Tampilkan postingan dengan label grasindo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label grasindo. Tampilkan semua postingan

05 April 2018

Beginilah Seni untuk Bersikap Bodo Amat

Edited by Me

"Mark Manson adalah seorang blogger kenamaan dengan lebih dari 2 juta pembaca." Siapa pun yang baru saja menyelesaikan "The Subtle Art of Not Giving A F*ck" (mari kita singkat jadi TSAoNGAF saja?) akan bertemu dengan kalimat itu pada bagian "Mengenai Pengarang" di akhir buku. Hal itu membuatku langsung mencari tahu blognya. Aku menemukan tampilan muka yang jernih dan simpel dengan mengedepankan personal branding yang kuat—dengan kalimat "Hi. I'm Mark." dan gambar ilustrasi wajahnya. Setelah kutelusuri, banyak artikel menarik seputar pengembangan diri yang ingin kubaca. Itu mengingatkanku pada situs web seperti Lifehack dan Thought Catalog yang kontennya hampir mirip. Bedanya, beberapa artikel di blog Mark dikhususkan bagi pengunjung yang berlangganan berbayar. Kupikir, wow, ini keren sekali! Mark membuat orang yang ingin membaca teori dan pemikiran-pemikirannya dengan mengharuskan "membayar"-nya. Aku jadi ingat blog pribadi lain yang juga menyediakan layanan berbayar atau—diperhalus menjadi—donasi, Brain Pickings milik Maria Popova. Mustahilkah punya impian memiliki blog berbayar seperti milik Mark dan Maria?

Karena tertarik dengan kontennya, aku berlangganan surel mingguan blog Mark secara gratis. Sabtu kemarin, aku mendapatkan satu dengan subyek "You're not special". Isinya merujuk pada satu artikel yang ditulis Mark pada Agustus 2013 lalu (setidaknya tanggalnya tercatat begitu). Artikel ini berisi teori Mark tentang betapa sebenarnya menjadi spesial itu tidak spesial. Karena menjadi spesial pun akan tetap memiliki perasaan yang sama dengan yang tidak spesial. Yang patut digarisbawahi adalah bagaimana seseorang harus menemukan celah kecil untuk merasa bahagia. Dengan merasa bahagia, ia akan merasa spesial karena bahagia. Artikel ini juga merujuk pada bab 3 TSAoNGAF berjudul "Anda Tidak Istimewa". Menjadi "biasa-biasa saja" sudah menjadi standar baru kegagalan sehingga banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi istimewa dan spesial. Namun, banyak dari mereka juga lupa bahwa perlombaan itu hanya untuk tujuan, bukan sebagai proses yang mengilhami hasil. Nah, sudah mulai pusing? Mari lanjutkan.

19 Februari 2017

Ketakutan yang Tersaji dalam Semua Ikan di Langit

Edited by Me

"Menyayangi itu adalah kegiatan yang menakutkan." (hal. 64)

Ada tiga cara mendapatkan manisnya iman yang disampaikan khatib saat khutbah Jumat kemarin. Salah satu caranya adalah dengan merasa takut kepada Tuhan. Hal ini penting karena bagaimana seseorang bisa beriman bila berani hengkang dari apa yang dipercayainya. Menurut Alquran dan Hadis, takut merupakan sifat orang yang bertaqwa dan menjadi bukti iman kepada Tuhan. Dalam perkara rasa takut ini, khatib mengingatkan kembali tentang memperhitungkan akibat dari apa yang sudah dan akan dikerjakan. Kalau membawa pahala, maka lakukan. Kalau membawa dosa, maka tinggalkan.

Ketakutan memang menakutkan. Mereka benar-benar bisa jadi penghalang seseorang untuk maju atau setidaknya menikmati hidup. Dengan berpikiran pada ketakutan-ketakutannya, seseorang tidak bisa tidur. Seorang lainnya terlalu menanggapi ketakutannya sehingga tidak pernah beranjak untuk melakukan hal lain. Ada pula orang yang coba membuat sebuah pilihan yang akan mengubah hidupnya namun terlalu lama untuk memikirkan ketakutan-ketakutannya dan berakhir dengan kegagalan karena terlambat untuk melakukannya. Namun, sepertinya setiap persona memiliki ketakutannya masing-masing. Biasanya berupa pertanyaan-pertanyaan bersifat pertaruhan tentang hidup yang tidak akan diketahui sebelum mengalaminya namun terus-menerus menghantui. Memang, kebanyakan ketakutan-ketakutan tersebut biasanya berkenaan dengan keberlangsungan hidup.

