21 Juni 2018

Tentang Aku dan Buku + Giveaway

Foto: Dokumen Pribadi

Setiap kali pulang ke kampung halaman, sebisa mungkin aku sempatkan melakukan ini—sesuatu yang kemudian aku sebut ritual: mengeluarkan semua koleksi buku-bukuku dari tempat penyimpanan, menilik satu per satu, lalu menekuk-nekuk ringan mereka. Bisa dibilang, merekalah hartaku yang berharga. Aku menganggap mereka seperti hewan peliharaan—yang untungnya tidak menimbulkan suara, tidak rewel, dan tidak membuang kotoran. Mereka hanya butuh "bernapas" sesekali dan peregangan agar otot-otot kertas mereka tidak kaku. Sayangnya, aku terlalu malas untuk menyimpan mereka di tempat layak dan hal inilah yang membuatku harus melakukan ritual. Mereka ditempatkan di bagian bawah lemari pakaian milik almarhum kakek. Aku berniat untuk membeli boks kontainer untuk mereka tetapi waktu selalu tidak mengabulkan. Terlepas dari itu, ada keasyikan tersendiri kala membongkar kembali tas-tas keresek berisi mereka. Dengan ritual ini, aku bisa bernostalgia tentang isi buku dan tentang bagaimana dan kapan aku mendapatkan mereka.

Setiap koki selalu punya cerita makanan yang pertama kali dimasaknya. Setiap pilot selalu punya cerita kota yang pertama kali disinggahinya. Begitu pun pembaca yang selalu punya cerita buku yang pertama kali dilahapnya. "Totto-Chan: Si Gadis Kecil di Tepi Jendela" karya Tetsuko Kuroyanagi menjadi buku yang selalu aku sebut-sebut untuk konteks itu. Buku pertama yang kubaca ini kudapatkan ketika masih TK. Saat itu, pihak yayasan memberikan buku ini dengan harapan dapat dibaca oleh wali murid. Dengan kekaguman berlebihan karena baru kali itu memegang sebuah buku, aku coba membacanya walau aku yakin saat itu aku membaca sekadarnya dan mengamati ilustrasinya. Tetap saja buku itu menjadi buku pertama yang kubaca. Setelah membacanya ulang beberapa tahun lalu, aku mengira-ngira alasan pihak sekolah memberikan buku itu kepada para wali murid. Kisah Totto-Chan yang bersekolah dengan fasilitas apa adanya diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi para wali murid dan orang tua.

Judul : Aku dan Buku
Pengarang : Busyra, dkk.
Penerbit: bukuKatta
Tahun : 2018
Dibaca : 12 Juni 2018
Rating : ★★★★

"Seperti burung yang selalu kembali ke sarangnya yang nyaman, seperti itulah saya roman bagi saya. Kembali mengeja dan merapali alur kisah cinta bagai mantra. Tersesat di sana sama menyenangkannya dengan jatuh cinta di dunia nyata. Itu sebabnya saya tak pernah berhenti. Tak pernah mau berhenti." (hlm. 64)

Aku tidak luput menyebut Totto-Chan dalam deskripsi diri di akhir tulisanku yang disatukan dalam buku "Aku dan Buku"—buku pertamaku yang diterbitkan! Walaupun antologi, aku merasa senang karena kisahku bisa bersanding dengan para pencinta buku lain. Sebagai seorang anak yang dulu sulit mendapat akses pada bacaan, aku merasa aneh sekaligus bersyukur karena tumbuh sebagai pencinta buku. Aneh karena aku mungkin baru gemar membaca sejak kuliah dan sekarang mengaku sebagai pencinta buku? Bagaimana dengan mereka yang sedari kecil sudah diberikan akses seluas-luasnya pada buku? Adakah istilah lain bagi mereka yang cinta lebih-lebih-lebih pada buku? Buku-bukuku tentu saja banyak tapi kalah banyak dari para pencinta buku yang lain. Pengalamanku bersama buku-buku sudah pasti kalah mengesankan dari para pencinta buku yang lain. Dan maksudku para pencinta buku yang lain adalah mereka yang menulis dalam "Aku dan Buku".

Beberapa penulis antologi ini sudah aku kenal berkat komunitas yang kami bergabung di dalamnya. Sebagian besar sudah pernah tatap muka. Sebagian kecil berada dalam satu grup WhatsApp sehingga kami sering berbagi tentang berbagai macam bahasan. Membaca "Aku dan Buku", aku dibikin tertohok. Bagai keran air yang bocor, mereka membeberkan sisi personalnya masing-masing. Ada Mbak Alvina yang menikah di tengah-tengah masa studinya dan berkarib dengan buku. Ada Mbak Truly yang menilai buku sebagai barang mewah berharga yang butuh proteksi. Ada Mbak Nurina yang begitu getol dengan genre romansa. Dari kisah-kisah mereka yang begitu intim dan intens, aku diajak untuk lebih-lebih-lebih lagi mencintai buku sebagaimana mereka mencintai buku. Cerita Mbak Nurina bahkan membuatku menitikkan air mata. Mengesampingkan jenis kelamin buah hatinya, ia memiliki harapan bahwa kedua anak laki-lakinya bakal suka dengan genre romansa seperti dirinya sehingga ia bisa melungsurkan koleksi buku-bukunya kepada mereka. Di situ aku merasa terenyuh.

