Tampilkan posting dengan label literature. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label literature. Tampilkan semua posting

19 Maret 2017

Ulasan Buku: Tuhan Tidak Makan Ikan dan Cerita Lainnya

Judul : Tuhan Tidak Makan Ikan dan Cerita Lainnya
Pengarang : Gunawan Tri Atmodjo
Penerbit : DIVA Press
Tahun : 2016
Dibaca : 12 Maret 2017
Rating : ★★★★

"Aku sering berkhayal, andai saja ada kesempatan memilih cita-cita selain nelayan, aku ingin menjadi agen koran dan buku agar bisa membaca sepuas-puasnya." —Tuhan Tidak Makan Ikan (hal. 119)

Sebenarnya, aku sedang bertanya tentang buku terbitan DIVA Press berjudul "Sejumlah Alasan Mengapa Tiap Anak Sebaiknya Melahirkan Seorang Ibu" yang menjadi pilihan salah satu pemenang giveaway #BBIShareTheLove kepada Mas Dion Yulianto. Kenapa Mas Dion? Karena dia bisa memberikan diskon yang lumayan saat kamu berniat untuk membeli buku-buku terbitan DIVA Press. Setelahnya, aku yang berbasa-basi dan tidak sedang sungguh-sungguh ingin menambah lagi timbunanku meminta rekomendasi buku terbitan DIVA Press yang terbit baru-baru ini kepadanya. Ia menyebut buku karya Gunawan Tri Atmodjo ini dan aku dibuat penasaran karena hampir semua ulasannya memuaskan. Walaupun sampul bukunya tidak terlalu memikat (wajah siapa sih itu), aku langsung pesan bukunya. Harus menunggu keesokan harinya sampai bukunya siap karena stok yang ada di kantor habis dan harus mengambil dari gudang. Yah, setidaknya bagaimana aku mendapatkan buku ini bisa menjadi pengantar untuk ulasan kali ini. Lumayan panjang juga ya.

***

Seorang anak laki-laki dihadapkan pada kemiskinan yang membuat dirinya cepat-cepat pergi melaut bersama ayahnya untuk menambah pundi-pundi kehidupan keluarganya. Ia yang sebenarnya punya mimpi lain dan berkeinginan lanjut sekolah harus mengandaskannya karena orang tuanya berpendapat kalau dia terlahir sebagai seorang nelayan. Seperti ayahnya. Seperti nenek moyangnya. Ia sebenarnya amat suka membaca. Ia membaca koran-koran yang tersedia di rumah. Ia bahkan sangat merasa bersalah ketika mengambil buku di perpustakaan sekolahnya dulu dan hingga kini belum dikembalikan. Ada delapan buku yang terdiri dari tiga buku keagamaan, dua buku cerita rakyat, dua buku pertanian berjudul sama, dan satu buku keterampilan. Ia telah berjanji—setidaknya kepada dirinya sendiri—akan mengembalikan buku-buku itu ke perpustakaan sekolah setelah membacanya dan akan ditepati.

Hingga pada suatu ketika musim paling berat dari yang paling berat itu tiba. Ia bersama ayahnya tidak banyak mendapatkan ikan dan berangsur-angsur yang mereka dapatkan dari laut hampir nihil. Mereka bahkan berhutang untuk membeli bahan bakar perahu. Begitupun dengan nelayan-nelayan lain di desanya. Sampai pada suatu keputusan bahwa mereka akan melalukan persembahan kepada Tuhan. Seluruh nelayan di desa akan mengumpulkan semua hasil tangkapan ikan untuk dikurbankan seberapa pun hasilnya. Ternyata pada saat hari persembahan, anak laki-laki dan ayahnya mendapatkan banyak hasil tangkapan, bahkan ada cumi-cumi berukuran agak besar yang lezat dan bernilai jual tinggi. Bagaimanapun, mereka sudah berjanji untuk mempersembahkan hasil tangkapan hari itu kepada Tuhan. Yah, apa boleh buat. Mereka hanya bisa menelan ludahnya sendiri. 

14 Maret 2017

Vegetarian dalam The Vegetarian

Edited by Me

Mari mulai ulasan ini dengan bagaimana orang-orang memilih untuk tidak makan daging sama sekali untuk sisa hidup mereka. Banyak di antara mereka yang memilih menjadi vegetarian untuk kesehatan atau keinginan untuk melindungi hak-hak binatang. Aku menelusuri beberapa pengalaman para vegetarian di internet dan menemukan dua orang yang kisahnya menarik untuk disimak. Satunya adalah orang Indonesia dan yang satu lagi dari luar negeri. Singkatnya, yang orang Indonesia tidak menjadi vegetarian karena menyayangi binatang, namun karena ia merasa bahwa memakan daging bukan hal yang baik. Untuk yang orang luar negeri menjadi vegetarian tanpa alasan apa pun. Ia hanya tidak ingin menjadi vegetarian pada suatu hari lalu merasa tidak berselera untuk makan daging pada hari-hari berikutnya.

