Tampilkan posting dengan label kingdom. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label kingdom. Tampilkan semua posting

17 April 2017

Ulasan Buku: The Sleeper and the Spindle

Judul : Sang Putri dan Sang Pemintal
Judul Asli : The Sleeper and the Spindle
Pengarang : Neil Gaiman
Ilustrator : Chris Riddell
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2017
Dibaca : 13 April 2017 (SCOOP)
Rating : ★★★★

"Apa yang perlu ditakutkan tentang tidur? Itu kan hanya tidur. Kita semua melakukannya." (hal. 18)

Apa yang biasanya terjadi pada dongeng-dongeng kerajaan? Seorang raja dan ratu memiliki anak seorang pangeran. Sang pangeran merasa hidupnya begitu monoton dan penuh tuntutan, dari kecil hingga dewasa. Ia masih harus menikahi seorang putri dari kerajaan lain yang tidak dicintainya. Ia nekat kabur untuk mencari pujaan hatinya sendiri. Dan kala menemukan seorang gadis desa yang amat ia cintai, ia mulai menyadari bahwa kisah hidupnya tidak seperti itu. Sang pangeran harus tetap menikahi sang putri yang sudah dijodohkan untuknya bahkan sejak ia masih dibuai di dalam kandungan. Atau mungkin kisahnya lebih singkat. Sang pangeran harus menyelamatkan sang putri yang amat dicintainya karena diculik oleh penjahat desa yang menginginkan tebusan harta milik kerajaan. Sang pangeran yang sudah terlatih bela diri akhirnya menumpaskan para penjahat dan menyelamatkan sang putri. Mereka hidup bahagia selama-lamanya.

***

Tujuan utama para kurcaci pergi ke desa adalah membelikan kain sutra terbaik di Dorimar untuk sang ratu sebelum hari pernikahannya tiba. Setibanya di desa, para kurcaci mendapati para penduduk yang waswas karena ada wabah tidur. Salah satu dari mereka bertanya apa yang salah dengan tidur karena setiap dari semua makhluk pasti tidur. Para penduduk desa berspekulasi bahwa yang membuat wabah tidur adalah penyihir, peri jahat, atau pembaca mantra. Sang penyihir itu telah mengutuk seorang putri sejak lahir sehingga saat berumur delapan belas tahun jari gadis itu akan tertusuk dan membuatnya tidur selamanya. Dan orang-orang di istana juga ikut tertidur, selagi sang putri tertidur. Dan setelah berpuluh-puluh tahun, wabah tidur itu mulai menyebar hingga ke desa-desa lainnya dan membuat semua penduduk tertidur.

Sang ratu tahu bahwa dirinya akan segera melaksanakan pernikahan. Sang ratu berencana akan menikah dengan seorang pangeran, bahwa mereka akan tetap menikah, meskipun dia hanya pangeran sedangkan ia adalah ratu. Ia tidak memiliki pilihan karena ia sudah ditakdirkan untuk menikah dengan sang pangeran sampai pilihan lain menghampiri kala ketiga kurcaci membeberkan hal genting yang ditemui mereka di desa Giff. Sang ratu meminta baju perjalanannya disiapkan. Sang ratu meminta pedangnya disiapkan. Sang ratu meminta perbekalan disiapkan, juga untuk kudanya, kemudian ia menunggang kuda dan berderap keluar dari istana, menuju arah timur.

01 Maret 2016

Ulasan Buku: The Heart of Glass

Sampul
Judul : Jantung Kaca
Judul Asli : The Heart of Glass (Tales from the Five Kingdoms, #3)
Pengarang : Vivian French
Penerbit : Atria
Tahun : 2015
Dibaca : 1 Maret 2016
Rating : ★★★★

"Saat hidup Jiwa Sejati berakhir di sini
Jantung Raja Tertinggi 'kan berdetak sekali lagi
Dan kekuatan datang pada dia yang berkuasa
Rajanya para Raja akan kembali berjaya."
 

Buku ketiga serial Tales from the Five Kingdoms. Kau tahu, bagi pembaca buku seri, sebuah dilema bila tidak melanjutkan bacaannya hingga akhir. Andai kata seorang musafir, dia harus melanjutkan perjalanan hingga tempat yang dia tuju untuk mendapatkan satu hidayah. Oke. Nah lho, ini kok melantur ke mana-mana ya.

***

Gracie Gillypot dan Pangeran Marcus melakukan ekspedisi melacak-kurcaci. Ditemani dengan Marlon dan keponakannya, juga Gubble si troll, mereka bertualang tanpa kendala. Hingga Gracie tiba-tiba hilang dan membuat Pangeran Marcus panik. Bagaimana caranya mencari gadis itu di Rimba Muslihat yang penuh muslihat? Lalu apa hubungan mereka dengan jantung kaca milik Raja Troll?

15 Agustus 2015

The Bag of Bones

Sampul
Judul : Kantung Tulang
Judul Asli : The Bag of Bones (Tales from the Five Kingdoms, #2)
Pengarang : Vivian French
Penerbit : Atria
Tahun : 2015
Dibaca : 11 Agustus 2015
Rating : ★★★★

Setelah beberapa hari terakhir membaca sastra Indonesia, sepertinya aku harus membaca yang genre lain dulu supaya otak tidak ngebul. Serius, sastra Indonesia mengharuskan konsentrasi dan imajinasi yang optimal untuk dibaca. Dan akhirnya aku memutuskan melanjutkan kisah Gracie dan Marcus di Lima Kerajaan.

***

Gracie dan Marcus kembali beraksi. Kali ini, Pesta Dansa Deklarasi untuk mencari tahu siapa penerus takhta Ratu Bluebell berada dalam bahaya. Rencananya, Truda Hangnail, si penyihir jahat yang selalu membawa Kantong Tulang itu akan merebut takhta itu. Keadaan semakin darurat karena Truda memiliki Sihir Dalam.