Dalam ulasan ringkasku di Goodreads, aku mengatakan bahwa cerita yang kusampaikan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan cerita lain. Aku hanya bercerita tentang bagaimana diriku yang diistilahkan sebagai generasi milenial menyukai buku. Begitu remeh. Begitu biasa. Namun, di antara buih-buih kerendahdirian itu, ada secercah rasa bangga karena pada akhirnya aku bisa memiliki buku sendiri—walaupun lagi-lagi itu karya kelompok. Aku sungguh berharap bahwa sesiapa yang menyukai buku dan yang sedang dalam proses menuju hal itu membaca buku ini. Aku yakin kecintaan mereka pada buku akan meningkat berkali-kali lipat. Aku sungguh berterima kasih kepada Bang Steven Sitongan yang mau menyempilkan ceritaku di dalam proyek antologi yang digagasnya ini. Bang Steven menitipkan dua kopi "Aku dan Buku" bersegel untuk dibagikan pada giveaway kali ini. Dan untuk memeriahkannya, aku pun akan membagikan satu kopi bersegel "Totto-Chan: Si Gadis Kecil di Tepi Jendela" karya Tetsuko Kuroyanagi. Namun sebelumnya, mari kita lihat penampakan buku Totto-Chan yang sudah dekil dan berusia lebih dari 15 tahun berikut.

Halaman Katalog Dalam Terbitan

Halaman Kata Pengantar

Salah Satu Ilustrasi dalam Buku

Halaman Sampul Belakang

Giveaway!

Sesuai pernyataanku di atas. Aku mengadakan giveaway dengan berhadiah dua paket buku. Paket pertama berisi "Aku dan Buku" dan "Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela" karya Tetsuko Kuroyanagi versi terbaru. Paket kedua berisi "Aku dan Buku". Kamu akan mendapatkan kesempatan memenangkan kedua paket tersebut dengan menjawab pertanyaan berikut.


Aku benar-benar ingin tahu, buku apa yang pertama kali kamu baca?

Jawab pada kolom komentar di bawah ini bersama nama, alamat e-mail, dan kota tempat tinggal kamu. Jangan lupa untuk membagikan informasi giveaway ini melalui media sosial kamu. Aku tunggu sampai 1 Juli 2018. Dua pemenang akan dipilih secara acak. Semoga beruntung


***

Update!

Jawab pada giveaway kali ini lumayan personal dan sedikit bikin menyentuh. Hanya dengan satu pertanyaan singkat yang kuajukan, peserta menjawab panjang lebar yang mungkin membuat mereka harus menggali lebih dalam memori masa lalunya. Dan memang, memori manis akan mudah diungkapkan. Lebih dari 30 pencinta buku menceritakan memori bacaan yang pertama kali mereka baca kala masih kecil. Setelah dipilih secara acak, pemenang giveaway Aku dan Buku adalah sebagai berikut.

Paket Pertama
Muhammad Imam Farouq (@Faruq_AlBanna)

dan

Paket Kedua
Luckty Giyan Sukarno (@lucktygs)

Silakan kirimkan data diri (nama, alamat lengkap, kode pos, dan nomor telepon) via oughmybooks (at) gmail (dot) com. Terima kasih atas partisipasi teman-teman dan terima kasih pula kepada penerbit. Sampai jumpa pada blog tour atau giveaway selanjutnya!

33 komentar :

  1. Terima kasih sudah menuliskan review yang manis. Buat teman-teman yang penasaran isi buku "Aku dan buku" ayo pada ikutan.

    BalasHapus
  2. nama ; Farida Endah
    Alamat : Pacitan_Jawa Timur
    email ; faridaendah@gmail.com
    jawaban : buku yang aku baca pertama kali, buku pelajaran waktu SD. kalau buku non pelajaran yang aku baca majalah BOBO (semua anak SD zaman dahulu pasti pernah baca majalah bobo)..

    BalasHapus
  3. Nama : Indra Kurniawan
    Alamat email : indrakurniawan141@gmail.com
    Kota tempat tinggal : Bandung

    Jika disuruh mengingat buku pertama yang kubaca, secara sadar, Harry Potter : Sorcerer Stone lah menjadi yang pertama. Sayangnyo tidak seperti orang lain yang sudah membaca buku semenjak kecil, aku baru membaca saat kelas 2 SMA (2014), terlambat? Mungkin, tapi setidaknya aku sudah bisa memasuki dunia membaca yang membawaku sampai sekarang, hidup yang indah.

    Tapi, secara tidak sadar, sejak SMP aku suka membaca Bobo, namun tidak intense dan tertarik karena banyak warna.

    BalasHapus
  4. Arfina Tiara
    Serang, Banten
    Arfina.tiara123@gmail.com

    Duh apa ya...
    *mikir keras*
    Sepertinya buku bahasa arab bergambar, dulu saya belum kenal bobo, dan baru kenal Bobo pas SMP (poor me)

    BalasHapus
  5. Priskila Indah Sekar
    Magelang, Jawa Tengah
    indahsekarmustika@gmail.com


    Saya selalu senang bila ditanya tentang hal ini. Saya selalu langsung teringat pada nama Enid Blyton. Buku-buku beliau tentang petualangan yang harus dijalani Lima Sekawan lah yang menemani masa sekolah dasar saya. Buku misteri paling seru untuk saya, bahkan sampai saat ini.
    Saya lupa apa judul pertama yang saya baca, karena throwbacknya terlalu jauh buat saya, hahaha..

