seluruhnya." (hal. 14-15)

Sabtu (31/10), aku menghadiri acara Obrolan Pembaca Media Indonesia (OPMI). Kali ini bersama penulis novel "Halaman Terakhir", Yudhi Herwibowo, pembaca bebarengan memberikan pendapat tentang sosok Hoegeng. Siapakah beliau sebenarnya?

***

Hari itu Hoegeng dipanggil Pak Presiden, ditawari untuk menjadi duta besar di salah satu negara di Eropa. Hoegeng sudah tahu tentang desas-desus pencopotan jabatan dirinya sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia. Hoegeng bertanya-tanya apa karena kinerja buruknya atau ada hal lain yang membuatnya harus bernasib seperti itu. Apalagi ada dua kasus besar yang masih harus dituntaskan olehnya.

Pemerkosaan Sum Kuning dan penyelundupan mobil mewah adalah dua kasus nasional terbesar pada saat Hoegeng menjabat di kepolisian. Integritasnya sungguh diuji. Apakah kedua kasus itu akan terselesaikan dengan tuntas? Lalu, apakah Hoegeng akan menerima tawaran duta besar itu?

27 September 2015

Tiga Sandera Terakhir

Sampul
Judul : Tiga Sandera Terakhir
Pengarang : Brahmanto Anindito
Penerbit : Noura Books
Tahun : 2015
Dibaca : 27 September 2015
Rating : ★★★★

Apa ya nama suatu keadaan ketika kau membaca buku dan menganggapnya seperti sedang menonton film? Dalam konteks ini: film laga. Dan apa sebutan untuk buku yang membuatmu berpikir bahwa sebaiknya tidak dijadikan sebuah buku tetapi sebuah skrip karena setiap detail cerita lebih menonjolkan unsur visual?

***

Larung Nusa, duda dua anak ini sedang berada dalam keadaan terhimpit. Setelah mendengar kabar penyanderaan warga sipil lokal dan luar negeri, dia harus membuat aksi gemilang untuk melepaskan para sandera. Dia adalah seorang Komandan Penanggulangan Teror Komando Pasukan Khusus (Gultor Kopassis) dan dia juga berstatus sebagai menantu menteri pertahanan. Tuduhan sebagai perwira karbitan sudah biasa di telinganya. Dan kasus inilah yang akan membuktikan apakah dia perwira karbitan atau memang prestasi dan integritasnya yang mengantarnya pada jabatan barunya itu.

Jauh di pedalaman Papua, para sandera tidak bisa tidur nyenyak. Tempat mereka membaringkan tubuhnya beralas tanah dan beratap rumbai daun kelapa. Ditambah dengingan nyamuk dan dinginnya rimba raya tanah Melanesia yang pekat dan misterius. Tetapi yang membuat mereka selalu terjaga setiap malam adalah perasaan cemas dan takut; juga pertanyaan besar di benak mereka: kapan semua ini akan berakhir?

06 Juni 2015

By the Time You Read This, I'll Be Dead

Sampul
Pengarang : Julie Anne Peters
Penerbit : Noura Books
Tahun : 2015
Dibaca : 3 Juni 2015
Rating : ★★★★

"Aku berharap, aku dapat memberi tahu orangtuaku, 'Jika kau ingin menolongku, tolong aku untuk mati.'" (hal. 106)

Satu hal yang menjadikan ini buku yang harus kubaca adalah masa kecilku yang selalu diolok-olok. Ban*i, ben*ong, bol*r, merupakan daftar julukan teratas yang mereka lontarkan padaku. Apalagi sewaktu Sekolah Dasar, aku selalu berpindah-pindah sekolah yang membuatku semakin tak suka bersosialisasi.

***

Gadis berumur 16 tahun itu bernama Daelyn. Dialah yang ingin bunuh diri karena sudah muak hidup. Dia diolok-olok karena gemuk hingga suatu hari ibunya, Kim, membawanya ke kamp orang gemuk untuk menurunkan berat badannya. Bukannya turun berkilo-kilo, Dealyn malah turun daya hidupnya karena kekejaman yang ada di sana.

