22 Oktober 2017

Lis Penting The Storied Life of A.J. Fikry

Edited by Me

"Sepertinya aku jadi lembek di usia paruh baya. Tapi aku juga berpikir reaksiku belakangan menunjukkan pentingnya menemukan kisah di waktu yang tepat dalam hidup kita. Ingat, Maya: hal-hal yang membuat kita tersentuh pada usia dua puluhan belum tentu sama dengan hal-hal yang membuat kita tersentuh pada usia empat puluhan, begitu pula sebaliknya. Hal ini benar dalam urusan buku, juga kehidupan." (hlm. 45)

Aku berencana untuk tidak menuliskan ulasan lengkap akan buku ini. Sejak awal, aku bahkan tidak berencana untuk membaca ini. Seharusnya aku membaca buku-buku yang ada dalam daftar bacaan hingga akhir tahun dan bukan buku ini. Tapi, seperti yang tertulis pada buku ini, "Terkadang buku-buku tidak menemukan kita hingga saat yang tepat." Mungkin inilah saat yang tepat untuk mengenal kisah hidup A.J. Fikry. Setelah melihat pos Instagram Story Mas Dion dan beberapa teman yang menampilkan buku ini, aku mulai membaca tanpa ekspektasi apa pun. Hanya sebagai bahan baca bareng dan mungkin sedikit bumbu bahwa buku ini baru saja diterbitkan versi terjemahannya. Teman pembaca lain bergurau bahwa buku ini mengingatkan mereka pada Aceng Fikri yang setelah kucari tahu adalah mantan bupati Garut yang dihujat karena kasus kawin siri singkat selama empat hari. Luar biasa!

***

A.J. Fikry dan Aceng Fikri mungkin sama-sama luar biasa namun dari jalur yang berbeda. Walaupun mungkin bebal dan susah bergerak maju, A.J. Fikry satu tingkat lebih tinggi ketimbang Aceng Fikri dalam keluarbiasaan itu. A.J. Fikry bukan figur publik di satu lingkungan. A.J. Fikry juga tidak lari dari pernikahannya. Ia malah begitu mencintai pasangannya. Ia pria yang bertanggung jawab. Ia mengelola sebuah toko buku yang didirikannya bersama mendiang istrinya. Ketika merasa bahwa kematian sang istri tidak bisa dilupakannya, seorang wanita yang mengaku wiraniaga dari salah satu penerbitan datang untuk menawarkan buku-buku terbaru mereka. A.J., begitu ia biasa dipanggil, tidak tahu bahwa wanita itulah yang nantinya akan mengisi kekosongan hidupnya selanjutnya. Beberapa tahun berselang, A.J. menemukan bahwa ada seorang balita berumur 25 bulan tergeletak di lantai toko bukunya yang sengaja tidak dikunci ketika ia pergi. Satu peristiwa yang akan mengubah hidupnya kemudian.

Baik, mari sudahi membanding-bandingkan A.J. Fikry dengan Aceng Fikri.

15 Oktober 2017

Ulasan Buku: Passion Stories + Wawancara Penulis

Judul : Passion Stories
Pengarang : Qalbinur Nawawi
Penerbit: Metagraf (imprint Tiga Serangkai)
Tahun : 2017
Dibaca : 13 Oktober 2017
Rating : ★★★

"Tenang, Bang. Kalaupun kita jatuh nanti, kita nggak bakal ngerasain sakit lagi." (hlm. 69)

Seorang tentara mengatakan hal itu ketika Arbain Rambey dan rombongan tentara Indonesia berada di atas pesawat Hercules pada 2004. Mereka sedang menuju Pakistan yang terkena gempa bumi untuk memberi bantuan beras. Kebocoran oli pada baling-baling pesawat terjadi saat perjalanan, tepatnya saat melintasi hutan. Rasa ketakutan hadir dalam diri Arbain waktu itu. Bagaimana tidak? Ia tahu bahwa tidak ada yang selamat dalam kecelakaan pesawat. Apalagi kondisi mereka yang berada di hutan. Pikirannya sudah kalut memikirkan tragedi pesawat dan keluarga yang belum tentu menemukan mayatnya. "Jujur, saya sudah pasrah," ungkap Arbain. Hingga mukjizat itu datang. Para tentara berinisiatif memperbaiki kerusakan. Mereka membongkar mesin di atas udara saat baling-baling masih berputar. Semua awak pesawat pun selamat.