    BalasHapus
  6. Larastanie Afdha
    Tangerang
    Larastanie24@gmail.com

    Buku pertama yang kubaca adalah sebuah novel roman lama, yang aku temukan di perpustakaan untuk tugas resensi bahasa indonesia, sewaktu SMP kelas 2. Aku memilih yang Judulnya adalah Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana. Aku yang awalnya kurang minat menjadikan membaca sebagai sebuah hobi, lalu karena tugas resensi yang mewajibkan aku untuk baca novel setebal 200 halaman itu, akhirnya aku melahap buku itu, walaupun bahasanya yang kurang mudah dimengerti oleh anak seumuran SMP, tapi aku tetap melanjutkan karena penasaran dengan endingnya. Lalu aku jatuh cinta dengan dunia membaca. Dan aku ingat buku yang aku baca setelah itu adalah sebuah Novel Teenlit terkenal berjudul Dealova.

    BalasHapus
  7. Qiny Shonia
    qinyshonia@gmail.com
    Bandung

    Hi, Raaf! Yang aku lakukan setelah baca info giveway ini adalah membongkar 2 hal.
    1. Memori di lobus frontalis (mungkin) dua puluh tahun silam saat masih TK.
    2. Buku cerita - mewarnai dengan sampul warna kuning bergambar seorang monster dan beruang kecil gemas, Beauty and The Beast. Jangan tanya kenapa sang Princess absen di sampul please :))

    Sebuah seri Kucica, diterbitkan 1997 lalu oleh penerbit Taramedia Publikasi Utama. Dibeli Mama di lapak kecil depan studio foto yang sekarang beralih jadi toko kain. Tempat favorit kami waktu itu untuk beli buku dan majalah baru juga bekas dengan harga miring~

    Tbh, aku gayakin 100% ini buku pertama yang kubaca. Entah buku belajar mengeja dan membaca, entah iqra 1. Iqra termasuk buku juga nggak sih? :))

    What i was sure is, this book was my greatest companion. Bagaimana aku belajar mencintai buku dan mewarnai dari buku ini.(Meski sekarang masih jadi member tetap nimbunnimbunbukuclub :( )

    Those little things may seem nothing but i just love the way that book, those memories, and those good old days have always been part of me even till now.

    Monmaap panjang bener ya kayak text khutbah Jumat :( terima kasih!

    BalasHapus
  8. Ambu Dian
    ambudaff@yahoo.com
    Bandung

    Belajar baca itu kuingat pakai koran Kompas. Koran kubentangkan di lantai (karena tanganku masih kecil, ga bisa bentangkan koran di tangan kaya' orang dewasa xD) lalu mengeja satu-satu judulnya. Iya, judul doang, kan hurufnya gede xD

    Orangtua kemudian melanggankan Bobo, Album Cerita Ternama, dan Cerita-Cerita Dari Lima Benua. Tapi bacaan pertama yang berbentuk novel itu Lima Sekawan-nya Enid Blyton, Minggat.

    Sudah dibagikan di tuiter ya: https://twitter.com/ambudaff/status/1010287909595824129?s=19

    BalasHapus
  9. Ifan afiansa
    ifanafiansa@gmail.com
    Jogja

    Hmm apa y, aku selalu gagal mengingat buku yg kubaca kali pertama. Entah itu bisa buku cerita dari kartun yg lagi trend (Digimon dan Pokemon), atau majalah-majalah bobo yg setiap kamis dibelikan di kios majalah selepas pulang sekolah, atau buku novel anak-anak yg aku pun lupa judulnya apa, tapi ada yg samar-samar kuingat, yaitu "blablabla di stasiun bekasi" yg berkisah ttg persahabatan dua anak gelandangan di stasiun bekasi, gegara buku itu, aku tiap mudik ke jakarta dgn kereta dan melewati stasiun bekasi, dari balik jendela aku suka mencari-cari kedua anak tersebut, walaupun kutahu di penghujung cerita, salah satu dari kedua anak itu diadopsi oleh pamannya dan persahabatan mereka harus terpisah. Dan mungkin buku-buku lainnya seperti cerita rakyat dari setiap daerah terbitan Grasindo yg kubaca di perpustakaan SD atau komik conan, intinya aku tidak yakin dengan buku yg pertama kali kubaca~

    BalasHapus
  10. Sharie
    nasharie88(at)gmail(dot)com
    Cikampek

    Pertanyaannya sih simpel, tapi bikin mikir. Karna aku diajak mengingat lagi buku apa yg aku baca pertama kali. Masa mesti nanya ke nyokap dulu sih untuk jawab pertanyaan ini πŸ˜…πŸ˜… hehe...
    Seinget aku aja ya kak. Kalo pertanyaannya "buku", pastinya buku pertama yg aku baca saat itu yg sesuai dengan umurku yaitu buku cerita anak-anak. Namun aku nggak begitu "ngeh" buku cerita apa yg aku baca. Tapi, berhub yg paling membekas adalah buku cerita "Sepatu Merah" karya H.C. Andersen, mungkin buku itu yg pertama kali aku baca πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ haha...
    Tapi, kalau buku pertama yg aku baca (yg mempengaruhi genre bacaanku sekarang), kak Rafy pasti sudah tahu bukunya siapa πŸ˜…πŸ˜… wkwkwk

    BalasHapus
  11. Desty
    blog.desty@gmail.com
    Jambi

    Buku pertama yang aku baca dulu dalam bentuk majalah (majalah juga buku kan? ^^) yaitu majalah Bobo dan Donald Bebek.