31 Mei 2015

Reckless

Pengarang : Cornelia Funke
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2012
Dibaca : 27 Mei 2015
Rating : ★★★★

"Dunia di dalam maupun di luar cermin ternyata sama saja, sama-sama memiliki obsesi pada kata-kata muluk tak bermakna." (hal. 286)

Di sela kerja kantoran yang sudah dimulai minggu lalu, sebisa mungkin aku menyempatkan membaca karena sepertinya aku tidak bisa lepas dengan kegiatanku yang satu ini. Lagi pula, daripada menunggu kemacetan pada saat berangkat dan pulang kerja hanya dengan berdiri atau duduk diam, lebih baik mengisinya dengan membaca. Sungguh, macet itu menjengkelkan. Untung ada buku ini.

***

Jacob Reckless punya rahasia yang tidak pernah dia bagi kepada siapa pun, tak terkecuali adiknya, Will. Dia bisa pergi ke dunia lain yang menurutnya berbahaya untuk bertualang; mencari harta karun yang diidam-idamkan Sang Kaisar dan lainnya. Tapi pada suatu hari, dia begitu ceroboh untuk berhati-hati hingga Will melihatnya menembus cermin besar berukir yang telah lama ada di kamar ayah mereka.

Hal mengejutkan lain: kulit Will perlahan-lahan berubah mengeras dan berganti warna serupa giok hijau. Jacob tahu bahwa ini adalah sihir. Sihir dari Peri Gelap, istri Kami'en, Raja bangsa Goyl. Jacob tak tinggal diam. Dia harus mengembalikan kulit adiknya seperti semula. Bersama Rubah, Clara, dan Valiant, mereka memulai perjalanan menelusuri Duniacermin. Apakah Jacob masih punya waktu untuk menyelamatkan adiknya?

12 April 2015

Where the Mountain Meets the Moon

Sampul
Judul : Tempat Gunung Berjumpa Rembulan
Judul Asli : Where the Mountain Meets the Moon
Pengarang : Grace Lin
Penerbit : Atria
Tahun : 2010
Dibaca : 11 April 2015
Rating : ★★★★★

"Ma betul. Miskin sekali kami. Setiap hari, Ba dan Ma bekerja dan terus bekerja, dan kami tetap tidak punya apa-apa. Seandainya aku bisa mengubah peruntungan kami." (hal. 11)

Aku menemukan satu lagi buku favorit yang kumasukkan ke rak tidak-akan-ke-mana-mana, karena suatu saat aku berharap dapat membacanya kembali. Buku yang membuatku berpikir, merenung lebih tepat, tentang kebahagiaan yang sesungguhnya, dan tentang yang lainnya.

***

Cerita bermula di suatu desa di kaki Gunung Nirbuah yang tandus dan gersang. Minli tinggal bersama kedua orangtuanya nan sederhana di sebuah gubuk reyot di desa tersebut. Mereka bekerja keras menanam padi yang hanya cukup untuk dimakan oleh mereka. Dongeng-dongeng selalu dituturkan ayahnya kepada Minli setiap malam, dan kisah Hakim Harimau hingga Kakek Rembulan.

07 Februari 2015

Stolen Songbird

Sampul
Judul : Negeri Troll yang Hilang
Judul Asli : Stolen Songbird (The Malediction Trilogy, #1)
Pengarang : Danielle L. Jensen
Penerbit : Fantasious
Tahun : 2014
Dibaca : 31 Januari 2015
Rating : ★★★

“Mati adalah hal yang mudah untuk dicapai, tanpa kesukaran dalam penderitaannya. Menjalani hiduplah yang menyulitkan, membutuhkan kerja keras tiada akhir; dan terlepas dari segala upaya seseorang, kehidupan bisa direnggut dalam sekejap.” (hal. 471)

Aku direkomendasikan oleh beberapa teman untuk membaca buku ini. Yah walaupun tidak jelas bagian mana yang cocok buatku di dalam buku ini, tapi aku tetap membacanya. Beruntung aku tidak perlu merogoh kocek karena buku ini kudapatkan dari seseorang sebagai tanda perpisahan.

29 Oktober 2014

The Book of Lost Things

Sampul
Judul : Kitab Tentang yang Telah Hilang
Judul Asli: The Book of Lost Things
Pengarang : John Connolly
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2008
Dibaca : 26 Oktober 2014
Rating : ★★★★★

Aku harus menunggu beberapa hari untuk membuat ulasan ini. Aku khawatir semua citra yang hadir di benakku tidak semua kucurahkan di sini. Yah, terdengar lebay, tapi buku ini benar-benar kunikmati hingga imajinasiku membayangkan hal-hal lain.

19 September 2014

Peter Nimble and His Fantastic Eyes

Sampul
Judul : Peter Nimble dan Mata Ajaib
Judul Asli : Peter Nimble and His Fantastic Eyes
Pengarang : Jonathan Auxier
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2014
Dibaca : 16 September 2014
Rating : ★★★★

"...Kadang-kadang, saat kita jadi pemimpin, kita tidak harus selalu punya jawaban yang tepat, tapi yang penting punya jawaban." (hal. 330)

Wow. Sejak awal hingga akhir membaca, aku disuguhkan kisah fantasi yang menggugah. Satu lagi kisah yang, bisa dibilang, membuat genre fantasi semakin beragam. Walaupun sudah banyak kisah para pencuri cilik, seperti The Magic Thief dan buku lainnya yang masih ditimbun.