Secuplik pengalaman di atas dan pengalaman-pengalaman seru nan inspiratif lain dapat kamu temukan dalam "Passion Stories". Buku ini mengangkat kisah para figur publik yang berhubungan dengan karier dan passion. Ada sepuluh figur publik sukses yang ditanyai oleh penulis. Mereka adalah pemilik Kebab Turki Baba Rafi Hendry Setiono, pebisnis yang kini menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno. gitaris Gigi Dewa Budjana, aktor Dion Wiyoko, fotografer Arbain Rambey, Puteri Indonesia 2013 Whulandary Herman, karateka Umar Syarief, penyanyi Rinni Wulandari, penulis Dewi Lestari, dan atlet bulu tangkis Taufik Hidayat. Kesemuanya ditanyai tentang karier dan bagaimana mereka mencapainya yang didasari passion. Setiap orang mengambil jalur hidupnya sendiri. Begitu juga mereka yang diwawancarai dalam buku ini. Walaupun temanya sama-sama perihal passion, namun masing-masing memiliki keseruan kisah dan pandangan yang berbeda.

14 Oktober 2017

Hanyutnya Ikan-Ikan Mati

Edited by Me

Melalui media sosial Twitter, aku tahu seorang teman menunggu-nunggu pergantian hari untuk mendengarkan salah satu lagu teranyar penyanyi favoritnya. Dari situlah aku tahu bahwa Louis Tomlison merilis lagu berjudul "Just Like You", tepatnya pada tanggal 12 lalu. Melalui media sosial Facebook, seorang teman yang lain membeberkan pendapatnya tentang lagu "Just Like You". Ia mengatakan bahwa lagu salah satu member One Direction itu amat berhubungan dengan dirinya yang hidup di tengah bombardir dunia maya. Sebuah tempat yang seolah-olah mengharuskan kita untuk "melakukan sesuatu" setiap hari. "Kita sebenarnya menjalani tekanan yang sama, kesepian yang sama, dan hasrat yang sama untuk dirayakan. Setidaknya melalui dunia maya. Karena di dunia nyata, kita bukan siapa-siapa. Sebegitu kesepiankah manusia di dunia digital?" pungkasnya mengakhiri statusnya.

Betapa media sosial menjadi medium penghubung. Kita bisa tahu opini orang lain, apa yang mereka lakukan, apa yang mereka inginkan, apa atau siapa yang mereka elu-elukan. Selanjutnya, aku coba mendengarkan "Just Like You". Dari liriknya, aku melihat Louis sedang menceritakan dirinya sendiri yang sudah mendapatkan segalanya. Namun, namanya juga manusia, ia juga merasakan apa yang semua orang rasanya. Parahnya, sebagai figur publik, tidak ada yang peduli ketika Louis merasa bosan, stres, dan jatuh. Ia pun mengatakan bahwa lagu ini benar-benar melekat padanya. "Anggapan tentang selebritas itu tidak bisa ditembus dan tidak manusiawi, tapi pada dasarnya, kita semua memiliki masalah yang sama. Patah hati terasa sama, kehilangan terasa sama, semua perasaan ini sama untuk kita semua," ujar Louis.

Kemajuan teknologi melalui media sosial membuat orang merasa penting. Penting untuk berswafoto lalu menyebarkannya. Penting untuk membagikan asal berita sebelum mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Penting untuk membeli barang-barang baru, menu makanan dan minuman baru, menonton film baru rilis, demi menjadi pionir tren. Juga dalam membeli buku baru terbit untuk difoto dan dibagikan walaupun ujung-ujungnya ditaruh di tumpukan timbunan paling atas. Hal-hal yang sebenarnya pada beberapa tahun sebelum ini tidak terlalu penting. Kepentingan yang membuat setiap orang mengorbankan beberapa hal agar tercapainya kepopuleran di media sosial. Tak dipungkiri, aku juga melakukan hal yang sama. Walaupun dengan jenis dan level yang berbeda. Lalu, apa hubungannya dengan "Ikan-Ikan Mati" karya Roy Saputra? Simak ulasan berikut sembari mendengarkan "Just Like You".

