17 Mei 2017

Tentang Impian dan Kenyataan dalam A Place You Belong

Judul : A Place You Belong
Pengarang : Nicco Machi
Penerbit: Jendela O'Publishing House
Tahun : 2016
Dibaca : 14 Mei 2017
Rating : ★★★★

Sebenarnya, walaupun suka membaca, aku asing dengan perpustakaan. Aku jarang mengunjungi perpustakaan. Dan ini mengingatkanku dengan perpustakaan Sekolah Dasar-ku di desa. Kondisi perpustakaan SD-ku dahulu bisa dibilang tidak layak. Boro-boro memiliki koleksi yang memadai, tempatnya saja menggunakan rumah bekas tempat tinggal penjaga sekolah. Berada di pojok belakang area sekolah, yang datang ke sana paling-paling siswa yang tidak punya uang jajan untuk dibelanjakan. Jangan tanya berapa banyak buku yang ada di sana, rak bukunya saja hanya ada dua buah yang bahkan tidak terisi penuh. Buku-bukunya kucel, berdebu, dan tidak menarik. Aku ingat sempat datang ke sana dan meminjam buku. Buku yang masih kuingat adalah cerita rakyat dari Indonesia. Entah ada angin apa aku meminjamnya padahal aku tidak begitu suka dengan cerita rakyat. Mungkin aku lupa membawa uang jajan atau barangkali sedang iseng saja.

***

Akhyar mengakhiri dongeng fabelnya. Cerita tentang belalang yang pemalas dan para semut yang amat giat bekerja memberikan penghiburan tersendiri bagi anak-anak di TK An-Nuur tempat Akhyar mendongeng kali ini. Sudah beberapa tahun sejak lulus kuliah dan ia masih setia dengan pekerjaannya yang merupakan passion-nya sejak lama: menjadi pendongeng. Ia bernaung di bawah Satriacarita, sebuah organisasi yang memberikan pelatihan-pelatihan mendongeng bagi yang berminat dan menyalurkan para pendongeng ke sekolah dan institusi yang membutuhkan jasa mendongeng. Penghasilan Satriacarita didapat dari sponsor, hasil kerja sama dengan pihak-pihak tertentu, CSR perusahaan, hingga donasi pribadi dari orang yang peduli. Setidaknya, Akhyar tahu apa passion-nya. Dan yang terpenting, ia menyenangi pekerjaannya itu.

Masih di dalam kelas, Akhyar terkejut ketika melihat Helia berdiri di depan pintu kelas. Akhyar buru-buru keluar dan bertanya kabar dengan teman sekelas di jurusannya itu. Helia makin cantik dan sepertinya sudah sukses. Tapi, kenapa cewek itu ada di sini di Semarang? Bukannya ia bekerja di Jakarta sebagai pustakawan? Apa yang membuatnya kembali ke kota tempatnya menuntut ilmu? Dan, kenapa ia tahu Akhyar sedang mendongeng di TK biasa-biasa saja seperti ini? Ada secercah harap yang merambati Akhyar untuk menyelesaikan apa yang tidak terselesaikan dahulu. Apakah ini takdirnya? Takdir mereka berdua?

***

Sejak pertama mengetahui buku ini diterbitkan, aku merasa harus membacanya. Aku punya keyakinan bahwa buku ini memiliki sesuatu. Entah apa, tapi sesuatu. Satu hal yang kutahu tentang buku ini adalah tema perpustakaan yang diangkat oleh penulis yang juga seorang lulusan ilmu perpustakaan. Aku mendapati buku ini ternyata novel romance. Penasaran dengan kisah apa yang bisa diceritakan dengan tema perpustakaan, aku bakal merasa bosan jika premisnya adalah kisah pemustaka dan pustakawan yang sering bertemu di perpustakaan. Untungnya tidak. Benar bahwa tokoh utamanya seorang pustakawan, tapi ia tidak menyukai pemustaka. Bahkan latar ceritanya tidak di perpustakaan. Aku langsung tertarik. Mengingat bukunya tidak tebal-tebal amat, aku bisa menyelesaikannya kurang dari dua jam. Dan ternyata, kisahnya lebih dari sekadar kisah dua sejoli yang berkutat dengan perpustakaan.

Persepsi menjadi lulusan ilmu perpustakaan. Undang-undang tentang perpustakaan. Mendongeng sebagai bagian dari aktivitas kepustakaan. Hal-hal itu dan masih ada beberapa hal lain tentang ilmu perpustakaan dan aplikasinya dijabarkan pada dalam buku ini. Sungguh memberikan wawasan. Namun, sayangnya, penyisipannya masih kentara dengan paragraf-paragraf deskriptif dan panjang pada dialog sehingga membuat pembaca seakan-akan dijelaskan dengan rincian-rincian khas buku teks. Bagusnya untukku, aku tidak mempermasalahkannya. Toh aku juga ingin tahu tentang ilmu perpustakaan semacam itu. Dan, bagusnya lagi paragraf-deskriptif-bagai-buku-teks ini adalah satu-satunya poin yang harus diperhatikan dari buku ini.