Namun, setelah merasa bahwa menjadi vegetarian itu baik, mereka menemukan kebaikan menjadi vegetarian. Terutama untuk kesehatan dan juga dari sisi spiritualisme. Mereka melihat bahwa banyak orang-orang cerdas, penemu-penemun hebat, dan pemikir-pemikir besar masa lalu ternyata adalah vegetarian. Mereka juga menemukan bahwa pola makan vegetarian menghemat sumber daya alam di Bumi secara signifikan. Untuk kesehatan, sudah banyak terbukti bahwa diet vegetarian memberi harapan hidup lebih lama dan terhindar dari banyak risiko penyakit seperti kanker dan diabetes serta kadar kolesterol yang lebih stabil. Dari sisi spiritualisme, mereka akan lebih tenang karena, setidaknya, mereka tidak memakan daging binatang yang harus diputuskan hidupnya untuk dikonsumsi manusia.

Mengetahui penyebab para vegetarian dengan dalih-dalihnya di atas memberikan banyak sekali kemungkinan-kemungkinan yang terjadi bagi para vegetarian. Tentu saja, mereka tidak mendapatkan asupan protein hewani yang ternyata juga penting. Bagi vegetarian yang tidak mengkonsumsi produk olahan hewan seperti susu dan keju akan mengalami efek samping yang lebih banyak seperti kekurangan kalsium. Sebagian dari mereka amat membenci daging sehingga melihat orang-orang yang memakan daging akan membuat mereka mual atau bahkan merinding. Celah inilah yang bisa diambil sebagai bahan cerita. Kamu bisa memulai membuat ceritamu sendiri tentang para vegetarian, tentang penyebab-penyebab mereka yang menjadi vegetarian, hingga dampak-dampak yang terjadi setelah mereka tidak makan daging selama hidup. Ini juga yang aku lihat sebagai celah fiksi setelah membaca kisah Yeong Hye dalam The Vegetarian karya Han Kang.

19 Februari 2017

Ketakutan yang Tersaji dalam Semua Ikan di Langit

Edited by Me

"Menyayangi itu adalah kegiatan yang menakutkan." (hal. 64)

Ada tiga cara mendapatkan manisnya iman yang disampaikan khatib saat khutbah Jumat kemarin. Salah satu caranya adalah dengan merasa takut kepada Tuhan. Hal ini penting karena bagaimana seseorang bisa beriman bila berani hengkang dari apa yang dipercayainya. Menurut Alquran dan Hadis, takut merupakan sifat orang yang bertaqwa dan menjadi bukti iman kepada Tuhan. Dalam perkara rasa takut ini, khatib mengingatkan kembali tentang memperhitungkan akibat dari apa yang sudah dan akan dikerjakan. Kalau membawa pahala, maka lakukan. Kalau membawa dosa, maka tinggalkan.

Ketakutan memang menakutkan. Mereka benar-benar bisa jadi penghalang seseorang untuk maju atau setidaknya menikmati hidup. Dengan berpikiran pada ketakutan-ketakutannya, seseorang tidak bisa tidur. Seorang lainnya terlalu menanggapi ketakutannya sehingga tidak pernah beranjak untuk melakukan hal lain. Ada pula orang yang coba membuat sebuah pilihan yang akan mengubah hidupnya namun terlalu lama untuk memikirkan ketakutan-ketakutannya dan berakhir dengan kegagalan karena terlambat untuk melakukannya. Namun, sepertinya setiap persona memiliki ketakutannya masing-masing. Biasanya berupa pertanyaan-pertanyaan bersifat pertaruhan tentang hidup yang tidak akan diketahui sebelum mengalaminya namun terus-menerus menghantui. Memang, kebanyakan ketakutan-ketakutan tersebut biasanya berkenaan dengan keberlangsungan hidup.

26 Januari 2017

Ulasan Buku: Jogja Jelang Senja

Judul : Jogja Jelang Senja
Pengarang : Desi Puspitasari
Penerbit : Grasindo
Tahun : 2016
Dibaca : 25 Januari 2017 (via SCOOP)
Rating : ★★★

Percaya akan kebetulan? Sebagian orang berpendapat bahwa di dunia ini tidak ada yang kebetulan karena sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Masa bodoh tentang kebetulan atau takdir karena ini yang kualami: Setelah membaca "Nyanyian Akar Rumput", aku coba menilik salah satu toko buku daring dan mendapati satu buku yang sedang masa pre-order. Setelah kukulik lebih jauh, sang pengarang telah menulis beberapa buku dan salah satunya ada format digitalnya. Kupastikan buku itu bukan sastra karena aku baru saja selesai baca sastra. Aku butuh istirahat dengan cara membaca buku bertema ringan. Lalu, aku baca buku itu tanpa ekspektasi apa pun. Selain kisah cinta, buku itu ternyata bercerita tentang perlawanan berlatar tahun 90-an bahkan menyebut-nyebut Wiji Thukul. Apa namanya kalau bukan kebetulan?

***

Senja itu di kota Jogja, Kinasih dan Aris saling bertubrukan saat mengendarai sepeda. Tentu secara tidak sengaja. Keduanya sedang sama-sama terburu-buru. Kinasih harus lekas pulang ke rumah karena waktu Maghrib akan segera tiba. Ia harus menyiapkan hidangan berbuka puasa. Sementara Aris harus meliput suasana pasar Ramadan di kawasan Kotagede. Tugasnya sebagai wartawan harus benar-benar diburu waktu. Bila terlambat barang semenit, peristiwa penting bakal terlewat. Karena terburu-buru, ebagai permintaan maaf, Aris memberikan kartu namanya kepada Kinasih. Kalau-kalau wanita itu meminta pertanggungjawabannya.