06 Oktober 2017

Merawat Kenangan Bersama Forgotten Colors

Edited by Me

"We are always remaking history. Our memory is always an interpretive reconstruction of the past, so is perspective." —Umberto Eco

Akhir-akhir ini, aku senang karena berteman dekat dengan periset sejarah. Nilai Sejarah waktu sekolah dulu tidak bagus-bagus amat tapi aku punya antusiasme tinggi akan apa yang terjadi pada masa lalu. Setelah diceritakan secara gamblang propaganda pemerintah akan Gestapu, beberapa hari lalu aku juga diberi tahu intrik-intrik Hari Sumpah Pemuda yang dicetuskan oleh Presiden Soekarno. Pada 28 Oktober 1928 adalah hari berlangsungnya Kongres Pemuda Kedua. Kongres tersebut tidak pernah menghasilkan keputusan apa pun. Apalagi menghasilkan tiga bait Sumpah Pemuda yang amat terkenal itu. Istilah Sumpah Pemuda baru dikenalkan pada masa pemerintahan Soekarno. Penuturan temanku itu didukung oleh artikel dari Inilah.com. Tulisan dua tahun lalu tersebut menjabarkan bahwa tidak ada dokumen dan bukti sejarah otentik perihal Sumpah Pemuda.

"History has been written by the victors." Adagium tersebut konon dilontarkan oleh Winston Churchill. Ada pula yang mengatakan itu sudah lebih dulu dinyatakan oleh Napoleon. Siapa pun yang mengungkapkannya, kita tidak bisa tidak setuju dengan hal tersebut. Lalu, apa hubungannya dengan "Forgotten Colors" karya Valiant Budi?

17 September 2017

Penerbit Indie dan Penerbit Mayor Jalan Berbarengan

Edited by Me

Saat berada di Jogja beberapa waktu lalu, aku sempat mengobrol dengan teman komunitas yang merupakan salah satu editor penerbitan di sana. Tidak ingat bahasan apa yang kami obrolkan waktu itu, tapi ada satu kepingan obrolan yang masing terngiang dalam benak. Aku bertanya tentang beberapa buku terjemahan dari penerbit-penerbit indie. Sepengetahuanku, beberapa penerbit indie tidak hanya menerbitkan terjemahan klasik yang hak penerjemahannya sudah jadi ranah publik (public domain), tetapi juga buku-buku yang baru belasan tahun lalu diterbitkan di negara asal mereka. Temanku itu mengatakan secara gamblang bahwa kebanyakan dari penerbit indie di Indonesia tidak memikirkan hak penerjemahannya. Mereka hanya terjemahkan dan terbitkan. Bukan lagi rahasia, hal yang sama pun disampaikan oleh Teddy W. Kusuma dalam acara Beranda Sastra #9 Sabtu kemarin.

***

Intermeso sebelum melanjutkan topik penerbit indie itu. Belakangan ini, aku kerap menayangkan hal-hal yang menurutku penting untuk dibagi melalui Instagram Story. Saat acara Beranda Sastra #9, aku membagikan poster acara dengan catatan tambahan: "kalo nggak baca buku, nulis tentang buku, ya datang ke acara buku". Tak berapa lama, seseorang berkomentar "flat life". Di situ saya tertohok. Saya tahu dia, dia bahkan juga suka membaca. Mungkin itu adalah sikap impulsifnya. Atau mungkin dia bercanda. Banyak pengandaian yang saya pasang untuk mengurungkan rasa benci saya. Tapi, tidak bisa. Saya membalas, "Emang hidup lo nggak flat?"