Yang membedakan adalah pencuri cilik di sini, Peter Nimble, buta. Nah. Dari pernyataan ini saja kita sudah dibuat bingung dan bertanya-tanya. Bagaimana seorang pencuri bisa sukses mencuri tanpa penglihatan yang jelas? Apa dia tidak salah mencuri barang nantinya? Atau bahkan seharusnya dia sudah menabrak si korban sebelum mencoba mengambil barang yang bukan miliknya?

Kalian tahu, kalau mata tidak bisa lagi melihat, panca indera lain yang masih berfungsi akan bekerja keras untuk mengimbanginya supaya kalian lebih responsif. Yah, seperti barang substitusi yang menggantikan barang lain tetapi dengan kegunaan yang sama. Teh yang dapat menggantikan kopi, nasi yang digantikan dengan kentang. Poinnya adalah Peter memiliki panca indera lain yang sangat peka.

Jonathan Auxier and His Babies
Dan itu menjadi poin penting. Aku memikirkan bagaimana Peter Nimble akan mendeskripsikan segalanya dengan sudut pandangnya sendiri, mengingat ia buta. Kalian tahu maksudku kan? Bagaimana Peter bisa mendeskripsikan orang yang ada di hadapannya kalau dia hanya melihat warna hitam yang gelap saja? Dan, viola, penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga.

***

Awal cerita, kita disuguhkan bagaimana Peter terbentuk. Bagaimana ia hidup, bagaimana ia buta, dan bagaimana ia sampai menjadi pencuri handal hingga tinggal di tempat lelaki kejam di sebuah kota di pinggiran dermaga. Hingga suatu saat ia menemukan mata ajaib pada seorang Pedagang Keliling.
Puff... Hidupnya pun berubah. Peter harus menyelesaikan misinya menyelamatkan sebuah kerajaan. Serius. Kerajaan. Pasti kalian bertanya-tanya bagaimana kedua hal itu bisa terjadi bersamaan? Dari mejadi seorang pencuri cilik yang hidup terkekang lelaki kejam menjadi seorang yang penting untuk melaksanakan tugas penting.

***

Aku harus mengakui bahwa buku ini sungguh seru. Bagaimana petualangan Peter yang sangat merubah hidupnya. Aku bertanya-tanya bagaimana nasibnya bila tidak menemukan tiga mata ajaib itu. Bagaimana kita diajari tips mencuri yang sepertinya penulis tahu betul dengan hal itu. Pokoknya kita disuguhkan kisah fantasi yang memukau.

US Cover
Satu hal yang membuatku tidak memberi kata sempurna. Akhir cerita. Argh. Serius? Cuma segitu? Setelah perjalanan Peter yang susah payah? Setelah Peter kembali menemukan rumahnya? Setelah... Oke cukup. Membuatku sedih saja.

"... Raja Incarnadine langsung menyadari bahwa anak-anak seperti kalian dapat mengancam rencananya. Orang dewasa bisa diintimidasi dan ditipu, tapi prinsip seorang anak jauh lebih kuat. Raja tahu kerajaan penuh anak kecil tidak akan pernah mau menerima pemimpin yang tidak jujur." (hal. 241)

25 Juli 2014

The Robe of Skulls

Sampul
Judul : Jubah Tengkorak
Judul Asli : The Robe of Skulls (Tales from the Five Kingdoms, #1)
Pengarang : Vivian French
Penerbit : Atria
Tahun : 2014
Dibaca : 20 Juli 2014
Rating : ★★★★

Satu lagi kisah kerajaan yang seru. Kali ini ditambah dengan penyihir, kelelawar, werewolf, dan Pitarah Purba.

Buku ini kudapatkan sebagai hadiah ulang tahun salah satu teman blogger buku. Aku ragu dengan isinya karena dilihat dari judul dan cover-nya yang feminin. Tapi setelah dilihat lagi, ada nuansa spooky dan kelamnya juga. Jadi aku penasaran dengan isinya.

Beruntunglah aku karena rasa penasaran itu membuatku menikmati cerita di dalamnya. Terlihat sederhana tetapi mengandung banyak makna. Setelah aku telusuri lagi, ternyata seri ini memang dikhususkan bagi para middle-grader.

Kelelawar yang Baik Hati
Seperti yang sudah kubilang, ceritanya sederhana. Kehidupan tidak adil dari seorang ayah tiri kepada anak tirinya. Gracie sudah lama dikurung di kamar bawah tanah yang gelap dan dingin. Dia hanya keluar ketika memasak sup air yang tidak dibumbui untuk ayah dan kakak perempuan tirinya—Foyce. Hingga suatu ketika, seekor kelelawar yang baik hati membawanya kabur dari rumahnya sendiri. Pada saat itulah petualangan Gracie dimulai.

Lady Lamorna dan Pangeran Marcus juga hadir dalam cerita. Lady Lamorna menginginkan Jubah Tengkorak untuk dirinya sendiri dengan memesan kepada Pitarah Purba. Pangeran Marcus juga menginginkan saudara kembarnya—Pangerang Arry—kembali dari kutukan katak. Bagaimana keinginan-keinginan itu bisa saling berhubungan? Aku yakin kalian ingin mengetahuinya sendiri. 

Oh ya, buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi yang menarik. Aku yakin adik-adik umur sepuluh juga sudah dibolehkan membaca. Buku yang menyenangkan! Aku menunggu lanjutannya!