29 Maret 2014

Snake

Sampul
Judul : Ular
Judul Asli : Snake (The Five Ancestors #3)
Pengarang : Jeff Stone
Penerbit : teen@noura (Noura Books)
Tahun : 2013
Dibaca : 27 Maret 2014
Rating : ★★★

Sekali lagi, untuk ke sekian kalinya aku khawatir dengan novel berseri banyak. Tadinya aku tidak ingin cepat-cepat membacanya karena baru diterjemahkan sampai buku ketiga ini. Tapi, aku harus membacanya karena tidak bisa menunggu sampai kapanpun dengan cerita yang semakin lama semakin kompleks dan alurnya semakin cepat. Sungguh memikat! Aku sangat berharap penerbit akan menerbitkan lanjutan seri ini...

Cerita lagi-lagi bermula ketika penyerangan Ying ke Kuil Changzen, tetapi dari sudut pandang Seh. Tentu saja. Itulah yang membuatku sedikit bosan. Lagi-lagi penyerangan Ying ke Kuil Changzen, lagi-lagi ketika setiap kelima biksu muda berbakat mulai berpencar. Yang membuatku bertanya-tanya adalah pesan Mahaguru yang sepertinya tidak begitu didengarkan oleh kelima biksu ini. Bukankah mereka harus berpencar ke setiap penjuru mata angin? Tetapi mereka pada akhirnya bertemu kembali. Hmm?

Tranlated
Jadi, aku akan menceritakan tentang si biksu ular bernama Seh. Seh terlalu dingin dan tidak suka bercanda. Dengan sikap dinginnya itu, Seh dapat berdiam diri atau mengendap hingga tidak ketahuan oleh orang lain, karena dia dapat menghilangkan chi (energi) dan mengetahuinya bila ada yang mendekat. Dengan bakatnya itu pula, Seh dapat menggali informasi lebih banyak tentang masa lalu. Seh hanya berdiam diri dan mendengarkan setiap percakapan yang informasinya dia butuhkan. Mengagumkan...

Seh melanjutkan ke Kuil Shaolin. Kali ini Seh bertemu dengan saudara-saudaranya, Fu dan Malao yang pada akhirnya bersama-sama pergi menuju markas para bandit dan ke Kaifeng. Ceritanya beralur cepat sehingga tidak terasa membacanya. Dan ya... di akhir novel ini, ketiga saudara bertemu dengan Hok, si Bangau. Ah, aku ingin segera tahu tentang Hok!

***

Kisahnya memang cocok bagi remaja. Mengajarkan tentang arti persahabatan dan saling menghargai antar sesama juga kepada orang yang lebih tua. Selain itu, tentang bagaimana tidak begitu saja menerima informasi secara bulat-bulat karena belum tentu itu benar.

"... dia tahu persis apa yang harus dia lakukan; mendapatkan lebih banyak informasi. Memata-matai Mahaguru telah mengajarkannya bahwa lebih banyak informasi yang dimiliki seseorang, semakin besar pengaruh yang dimiliki orang tersebut. Dan, dengan informasi yang cukup, seseorang bisa meyakinkan banyak orang untuk bekerja sama dengannya." (hal. 20)

Seri sebelumnya:

26 Maret 2014

Monkey

Sampul
Judul : Monyet
Judul Asli : Monkey (The Five Ancestors #2)
Pengarang : Jeff Stone
Penerbit : teen@noura (Noura Books)
Tahun : 2013
Dibaca : 22 Maret 2014
Rating : ★★★

“Cobalah untuk latihan meditasi. Ingat yang selalu dikatakan Mahaguru? Kau harus mengendalikan pikiran-pikiran dan emosimu, atau mereka yang akan mengendalikanmu.”  (hal. 53)

Begitulah Malao. Biksu dengan keahlian khusus pada jurus-jurus gaya Monyet ini tidak bisa mengendalikan pikirannya sehingga Hok, si Bangau berbicara seperti itu kepada Malao. Malao terlalu muda untuk bisa dikatakan sebagai biksu yang berbakat, usianya masih 11 dan sepertinya itu membuatnya tertekan. Sepertinya.

