Tampilkan postingan dengan label aikon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aikon. Tampilkan semua postingan

01 November 2017

Masa Kecil dalam Dua Karya Reda Gaudiamo

Edited by Me

Saat meriset untuk ulasan ini, aku melongo mendapati Reda Gaudiamo adalah personel AriReda yang terkenal menyanyikan puisi itu. Ari - Reda; Reda - Gaudiamo. Betapa seharusnya aku bisa menerka-nerkanya. Aku tidak begitu gandrung dengan AriReda, namun bukan berarti tidak pernah mendengarnya. Keterkejutan bodoh ini buatku mencari tahu lebih lanjut tentang siapa itu AriReda. Mereka sudah terbentuk sejak Oktober 1982. Sudah lebih dari 30 tahun dan mereka bersama dan tetap terus berkarya. Adakah yang mengira mereka suami-istri? Bukan, tentu saja. Mereka hanya dipaksa berduet di acara kampus pada Oktober 1982. Sejak itulah mereka terus bersama—maksudnya bernyanyi bersama—dan terus berkarya sampai kini. Hal terakhir yang kutahu mereka menyenandungkan puisi-puisinya Sapardi Djoko Damono.


Terima kasih kepada AriReda dan ketidakpekaanku sehingga bisa membuat separagraf pengantar. Mari kembali pada Reda Gaudiamo dan karya-karyanya "yang lain". Reda sudah menerbitkan beberapa buku yang kebanyakan adalah fiksi. Salah dua yang populer—setidaknya di Goodreads—adalah "Na Willa" dan "Aku, Meps, dan Beps". Keduanya diterbitkan secara indie. Yang satu pada 2012, satu lagi pada 2016. Tipikal keduanya: sama-sama cerita anak dari sudut pandang anak perempuan. Dan memang cerita anak menjadi spesialisasi Reda sampai-sampai ia membuka kelas penulisan cerita anak bersama Dewan Kesenian Jakarta beberapa waktu lalu. Yah, itu sudah menegaskannya, kan?

Berbeda dari cerita anak lain, aku melihat ada gaya penulisan khas dan penggunaan diksi yang sedikit "nyastra" dari kedua karyanya. Aku tidak banyak membaca cerita anak dari penulis-penulis lokal memang, tapi beberapa yang sudah kubaca tidak begitu "membekas". Lain dengan dua karya Reda ini, apalagi yang "Na Willa"—di bawah akan kujelaskan kenapa. Kusimpulkan sendiri bahwa karya-karya Reda tidak hanya cocok untuk dibaca anak-anak, tetapi juga cocok untuk para dewasa. Jalan tengahnya: para dewasa membacakannya kepada anak-anak. Ya, memang mirip dongeng namun lebih kontemporer. Mungkin sastra anak memang tepat untuk pengistilahan karya-karya Reda ini. Mungkin keunikan ini jugalah yang membuat Reda memilih untuk menerbitkannya melalui penerbit indie.