Kinasih mengayuh sepeda milik Midah menuju kantor Aris di Jalan Mangkubumi. Sebenarnya, luka yang dialaminya sudah membaik karena telah diberi obat merah. Tapi, sepedanyalah yang penting. Ia amat membutuhkan sepeda itu untuk bekerja. Untungnya lelaki itu menyanggupi. Selama menunggu sepeda Kinasih diperbaiki, Aris berjanji untuk mengantar jemput Kinasih bekerja sebagai jalan keluar sementara. Kinasih merasa tidak enak. Aris tidak perlu merepotkannya seperti itu. Namun, Aris tetap bersikukuh. Dan, dari tabrakan kecil itulah kisah cinta Kinasih dan Aris dimulai.

25 Januari 2017

Istirahatlah Kata-Kata Bersama Nyanyian Akar Rumput

Judul : Nyanyian Akar Rumput
Pengarang : Wiji Thukul
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2014
Dibaca : 21 Januari 2016 (via SCOOP)
Rating : ★★★★

Seseorang mengajakmu keliling kota. Tak perlu risau, ia menjanjikan kali ini tak mengeluarkan uang sepeser pun. Ia mengajakmu ke toko perbelanjaan tingkat lima untuk melihat-lihat. Yah, masuk pun tak bayar kan. Lalu, ia juga bisa mengajakmu ke gedung bioskop untuk melihat-lihat poster atau ke diskotek untuk mendengar detak musik dan denting botol. Pasti banyak tawa di sana. Atau kamu bisa ke hotel baru bintang lima. Ada peresmian yang dibuka pejabat tinggi di sana. Sudah merasa capek? Maka pulanglah. Ia akan mengajakmu kembali ke rumah kontrakan dan bersiap untuk kerja di pabrik esok hari. Jangan lupa sarapan nasi bungkus terlebih dahulu, agar kuat bekerja sampai sore. Yah, ngutang juga tidak apa-apalah.

***

Kamu akan mengira tulisan di atas adalah fiksi buatanku sendiri. Namun, tidak. Tulisan di atas merupakan cerita yang disarikan dari puisi "Nonton Harga" karya Wiji Thukul. Dalam buku ini, ada pada halaman 156-157. Dari gubahan di atas, dapat disimpulkan bahwa bait-bait karyanya sangat mudah dibaca dan dicerna. Pilihan diksinya yang tak mendayu-dayu dan ringkas menjadikan puisi-puisi Sang Wiji berbeda dengan karya penyair lain. Sehingga bisa kubilang bahwa bersama buku ini, aku mendapatkan pengalaman baca puisi yang berbeda dengan yang lain.

Penggal-penggal bait yang dibawakannya berbeda dari yang dilontarkan para penyair-penyair lain. Puisinya murni tentang perlawanan. Yang membacanya diajak untuk mengenal suara yang dielu-elukan orang-orang bawah. Selain itu, Wiji Thukul kentara sekali melakukan perlawanan pada pemerintahan kala itu. Dalam pengantar buku ini disebutkan bahwa Wiji Thukul dengan tepat menggambarkan keterwakilan kelas sosialnya sebagai aktivis dan seniman rakyat. Kalimat "Maka hanya ada satu kata: lawan!" pun menjadi begitu populer melebihi sang penyair itu sendiri dan berhasil menemukan api bagi simbol perlawanan.

22 Januari 2017

Arti Kesetiaan dalam The Devotion of Mr. X

Edited by Me

Adalah penting untuk membahas soal kesetiaan yang didasarkan tokoh utama pada buku ini. Begini, ada seorang pria yang begitu mengagumi tetangganya—seorang wanita beranak satu yang telah bercerai dengan suaminya. Mereka tak pernah mengobrol. Mereka tak pernah bercengkerama laiknya tetangga. Mereka hanya bertegur sapa kala berpapasan. Suatu ketika wanita itu mendapat kesulitan yang sebenarnya adalah kesalahannya sendiri. Seperti itu kan perbuatanmu, tentulah kamu yang menerima risikonya betapa pun itu. Namun berkat kekaguman yang telah lama dipendam, sang pria hadir untuk memikul risiko yang seharusnya milik sang wanita. Sang pria mengorbankan segalanya bahkan harga dirinya untuk sang wanita. Saking kagumnya sang pria, ia akan melakukan apa pun agar kesalahan sang wanita tertutupi lebih-lebih terhapuskan.

Setia adalah kata yang amat ampuh. Coba saja lontarkan kata itu kepada pasanganmu (bila punya), hatinya pasti berbunga-bunga. Ia akan merasa bahwa hidupnya sempurna karena telah mendapatkan pasangan yang telah bersumpah akan bersamanya sampai akhir hayatnya. Tapi semudah itukah melontarkan kata setia? Apalagi dalam sebuah hubungan serius. Oke, baiklah, aku memang bukan ahli percintaan, tapi aku sedikit banyak tahu apa yang membuat setia adalah hal terpenting dan di atas apa pun dalam sebuah hubungan. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?