    BalasHapus
  12. Nama : Daniel Leonard Sinaga
    Email : danielleonardsinaga90@gmail.com
    Alamat : Kab .Simalungun

    Awal aku mendapatkan bacaan itu dari majalah Bobo .Ibu membelikan majalah bekas itu pdhl aku belum bisa baca namun masih melihat gambar² berwarna. Rasanya senang sekali.

    BalasHapus
  13. Nisyya Izzatin Naila
    Pekalongan, Jawa Tengah
    nisyyanaila@gmail.com

    Buku pertama yang aku baca adalah semacam komik islami buat anak-anak, udah lupa judulnya apa. Buku itu hadiah dari ayahku ketika aku TK. Saking senangnya dengan buku itu, entah sampai berapa kali aku membacanya. Entah dimana sekarang buku itu, tapi seingatku waktu aku SMA tidak sengaja menemukannya dan aku berikan ke sepupuku yang masih SD.

    BalasHapus
  14. Fatiah Nur
    Bogor, Jawa Barat
    fatiahnurmadina@ymail.com

    Wah, pertanyaan sulit. Buku yang pertama di baca ya? Yang jelas majalah-majalah Bobo, hehe. Tapi kalau buku yang wujudnya memang buku, kalau tidak salah sebuah kumcer Bobo yang judulnya Kue-Kue Eka. Aku baca buku itu waktu SD, enggak inget kelas berapa, tapi yang pasti itu salah satu buku paling berkesan buatku.

    BalasHapus
  15. Nama : Hamdatun Nupus
    Email : hamdatunnupus@gmail.com
    Domisili : Depok, Jawabarat

    Jauh sebelum membaca buku-buku berat, novel-novel fiksi remaja, buku Bobo tentang kisah oki & nirmala, kisah paman gober di serial Donal bebek Dan buku-buku cerita rakyat yang kerap alm.bapak bawakan sebagai oleh-oleh tiap Kali ke luarkota untuk bekerja semasa di sekolah dasar. Aku rasa buku yang benar-benar pertama Kali aku baca, adalah buku doa-doa harian bergambar yang selalu ibu pandu bacakan ketika balita. Sebenernya cukup banyak buku, termasuk buku-buku mengenal angka juga huruf, bahkan berhitung. Maklum aku tidak dimasukkan kesekolah Taman kanak-kanak, jadi semasa balitaku dipenuhi dengan waktu bermain & belajar dirumah bersama ibu & alm.bapak 😊.

    BalasHapus
  16. Ananda Nur Fitriani
    anandanftrn(at)gmail(dot)com
    Bogor

    Buku yang pertama kali aku baca.. ya buku pelajaran membaca. Ya ngga? Hehehe. Aku ingat, dulu udah masuk TK umur 3 tahun. Ngotot mau langsung TK tuh, gak playgroup dulu. Alhasil di kelas langsung dikasih buku pelajaran yang ada gambar-gambar, seperti tomat, sepeda, ayah, ibu, dan lain-lain disertai dengan tulisan dan ejaannya. Halaman-halaman selanjutnya langsung ada kalimat-kalimat yang berbunyi "Ibu pergi ke pasar" dengan bentuk ejaan "I-bu per-gi ke pa-sar". Untungnya guruku mau ngajarin aku secara khusus (Ibu Mary namanyaπŸ˜„). Jadi setiap hari membaca buku itu sama Bu Mary, dari yang awalnya cuma ngikutin baca, sampai bisa lancar bacanya. Alhamdulillah😊😊

    Eih tapi mau cerita juga, habis itu (udah mau masuk SD) aku suka baca bobo, komik detective conan, juga novelet anak berjudul Lukisan Kenangan yang sampai sekarang masih ada bukunya di rumahπŸ˜„πŸ˜„

    BalasHapus
  17. Nama : Erlina Nurochman
    Email : erlinanurochman95@gmail.com
    Kota : Yogyakarta
    Jawaban:

    Buku pertamaku mungkin buku belajar membaca dan majalah bobo ya.

    Tetapi, buku pertama yang benar-benar kubaca lengkap dan berusaha kupahami adalah novel Dendam Roh Jejaden karya Abdullah Harahap. Dimana buku itu nemu di lemari rumah nenek, dan katanya itu buku milik almarhum pakdhe yang gemar membacanya semasa hidupnya.
    Saya membaca novel horor-dewasa itu tanpa sepengetahuan orang tua alias diam-diam. Padahal saat itu saya baru kelas 2 SD. Ya gimana lagi. Orang tua saya melarang untuk membaca buku maupun menonton film horor pada saat itu agar saya tidak tumbuh sebagai penakut yang percaya hantu-hantuan. Tapi bagaimana lagi, saya orangnya selalu penasaran dan akhirnya jadi penakut sekarang πŸ˜‚

    BalasHapus
  18. Fannisya Aulya
    fannisyaulyaiskandar@gmail.com
    Jakarta Timur, DKI Jakarta

    Jawaban:

    I don't really remember what kinda books that I read when I was so little. Tapi aku masih ingetttt banget waktu aku umur 4/5 tahun aku udah mulai baca dan dibacakan buku tentang kelinci kecil gitu (lupa judulnya apa krn udah lama bgt dan skrg bukunya udah disumbangkan) dan dibacanya sebelum tidur jadi kayak nina bobo tapi versi baca buku. Lalu waktu kelas 2 SD buku pertama yg aku baca sampai habis itu buku Ensiklopedia Junior: Transportasi, sampulnya warna biru. Dan sejak saat itu, aku mulai suka baca buku, entah itu buku sendiri atau buku temen atau buku pinjem di perpus sekolah :D

    BalasHapus
  19. Tike Yuliana
    tikeyuliana@gmail.com
    Brebes, Jawa Tengah

    Jawaban :

    Buku pertama yang aku baca?
    Kalau buku fiksi, sejak kecil hingga usia 11 tahun di kelas 6 SD, aku tidak bisa memiliki kesempatan seperti anak-anak yang gemar membaca pada umumnya. Karena hidup di desa dan bersekolah di sekolah dengan perpustakaan yang hanya ada buku-buku teks pelajaran yang masih baru namun berdebu tebal, hanya ada beberapa eksemplar majalah Bobo yang sudah lepas di beberapa halamannya. Jadi, masa kecilku itu baca fiksi (dongeng) hanya dongeng yang ada di buku pelajaran, majalah Bobo di perpustakaan sekolah, juga terkadang di majalah atau koran yang menjadi pembungkus nasi bungkus atau gorengan.
    Tapi, begitu aku masuk SMP, Omku yang kuliah di luar kota akhirnya wisuda dan pulang kampung yang ternyata juga membawa banyak buku. Meskipun lebih banyak buku nonfiksi yang tak lain buku kuliahnya, tapi ada beberapa novel (yang di mana seingatku waktu itu aku senang sekali karena akhirnya bisa membaca buku cerita yang tebal dan ceritanya panjang).
    Dan buku fiksi yang pertama kali aku baca itu "Kemerdekaan dimulai dari Lidah" karya A.D.Donggo yang kutemui di antara tumpukan buku-buku ekonomi, filsafat, dan sejarah di dalam kardus.

    BalasHapus
  20. Rini Cipta
    Malang
    rinspiration95@gmail.com

    Seingetku, buku yang pertama kali aku baca adalah Oliver Twist-Charles Dickens, buku yang aku pinjam di perpustakaan sekolah pas kelas 3 SD. Versi terjemahan, entah penerbitnya apa yang jelas kovernya warna biru, Oliver diangkat oleh seseorang menuju jendela. Karena baca beberapa halaman pertama akhirnya aku pinjem itu dan bawa pulang buat dibaca. Setelah itu, aku dibelikan kumpulan dongeng nusantara, beli majalah bobo juga. Sering kliping cerpen-cerpen anak yang dimuat di koran hari minggu. Mungkin sejak itu aku lebih suka baca fiksi dibanding non fiksi 😁

    BalasHapus
  21. Nama: Marfa
    Domisili: Purwokerto
    Posel: umi.marfa@gmail.com


    Saya lupa buku pertama yang saya baca, namun kalau tidak salah buku kumcer "Membunuh Orang Gila" karya Sapardi pada saat kelas 7 SMP yang saya pinjam di perpus. Ya sebenarnya saya sudah senang membaca sejak SD namun bacaan hanya sebatas koran atau cerita/kutipan novel di buku LKS hihi. Daaaaan dulu pas saya baca kumcer itu nggak maksud dong artinya apaan karena berat dan munhkin baru dipahami setelah kita memasuki umur 20an gitu hihi. Dulu komentarnya kaya "wah apasih ini gajelas", ya kelas 7 SMP kan boleh dibilang masih polos bawaan dari SD, tapi kalo dipikir2 keren juga ya karyanya Sapardi itu loh hihi :D sukses GAnya kak :D

    BalasHapus
  22. A.A. Muizz
    Semarang
    dereizen@gmail.com

    Aku lupa buku pertama yang kubaca (selain buku pelajaran), apakah Harry Potter dan Batu Bertuah atau Fear Street: Double Date karya R.L. Stine saat kelas 2 SMP, yang kupinjam dari kakakku yang pinjam ke temannya (karena aku tinggal di pelosok yang jauh dari perpustakaan, taman baca, maupun toko buku). Setidaknya dua buku itu berhasil membuatku jatuh cinta kepada kegiatan membaca sampai saat ini.

    BalasHapus
  23. Yanti
    Jakarta
    sitinuryanti@yahoo.com


    Buku yang pertama kali kubaca...pasti lupa...sudah lamaaaaaa banget. Tapi saat kecil usia SD sering baca majalah Bobo, pinjam tetangga yang baru pindahan dari kota. Saya dulu tinggal di kampung, akses buku masih sangat susah.
    Kebetulan tetangga ini, punya koleksi majalah bobo, sama komik-komik cerita anak karya HC Andersen. Dari situ saya jadi sering main ke tetangga baru, demi bisa pinjam buku :)

    wish me luck

    BalasHapus
  24. Ifadatul
    bojonegoro
    ifadatulhikmah@gmail.com

    jika ditanya buku apa yang kamu baca pertama kali. Aku lupa, soalnya sudah 10tahun lebih dari umurku saat ini. Tapi aku ingat buku yang aku punya pertama kali yaitu legendakota tengger. Buku pertama yang membuatku ingin mempunyai banyak buku, dan mengetahui banyak cerita sikancil maupun legenda, dan cerita lainnya.