The Runaway King

Sampul
Judul : Raja Yang Minggat
Judul Asli : The Runaway King (The Ascendance Trilogy, #2)
Pengarang : Jennifer A. Nielsen
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2014
Dibaca : 15 Juli 2014
Rating : ★★★★★

“Kepercayaan tidak dapat menyelamatkan seseorang dari kenyataan.” (hal. 245)

Jaron—Sage—kembali beraksi. Kali ini setelah mendapatkan singgasana kerajaan Carthya, Jaron benar-benar mendapatkan masalah. Selain pengalamannya sebagai raja—yang benar saja, mengingat umurnya yang masih muda—diragukan oleh para regen kerajaan. Selain itu, ada pula ancaman dari para bajak laut yang dahulu secara tidak sengaja meloloskan Pangeran Jaron. Mereka ingin balas dendam dengan membunuhnya, kali ini.

Scetch
Yeah, kurang lebih seperti itu ide cerita seri kedua The Ascendance Trilogy ini. Penulis berani menyajikan karakter-karakter baru yang lebih dari tiga—hampir lima kalau tidak salah. Mengingat dengan menambahkan karakter baru, penulis harus bisa membuat karakter baru itu tidak kalah dengan karakter lama. Dan, Bracken melakukan itu! Selain itu, karakter lama masih tetap hadir, malah fifty-fifty. Itu yang aku suka!

Terlepas dari kecerobohan, keegoisan, keangkuhan Jaron yang sebagian pembaca tidak menyukainya, aku melihat itulah yang seru. Coba bayangkan bila seorang raja biasa-biasa saja, ambil jalan aman untuk kedamaian negeri, itu raja yang sangat biasa. Jaron ini beda. Dengan segala sifat buruknya, itulah yang membuat Jaron menyingkirkan halangan dan rintangan. Itu pelajaran berharganya: teguh pendirian.

***

Kisah romansanya sungguh memikat. Imogen. Asmarinda. Pembaca masih belum diberi tahu pada siapa hati Jaron tertambat. Walaupun dalam buku kedua ini, Jaron telah menguaknya. Tapi takdir penulis mungkin berkata lain. Patut ditunggu kelanjutannya. Apalagi pada akhirnya, Imogen…. Ah, sudahlah, kalian harus baca!

Seri Sebelumnya:

30 Mei 2014

The False Prince

Sampul
Judul : Pangeran Palsu
Judul Asli : The False Prince (The Ascendance Trilogy, #1)
Pengarang : Jennifer A. Nielsen
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2013
Dibaca : 27 Mei 2014
Rating : ★★

Heran sendiri karena membaca buku yang seru ini memakan waktu hampir 10 hari. Yah, walaupun memang kesibukan yang sudah mulai padat, seharusnya aku selesai membaca ini hanya tiga hari saja.

Never mind! Novel ini membuatku berpikir akan satu hal yaitu tentang latar kerajaan yang tidak seperti kerajaan. Yang selalu terngiang ketika membaca buku berlatar kerajaan pastilah misterius, spooky, dan sangat kental dengan nuansa kasta. Tetapi tidak untuk yang satu ini. Penulis tidak begitu menonjolkan latar kerajaan. Malah yang kudapat adalah nuansa modern.

Ide cerita sangat menarik. Dengan kondisi suatu kerajaan yang tidak memiliki pangeran atau raja untuk memimpin kerajaan itu. Seseorang harus menggantikan jabatan itu, hingga mulailah salah satu petinggi mencari pengganti pangeran.

Hingga suatu hari di utara kerajaan Carthya, seorang anak yatim-piatu bernama Sage ditemukan oleh Connor. Connor adalah salah satu regen -semacam anggota legislatif- kerajaan. Connor mempunyai keyakinan mencari anak-anak di seluruh negeri untuk menggantikan Pangeran Jaron yang sudah meninggal beberapa tahun lalu. Tentu saja keyakinan itu bermaksud untuk menjadikannya menjadi lebih dipandang.

Kerajaan Carthya
Nah. Itu berarti anak-anak ini bukan keluarga kerajaan. Itu berarti ada beberapa kandidat calon pangeran sebagai pengganti Pangeran Jaron. Itu berarti pangerang tersebut adalah Pangeran Palsu.

Ya. Itu semua benar. Dan Sage adalah salah satu anak yang beruntung masuk seleksi pencarian bakat nyanyi Pangeran-Jaron-Palsu. Selain Sage, ada juga Roden, Latemer dan Tobias. Mereka hampir mirip. Tapi hanya ada satu Pangeran Jaron. Dan yang lainnya harus pergi. Ya, pergi dengan cetak miring. Hal itu bertujuan untuk menutupi rencana “baik” Connor yang sudah tertata rapi.

Seru bukan? Aku yakin belum ada kisah kerajaan yang nge-twist sebrilian ini. Kalian akan selalu menebak bagaimana selanjutnya; bagaimana akhirnya. Tapi kalian mungkin tidak akan merasa benar dengan tebakan kalian itu. Tidak bisa diprediksi.

Itulah mengapa aku suka dengan novel ini hingga aku memberikan 5/5 kepada sang penulis yang jenius.

Jennifer A. Nielsen
Terlepas dari semua kegaharan novel ini, masih ada ketidak-sempurnaan. Entah penyunting atau penerjemah yang belum bekerja maksimal, masih banyak kata-kata keseleo yang membuat jalan cerita terdengar aneh. Hal itu membuatku membaca ulang bagian itu dan menerka-nerka kata apa yang pas. Sayangnya, aku tidak menandai bagian yang rancu itu karena masih terlena dengan bagaimana-selanjutnya-bagaimana-akhirnya.

Paramount Pictures
Dari semua sisi, novel ini menjadi novel fantasi favoritku dan menjadi rekomendasi bagi kalian penggemar novel fantasi. Ah, tidak sabar dengan The Runaway KingDan, katanya mau difilmkan juga; yang sebenarnya beritanya sudah beberapa tahun yang lalu. Kalian bisa cek di sini.