08 Januari 2017

Ulasan Buku: Playon

Judul : Playon
Pengarang : F. Aziz Manna
Penerbit : Grasindo
Tahun : 2016
Dibaca : 25 Desember 2016 (via SCOOP)
Rating : ★★★

"sebuah paku menancap. kau membayangkan tangan yang kekar itu, martil itu, menghantamnya, menembuskannya, menancapkannya, dan membiarkannya. sebuah paku menancap. kau membayangkan jam atau pakaian atau kunci atau foto tergantung di situ. sebuah paku menancap. kau membayangkan apa yang harus terjadi antara sebuah besi, sebuah palu dan pakaian dan kunci dan jam penunjuk waktu itu bahkan foto kenanganmu. sebuah paku menancap. kau pun membayangkannya menancap di tengah telapak tangan di kayu palaing. sebuah paku menancap. sendirian dan tak terperhatikan." (Paku, hal. 30)

Sudah saatnya aku menuntaskan ulasan buku ini. Setelah berkali-kali memutar otak akan membahas apa selain mengulas, akhirnya aku memutuskan untuk berinteraksi langsung dengan sang penulis melalui email. Sekaligus mengajukan beberapa pertanyaan yang mengganjal seusai membaca "Playon". Inginnya kujadikan percakapan bagai wawancara. Tapi karena tidak banyak-banyak amat, aku hanya selipkan jawaban yang diberikan penulis. Salah satunya adalah pendapat penulis tentang sayembara sastra daerah selain Jakarta yang sepertinya kurang terasa gaungnya.

***

Satu hal yang pasti, aku tahu tentang "Playon" karena menjadi pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2016 kategori Puisi. Saat mengobrol bersama teman penyuka sastra, menanyakan kepadaku apakah buku tersebut mudah dipahami. Sebagai keturunan Jawa (yang pada akhirnya murtad karena hanya tahu sedikit-sedikit tentang bahasanya), aku mengerti isinya sedikit banyak. Dan itulah yang kujawab pada temanku tersebut. Ia yang orang Jakarta ragu untuk membaca "Playon" karena khawatir tidak mengerti puisi-puisi yang disampaikan. Aku jadi bertanya-tanya kenapa nuansa Jawa-nya kental sekali. Dan aku berasumsi, mungkinkah puisi-puisi di dalamnya dibuat untuk kalangan sendiri saja. Untungnya, aku mendapat jawabannya.

22 Desember 2016

Kemenangan Tunggal Sayembara Novel DKJ 2016 Ingatkan Kembali Memori Tahun 2008

Edited by Me

Aku tidak pernah mengantisipasi "Tanah Tabu" sebelumnya. Membelinya hanya karena label 'Pemenang I Sayembara Novel DKJ 2008' yang terpampang pada sampul depan. Sampai pada Minggu lalu Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) mengumumkan pemenang sayembara yang telah diselenggarakan sejak Juni bertajuk 'Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016'. Lalu, muncullah nama Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie sebagai pemenang pertama sekaligus pemenang satu-satunya pada tahun ini. Usut punya usut, hal yang sama terjadi pada 2008 yang "Tanah Tabu" dinobatkan sebagai pemenang. Pada tahun itu juga tidak ada pemenang kedua dan ketiga.

Keriuhan kemenangan satu-satunya Ziggy dengan naskahnya yang berjudul "Semua Ikan di Langit" membuat orang-orang bertanya-tanya betapa juri gegabah untuk tidak memilih pemenang kedua dan ketiga. Seperti yang diwartakan Tempo.co, para dewan juri yaitu Bramantio, Seno Gumira Ajidarma, dan Zen Hae beralasan adanya perbedaan mutu yang tajam antara pemenang pertama dan naskah-naskah lainnya. Lalu melalui laman resmi DKJ, dewan juri menjabarkan secara runut pertanggungjawaban terpilihnya satu naskah saja sebagai pemenang. Penjelasan ini tentu memberikan napas lega bagi 300-an pembuat naskah lainnya dan mereka yang bertanya-tanya.

Perbedaan mendasar dari kemenangan "Tanah Tabu"-nya Anindita S. Thayf dan "Semua Ikan di Langit" adalah maraknya pemberitaan yang beredar di media cetak maupun daring. Seperti memberikan gambaran bahwa sekarang ini orang-orang sudah pada melek sastra. Setidaknya melek bacaan yang bagus. Atau melek internet. Yah, pokoknya melek tentang pemberitaan semacam ini lah. Jujur, aku susah mencari artikel seputar kemenangan "Tanah Tabu" melalui mesin pencarian. DKJ pun tidak mewartakan apa pun pada laman resminya tentang kemenangan tunggal "Tanah Tabu". Hanya Wikipedia saja yang memberikan data yang—semoga—benar. Apakah pada 2008 lalu internet masih menjadi hal yang susah digapai? Terkumpulnya rasa penasaran itulah yang membuatku ingin gegas menyelesaikan "Tanah Tabu".

Sebenarnya, fenomena kemenangan tunggal Sayembara Novel DKJ 2016 juga pernah terjadi pada 2012—malah sama persis. Kala itu, "Semusim, dan Semusim Lagi" menjadi jawara tunggal yang diikuti empat naskah lainnya sebagai unggulan. Namun, karena sudah membacanya, aku menyangkutpautkannya dengan "Tanah Tabu" yang belum kujamah. Toh mereka sama-sama pemenang tunggal dan kupikir ini waktu yang tepat untuk mengingat kembali kemenangan pada 2008 lalu melalui kisahnya.

