22 Oktober 2017

Lis Penting The Storied Life of A.J. Fikry

Edited by Me

"Sepertinya aku jadi lembek di usia paruh baya. Tapi aku juga berpikir reaksiku belakangan menunjukkan pentingnya menemukan kisah di waktu yang tepat dalam hidup kita. Ingat, Maya: hal-hal yang membuat kita tersentuh pada usia dua puluhan belum tentu sama dengan hal-hal yang membuat kita tersentuh pada usia empat puluhan, begitu pula sebaliknya. Hal ini benar dalam urusan buku, juga kehidupan." (hlm. 45)

Aku berencana untuk tidak menuliskan ulasan lengkap akan buku ini. Sejak awal, aku bahkan tidak berencana untuk membaca ini. Seharusnya aku membaca buku-buku yang ada dalam daftar bacaan hingga akhir tahun dan bukan buku ini. Tapi, seperti yang tertulis pada buku ini, "Terkadang buku-buku tidak menemukan kita hingga saat yang tepat." Mungkin inilah saat yang tepat untuk mengenal kisah hidup A.J. Fikry. Setelah melihat pos Instagram Story Mas Dion dan beberapa teman yang menampilkan buku ini, aku mulai membaca tanpa ekspektasi apa pun. Hanya sebagai bahan baca bareng dan mungkin sedikit bumbu bahwa buku ini baru saja diterbitkan versi terjemahannya. Teman pembaca lain bergurau bahwa buku ini mengingatkan mereka pada Aceng Fikri yang setelah kucari tahu adalah mantan bupati Garut yang dihujat karena kasus kawin siri singkat selama empat hari. Luar biasa!

***

A.J. Fikry dan Aceng Fikri mungkin sama-sama luar biasa namun dari jalur yang berbeda. Walaupun mungkin bebal dan susah bergerak maju, A.J. Fikry satu tingkat lebih tinggi ketimbang Aceng Fikri dalam keluarbiasaan itu. A.J. Fikry bukan figur publik di satu lingkungan. A.J. Fikry juga tidak lari dari pernikahannya. Ia malah begitu mencintai pasangannya. Ia pria yang bertanggung jawab. Ia mengelola sebuah toko buku yang didirikannya bersama mendiang istrinya. Ketika merasa bahwa kematian sang istri tidak bisa dilupakannya, seorang wanita yang mengaku wiraniaga dari salah satu penerbitan datang untuk menawarkan buku-buku terbaru mereka. A.J., begitu ia biasa dipanggil, tidak tahu bahwa wanita itulah yang nantinya akan mengisi kekosongan hidupnya selanjutnya. Beberapa tahun berselang, A.J. menemukan bahwa ada seorang balita berumur 25 bulan tergeletak di lantai toko bukunya yang sengaja tidak dikunci ketika ia pergi. Satu peristiwa yang akan mengubah hidupnya kemudian.

Baik, mari sudahi membanding-bandingkan A.J. Fikry dengan Aceng Fikri.

15 Oktober 2017

Ulasan Buku: Passion Stories + Wawancara Penulis

Judul : Passion Stories
Pengarang : Qalbinur Nawawi
Penerbit: Metagraf (imprint Tiga Serangkai)
Tahun : 2017
Dibaca : 13 Oktober 2017
Rating : ★★★

"Tenang, Bang. Kalaupun kita jatuh nanti, kita nggak bakal ngerasain sakit lagi." (hlm. 69)

Seorang tentara mengatakan hal itu ketika Arbain Rambey dan rombongan tentara Indonesia berada di atas pesawat Hercules pada 2004. Mereka sedang menuju Pakistan yang terkena gempa bumi untuk memberi bantuan beras. Kebocoran oli pada baling-baling pesawat terjadi saat perjalanan, tepatnya saat melintasi hutan. Rasa ketakutan hadir dalam diri Arbain waktu itu. Bagaimana tidak? Ia tahu bahwa tidak ada yang selamat dalam kecelakaan pesawat. Apalagi kondisi mereka yang berada di hutan. Pikirannya sudah kalut memikirkan tragedi pesawat dan keluarga yang belum tentu menemukan mayatnya. "Jujur, saya sudah pasrah," ungkap Arbain. Hingga mukjizat itu datang. Para tentara berinisiatif memperbaiki kerusakan. Mereka membongkar mesin di atas udara saat baling-baling masih berputar. Semua awak pesawat pun selamat.

Secuplik pengalaman di atas dan pengalaman-pengalaman seru nan inspiratif lain dapat kamu temukan dalam "Passion Stories". Buku ini mengangkat kisah para figur publik yang berhubungan dengan karier dan passion. Ada sepuluh figur publik sukses yang ditanyai oleh penulis. Mereka adalah pemilik Kebab Turki Baba Rafi Hendry Setiono, pebisnis yang kini menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno. gitaris Gigi Dewa Budjana, aktor Dion Wiyoko, fotografer Arbain Rambey, Puteri Indonesia 2013 Whulandary Herman, karateka Umar Syarief, penyanyi Rinni Wulandari, penulis Dewi Lestari, dan atlet bulu tangkis Taufik Hidayat. Kesemuanya ditanyai tentang karier dan bagaimana mereka mencapainya yang didasari passion. Setiap orang mengambil jalur hidupnya sendiri. Begitu juga mereka yang diwawancarai dalam buku ini. Walaupun temanya sama-sama perihal passion, namun masing-masing memiliki keseruan kisah dan pandangan yang berbeda.