26 Januari 2017

Ulasan Buku: Jogja Jelang Senja

Judul : Jogja Jelang Senja
Pengarang : Desi Puspitasari
Penerbit : Grasindo
Tahun : 2016
Dibaca : 25 Januari 2017 (via SCOOP)
Rating : ★★★

Percaya akan kebetulan? Sebagian orang berpendapat bahwa di dunia ini tidak ada yang kebetulan karena sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Masa bodoh tentang kebetulan atau takdir karena ini yang kualami: Setelah membaca "Nyanyian Akar Rumput", aku coba menilik salah satu toko buku daring dan mendapati satu buku yang sedang masa pre-order. Setelah kukulik lebih jauh, sang pengarang telah menulis beberapa buku dan salah satunya ada format digitalnya. Kupastikan buku itu bukan sastra karena aku baru saja selesai baca sastra. Aku butuh istirahat dengan cara membaca buku bertema ringan. Lalu, aku baca buku itu tanpa ekspektasi apa pun. Selain kisah cinta, buku itu ternyata bercerita tentang perlawanan berlatar tahun 90-an bahkan menyebut-nyebut Wiji Thukul. Apa namanya kalau bukan kebetulan?

***

Senja itu di kota Jogja, Kinasih dan Aris saling bertubrukan saat mengendarai sepeda. Tentu secara tidak sengaja. Keduanya sedang sama-sama terburu-buru. Kinasih harus lekas pulang ke rumah karena waktu Maghrib akan segera tiba. Ia harus menyiapkan hidangan berbuka puasa. Sementara Aris harus meliput suasana pasar Ramadan di kawasan Kotagede. Tugasnya sebagai wartawan harus benar-benar diburu waktu. Bila terlambat barang semenit, peristiwa penting bakal terlewat. Karena terburu-buru, ebagai permintaan maaf, Aris memberikan kartu namanya kepada Kinasih. Kalau-kalau wanita itu meminta pertanggungjawabannya.

Kinasih mengayuh sepeda milik Midah menuju kantor Aris di Jalan Mangkubumi. Sebenarnya, luka yang dialaminya sudah membaik karena telah diberi obat merah. Tapi, sepedanyalah yang penting. Ia amat membutuhkan sepeda itu untuk bekerja. Untungnya lelaki itu menyanggupi. Selama menunggu sepeda Kinasih diperbaiki, Aris berjanji untuk mengantar jemput Kinasih bekerja sebagai jalan keluar sementara. Kinasih merasa tidak enak. Aris tidak perlu merepotkannya seperti itu. Namun, Aris tetap bersikukuh. Dan, dari tabrakan kecil itulah kisah cinta Kinasih dan Aris dimulai.

08 Januari 2017

Ulasan Buku: Playon

Judul : Playon
Pengarang : F. Aziz Manna
Penerbit : Grasindo
Tahun : 2016
Dibaca : 25 Desember 2016 (via SCOOP)
Rating : ★★★

"sebuah paku menancap. kau membayangkan tangan yang kekar itu, martil itu, menghantamnya, menembuskannya, menancapkannya, dan membiarkannya. sebuah paku menancap. kau membayangkan jam atau pakaian atau kunci atau foto tergantung di situ. sebuah paku menancap. kau membayangkan apa yang harus terjadi antara sebuah besi, sebuah palu dan pakaian dan kunci dan jam penunjuk waktu itu bahkan foto kenanganmu. sebuah paku menancap. kau pun membayangkannya menancap di tengah telapak tangan di kayu palaing. sebuah paku menancap. sendirian dan tak terperhatikan." (Paku, hal. 30)

Sudah saatnya aku menuntaskan ulasan buku ini. Setelah berkali-kali memutar otak akan membahas apa selain mengulas, akhirnya aku memutuskan untuk berinteraksi langsung dengan sang penulis melalui email. Sekaligus mengajukan beberapa pertanyaan yang mengganjal seusai membaca "Playon". Inginnya kujadikan percakapan bagai wawancara. Tapi karena tidak banyak-banyak amat, aku hanya selipkan jawaban yang diberikan penulis. Salah satunya adalah pendapat penulis tentang sayembara sastra daerah selain Jakarta yang sepertinya kurang terasa gaungnya.