05 Oktober 2016

Ulasan Buku: The Kite Runner

Judul : The Kite Runner
Pengarang : Khaled Hosseini
Penerbit : Qanita
Tahun : 2010
Dibaca : 25 September 2016
Rating : ★★★★★

"Baiklah, apa pun yang diajarkan mullah itu padamu, hanya ada satu macam dosa, hanya satu. Yaitu mencuri. Dosa-dosa yang lain adalah variasi dari dosa itu. Kau paham?" (hal. 34)

Sebentar. Aku merasa berbeda ketika melihat ulasan buku-bukuku sekitar setahun apalagi tiga tahun lalu. Aku bahkan hanya mengulas dalam beberapa kalimat yang dibagi-bagi menjadi paragraf. Kenapa aku membahas hal ini? Karena aku melihat-lihat ulasan buku Khaled Hosseini: A Thoushand Splendid Suns yang kubaca pada Juli 2013. Bahkan ulasan pada tahun lalu pun masih jauh lebih sedikit ketimbang ulasan yang kutulis akhir-akhir ini, seperti pada ulasan The Kite Runner: Graphic Novel yang kubaca pada Juni 2015. Kau tahu, bahkan melalui tulisan saja terlihat jelas bahwa orang-orang itu berubah. People change.

***

Hassan dan Ali akhirnya pergi setelah apa yang Amir lakukan pada mereka—terutama pada Hassan. Amir telah meninggalkan hadiah ulang tahunnya di kediaman Ali dan menuduh Hassan yang mencurinya. Tentu saja ayah Amir bertanya kebenarannya pada Hassan, namun Hassan tetap tutup mulut.

Amir dewasa harus menebusnya. Ia tahu apa yang dilakukannya di masa lalu telah menghantuinya selama ini. Meninggalkan istrinya di California, Amir harus kembali ke Kabul untuk menjemput seorang anak laki-laki. Anak yang menjadi budak musuhnya, Assef. Anak yang memiliki keinginan kecil untuk tidak ditempatkan di panti asuhan. Anak yang pada akhirnya Amir tahu masih sedarah dengannya.

02 Oktober 2016

Ulasan Buku: Oliver Twist

Judul : Oliver Twist
Pengarang : Charles Dickens
Penerbit : Narasi
Tahun : 2015
Dibaca : 18 Agustus 2016
Rating : ★★★

Membaca karya penulis klasik seperti sebuah pencapaian, apalagi karya tersebut adalah karya ikonis sang penulis. Setiap mendengar nama Charles Dickens, yang terlintas di benak orang-orang adalah Oliver Twist yang pertama kali terbit pada 1837, walaupun setahun sebelumnya sang maestro telah menerbitkan kumpulan tulisan "Sketches by Boz" dan angsuran novel "The Paperwicks Paper" yang pertama hingga dijadikan novel pada 1837 juga; dua karyanya yang mungkin asing di telinga para pembaca literatur. Setelah itu, pria kelahiran 1812 ini menelurkan sejumlah buku yang tak kalah mendunia, antara lain "Great Expectations" dan "A Christmas Carol".

***

Oliver Twist kecil tak akan menyangka bahwa hidupnya akan seberat ini. Setelah ditinggal mati sang ibu, ia hidup terlunta-lunta, dari hidup bersama 20-an anak di rumah Bu Mann, lalu berpindah ke rumah penampungan milik Pak Bumble, lalu dijual ke Pak Sowerberry si tukang peti mati. Oliver harus tidur di salah satu peti mati di rumah Pak Sowerberry, sampai ia tidak tahan dengan anak lain yang bernama Noah karena mengejek ibunya yang katanya "bukan wanita baik-baik".

Oliver Twist akhirnya memberanikan diri untuk kabur dari tempat tinggal Pak Sowerberry, ia bertekad menuju London. Setelah berhari-hari, ia sampai tujuan dan bertemu dengan anak laki-laki bernama Jack Dawkins. Jack Dawkins membawanya ke sebuah tempat dan diperkenalkan dengan seorang pria bernama Fagin yang mengambil semua barang-barang Oliver untuk dicuci. Ternyata di balik kebaikannya, Fagin ada maksud tertentu pada Oliver dan semua anak-anak yang tidur di tempatnya. Sepertinya, hal-hal buruk selalu menimpa Oliver Twist sampai ia bertemu dengan seorang lelaki tua yang biasa dipanggil Pak Brownlow.