    BalasHapus
  25. Nama: Ella
    Alamat email: ellaoktaverina@gmail.com
    Kota: Surabaya
    Sejujurnya saya nggak ingat benar buku apa yang pertama kali saya baca. Ketika saya masih TK, kedua orangtua sudah memfasilitasi saya untuk membaca apa yang saya suka, jadi di usia segitu saya berlangganan majalah Bobo. Saya benar-benar membaca majalah itu berikut iklannya, dan tak melewatkan satu bagian apapun.
    Tapi kalau mau sedikit serius, ketika kelas VI SD saya pernah menyelesaikan buku Harry Potter and the Halfblood Prince yang tebelnya MasyaAllah (maksud saya untuk bocah umur segitu) :D

    BalasHapus
  26. Luckty Giyan Sukarno
    Kota Metro, Lampung
    catatanluckty@gmail.com

    Seperti anak-anak pada umumnya, aku mengenal bacaan lewat Majalah Bobo, Tabloid Fantasi, Tabloid Gaul, Majalah Kawanku, Majalah Aneka Yess, dan sebagainya yang memang rata-rata berupa majalah/tabloid/ataupun surat kabar.

    Tapi untuk buku pertama yang aku baca seingatku adalah dulu almarhumah mama sering membelikan buku-buku tipis cerita tentang Gareng, Petruk, Semar. Kalo nggak salah dulu per bukunya seharga lima ratus rupiah. Seiring waktu, aku mulai suka baca serial cantik seperti Pop Corn, dll lewat rentalan komik :D Baru menjelang SMA, mulai koleksi buku sampai sekarang. Bedanya, kini semenjak kerja di perpustakaan sekolah, aku udah nggak ada rasa cinta posesif terhadap suatu buku karena lebih baik buku itu rusak/lecek dibaca orang lain daripada menganggur di rak toh akhirnya dimakan rayap juga :D

    BalasHapus
  27. Ehmm, sejauh kumengingat, yang menjadi bahan bacaan pertama adalah buku pengantar tidur yang setiap bulan berbeda. Jadi dulu itu punya 12 seri buku tersebut, lungsuran dari mbak. Lalu mulai baca buku-bukunya trio detektif-alfred hitchcock juga, paling inget yang misteri hantu hijau.

    Indriani
    mademoiselle.indri@gmail.com
    Kota Tangerang

    BalasHapus
  28. Nama : Muthia Widya Fahir
    Alamat : jln.veteran 3 rt02/03 no.106B ds.banjarsari kec.ciawi kab.bogor 16720
    Email : mwidy34@gmail.com
    Jawaban
    Jika disuruh mengingat buku yg pertama kali dibaca, seingat gua itu adalah serial STOP karya stefan wolf namun selain itu juga ada buku lupus. Makanya waktu ada dilan keluar gua ga kaget dan ga terlalu mengagungkan dilan. Karena ada lupus sebelum dilan yg udah gua kenal hehehehe
    Makasiiih
    Semoga menaaang
    πŸ’•

    BalasHapus
  29. nama: Fembi Rekrisna Grandea Putra
    alamat e-mail: fembi[underscore]rekrisna[at]yahoo[dot]co[dot]id
    kota tempat tinggal kamu: Karanganyar, Jawa Tengah

    Kalau buku apa yang pertama kali saya baca, sudah tentu tidak ingat. Karena saat saya masih seumuran TK, bahkan sebelum TK, ibu saya sudah mengajari membaca dengan membelikan berbagai macam buku cerita anak-anak dan juga yang bertemakan agama.

    Kalau buku yang seingat saya, saya beli dengan sadar, saat masih TK juga, sepertinya adalah komik Detektif Conan. Setiap kali orang tua saya mengajak saya dan kakak saya ke toko buku, sepertinya saya diarahkan untuk membeli komik tersebut oleh kakak saya. Mungkin itu karena kakak saya yang ingin membelinya, tapi menginginkan orang tua kami untuk melihat bahwa saya yang ingin membelinya. Pernah juga saya membeli komik Doraemon di masa itu. Terlepas dari itu semua, hingga sekarang saya masih suka membaca komik Detektif Conan secara online (hingga 1.000 chapter lebih) sekarang, menonton serialnya (hampir 1.000 episode), dan juga menonton film bioskop Detektif Conan dan Doraemon terbaru. Pada saat SD hingga SMA pun, saya dan teman-teman saya sering bertukar komik-komik ini saat masa-masa selesai ujian, ketika siswa dibebaskan membawa komik ke sekolah.

    Saya juga masih ingat, saat saya masih TK, saya pernah mengalami kecelakaan saat dibonceng sepeda motor. Setelah saya selesai diperiksa di rumah sakit dan dibolehkan rawat jalan, orang tua menghibur saya dengan membelikan majalah Bobo yang dijual di depan rumah sakit tersebut. Saya tidak ingat apakah majalah tersebut adalah majalah yang pertama kali saya baca. Tapi yang jelas, saya tetap berlangganan majalah Bobo sejak TK hingga saya lulus SMP.