22 April 2014

The Wizard of Oz

Sampul
Judul : The Wizard of Oz (Oz #1)
Pengarang : L. Frank Baum
Penerbit : Atria
Tahun : 2010
Dibaca : 17 April 2014
Rating : ★★

"Para petualang memberikan pidato perpisahan dan mereka semua berjabat tangan hingga tangan mereka sakit." (hal. 131)

Narasi di atas memberikan kesan bahwa cerita yang dituturkan tidak begitu detail. Dengan tanpa memberikan detail pidato atau ucapan pidato, cerita akan tetap memberikan nuansa "kosong". Kosong itulah yang penting karena kita dapat mengisi kekosongan itu dengan fantasi kita sendiri; dengan ucapan pidato yang kita buat sendiri.

Itulah yang kudapat pertama kali tentang novel klasik yang diterbitkan pertama kali tahun 1900 ini. Kesederhanaan itu kemudian dibalut dengan pertempuran seru! Yaitu antara Tim Woodman dan para serigala yang menghadang para petualang ketika menuju ke Istana Penyihir Jahat di Barat. Kesederhanaan yang seru!

***

Cerita berawal ketika Dorothy dan anjingnya, Toto terbawa oleh angin ke suatu negeri yang indah. Pada akhirnya ia tahu bahwa negeri itu bernama Oz. Ia heran mengapa ia berada di Oz dan ingin segera kembali pulang bertemu bibi dan pamannya di Kansas. Akhirnya ia bertualang untuk bertemu dengan Penyihir Oz yang terkenal itu.

Para Petualang
Dalam perjalanan ia bertemu dengan Boneka Jerami, Tim Woodman, dan Singa Penakut. Mereka semua memiliki permintaan berbeda kepada Penyihir Oz dan akhirnya mereka bertualang bersama-sama.

"Ep-pe. pep-pe, kak-ke! Hil-lo, hol-lo, hel-lo! Ziz-zy, zuz-zy, zik!" (hal. 117)

Kisahnya sungguh sederhana. Entah sudah berapa kali aku bilang sederhana. Tapi banyak keajaiban yang terjadi dalam kesederhanaan itu. Seperti ketika Dorothy dan Toto tahu-tahu terbang terbawa angin ke negeri Oz hanya dengan balon udara. Seperti mantra yang ditulis di atas.
Toto
Poin lainnya yang terkandung dalam cerita ini adalah bagaimana keinginan itu akan terkabul dan terwujud sebanding dengan usaha yang dilakukan. Dorothy dan para petualang menyusuri negeri yang penuh rintangan. Tapi tahu tidak, itu malah yang membuat mereka belajar bagaimana supaya mereka dapat lepas dari rintangan yang dihadapi. Nah, satu poin lagi.

Sungguh bisa jadi bacaan yang mendidik dengan pesan tersirat dari setiap karakter yang unik. Apalagi dengan pengantar penulis tentang untuk apa kisah ini dibuat. Selamat membaca kisah klasik tahun 1900!

"...Cerita The Wizard of Oz ditulis untuk menyenangkan anak-anak zaman ini, dimaksudkan sebagai dongeng modern, di mana keajaiban dan kesenangan disimpan sementara kesedihan dan mimpi buruk dibuang." —L. Frank Baum

"Kau mempelajari sesuatu setiap hari. Seorang bayi memiliki otak, tapi dia tidak tahu cukup banyak. Pengalaman adalah satu-satunya hal yang membawa kita pada pengetahuan, dan semakin lama kau di dunia, semakin banyak pengalaman yang akan kaudapatkan." —Oz (hal.153)

29 Maret 2014

Snake

Sampul
Judul : Ular
Judul Asli : Snake (The Five Ancestors #3)
Pengarang : Jeff Stone
Penerbit : teen@noura (Noura Books)
Tahun : 2013
Dibaca : 27 Maret 2014
Rating : ★★★

Sekali lagi, untuk ke sekian kalinya aku khawatir dengan novel berseri banyak. Tadinya aku tidak ingin cepat-cepat membacanya karena baru diterjemahkan sampai buku ketiga ini. Tapi, aku harus membacanya karena tidak bisa menunggu sampai kapanpun dengan cerita yang semakin lama semakin kompleks dan alurnya semakin cepat. Sungguh memikat! Aku sangat berharap penerbit akan menerbitkan lanjutan seri ini...

Cerita lagi-lagi bermula ketika penyerangan Ying ke Kuil Changzen, tetapi dari sudut pandang Seh. Tentu saja. Itulah yang membuatku sedikit bosan. Lagi-lagi penyerangan Ying ke Kuil Changzen, lagi-lagi ketika setiap kelima biksu muda berbakat mulai berpencar. Yang membuatku bertanya-tanya adalah pesan Mahaguru yang sepertinya tidak begitu didengarkan oleh kelima biksu ini. Bukankah mereka harus berpencar ke setiap penjuru mata angin? Tetapi mereka pada akhirnya bertemu kembali. Hmm?

Tranlated
Jadi, aku akan menceritakan tentang si biksu ular bernama Seh. Seh terlalu dingin dan tidak suka bercanda. Dengan sikap dinginnya itu, Seh dapat berdiam diri atau mengendap hingga tidak ketahuan oleh orang lain, karena dia dapat menghilangkan chi (energi) dan mengetahuinya bila ada yang mendekat. Dengan bakatnya itu pula, Seh dapat menggali informasi lebih banyak tentang masa lalu. Seh hanya berdiam diri dan mendengarkan setiap percakapan yang informasinya dia butuhkan. Mengagumkan...