18 September 2016

Ulasan Buku: Fiksi Lotus

Judul : Fiksi Lotus: Kumpulan Cerita Pendek Klasik Dunia
Penerjemah : Maggie Tiojakin
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2012
Dibaca : 17 Agustus 2016
Rating : ★★★

"Sebut saja pembersih sarung tangan. Mungkin saja cairan ini bisa membersihkan sarung tangan. Saya belum pernah mencobanya. Ada juga yang menyebutnya sebagai pembersih nyawa. Kadang-kadang nyawa pun perlu dibersihkan." (Ramuan Cinta - John Collier, hal. 11)

Aku ingat pernah membaca salah satu cerita pendek dari "Fiksi Lotus" dan aku bertanya-tanya di mana aku membacanya. Buku ini mengingatkanku dengan kumpulan cerita Amerika Latin yang pernah kubaca berjudul "Matinya Burung-Burung". Sempat berpikir beberapa cerita yang ada pada buku ini sama dengan cerita yang ada pada buku satunya. Namun setelah dicek satu-satu, tidak ada nama penulis apalagi judul cerita yang sama. Jadi, mungkin aku hanya halu~

***

Seperti yang tertera pada sampul utama, buku ini berisi 14 cerita pendek klasik dunia. Nama-nama yang pernah kudengar antara lain: Franz Kafka dengan cerpennya berjudul "Pesan Sang Kaisar" yang diterjemahkan dari "A Message from the Emperor" yang pertama kali diterbitkan pada 1917, cerpen Ernest Hemingway berjudul "A Clean, Well-Lighted Place" yang terbit pertama kali pada 1926 dan pada buku ini diterjemahkan menjadi "Persinggahan Malam", dan Anton Chekhov yang cerpennya pada buku ini—"Gegap Gempita"—diterjemahkan dari "Rapture" dan pertama kali diterbitkan pada 1884.

***

Aku pernah bilang pada ulasan cerita pendek sebelumnya bahwa satu di antara sekian banyak cerpen dalam kumpulan cerpen pasti melekat di benak. Pada "Fiksi Lotus Vol.1" ini, benak saya dilekatkan pada cerita karya Shirley Jackson berjudul "Charles" yang pertama kali diterbitkan pada 1948. Hentakan plot yang diberikan pada akhir cerita "Charles" memberiku pelajaran tentang bagaimana membuat cerpen yang sempurna dan membekas. Hal brilian itu adalah kejutan tak tertuga pada akhir cerita.

23 Agustus 2016

Ulasan Buku: Kereta Tidur

Judul : Kereta Tidur
Pengarang : Avianti Armand
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2011
Dibaca : 17 Agustus 2016 (via SCOOP)
Rating : ★★★★

"Mesaud dan Sania membuka tutup peti itu. Di dasarnya, mereka menemukan sebuah pintu. Di balik pintu itu terhampar semua yang mereka inginkan. Sejenak mereka berpandangan, tersenyum, lalu sambil bergandengan tangan, melangkah masuk." - Dongeng dari Gibraltar (hal. 27-28)

Kapan terakhir kali membaca kumpulan cerpen ya? Sekitar satu atau dua bulan lalu. Kumpulan cerita memang punya daya pikat tersendiri. Pembaca dibawa merasakan secuplik kisah yang tidak lama untuk disimak namun bisa jadi tidak sebentar melekat di benak. Yakinlah bahwa dari sekumpulan cerita dalam sebuah buku terdapat satu kisah yang menggema dalam ruangmu. Aku mendapatkannya pada cerita yang berjudul "Sempurna" di buku ini. Dan kalau boleh, aku akan menempatkan "Dongeng dari Gibraltar" dan "Perempuan Tua dalam Kepala" di urutan berikutnya.

***

"Sempurna" berkisah tentang seorang gadis yang hidupnya sempurna dari segala sisi; paras, harta, hingga lelaki yang mencintainya. Kesempurnaan itu hancur ketika sang kekasih memberi tahunya bahwa mereka tidak bisa bersama lagi karena sudah memiliki wanita pujaan lain. Saat itulah sang gadis merasa hancur. Ia melakukan hal nekat pada lelaki tersebut; sebuah perlakuan yang dianggapnya sempurna.

17 Agustus 2016

Ulasan Buku: Genduk

Judul : Genduk
Pengarang : Sundari Mardjuki
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2016
Dibaca : 13 Agustus 2016 (via SCOOP)
Rating : ★★★★

"Nduk, anakku, dalam hidup jangan sekali pun kamu menggantungkan diri pada orang lain. Kamu hanya boleh bergantung padaku Dan aku akan berusaha sekuat tenaga agar kita bisa hidup." (hal. 25)

Senang, akhirnya membaca buku berkultur Indonesia nan kental seperti buku ini. Tidak ada ekspektasi macam-macam perihal buku yang baru diluncurkan beberapa minggu lalu. Hanya alasan sederhana: ingin membaca fiksi bernuansa lokal yang begitu kurindukan. Mungkin terlalu penat dengan kehidupan kota yang serbacepat. Atau mungkin hanya rindu akan "rindu" yang sudah lama tak kurasakan. Yha~

***

Genduk gerah dirinya selalu diejek bocah yatim karena sedari kecil ayahnya pergi entah ke mana. Hingga suatu ketika ia begitu naik pitam ketika biyungnya tidak bisa mengabulkan permintaan kecilnya: rok sayak warna oranye ubi jalar seperti yang baru dimiliki oleh Sumiati. Padahal Biyung sudah panen tembakau dan seharusnya sudah mendapatkan uang. Tak dinyana ternyata tembakau panenannya yang diserahkan kepada tengkulak dan tak ada kabarnya lagi.