Edied by Me

Sejak awal baca, aku suka dengan alur maju-mundur yang dihadirkan oleh penulis pada buku ini. Menurutku, kelebihan dari alur seperti ini adalah membuat ceritanya terlihat lebih jelas dengan hubungan sebab-akibat yang diberikan oleh alur itu sendiri. Pemilihan sudut pandang orang ketiga pelaku utama yang disandang Helia juga membuat kisahnya dramatis namun tidak bertele-tele. Poin-poin ini bagai mencerminkan penulis sudah tahu teknik menulis yang bisa bikin pembaca menyukai ceritanya.

Impian yang Menabrak Kenyataan

Sudah dipastikan bahwa buku ini juga menyiratkan bagaimana passion yang berhubungan dengan idealitas seseorang harus berkompromi dengan realitas yang ada. Di dalam cerita, percakapan Helia dengan pakdenya sesaat setelah Ujian Nasional SMA dilaksanakan menggulirkannya. Helia ingin masuk jurusan ilmu perpustakaan. Helia ingin menjadi pustakawan. Helia bahkan memiliki impian mulia dengan pekerjaannya itu: membuat orang lain lebih sering baca buku. Pakde Yono yang awalnya mencibir pilihan Helia jadi melunak karena Helia bisa meyakinkannya. Semua masih berjalan sesuai apa yang Helia harapkan hingga ia melihat kenyataan di lapangan yang terjadi, yaitu saat KKN. Perpustakaan yang sepi dan tidak menarik. Pustakawan yang tidak memiliki jiwa mulia sepertinya dan bahkan bisa bermain dengan anggaran yang diberikan kepada mereka. Semuanya semakin kabur ketika Helia bekerja di Jakarta. Impian mulia Helia terlihat amat sulit untuk diwujudkan. Hal ini jugalah yang mungkin jadi jawaban pertanyaan Akhyar di atas.

Oke. Mungkin realitas di dalam buku fiksi akan tetap menjadi fiksi. Tapi, aku yakin bahwa penulis sudah melakukan dan melihat banyak hal tentang seluk-beluk passion pustakawan semacam itu dan membuatnya terlihat lebih nyata dan mudah diterima di hadapan pembaca. Dan, aku pun bisa mengangguk setuju apabila masalah-masalah semacam itu benar terjadi di kehidupan nyata para pustakawan. Bagi yang idealismenya tinggi sudah barang tentu hal-hal semacam menilep uang yang bukan miliknya tidak akan menggentarkan hatinya. Namun, bagaimana jika mereka dihadapkan pada kenyataan lain: mereka butuh uang lebih karena gaji sebagai pustakawan tidak seperti gaji akuntan atau pengacara? Bagaimana jika mereka ingin membantu orang yang mereka cintai dengan cara yang paling bisa mereka lakukan seperti Helia yang ingin membantu pacarnya, Ervan, untuk keluar dari jeratan utang? Hal-hal ini sungguh masuk akal.

Aku bisa berempati dengan Helia. Di dalam buku ini, Akhyar bilang bahwa ada banyak cara mengabdi di bidang Ilmu Perpustakaan tanpa harus menjadi pustakawan. Dan hal ini membuatku ingat tentang perkataan temanku bahwa untuk menjalani apa yang diimpikan tidak selalu melalui jalan yang tepat. Biar aku mengutip kata-katanya: "Mimpi itu... Passion itu... Nggak harus tercapai, tapi harus tetap ada supaya kita hidup. Mimpi dan passion itu bisa jadi tujuan hidup, tapi tujuan nggak harus tercapai. Asal ada, kita akan jalan maju. Asal hidup ada arahnya. Asal hidup ada bahan bakarnya. Itu gunanya mimpi. Itu perannya passion." Mungkin hal itulah yang harus diterapkan oleh setiap orang seperti Helia. Setiap orang yang memiliki passion dan idealisme namun terbentur dengan kenyataan yang ada. Aku pun berkali-kali baca perkataan temanku itu dan berkali-kali mataku berkaca-kaca karena itu begitu tepat. Tidak ada kata lain. Terima kasih, Rifda.

Bacalah buku ini dan kamu akan berpikir dan mungkin merenung tentang passion dan hadirnya realitas yang kadang sejalan namun seringkali tidak. Dan satu hal yang pasti: tentukan dahulu apa passion-mu karena itu yang akan membuatmu hidup! Setelahnya, kamu akan tahu di mana tempatmu seharusnya berada. Untuk ukuran debut, buku ini bagus sekali!


"Mana ada sih perjuangan yang gampang? Tapi berjuang di bidang yang kita senangi lebih enak, kan?" (hal. 58)

Ulasan ini diikutsertakan dalam "Read and Review Challenge 2017" kategori Debut Authors.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Back to Top