Seh melanjutkan ke Kuil Shaolin. Kali ini Seh bertemu dengan saudara-saudaranya, Fu dan Malao yang pada akhirnya bersama-sama pergi menuju markas para bandit dan ke Kaifeng. Ceritanya beralur cepat sehingga tidak terasa membacanya. Dan ya... di akhir novel ini, ketiga saudara bertemu dengan Hok, si Bangau. Ah, aku ingin segera tahu tentang Hok!

***

Kisahnya memang cocok bagi remaja. Mengajarkan tentang arti persahabatan dan saling menghargai antar sesama juga kepada orang yang lebih tua. Selain itu, tentang bagaimana tidak begitu saja menerima informasi secara bulat-bulat karena belum tentu itu benar.

"... dia tahu persis apa yang harus dia lakukan; mendapatkan lebih banyak informasi. Memata-matai Mahaguru telah mengajarkannya bahwa lebih banyak informasi yang dimiliki seseorang, semakin besar pengaruh yang dimiliki orang tersebut. Dan, dengan informasi yang cukup, seseorang bisa meyakinkan banyak orang untuk bekerja sama dengannya." (hal. 20)

Seri sebelumnya:

26 Maret 2014

Monkey

Sampul
Judul : Monyet
Judul Asli : Monkey (The Five Ancestors #2)
Pengarang : Jeff Stone
Penerbit : teen@noura (Noura Books)
Tahun : 2013
Dibaca : 22 Maret 2014
Rating : ★★★

“Cobalah untuk latihan meditasi. Ingat yang selalu dikatakan Mahaguru? Kau harus mengendalikan pikiran-pikiran dan emosimu, atau mereka yang akan mengendalikanmu.”  (hal. 53)

Begitulah Malao. Biksu dengan keahlian khusus pada jurus-jurus gaya Monyet ini tidak bisa mengendalikan pikirannya sehingga Hok, si Bangau berbicara seperti itu kepada Malao. Malao terlalu muda untuk bisa dikatakan sebagai biksu yang berbakat, usianya masih 11 dan sepertinya itu membuatnya tertekan. Sepertinya.

Tapi lihat, aku bisa tertawa sendiri membaca dan mengetahui ulah Malao yang sangat konyol dan sering cekikikan. Sepertinya itu juga sifat monyet yang tidak terlalu serius dalam segala hal. Selain itu, Aku yakin kehidupan Malao di kuil Changzen sangat memberikan pengaruh positif pada saudara-saudaranya karena perilaku licik nan kocaknya. Tapi itu sebelum Negara Api menyerang.

Malao dan Saudaranya
Kini Malao harus melanjutkan perjalanan bersama Fu. Sebelumnya Malao bercerita tentang awal mula ia bertemu dengan para monyet yang membantu pelarian Fu. Sepertinya sudah ciri khas dari setiap buku yang menceritakan si biksu dengan hewan yang menjadi panutan. Seperti sebelumnya, Fu juga bertemu dengan macan.

***

Kisahnya dikemas secara sederhana tetapi tidak membuat bosan. Aku tahu kalau Malao tidak ada mungkin aku tidak akan melanjutkan membaca seri selanjutnya. Malao yang membuat suasana menjadi lebih santai dengan selera humornya yang kadang-kadang saudara-saudaranya tidak begitu suka. Tapi kenapa? Setiap orang butuh tertawa!

Sedikit membingungkan karena ulangan cerita. Contohnya ketika awal mula Malao bertemu sekawanan monyet sebelum menolong Fu, yang padahal di buku pertama Fu dan Malao sudah bertemu beberapa waktu berikutnya. Memang ceritanya dari sudut pandang masing-masing biksu sehingga mereka memiliki versinya sendiri. Tapi tetap saja membingungkan.


Qiang, senjata yang digunakan pasukan Ying untuk menyerang Kuil Changzen
Selain itu Malao sepertinya hanya sebagai bumbu. Malao tidak begitu memberikan peran dalam “bukunya” karena dia hanya mengikuti Fu. Mungkin berperan dalam mengalahkan Hung, si bandit  beruang. Semoga saja aku salah.

Kisah remaja yang mendidik. Seperti pada saat Malao tidak begitu menyukai kematian dan bergetar karena mungkin kematian itu lelucon. Kini dia menyadari bahwa kematian adalah hal yang sacral dan bukan main-main.

Dan ketika Malao mencoba mencari orangtuanya, yang mungkin Raja Monyet. Dia harus bisa mengontrol hal itu karena rasanya terlalu rumit bila dibilang orangtuanya meninggalkannya karena alasan yang baik atau buruk.

Ah, akhirnya Malao dan Fu bertemu Seh, si biksu ular yang terkenal pintar dan sangat misterius. Aku tidak sabar.

20 Maret 2014

Tiger

Sampul
Judul : Macan
Judul Asli : Tiger (The Five Ancestors #1)
Pengarang : Jeff Stone
Penerbit : teen@noura (Noura Books)
Tahun : 2013
Dibaca : 16 Maret 2014
Rating : ★★
“Ketika Kuil Cangzhen di China dihancurkan, hanya lima biksu pendekar muda yang selamat. Masing-masing memiliki nama seperti binatang karena merupakan master termuda yang menguasai jurus binatang. Mereka berlima berpencar dan mulai mengajarkan bukan hanya keahlian bertarung mereka yang luar biasa, tetapi juga filosofi hidup damai mereka. Konon seni bela diri masa kini berasal dari pengajaran kelima biksu pendekar muda ini, yang dikenal dalam legenda sebagai ... LIMA LELUHUR.” (hal. 7)

Penggambaran di atas melambangkan ide cerita yang kuat dan tidak main-main karena pengambilan tema legenda yang harus bisa diterima di kalangan para biksu juga masyarakat pada umumnya. Legenda adalah cerita rakyat yang sudah termaktub jelas di otak secara turun-temurun. Jadi penulis tidak boleh salah langkah dalam bercerita legenda lima leluhur para biksu ini.