    Pada saat saya bersekolah dasar kelas 5 atau 6, saya sering diajak ibu saya ke salon langganannya daripada harus menunggu di rumah sendirian. Ibu saya pun meminta pegawai salonnya untuk memberikan buku bacaan kepada saya. Di antara buku-buku tersebut, ada serial novel terjemahan bertemakan detektif (atau misteri) di asrama khusus perempuan yang saya lupa judulnya. Tapi seingat saya, itu adalah novel yang pertama kali saya baca dan bahkan saya meminjam seluruh serialnya (berjumlah sekitar tujuh) untuk dibawa ke rumah dan dibawa ke sekolah (untuk saya baca di perjalanan dari sekolah ke rumah).

    Sekilas info, ternyata, ada dua orang yang berkomentar di atas yang pernah memberikan saya novel secara gratis, hehe.
    Ada mbak Luckty Giyan Sukarno yang pernah saya menangkan giveaway-nya berupa novel Javier karya kak Jessica Huwae. Novel tersebut saya dapatkan saat saya sudah menjadi mahasiswa. Itu pertama kalinya saya mendapatkan novel secara gratis dan membuat saya jatuh cinta lagi dengan novel setelah sekian lama teralihkan oleh majalah dan komik.
    Ada juga mbak Farida Endah yang pernah memberikan saya kesempatan untuk mendapatkan dan bisa membaca novel Glaze karya kak Windry Ramadhina.
    Apakah kak Raafi dan Bibli juga akan menyusul?
    Amin, hehe, terima kasih atas kesempatannya! 😊

    BalasHapus
  30. MUHAMMAD IMAM FAROUQ
    extreme.1302@gmail.com
    Kabupaten Wonosobo

    Bagi saya buku adalah benda yang bisa mengubah banyak hal dalam hidup. Saya hidup dan besar dalam lingkungan keluarga petani yang jauh dari buku. Saat kecil dikala teman-teman akrab dengan majalah Bobo saya tidak mendapatkan kenikmatan memegang majalah yang identik dengan cerita Nirmala itu. Saya hanya bisa memandang majalah tersebut ditoko yang dipajang didepan etalase. Kadang saya mendapatkan keberuntungan bisa membaca sepenggal kisah Nirmala ketika menemukan potongan majalah tersebut dalam bungkus tempe. Senang sekali rasanya bisa membaca potongan majalah tersebut.

    Ketika kelas 3 SD, saya dan teman-teman diberikan kesempatan untuk pertama kali memasuki perpustakaan sekolah, karena aturan sekolah hanya memperbolehkan siswa masuk dan meminjam buku saat sudah kelas 3 SD. Sama seperti kebanyakan anak kecil dan juga anak petani hampir semua teman saya meminjam buku cerita bergambar, namun tidak bagi saya.

    Buku pertama yang saya pinjam dan kemudian saya baca adalah buku dengan judul "Naik Haji Bersama Bapak Ibu"( semoga tidak salah judulnya). Buku itu berisi kisah perjalanan seorang anak bernama Hasan( kalau tidak salah), yang bisa berangkat haji bersama bapak ibunya setelah Keluarga tersebut menjual tanah warisan. Ia dan keluarganya bisa berangkat ke tanah suci. Saya dibuat kagum dengannya juga iri kepada dia, diusia muda sudah bisa pergi haji, dulu saya selalu membayangkan bisa pergi haji karena ibu sering sekali bercerita tentang Makkah yang beliau dengar dari para tetangga yang sudah pernah naik haji.

    Saya juga merasakan iri saat dia bercerita tentang jama'ah haji lainnya dari luar Indonesia yang banyak memandang takjub kepadanya kala dia thawaf di sekeliling Ka'bah, mungkin jama'ah haji lainnya beranggapan bahwa luar biasa sekali bisa naik haji diusia muda seperti itu. Juga membayangkan saat dia mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang ada disana seperti Jabal Rahmah, Jabal Nur, Gua Hira, Masjid Nabawi, dan juga pengalaman dia menitikan air mata saat pertama kali melihat Ka'bah. Buku itu sangat enak dibaca karena saya langsung senang membaca dibuatnya. Bahasanya tidak rumit, juga ada beberapa ilustrasi ala kadarnya terkait tempat yang dia kunjungi. Seperti kata Najwa Shihab "carilah satu buku yang bisa membuatmu jatuh cinta, maka jatuh cintalah", mungkin itulah buku pertama yang saya baca dan membuat saya suka membaca sampai kini. Buku yang mengantarkan saya membaca karya lainnya seperti Layar Terkembang, Salah Asuhan, Siti Nurbaya, Dibawah Lindungan Ka'bah, Ronggeng Dukuh Paruk, Bumi Manusia, Madilog dan buku lainnya.

    Saya sudah sering sekali mencari di internet tentang buku tersebut tapi sampai sekarang tidak pernah ketemu. Buku bersampul kuning dengan gambar dia dan bapak ibunya sedang berada di Masjidil Haram dan dengan tebal sekitar 200 halaman.

    Buku yang dulu adalah benda mahal yang hanya bisa saya impikan untuk dipunyai, kini akrab dengan kehidupan saya sehari hari. Anak petani yang dulu sering meminta dibelikan buku namun selalu dilarang oleh bapak ibu kini bisa mewujudkan impian tersebut, karena bagi saya lebih baik pakaian sedikit tapi buku terus bertambah, itu semua dikarenakan kecintaan saya akan sesuatu bernama buku.