Pikirannya membuncah. Tidak keruan perasaannya. Ia harus melakukan sesuatu. Ia harus ke Kota Parakan untuk mencari ayahnya. Sedari dulu ia yakin ayahnya masih hidup, tidak seperti ejekan orang-orang kepadanya kalau dia anak yatim. Ia berangkat pagi itu berbekal kantong kresek yang berisi satu lembar baju. Dengan perasaan gundah, ia melangkah menuju kota yang bahkan tak pernah ia jejaki selama hidupnya.

29 Mei 2016

Ulasan Buku: Tidak Ada New York Hari Ini

Pengarang : M. Aan Mansyur
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2016
Dibaca : 29 Mei 2016 (via SCOOP)
Rating : ★★★★

Penyesalan memang datang belakangan. Seperti saat ini, aku menyesal karena ragu dengan buku ini dan coba-coba membacanya melalui gawai. Harusnya tidak. Aku dibawa merasa; kau tahu kan tentang hal-hal sensitif dan kau diajak turut serta merasakan itu. Setelahnya aku tahu bahwa puisi bukan tentang kecepatan membaca, tetapi tentang menikmati setiap bait yang ada.

***

Kuselesaikan buku ini di dalam bus—perjalanan malam dari rumah menuju kost. Diiringi musik gitar-klarinet instrumen sang pengamen, membuatku semakin menikmati setiap bait di dalamnya. Siapa yang tidak suka dengan buku ini?

Aku tahu aku tidak suka puisi; bahasa yang digunakan biasanya begitu di luar nalar, begitu susah dicerna, begitu berat. Tapi kucoba untuk tak begitu memikirkannya. Hanya membaca, dan terus membaca. Siapa yang tidak suka dengan buku ini?

Dalam setiap buku, kau akan menemukan satu hal yang akan tersimpan dalam memori. Dan "Ciuman Perpisahan" menjadi satu dari sekian banyak favorit yang akan terpatri dalam memori. Lantas, siapa yang tidak suka dengan buku ini?

Jangan lupa hasil jepretan di setiap halamannya. Aku tahu bahwa New York memang sebesar 'itu'. Kau pernah mendengar 'Human of New York'? Ya. Sebesar itu. Tapi lewat buku, aku bisa melihat New York lebih besar dari itu. Lebih berperasaan.

Pada akhirnya, aku yakin tak ada yang tak suka dengan buku ini.

21 April 2016

Ulasan Buku: O

Sampul
Judul : O
Pengarang : Eka Kurniawan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2016
Dibaca : 16 April 2016
Rating : ★★★★

"Masalah hidup manusia sering kali karena kita tak memiliki cinta, atau tak memiliki cukup keyakinan terhadap cinta." (hal. 206)

Butuh niatan yang kuat saat menyelesaikan buku ini. Dua bulan sejak buku ini tiba di pangkuan, akhirnya aku bisa menyudahinya. Ada beberapa alasan, yang paling utama adalah distraksi buku lain yang lebih menggiurkan untuk dibaca. Lalu, aku ada masalah dengan penokohan.

***

Yah, siapa yang punya memori sebesar gajah untuk mengingat jalan cerita sebuah buku yang waktunya dipotong lebih dari satu bulan. Ditambah dengan bacaan di sela-sela waktu itu. Mungkin samar-samar kau akan mengingat plotnya, tapi tidak dengan euforia membacanya. Intinya, seperti yang dituliskan pada sampul belakang, buku ini bercerita tentang seekor monyet yang ingin menikah dengan kaisar dangdut. Titik.

22 Februari 2016

Reruntuhan Musim Dingin Blog Tour + Giveaway


Raafi dan Bibli kembali dipercaya menyelenggarakan blog tour sekaligus giveaway bersama Penerbit DIVA Press. Kali ini, kumpulan cerita pendek karya Sungging Raga menjadi tamunya. Jujur, aku belum membaca satu pun cerpennya. Bagaimana ya gaya penceritaannya? Langsung ditilik saja!

12 Februari 2016

Ulasan Buku: For One More Day

Sampul
Judul : Satu Hari Bersamamu
Judul Asli : For One More Day
Pengarang : Mitch Albom
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2012
Dibaca : 7 Februari 2016
Rating : ★★★★

Buku pertama di bulan ini yang sekaligus menjadi bahan penunjang untuk Posting Bareng BBI bertema #BBIValentinesDay. Sedikit melenceng karena kisah yang dituturkan pada buku ini bukan tentang cinta kepada pasangan atau sang kekasih, tetapi lebih kepada keluarga terutama sang ibu. Setelah ini bakal ada postingan khusus untuk menyemarakkan Posting Bareng BBI bulan Februari.

***

Charles "Chick" Benetto bertemu dengan pencerita untuk mengisahkan masa lalunya. Pria yang sering dipanggil Chick ini memiliki satu kejadian yang memilukan sekaligus membahagiakan. Ia bertemu dengan ibunya yang seharian mengajaknya jalan-jalan di kota kelahirannya, padahal seperti yang ia ketahui, sang ibu sudah meninggal beberapa tahun lalu.

Kejadian itu bermula ketika Chick berniat pulang ke kotanya dan mencoba bunuh diri. Saat jarak sudah dekat dan pagi menjelang, ia begitu kalut. Pada saat itulah kecelakaan yang membuat dirinya bertemu dengan sang ibu terjadi. Saat ketika ia kembali mengingat masa remajanya yang tidak begitu mulus karena ditinggal ayahnya. Saat ketika ia kembali mengingat bagaimana ibunya membesarkannya seorang diri dan membelanya. Saat ketika ia menginginkan berada satu hari lagi bersama sang ibu.