Tapi lihat, aku bisa tertawa sendiri membaca dan mengetahui ulah Malao yang sangat konyol dan sering cekikikan. Sepertinya itu juga sifat monyet yang tidak terlalu serius dalam segala hal. Selain itu, Aku yakin kehidupan Malao di kuil Changzen sangat memberikan pengaruh positif pada saudara-saudaranya karena perilaku licik nan kocaknya. Tapi itu sebelum Negara Api menyerang.

Malao dan Saudaranya
Kini Malao harus melanjutkan perjalanan bersama Fu. Sebelumnya Malao bercerita tentang awal mula ia bertemu dengan para monyet yang membantu pelarian Fu. Sepertinya sudah ciri khas dari setiap buku yang menceritakan si biksu dengan hewan yang menjadi panutan. Seperti sebelumnya, Fu juga bertemu dengan macan.

***

Kisahnya dikemas secara sederhana tetapi tidak membuat bosan. Aku tahu kalau Malao tidak ada mungkin aku tidak akan melanjutkan membaca seri selanjutnya. Malao yang membuat suasana menjadi lebih santai dengan selera humornya yang kadang-kadang saudara-saudaranya tidak begitu suka. Tapi kenapa? Setiap orang butuh tertawa!

Sedikit membingungkan karena ulangan cerita. Contohnya ketika awal mula Malao bertemu sekawanan monyet sebelum menolong Fu, yang padahal di buku pertama Fu dan Malao sudah bertemu beberapa waktu berikutnya. Memang ceritanya dari sudut pandang masing-masing biksu sehingga mereka memiliki versinya sendiri. Tapi tetap saja membingungkan.


Qiang, senjata yang digunakan pasukan Ying untuk menyerang Kuil Changzen
Selain itu Malao sepertinya hanya sebagai bumbu. Malao tidak begitu memberikan peran dalam “bukunya” karena dia hanya mengikuti Fu. Mungkin berperan dalam mengalahkan Hung, si bandit  beruang. Semoga saja aku salah.

Kisah remaja yang mendidik. Seperti pada saat Malao tidak begitu menyukai kematian dan bergetar karena mungkin kematian itu lelucon. Kini dia menyadari bahwa kematian adalah hal yang sacral dan bukan main-main.

Dan ketika Malao mencoba mencari orangtuanya, yang mungkin Raja Monyet. Dia harus bisa mengontrol hal itu karena rasanya terlalu rumit bila dibilang orangtuanya meninggalkannya karena alasan yang baik atau buruk.

Ah, akhirnya Malao dan Fu bertemu Seh, si biksu ular yang terkenal pintar dan sangat misterius. Aku tidak sabar.

20 Maret 2014

Tiger

Sampul
Judul : Macan
Judul Asli : Tiger (The Five Ancestors #1)
Pengarang : Jeff Stone
Penerbit : teen@noura (Noura Books)
Tahun : 2013
Dibaca : 16 Maret 2014
Rating : ★★
“Ketika Kuil Cangzhen di China dihancurkan, hanya lima biksu pendekar muda yang selamat. Masing-masing memiliki nama seperti binatang karena merupakan master termuda yang menguasai jurus binatang. Mereka berlima berpencar dan mulai mengajarkan bukan hanya keahlian bertarung mereka yang luar biasa, tetapi juga filosofi hidup damai mereka. Konon seni bela diri masa kini berasal dari pengajaran kelima biksu pendekar muda ini, yang dikenal dalam legenda sebagai ... LIMA LELUHUR.” (hal. 7)

Penggambaran di atas melambangkan ide cerita yang kuat dan tidak main-main karena pengambilan tema legenda yang harus bisa diterima di kalangan para biksu juga masyarakat pada umumnya. Legenda adalah cerita rakyat yang sudah termaktub jelas di otak secara turun-temurun. Jadi penulis tidak boleh salah langkah dalam bercerita legenda lima leluhur para biksu ini.