Saking terpikirkannya pernyataan itu, saya sampai membagikan percakapan itu di Instagram Story. Beberapa teman pembaca meresponsnya. Seorang menimpali, "Kalau saya sih hidupnya round. Saya nggak percaya yang flat-flat. Apalagi flat earth." Sungguh respons yang bikin sedikit tergelak. Teman lain berujar, "Nggak tau sensasinya mungkin yang komentar, Raaf." Yang lain lagi berkata, "Kupikir itu malah seru banget. Beda orang beda kesukaan sih." Sampai pada pernyataan itu, aku diingatkan kembali betapa membaca buku adalah hobi. Sama dengan aku yang tidak hobi makan, rekan kerja saya itu juga tidak terlalu suka membaca. Satu respons terakhir dari seseorang yang menggenapi pernyataan sebelumnya: "balas gini aja, 'If I'm living pursuing things I like and love, how could it be flat?'" Lalu, apa intinya? Aku hanya ingin berbagi pengalaman saat suatu hal yang kamu sukai dinilai "flat life". Jadi, bijak-bijaklah dalam berkomentar.

13 September 2017

Mentertawakan Hidup Bersama Belajar Lucu dengan Serius

Judul : Belajar Lucu dengan Serius
Pengarang : Hasta Indriyana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2017
Dibaca : 12 September 2017 (via SCOOP)
Rating : ★★★★

"O, maaf, bagaimana kalian akrab
Dengan maaf? Apakah kalian
Teman-teman maaf?"

—Teman-Teman Maaf  (hal. 29)

Halo! Apa kabar, kawan? Menjadi orang yang punya resolusi dan harus menyesuaikan diri dengan keinginan tersebut sungguh melelahkan ya. Resolusi tahun ini untuk mempos ulasan lebih sering ternyata, bisa dibilang, gagal total. Tapi setidaknya, aku berusaha melakukannya minimal sekali sebulan. Tentu aku tidak menganggap resolusi dan menggenapinya adalah hal yang enteng. Malah aku hampir bertanya-tanya kenapa aku semakin jarang menulis padahal itulah keahlian yang seharusnya lebih banyak diasah. Bagaimana bisa terampil bila tidak dilakukan secara rutin dan kontinu? Lihat betapa hal itu harus dipikirkan. Aku tidak bisa tidak mengindahkan apa saja yang kuhadapi lebih-lebih masalah yang datang. Segalanya harus dipikirkan matang-matang. Rencana hari ini harus benar-benar jelas, harus ditulis di secarik kertas, agar tidak terlewat. Kalau tiba-tiba masalah datang, aku harus memiliki banyak jurus untuk menghadapinya dan menyelesaikannya.

Pandangan diriku yang kaku dan serius ditonjok begitu saja oleh "Belajar Lucu dengan Serius". Dinding kekakuan itu penyok dan membuatku harus cepat-cepat memilih jurus yang tepat untuk memperbaikinya. Itu yang seharusnya kulakukan. Tapi, dinding penyok itu sedikit demi sedikit kubiarkan. Toh hanya penyok kan? Tidak runtuh seluruhnya. Aku tidak bisa menjadikannya seperti semula. Pun ketika diperbaiki, pasti tidak akan sempurna seperti sedia kala. Aku hanya butuh membiarkannya, menerimanya, dan melanjutkan apa yang seharusnya kukerjakan. Atau bisa saja aku membuatnya lelucon. Atau membuat gambar dari hal penyok itu. Perlu rasanya untuk menertawakan diri sendiri bak Gusdur. Atau "menikmatinya dengan ringan sebagaimana punakawan" seperti yang disampaikan Hasta.