Sepertinya aku terlalu serius menganggap ini. Memang seharusnya, karena aku tahu penggambaran legenda berarti menyangkut mitos atau sejarah dari suatu bangsa. Aku mencoba mencari tahu melalui Mbah Google; dan aku menemukan “sesuatu” yang menyangkut-nyangkut dengan kata Lima Leluhur. Jadi mungkin itu yang menyebabkan kisah fiksi ini ada dasarnya. Seri novel ini juga dibahas di grup Penggemar Novel Fantasi Indonesia dan sebagian besar menyatakan bukan fantasi.

Fan-made. Tapi kok Hok-nya perempuan ya?
Menurut wikipedia, Lima Leluhur ini adalah seni bela diri Cina yang terdiri dari lima gaya teknik: (1) metode pernapasan, (2) postur dan kekuatan dinamis, (3) presisi dan gerakan efisien, (4) teknik tangan dan kelembutan kontemporer dan kekerasan, dan (5) kelincahan dan gerak kaki. Kelima gaya tersebut memiliki guru masing-masing yang masih diajarkan di berbagai negara seperti China, Indonesia, Jerman, hingga Spanyol. (lihat di sini)

Ah, akhirnya gumpalan rambut yang menyumbat tenggorokanku sudah kuambil. Tidak ragu lagi memberikan novel ini predikat bukan-fantasi karena penjelasan barusan.

***

Aku tidak akan membahas mengenai cerita karena cuplikan paragraf di atas menggambarkan keseluruhan isi novel. Bagaimana Mahaguru meminta kelima biksu (catatan: Fu masih 12 tahun, juga teman-teman lainnya) bersembunyi dari serangan yang entah bagaimana Mahaguru tahu. Bagaimana Fu mencari jalannya sendiri untuk pertama kalinya keluar ke dunia nyata setelah hidupnya dihabiskan di kuil dan sekitarnya. Bagaimana Fu mencari jati dirinya sendiri. Nah, aku malah membahasnya.

The Author
Keseluruhan cerita menarik dengan gaya bahasa yang mudah dipahami mengingat novel ini untuk remaja atau middle-grader. Ceritanya penuh aksi dan tidak membosankan. Itulah yang harus dimiliki penulis yang menyasarkan bukunya untuk remaja: cerita yang tidak membosankan. Aku bisa melahapnya dalam sehari.

Sayangnya, plotnya terlalu sederhana. Mungkin karena jumlah halamannya yang terbatas; hanya 260an halaman. Mungkin juga karena plot seperti inilah yang cocok buat pembaca seumuran itu. Tapi, entah mengapa, aku tidak sabar membaca lanjutannya: Monkey. Kisah Malao, biksu paling muda dari Lima Leluhur.

16 Februari 2014

Silver Phoenix

Sampul
Judul : Silver Phoenix
Pengarang : Cindy Pon
Penerbit : Mahda Books
Tahun : 2009
Dibaca : 14 Februari 2014
Rating : ★★

Nah, begini. Ini adalah novel fantasi bangsa Timur pertama yang aku baca dan ini juga adalah novel dengan kisah romansa tidak kental tetapi memikat yang aku sukai. Tidak banyak novel dengan kisah romansa yang aku suka. Tapi, akhir-akhir ini aku mendapatkannya. Atau mungkin aku memang sedang berjalan menuju menyukai kisah romansa. Entahlah.

Awalnya aku pikir novel ini bercerita tentang perempuan dan naga peliharaannya-mengingat di setiap babnya terdapat ilustrasi naga; atau perempuan yang menjelma menjadi phoenix.

That Dragon!
Opsi yang kedua ada benarnya, tapi tidak seluruhnya benar. Karena perempuan, atau disebut gadis karena umurnya 17 bernama Ai Ling ini adalah hasil reinkernasi seorang atau seekor Silver Phoenix. Tapi asal-usul Silver Phoenix ini tidak diceritakan secara gamblang dalam novel.

Kita akan membicarakan Ai Ling, seorang gadis yang hidup di Negeri Xian. Di usianya yang beranjak dewasa Ai Ling dihadapkan dalam perjodohan yang memuakkan. Ai Ling tidak menyukainya, tentu saja. Ai Ling juga berpikir bahwa dirinya masih belum siap untuk hidup bersama laki-laki lain selain ayahnya.

Negeri Xian. Negeri dimana kerajaan menjadi pusat pemerintahan. Negeri dimana mitos-mitos leluhur masih dipercaya sebagian rakyatnya. Negeri dimana Buku Kematian dan Buku Negeri-Negeri di Atas masih disimpan di rak-rak tersembunyi. Negeri dimana Ai Ling harus menempuh perjalanan untuk mencari ayahnya, Master Wen.

Master Wen adalah mantan cendekiawan Istana; seorang penasihat kerajaan Xian pada masa itu. Master Wen akan melakukan perjalanan singkat ke Istana yang ujarnya tidak memakan waktu lebih dari dua bulan untuk kembali. Tapi sudah berbulan-bulan sejak saat itu, Ai Ling merasa ada yang tidak beres dan harus menyusul.

Dengan setengah hati, Ai Ling meninggalkan ibunya di rumah. Ai Ling memantapkan diri dan pergi. Singkat cerita, Ai Ling bertemu Chen Yong, pria 18 tahun di tengah perjalanan. Nah, nah, kalian sudah menebak-nebak kelanjutannya. Mereka memiliki satu tujuan yang sama: Istana. Tetapi dengan misi yang berbeda: Chen Yong ingin mencari tahu tentang asal-usul orang tuanya.

Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan hal-hal aneh dan menakjubkan. Seperti Negeri di Atas Awan yang benar-benar ada, dengan Naga Putih yang mengantarkan mereka kesana. Mereka bertemu seorang Dewi dan Makhluk Abadi lainnya. Menyenangkan, tapi juga berisiko.

“Hidup melebihi kehidupan yang diberikan kita adalah tindakan yang salah.” (hal. 341)

Sebenarnya ide cerita dan misi tokoh yang penulis buat cukup sederhana. Tetapi intrik dan improvisasi yang penulis bangun sangat memikat. Kalian tahu, bila kalian sedang dalam perjalanan pulang kampung dan melihat pemandangan indah dalam perjalanan sehingga melupakan waktu; tahu-tahu kalian sampai ke tempat tujuan. Seperti itulah…

Selain itu, kisah ini memberikan pengetahuan tentang kehidupan di negeri Timur. Banyak makanan dan tanaman-tanaman disebutkan di sela-sela cerita. Dan itu… sangat terdeskripsi dengan jelas. Makanan yang diceritakan membuatku lapar dan ingin melahapnya. Tanaman yang disinggung membuatku seolah mencium bau harumnya.

Ah, seperti inilah sebenarnya penulis yang cerdas! Membuat pembaca nyaman dan ingin terus membaca hingga akhir. Dan kisah cintanya Ai Ling… Tidak mungkin Ai Ling menyukai Chen Yong karena dia tidak menyatakannya. Tapi, siapa tahu isi hati seseorang?

Good work, Ms. Pon!

Her another good work: cindypon.com

05 Februari 2014

Stardust

Sampul
Judul : Serbuk Bintang
Judul Asli : Stardust
Pengarang : Neil Gaiman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2007
Dibaca : 4 Februari 2014
Rating : ★★★★★

Sore itu aku menamatkan novel ini. Duduk santai di gerbong kereta listrik commuter line dari Stasiun Lenteng Agung menuju Tangerang sehabis interview publisis di Penerbit Nourabooks, Jagakarsa. Dan, syukurlah, tidak ada kendala yang berarti dalam interview. Aku meringis, tersenyum, tertawa, dan melakukan respon lainnya terhadap setiap kalimat di akhir-akhir cerita, yang mungkin dianggap aneh oleh penumpang lain. Tak apa karena novel ini begitu indah. Ceritanya penuh tanda tanya sehingga harus lekas diselesaikan.

Honestly, aku sangat tak suka dengan novel ber-genre romance. Tapi novel ini beda, aku mulai bsa menerima kisah romansanya. Apalagi ada adegan yang... emm... umm... seperti itu lah, mungkin karena novel ini adalah novel dewasa. Sangat meyakinkan kalau novel ini tidak remeh dalam membangun cerita.

"Hanya sedikit di antara kita sekarang yang melihat bintang seperti yang dilihat orang pada zaman itu; kota dan desa kita terlalu banyak memancarkan cahaya ke dalam malam. Namun, dari desa Tembok, bintang-bintang terhampar bagaikan dunia-dunia atau bagaikan ide-ide, tak terhitung bak pepohonan di hutan atau dedaunan di pohon. Tristan pun menatap ke kegelapan langit sampai dia tak memikirkan apa-apa lagi, lalu kembali ke tempat tidurnya dan tidur seperti mayat." (hal. 48-49)

Dikisahkan seorang pemuda bernama Tristan Thorn hidup di Desa Tembok dan mencintai seseorang bernama Victoria Forester. Namun sayangnya Victoria tidak langsung saja menerima cinta seorang Tristan hingga Victoria memberi petuah kepada Tristan untuk mengambil bintang yang malam itu jatuh dari langit gelap. Jika Tristan mendapatkannya, Victoria akan melakukan apa saja yang diminta oleh Tristan.

Tak dinyana, Tristan benar-benar keluar dari desa ke Negeri Peri dan bertualang untuk menemukan bintang jatuh itu. Negeri yang sungguh ada naga, gryphon, wyvern, hippogriff, basilisk dan hydra. Oh mereka semua adalah makhluk legenda Eropa. Tapi sayangnya, mereka tak muncul dalam cerita. Aku beri gambarnya saja ya...

Hydra
Dengan keluguan dan keseriusan cintanya, Tristan melewati semua halangan dan rintangan hingga ia menemukan apa yang dicari. Petualangan apa saja yang dilakukan Tristan? Siapa saja yang Tristan temui hingga menemukan apa yang ia cari? Apakah setelah mendapatkan bintang jatuh itu, Victoria akan menerima cinta Tristan? Dan apa itu Serbuk Bintang?

Aku sebenarnya ingin menceritakan semua kisahnya disini, tapi buat apa? Bukankah akan lebih puas jika kalian membacanya? Novel yang aku rekomendasikan untuk para penggemar fantasi-romansa yang benar-benar suka dengan peri.

Novel ini mengajarkan tentang kegigihan dan pantang menyerah. Bila kau bersungguh-sungguh akan suatu hal, totalkan dalam perlakuan dan doa. Juga tentang arti cinta sejati; ketika cinta yang sebenarnya adalah cinta yang sederhana yang terpampang jelas di depan mata. Sungguh cerita yang indah!


"... Tristan heran, mengapa dia perlu begitu lama untuk menyadari betapa dia menyayangi gadis itu, dan dia pun menyampaikan hal itu, dan gadis itu memanggilnya tolol, dan si pemuda menyatakan bahwa itu panggilan terbaik yang pernah ada untuk seorang lelaki." (hal. 239)

"Setiap kekasih adalah orang gila dalam hatinya dan penyanyi dalam benaknya." (hal. 86)
Back to Top