Sepertinya aku terlalu serius menganggap ini. Memang seharusnya, karena aku tahu penggambaran legenda berarti menyangkut mitos atau sejarah dari suatu bangsa. Aku mencoba mencari tahu melalui Mbah Google; dan aku menemukan “sesuatu” yang menyangkut-nyangkut dengan kata Lima Leluhur. Jadi mungkin itu yang menyebabkan kisah fiksi ini ada dasarnya. Seri novel ini juga dibahas di grup Penggemar Novel Fantasi Indonesia dan sebagian besar menyatakan bukan fantasi.

Fan-made. Tapi kok Hok-nya perempuan ya?
Menurut wikipedia, Lima Leluhur ini adalah seni bela diri Cina yang terdiri dari lima gaya teknik: (1) metode pernapasan, (2) postur dan kekuatan dinamis, (3) presisi dan gerakan efisien, (4) teknik tangan dan kelembutan kontemporer dan kekerasan, dan (5) kelincahan dan gerak kaki. Kelima gaya tersebut memiliki guru masing-masing yang masih diajarkan di berbagai negara seperti China, Indonesia, Jerman, hingga Spanyol. (lihat di sini)

Ah, akhirnya gumpalan rambut yang menyumbat tenggorokanku sudah kuambil. Tidak ragu lagi memberikan novel ini predikat bukan-fantasi karena penjelasan barusan.

***

Aku tidak akan membahas mengenai cerita karena cuplikan paragraf di atas menggambarkan keseluruhan isi novel. Bagaimana Mahaguru meminta kelima biksu (catatan: Fu masih 12 tahun, juga teman-teman lainnya) bersembunyi dari serangan yang entah bagaimana Mahaguru tahu. Bagaimana Fu mencari jalannya sendiri untuk pertama kalinya keluar ke dunia nyata setelah hidupnya dihabiskan di kuil dan sekitarnya. Bagaimana Fu mencari jati dirinya sendiri. Nah, aku malah membahasnya.

The Author
Keseluruhan cerita menarik dengan gaya bahasa yang mudah dipahami mengingat novel ini untuk remaja atau middle-grader. Ceritanya penuh aksi dan tidak membosankan. Itulah yang harus dimiliki penulis yang menyasarkan bukunya untuk remaja: cerita yang tidak membosankan. Aku bisa melahapnya dalam sehari.

Sayangnya, plotnya terlalu sederhana. Mungkin karena jumlah halamannya yang terbatas; hanya 260an halaman. Mungkin juga karena plot seperti inilah yang cocok buat pembaca seumuran itu. Tapi, entah mengapa, aku tidak sabar membaca lanjutannya: Monkey. Kisah Malao, biksu paling muda dari Lima Leluhur.

04 Desember 2013

A World Without Heroes

Sampul
Judul : A World Without Heroes (Beyonders, #1)
Pengarang : Brandon Mull
Penerbit : Noura Books
Tahun : 2013
Dibaca : 4 Desember 2013
Rating : ★★★★★

Satu lagi kisah fiksi fantasi yang epik! Sangat klasik! Dan ... tebal!

Awalnya aku ragu dengan novel setebal hampir 600 halaman ini. Dengan kertas buram dan berat yang hampir 300 gram (kurang lebih). Tapi, itu baru kesan pertama dari bentuk luar. Seperti sebuah kurma yang keriput dan terlalu tidak menarik jika dilihat, tetapi bila dimakan terasa manis dan legit. Seperti itu lah...

Ya, memang, awalnya juga aku menebak-nebak kisah dari negeri manakah, kisah dari mitologi bangsa apakah yang diceritakan oleh om Brandon disini? Mungkin karena aku terlalu terpengaruh oleh kisah-kisah om Rick Riordan yang setiap kisahnya bercerita tentang sejarah mitologi.