14 Oktober 2017

Hanyutnya Ikan-Ikan Mati

Edited by Me

Melalui media sosial Twitter, aku tahu seorang teman menunggu-nunggu pergantian hari untuk mendengarkan salah satu lagu teranyar penyanyi favoritnya. Dari situlah aku tahu bahwa Louis Tomlison merilis lagu berjudul "Just Like You", tepatnya pada tanggal 12 lalu. Melalui media sosial Facebook, seorang teman yang lain membeberkan pendapatnya tentang lagu "Just Like You". Ia mengatakan bahwa lagu salah satu member One Direction itu amat berhubungan dengan dirinya yang hidup di tengah bombardir dunia maya. Sebuah tempat yang seolah-olah mengharuskan kita untuk "melakukan sesuatu" setiap hari. "Kita sebenarnya menjalani tekanan yang sama, kesepian yang sama, dan hasrat yang sama untuk dirayakan. Setidaknya melalui dunia maya. Karena di dunia nyata, kita bukan siapa-siapa. Sebegitu kesepiankah manusia di dunia digital?" pungkasnya mengakhiri statusnya.

Betapa media sosial menjadi medium penghubung. Kita bisa tahu opini orang lain, apa yang mereka lakukan, apa yang mereka inginkan, apa atau siapa yang mereka elu-elukan. Selanjutnya, aku coba mendengarkan "Just Like You". Dari liriknya, aku melihat Louis sedang menceritakan dirinya sendiri yang sudah mendapatkan segalanya. Namun, namanya juga manusia, ia juga merasakan apa yang semua orang rasanya. Parahnya, sebagai figur publik, tidak ada yang peduli ketika Louis merasa bosan, stres, dan jatuh. Ia pun mengatakan bahwa lagu ini benar-benar melekat padanya. "Anggapan tentang selebritas itu tidak bisa ditembus dan tidak manusiawi, tapi pada dasarnya, kita semua memiliki masalah yang sama. Patah hati terasa sama, kehilangan terasa sama, semua perasaan ini sama untuk kita semua," ujar Louis.

Kemajuan teknologi melalui media sosial membuat orang merasa penting. Penting untuk berswafoto lalu menyebarkannya. Penting untuk membagikan asal berita sebelum mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Penting untuk membeli barang-barang baru, menu makanan dan minuman baru, menonton film baru rilis, demi menjadi pionir tren. Juga dalam membeli buku baru terbit untuk difoto dan dibagikan walaupun ujung-ujungnya ditaruh di tumpukan timbunan paling atas. Hal-hal yang sebenarnya pada beberapa tahun sebelum ini tidak terlalu penting. Kepentingan yang membuat setiap orang mengorbankan beberapa hal agar tercapainya kepopuleran di media sosial. Tak dipungkiri, aku juga melakukan hal yang sama. Walaupun dengan jenis dan level yang berbeda. Lalu, apa hubungannya dengan "Ikan-Ikan Mati" karya Roy Saputra? Simak ulasan berikut sembari mendengarkan "Just Like You".

06 Oktober 2017

Merawat Kenangan Bersama Forgotten Colors

Edited by Me

"We are always remaking history. Our memory is always an interpretive reconstruction of the past, so is perspective." —Umberto Eco

Akhir-akhir ini, aku senang karena berteman dekat dengan periset sejarah. Nilai Sejarah waktu sekolah dulu tidak bagus-bagus amat tapi aku punya antusiasme tinggi akan apa yang terjadi pada masa lalu. Setelah diceritakan secara gamblang propaganda pemerintah akan Gestapu, beberapa hari lalu aku juga diberi tahu intrik-intrik Hari Sumpah Pemuda yang dicetuskan oleh Presiden Soekarno. Pada 28 Oktober 1928 adalah hari berlangsungnya Kongres Pemuda Kedua. Kongres tersebut tidak pernah menghasilkan keputusan apa pun. Apalagi menghasilkan tiga bait Sumpah Pemuda yang amat terkenal itu. Istilah Sumpah Pemuda baru dikenalkan pada masa pemerintahan Soekarno. Penuturan temanku itu didukung oleh artikel dari Inilah.com. Tulisan dua tahun lalu tersebut menjabarkan bahwa tidak ada dokumen dan bukti sejarah otentik perihal Sumpah Pemuda.

"History has been written by the victors." Adagium tersebut konon dilontarkan oleh Winston Churchill. Ada pula yang mengatakan itu sudah lebih dulu dinyatakan oleh Napoleon. Siapa pun yang mengungkapkannya, kita tidak bisa tidak setuju dengan hal tersebut. Lalu, apa hubungannya dengan "Forgotten Colors" karya Valiant Budi?