    Buku pula yang membuat saya lebih memahami arti sebuah perbedaan, dimana ada batas yang akan terlihat indah tanpa mempersatukan/ memaksa menyamakan hal tersebut, buku banyak mengubah pola pikir saya, juga banyak memberikan ide saya saat berbicara dengan teman-teman atau bercerita kepada keponakan saya.

    Terimakasih mas Raffi atas pertanyaan sederhana yang mampu membawa saya terbang ke masa lampau dimana mengingatkan saya akan suasana pertama kali masuk perpustakaan sekolah, mengingatkan saya akan saat-saat pertama kali membolak-balik halaman buku, juga mengingatkan saat begitu senangnya saya ketika kartu perpustakaan sekolah saya penuh dengan cap pinjaman. Pertanyaan sederhana yang membuat saya kembali memikirkan akankah saya bisa menemukan buku bersampul kuning tersebut.

    BalasHapus
  31. Nama : Deviana Rahma Azzahra -> bisa dipanggil Devi, Deviana, Alzara, Zara, atau panggil Cibe juga ganapa (itu panggilanku pas SMP btw kkk)
    Email : dra3788@gmail.com
    Kota tempat tinggal : Jakarta Pusat

    Buku yang pertama kali aku baca itu novel Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye, seingat aku, aku masih kecil banget, sekitaran umur 9 tahun. Pas itu aku belum punya uang untuk membeli novel, nabung juga rasanya susah banget karena jajanan SD itu menggoyahkan iman, jadi cuma bisa pinjem di perpustakaan sekolah. Semenjak itu aku jadi suka banget membaca, apa aja aku baca, buku-buku bisnis Papa (walaupun gak ngerti tapi tetep tancep gas, baca sampe abis); buku Pengembangan Diri abang; majalah wanita Mama; sampai kadang kalau bener-bener gak ada bacaan, koran bekas yang mau dibuang aku tahan biar aku baca dulu baru di buang, pokoknya galau banget kalau gak baca buku. Karena mungkin kasian sama aku, Mama mulai langganan majalah Bobo biar aku bisa baca bacaan khusus anak-anak + biar lemari gak aku berantakin buat nyari-nyari bacaan :D Langganan Majalah Bobo itukan harus sabar nunggu edisi berikutnya datang, sedangkan aku cuma butuh waktu 1 jam buat baca keseluruhan majalah, jadi mau gak mau aku ulang-ulang bacain majalah yang udah kebeli sampe hafal dialog-dialog cerita disitu :D

    Sampai sekarang aku jadi sukaa banget baca buku, majalah Bobo dari edisi pertama yang Mama aku beliin juga masih ada, kadang kalau bosen aku baca berulang-ulang (lagi). Yaps, kalau buat membaca aku gak akan pernah bosan walaupun udah berulang kali baca ceritanya karena rasanya tersiksa banget kalo gak baca buku :'( tapi kok aku benci banget ya baca buku pelajaran? haha

    BalasHapus
  32. Nama: Mona Muliasari
    Email: monamulia@gmail.com
    Kota tempat tinggal: Semarang

    Buku pertama yang kubaca "Harry Potter seri 4". Waktu itu masih kelas 1 SMP, dengan lugunya ikutan nulis daftar nama di perpus sekolah buat pinjem novel harry potter (saking ga pernah berhentinya novel harry potter di rak perpus). Dan dengan bodohnya gagal paham sama ceritanya karna ternyata belum pernah baca seri pertama. Sejak saat itulah, aku yakin bahwa aku mencintai buku, hingga detik ini.

    BalasHapus
  33. Nama : Dedik Ariyanto
    Alamat E-mail : Arydetochan@gmail.com
    Domisili : Lamongan

    Buku Pertama kali yang aku baca, agak sedikit Lupa. aku suka buku sejak aku belum bisa membaca. Mungkin saat aku masih kecil. Aku sering dibacakan Ibu Buku Aqidah Akhlaq 3. Milik kakakku saat kelas 3 sekolah dasar. Karena buku ini terdapat banyak cerita, terutama 25 Kisah Nabi dan Rasul.

    Setelah aku masuk SD, buku yang aku baca, Cerita 25 Nabi dan Rasul. seingatku buku itu. mungkin ada buku yang lain tapi ingatanku samar-samar. Saat kelas 2, aku punya kartu keanggotaan perpustakaan sekolah, dan aku ingat buku pertama yang aku pinjam. Judulnya Bila Enau Berbunga karya Slamet Mashuri penerbit Gramedia kalau tidak salah. Bukunya tipis, tapi isi ceritanya masih terkenang sampai hari ini. Makanya aku juga hafal siapa penulisnya, hehehe,... karena buku ini sangat terkesan sekali. ceritanya dua orang sahabat gitu. pesan moral dan motivasinya bagus. Gara-gara Buku ini, aku ingin menjadi penulis. untuk jadi Penulis harus rajin membaca, dan aku mulai suka membaca buku. Namun sampai sekarang belum terwujud. Hehehe,... Jadi kalau membicarakan buku pertama yang aku baca dan sangat berkesan sampai sekarang, aku jawab "Bila Enau Berbunga - Slamet Mashuri"

    BalasHapus