22 Agustus 2017

Ulasan Buku: AndaiKita + Giveaway

Edited by Me

Seorang penulis yang didiagnosis mengidap skizofrenia, Pamela Spiro Wagner, sempat menulis puisi berjudul How to Read a Poem: Beginner’s Manual. Puisi yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Hasan Aspahani itu menyiratkan bahwa membaca puisi tidak perlu keahlian khusus. Bagai membaca jenis bacaan lain, membaca puisi ya hanya membaca saja tanpa perlu risau bingung atas apa maksud penyair dalam puisinya atau bagaimana menginterpretasikan puisi-puisi tersebut. Wagner juga menulis: Jangan anggap makna bersembunyi menghindarimu: / Makna puisi terbaik ada dalam apa yang terkatakan padanya. Tidak lagi menyiratkan apa yang harus dilakukan, ia benar-benar menyuratkan secara gamblang untuk membaca saja. Di akhir sajaknya, Wagner mengingatkan: Bila kau bisa menyebut lima nama penyair / tidak termasuk Bob Dylan, / dan bahkan kau melebihi jumlah itu / tanpa kau menyadarinya, / maka berhentilah membaca manual ini. Kamu bisa membaca puisi lengkapnya di sini. Jadi, baca sajalah puisinya!

Begitulah yang kulakukan ketika membaca setiap buku puisi yang ada di hadapanku. Aku mengerti dengan apa yang ingin disampaikan oleh Wagner. Bahwa banyak dari pembaca yang ogah-ogahan untuk membaca puisi karena merasa khawatir bila apa yang dibacanya tidak dapat dimengerti. Bahwa banyak di antara mereka yang masih mencari-cari arti dan maksud dari puisi-puisi karangan sang penyair. Apalagi bila diksinya asing dan berbunga-bunga yang sebenarnya sudah sewajarnya. Padahal, kalau mengesampingkan hal-hal tersebut, puisi-puisi itu akan habis dibaca. Benar butuh waktu dan suasana yang tepat ketika membaca puisi, karena aku pun begitu. Jika kamu salah satu yang merasa seperti itu, ciciplah buku puisi yang satu ini. Mungkin kamu akan berubah pikiran.

21 Agustus 2017

Ulasan Buku: Lady Susan

Judul : Lady Susan
Pengarang : Jane Austen
Penerbit: Qanita
Tahun : 2016
Dibaca : 14 Juni 2017
Rating : ★★★

"Aku hendak memintamu, Alicia sayang, untuk memberiku selamat: aku kembali menjadi diriku sendiri, ceria dan berjaya!" (hal. 87)

Pada pos sebelumnya, aku bertekad mengejar ketertinggalanku dalam mengulas buku-buku yang kubaca sejak Juni lalu. Dan, tahukah kamu bahwa hal ini sungguh jadi beban berat? Aku tetap membaca buku-buku namun keinginan untuk mengulas masih stagnan alias tidak ada kemajuan. Hal itu mengakibatkan tumpukan buku-buku-yang-sudah-dibaca-tetapi-harus-diulas semakin meninggi. Aku coba mencari-cari penyebab atas kemunduranku yang satu ini. Yang paling bisa diterka adalah waktu kerjaku yang terlalu fleksibel tapi kurang disiplin. Selain itu, juga karena kerjaanku sekarang menuntut harus dilakukan tanpa cela sehingga memerlukan fokus tinggi. Apalagi pekerjaannya adalah menulis. Serasa semua konsentrasiku harus tertuju pada pekerjaanku saja tanpa memikirkan rutinitasku yang lain, seperti menulis ulasan buku.

Pos kali ini adalah ulasan novel klasik yang selesai dibaca pada minggu kedua bulan Juni lalu. Lady Susan adalah karya Jane Austen pertama yang kucicipi. Membelinya karena sangat ingin baca karya penulis klasik wanita termasyhur ini namun yang tidak tebal-tebal amat. Memang, bukunya tidak kurang dari 130 halaman. Dan membaca buku ini sungguh menyenangkan. Aku membayangkan cerita ala-ala sinetron yang dibuat pada masa silam dengan latar kehidupan orang-orang borjuis. Mereka yang selalu mengenakan gaun-gaun menggembung dan tuksedo-tuksedo dengan celana yang tingginya di atas mata kaki.