Tapi memang tidak ada kesamaan. Ini kisah pure fantasi yang setting-nya dibuat oleh Penulis sendiri. Aku pikir itu sangat cerdas melihat kisah sebesar ini dibangun sendiri oleh penulis. Berbeda dengan kisah mitologi yang ceritanya sebagian sudah termaktub di telinga para leluhur. Namun, kembali lagi, tingkat kreativitas penulisan setiap orang itu berbeda. Aku belum membaca The Lord of The Ring atau buku yang katanya epik lainnya. Mungkin kurang lebih seperti ini. Just maybe. Klasik!

Seorang anak laki-laki berusia tiga belas tahun yang terdampar di negeri Lyrian yang sangat kuno bernama Jason Walker. Walker? Paul Walker? RIP Paul Walker! Dia dihadapkan pada kenyataan bahwa dia harus mencari Kata untuk menggulingkan kekuasaan jahat seorang Kaisar di negeri tersebut, Maldor yang sudah bertahun-tahun lamanya menguasai negeri Lyrian. Tidak ada seorang pun yang belum bisa menggulingkannya, menjadi pahlawan yang menyelamatkan negeri. No heroes has figured it out in the world without heroes!

Bersama Rachel, teman-tersesat-di-negeri-antah-berantah itu, Jason memulai petualangan mereka.

Mereka bertualang menyusuri Lyrian untuk mencari setiap potongan (silabel) Kata yang berbeda. Setiap Kata dimiliki oleh makhluk-makhluk yang berbeda di tempat yang berbeda dengan tingkat pencapaian menuju tempat tersebut yang berbeda pula. Itulah yang membuat kisah ini sangat adiktif: apa silabel Kata selanjutnya dan seberapa sulitnya mencapai daerah berbahaya tempat bersemayam makhluk-makhluk yang memiliki Kata itu?

Dengan Kata itu Maldor bisa lenyap dan Lyrian kembali menjadi negeri idaman para rakyatnya. Apakah Jason dan Rachel menemukan semua Kata? Apakah Kata itu sungguh bisa melenyapkan Maldor dan kekuasaan kejinya itu? Dan, bagaimana cara Jason dan Rachel kembali ke Bumi, ke dunia mereka yang sebenarnya? Apakah mereka berpisah atau bersatu untuk menyelesaikan misi tersebut?

Novel ini penuh kisah perjuangan, rasa rela berkorban, rasa kepahlawanan dan rasa tidak mementingkan diri sendiri. Novel ini juga menjelaskan tentang tipu daya, tentang bagaimana hidup penuh kesenangan adalah salah. Semua itu dibalut jadi satu menjadi kisah petualangan yang sangat seru!

Sedikit kutipan tentang arti seorang pahlawan.

"Bagi begitu banyak orang, pahlawan adalah orang yang menang di medan pertempuran, komandan legiun, penguasa suatu bakat atau keahlian yang langka. Memang, banyak pahlawan yang cocok dengan gambaran itu, Tapi, banyak penjahat juga yang juga cocok dengan gambaran itu. Pahlawan berkorban untuk kebaikan yang lebih besar. Pahlawan memiliki hati nurani. Singkatnya, kepahlawanan berarti melakukan kebenaran, apa pun konsekuensinya. Pilihlah hari ini untuk menjadi salah satu dari mereka."

Kutipan tentang arti kesenangan.

"Kesenangan adalah hampa. Tak ada kepuasan sejati dalam semburan kegembiraan yang tak bermakna. Kau mencoba menutupi kehampaan itu dengan semakin berfoya-foya, hanya untuk menemukan kegembiraan itu semakin tidak memuaskan dan semakin singkat. Kesenangan sebaiknya dicicipi sebagai bumbu penyedap, bukan hidangan utama."

Selamat menikmati satu lagi novel epik-klasik yang akan menjadi kisah populer di masa depan!
Back to Top