***

Satu hal yang pasti, aku tahu tentang "Playon" karena menjadi pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2016 kategori Puisi. Saat mengobrol bersama teman penyuka sastra, menanyakan kepadaku apakah buku tersebut mudah dipahami. Sebagai keturunan Jawa (yang pada akhirnya murtad karena hanya tahu sedikit-sedikit tentang bahasanya), aku mengerti isinya sedikit banyak. Dan itulah yang kujawab pada temanku tersebut. Ia yang orang Jakarta ragu untuk membaca "Playon" karena khawatir tidak mengerti puisi-puisi yang disampaikan. Aku jadi bertanya-tanya kenapa nuansa Jawa-nya kental sekali. Dan aku berasumsi, mungkinkah puisi-puisi di dalamnya dibuat untuk kalangan sendiri saja. Untungnya, aku mendapat jawabannya.

21 Oktober 2015

Cameo Revenge

Sampul
Judul : Cameo Revenge
Penerbit : Grasindo
Tahun : 2015
Dibaca : 20 Oktober 2015
Rating : ★★★

Agenda pagi itu adalah mengunjungi Gramedia Solo di Jalan Slamet Riyadi. Entah apa yang ada di pikiranku: aku sedang "berlibur", tapi tetap saja ujung-ujungnya mengunjungi hal yang berbau buku. Lalu, Mas Yudhi bilang bahwa buku barunya sudah tersedia di Gramedia dan dia secara cuma-cuma memberiku buku ini. Sebenarnya, buku ini dibelikan oleh Mba Ary untuk Mas Yudhi yang lalu memberikannya padaku.

***

Cameo dan Revenge. Dua grup band yang sama-sama dipersatukan dalam July Challenge, ajang festival musik terpopuler di kota. Cameo terbentuk sesaat sebelum festival itu diselenggarakan. Iming-iming hadiah seratus juta menjadikan Cameo harus cepat-cepat menyelaraskan personel dan lagu yang akan dibawakan. Revenge lawan terberat Cameo. Sudah terbentuk sejak lima tahun lalu, mencari personel pun dengan jalur audisi. Revenge populer di kalangan penyuka musik rock di kota. Sering diundang dalam acara-acara beken di kota. Penggemarnya pun tidak main-main.

Keadaan semakin tidak terkendali bagi Cameo dan Revenge seusai festival July Challenge. Salah satunya mendapatkan hadiah seratus juta dan rekaman dengan label terkenal. Satunya lagi harus menerima kekalahan dan hanya meraih best vocal. Cameo dan Revenge. Dua grup band yang sama-sama memiliki kisah pelik antar-personelnya.

26 Juni 2015

Januari: Flashback

Sampul
Penerbit : Grasindo
Tahun : 2015
Dibaca : 24 Juni 2015
Rating : ★★★

"Aku tidak mau lagi sendirian. Aku tidak mau lagi merasakan penolakan. Aku butuh seseorang. Aku butuh kamu, Gara." (hal. 125)

Aku mendapatkan buku ini ketika perayaan ulang tahun BBI yang ke-4 di Blok M. Salah satu penulisnya, Mput alias Petronela Putri, adalah member BBI dan dia menjadi koordinator sekaligus pembicara pada acara tersebut. Aku senang pada akhirnya Mput memberiku salah satu karyanya. Dia berpesan padaku untuk menebak sudut pandang siapa yang dia tulis. Sedikit ragu, karena aku belum pernah membaca karyanya yang lain sebelum ini. Tapi akan kucoba tebak.

***

Malam tahun baru pada Januari 1980 terjadi kecelakaan maut yang menewaskan sepasang suami-istri. Pasangan yang menggunakan motor itu tertabrak sebuah mobil yang untungnya—celakanya—empat orang di dalamnya tidak meregang nyawa. Empat orang yang pada malam itu sedang dalam jalan pulang setelah merayakan malam pergantian tahun. Empat orang sahabat karib.

Pada malam tahun baru meriah berpuluh-puluh tahun kemudian terjadi sebuah tragedi hebat. Satu dari empat sahabat itu meninggal secara tragis. Arumi, Era, dan Alana kemudian mendapatkan teror tak jelas. Tanpa disadari, tragedi masa silam kembali kepada mereka berempat; mengharuskan mereka bertigagenerasi selanjutnyamelakukan kilas balik dengan satu pertanyaan besar: apa yang sebenarnya terjadi pada 1 Januari 1980?