***

Susan Vernon atau biasa kalangan atas memanggilnya Lady Susan sedang berkabung atas kematian suaminya. Bersamaan dengan itu, ia yang selalu hidup dalam gelimangan harta tidak mau berlama-lama meratapi nasib dan harus mencari suami baru yang kaya raya untuk dirinya sendiri dan untuk putrinya, Frederica. Keinginan yang menggebu-gebu ditambah kecantikannya yang tidak bisa ditolak oleh para laki-laki menimbulkan rumor buruk di masyarakat London. Lady Susan membawa Frederica terpaksa pindah ke rumah adik iparnya di desa untuk sementara waktu untuk meredakan rumor yang mengintainya. Apakah tujuan utamanya dalam mencari pasangan baru membuahkan hasil mengingat ia harus pindah ke tempat lain? Bagaimana dengan Frederica yang juga sebenarnya sudah harus mencari pasangan untuk dirinya sendiri?

25 Juli 2017

Ulasan Buku: The Five People You Meet in Heaven

Judul : Meniti Bianglala
Judul Asli : The Five People You Meet in Heaven
Pengarang : Mitch Albom
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2014
Dibaca : 11 Juni 2017
Rating : ★★★★

"Orang-orang asing adalah keluarga yang masih belum kaukenal." (hal. 54)

Sadarkah kenapa aku baru menayangkan ulasan buku yang sudah dibaca hampir dua bulan lalu? Entah apa atau siapa yang merasuki, aku sendiri pun tidak tahu sampai aku menyadarinya. Aku terjangkit blogging slump! Kemerosotanku untuk menulis ulasan buku di blog kali ini sepertinya sudah mengkhawatirkan. Pada April lalu, semuanya masih baik-baik saja. Aku bahkan bisa menayangkan 11 pos bulan itu. Namun, gejala-gejalanya sudah mulai terlihat pada bulan berikutnya yang mana blog ini kuperbarui dengan empat pos saja. Semuanya semakin menjadi pada bulan Juni. Aku hanya menulis satu pos saja! Aku sedikit kecewa pada diriku, dan bertanya-tanya kenapa aku bisa terjangkit penyakit yang amat ditakuti setiap blogger. Pada awal Juli, aku bertekad untuk membagi waktu untuk mengejar ketertinggalan dengan menuliskan semua ulasan buku yang kubaca sejak Juni. Setidaknya satu buku demi satu buku. Sungguh, penyakit seperti ini memang tidak enak.

***

Sejak lahir hingga menjemput ajalnya, Eddie hidup di taman hiburan. Ia hanya sempat berada di tempat lain saat menjadi satu dari sekian banyak prajurit yang berperang di Filipina. Selain itu, sepanjang hidupnya, Eddie bekerja di sana, memperbaiki dan merawat berbagai wahana.

Hari itu terasa berbeda di taman hiburan. Diawali dengan seorang wanita gemuk yang membawa tas belanja yang meneriakkan, "Ya, Tuhan! Lihat!" Dilanjutkan dengan banyak orang yang berkerumun di sekitar Freddy's Free Fall, wahana baru yang menantang para pemberani laiknya jatuh dari menara tinggi. Wahana tersebut oleng, salah satu kabinnya terlihat miring. Empat penumpang yang terdiri atas dua lelaki dan dua perempuan tertahan palang pengaman, berpegang kuat-kuat pada apa pun yang bisa mereka pegang. Eddie, sebagai kepala perawatan di taman hiburan itu bergegas untuk menolong mereka. Ia tentu sekilas bertanya-tanya apa yang terjadi padahal ia sudah yakin betul bahwa wahana itu sudah terawat baik. Semua berjalan cepat hingga bersisa Eddie dan gadis cilik di sekitar tempat kejadian. Gadis cilik yang terkapar di landasan dan Eddie yang akan menyelamatkan serta kabin yang menggantung menunggu angin untuk menjatuhkannya.