06 Februari 2016

Ulasan Buku: Katarsis

Sampul
Judul : Katarsis
Pengarang : Anastasia Aemilia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2013
Dibaca : 29 Januari 2016
Rating : ★★★★★

"Susi hanya bisa meraung memegangi karung berisi potongan tubuh putranya. Aku seperti melihat potret kepedihan yang tergambar sangat apik. Patut diabadikan." (hal. 84)

Pengujung Januari kututup dengan satu buku yang sudah kuincar sejak lama. Pertama, buku ini diterjemahkan ke Bahasa Inggris dan dibawa ke Frankfurt Book Fair tahun lalu. Pencapaian yang tidak biasa, bukan? Kedua, buku ini disebut-sebut buku sinting karena konten yang dibawakan begitu vulgar. Benarkah?

***

Ayah dan ibunya hanya dipanggil nama. Masa kecilnya membuat teman sebayanya terluka hingga berdarah. Tidak pernah berucap satu kata pun kecuali benar-benar dibutuhkan. Dari sekian banyak perbedaan dari orang-orang normal lainnya, Tara juga akan melindungi kehormatan dirinya sendiri; sama seperti gadis pada umumnya. Hanya saja yang dilakukannya sudah terlalu jauh dan berakibat satu nyawa hilang.

Tara diam saja. Potongan tubuh sepupunya ia taruh di tangki air di atas rumah. Ia memengang erat koin itu lagi. Koin yang menemani hidupnya sedari kecil. Koin yang diberikan oleh anak laki-laki yang melihatnya menyendiri di taman. Koin yang selalu digenggamnya ketika ketakutan. Koin yang juga membuat hidupnya menjadi lebih sinting lagi.

02 Februari 2016

Ulasan Buku: Student Hidjo

Sampul
Judul : Student Hidjo
Pengarang : Mas Marco Kartodikromo
Penerbit : Narasi
Tahun : 2010
Dibaca : 25 Januari 2016
Rating : ★★★

Seharusnya aku malu dengan postingan ulasan kali ini. Malu karena resolusi tahun 2016 yang diekspektasikan tidak berjalan sesuai rencana. Seperti kebanyakan orang, aku juga membuat resolusi setiap pergantian tahun. Salah satu poin pada tahun ini adalah tidak membeli buku. Terlihat muluk tetapi beralasan: aku memiliki 60 lebih buku yang belum dibaca atau mari kita sebut sebagai timbunan. Hal yang sungguh mengusik kedamaian hidup.

Semua berubah setelah hidupku memasuki hari kedua tahun 2016. Aku ingat betul waktu itu aku sedang melancong di Bandung bersama Anastasia @ Jane and Her Bookienary dan berakhir di Gramedia Merdeka. Sialnya, ada bazar buku dengan harga miring di sana. Siapa yang tidak tergiur? "Student Hidjo" menjadi satu dari tiga buku yang pertama kali dibeli tahun ini. Aku bahkan mengabadikan momen memalukan ini via twitter.

23 Januari 2016

Ulasan Buku: Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan

Pengarang : Fitrawan Umar
Penerbit : Exchange
Tahun : 2015
Dibaca : 23 Januari 2016
Rating : ★★★

Aku ditawari oleh Mba Truly @ Reviewku untuk meresensi sebuah buku. Aku bertanya berapa jumlah halamannya dan dia menjawab 200-an halaman. Dengan kekuatan tekad aku bilang bersedia padanya. Buku ini sampai di tempatku pertengahan Desember tahun lalu. Aku begitu tidak enak karena tidak buru-buru membacanya. Untunglah rasa tidak enak itu mengalahkan segalanya hingga aku bisa menyelesaikan buku ini.

***

Renja seorang mahasiswa Fakultas Teknik bertemu kembali dengan Adel yang juga kuliah di kampus dan fakultas yang sama. Awalnya Renja tidak mengenali teman SD-nya itu. Hingga suatu kejadian membuatnya teringat kembali kenangan-kenangan yang terjadi bersama perempuan itu. Renja mengagumi Adel sejak pertama kali bertemu saat SD.

Sayangnya, rasa itu tumbuh menjadi cinta saat dua sejoli itu bertemu kembali. Apakah Renja bisa mengambil hati Adel di saat Adel sangat dekat dengan Sang Ketua BEM? Haruskah cintanya diperjuangkan?

***

Kamu pasti bertanya-tanya kenapa di atas aku bertanya jumlah halaman untuk buku yang dimintai untuk diresensi. Aku kapok pada buku-buku yang aku terima secara cuma-cuma tetapi tidak sesuai dengan minatku sehingga menyusahkanku ketika membaca. Tentu buku tersebut harus selesai dibaca karena resensiku ditunggu. Tetapi bila tidak bisa dinikmati, di mana letak kenyamanan membaca yang merupakan kunci utama dalam membuat resensi? Apalagi bila jumlah halamannya melebihi 300 halaman yang buatku sudah termasuk kategori sedang. Bisa dibayangkan struggle-nya kan?

Back to Top