17 Juli 2017

Blog Tour: Erstwhile + Giveaway

Judul : Erstwhile: Persekutuan Sang Waktu
Pengarang : Rio Haminoto
Penerbit: Koloni (imprint M&C!)
Tahun : 2017

Bicara soal artefak, aku teringat sebuah obrolan dengan rekan kerja yang amat suka sejarah. Ia sedang menggandrungi majalah dan koran zaman dahulu. Katanya, ia membeli dari salah satu pelapak daring yang ada di media sosial. Katanya, harga untuk satu koran lawas sekitar dua ratus lima puluh ribu rupiah. Nilai yang fantastis untuk lembaran yang maksimal hanya empat halaman saja. Ia pun bercerita bagaimana alur barang-barang lama itu sampai ke tangannya. Sebagian besar berasal dari kantor arsip daerah yang sudah mendigitalisasikan majalah dan koran sehingga mereka tidak memerlukan bentuk fisiknya lagi. Ada oknum pengepul yang mengumpulkan barang-barang itu dan dijual dengan harga murah. Kemudian, ada para pedagang yang membeli dan menjualnya kembali dengan nilai yang lumayan merogoh kocek. Hal ini terlihat ironis namun memang begitu realitasnya.

Aku membicarakan barang-barang lawas karena mungkin dalam beberapa puluh bahkan ratus tahun mendatang akan menjadi begitu berharga. Itu mirip seperti artefak yang menjadi incaran para kolektor dan banyak oknum yang meraup keuntungan dari hasil lelang. Satu hal yang pasti: semakin berumur barang-barang itu, semakin mahallah harganya. Ini yang terjadi ketika Raphael Harijono atau biasa dipanggil Rafa yang begitu menggemari artefak. Ia ingin mengetahui lebih lanjut tentang masa kejayaan Kerajaan Majapahit melalui artefak-artefak yang dimilikinya.

Sudah dapat ditebak bahwa buku ini adalah fiksi yang menyatukan romansa dengan sejarah. Tak hanya itu, kisah ini pun dibalut dengan sedikit sentuhan fiksi ilmiah yaitu dengan perjalanan waktu. Dibawakan dengan dua sudut pandang berbeda, buku ini memberikan sentuhan berbeda dalam sebuah karya fiksi historis. Sudut pandang pertama dibawakan oleh Picaro Donevante dengan latar zaman tahun 1300-an dari Paris di benua biru sampai tanah nusantara. Picaro menggunakan sudut pandang orang pertama. Sudut pandang kedua dibawakan oleh Rafa dengan latar masa kini dan menggunakan sudut pandang orang ketiga. Perbedaan yang mencolok ini memberikan angin segar pada cerita dan menurutku malah membuatnya tidak membosankan. Itu yang penting bagi sebuah karya fiksi historis yang memerlukan banyak narasi dalam setiap penjelasannya.

15 Juni 2017

Ulasan Buku: Three Sisters

Judul : Three Sisters
Pengarang : Seplia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2017
Dibaca : 26 Mei 2017
Rating : ★★★★

Dalam vlog yang diunggahnya pada Oktober dua tahun lalu, Connor Franta membagikan pendapatnya tentang pertanyaan paling penting yang harus kamu tanyakan pada diri sendiri. Ada tiga pertanyaan yang harus ditelisik ketika kamu akan melakukan sesuatu: apa, bagaimana, dan mengapa. Connor mencobanya dengan pertanyaannya sendiri; apa video yang akan dibuat, bagaimana cara membuatnya, dan kenapa dia membuatnya. Pertanyaan terakhirlah yang amat penting sehingga menimbulkan berbagai macam pemikiran yang tidak bisa dijawab secara langsung dan cepat. Pertanyaan-pertanyaan "Mengapa kamu melakukan apa yang kamu lakukan?", "Mengapa kamu percaya apa yang kamu percayai?", dan "Mengapa kamu menganggap suatu hal benar atau salah?" menjadi contoh-contoh yang diajukan Connor dan membuktikan betapa menjawabnya butuh waktu tidak sebentar. Bila perlu, lakukan kontemplasi untuk tahu jawaban yang tepat.

***

Kedua orang tua Rera akan ke luar negeri selama beberapa bulan. Maminya berpesan agar Rera dan adik-adiknya akur selama ditinggal olehnya. Maminya juga meminta Rera untuk mengurus kedua adiknya. Tak lupa, papinya juga berpesan kepada kedua adik Rera untuk mendiskusikan masalah yang mereka miliki dengan si sulung. Itu pun bila ada. Dan masih banyak pesan dari Mami dan Papi kepada tiga bersaudari itu. Rera mungkin akan menganggapnya lumrah kalau saja kedua adiknya masih kecil atau remaja. Tapi Gina dan Yumi masing-masing sudah punya suami. Bahkan Gina sudah memiliki dua anak. Haruskah Rera benar-benar melakukan apa yang kedua orang tuanya minta itu?

***

Saat menulis ulasan "Black.", aku sempat bilang bahwa aku bakalan masuk jurang ke-Metropop-an yang penuh hal-hal khayali yang bikin aku ingin menyicipinya lagi. Dan, viola! Beberapa hari setelah menulis ulasan itu aku dihubungi oleh Seplia untuk mengulas buku terbarunya ini. Setelah sebelumnya menjajal "Black." sebagai novel Metropop pertama yang kubaca dan kuulas, aku tidak berpikir dua kali untuk menerima tawaran mengulas buku terbarunya yang masuk lini Metropop ini. Pengarang yang satu ini sudah kukenal sejak "Insecure". Keunikan mengambil tema remaja yang tidak biasa membuatku percaya bahwa novel berlini Metropop kali ini juga tidak biasa. Karena begitu penasaran, aku sudah membacanya terlebih dahulu beberapa halaman awal via digital. Dan sangkaanku benar, buku ini memang tidak biasa dan aku dibuat penasaran dengan ceritanya.

Kenapa aku mengambil vlog Connor Franta sebagai pengantar di atas? Karena apa yang disampaikan Connor dalam vlognya itu sedikit banyak berhubungan dengan apa yang tersirat dalam novel karya Seplia ini.

29 Mei 2017

Ulasan Buku: Non-Spesifik

Judul : Non-Spesifik
Pengarang : Gratiagusti Chananya Rompas
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2017
Dibaca : 25 Mei 2017
Rating : ★★★★

Apa yang akan kamu lakukan ketika hidupmu sepertinya begitu monoton? Rutinitas yang mengungkung setiap hari membuatmu tak lagi memiliki warna. Apa yang kamu idam-idamkan dahulu dilepaskan satu persatu sehingga yang tersisa hanya hitam dan putih. Tak ada lagi warna-warni. Kamu harus segera menguak cara untuk terlepas dari jerat kejenuhanmu itu. Kamu harus cari terobosan baru agar hidupmu tidak hitam-hitam amat atau putih-putih amat. Janganlah muluk berharap warna pelangi yang dahulu kamu miliki, tapi setidaknya warna oranye atau pink atau biru muda hadir. Dan kamu mulai merasakan warna-warna itu kembali merasuki tubuhmu. Kamu akan merasa bahagia sedikit demi sedikit. Walaupun tidak sama lagi, tapi setidaknya kamu merasa bahagia. Ada saran lebih baik: pergilah ke suatu tempat yang belum pernah kamu kunjungi. Mungkin warna-warni yang lenyap itu akan kamu temukan kembali di sana.

***

Bisa dikatakan, "Kota Ini Kembang Api" adalah kumpulan puisi yang membuatku beruntung. Aku mendapati bahwa sang penyair, Gratiagusti Chananya Rompas atau biasa dipanggil Anya, merasa senang dengan ulasan yang kubuat. Seperti yang dikatakan Anya pada kolom komentar ulasan bukunya, "Saya sangat terharu kamu menangkap banyak hal yang ingin saya (bahkan ilustrator saya) sampaikan lewat 'Kota Ini Kembang Api'." Apa yang dikatakannya secara tersurat itu membuatku beruntung sebagai seorang pengulas buku karena (1) hal yang paling membahagiakan bagi seorang pengulas buku adalah ulasannya diketahui oleh pengarang buku dan (2) ulasan yang dibuatnya menguak apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh pengarang buku. Hal bahagia lain setelah menulis ulasan "Kota Ini Kembang Api" adalah menjadi #ResensiPilihan untuk yang kedua kalinya pada tahun lalu.

Di atas, aku coba menginterpretasikan satu puisi yang menjadi favorit dalam "Non-Spesifik". Judulnya? Tidak ada. Tapi bait pertamanya berbunyi "aku ingin pergi ke tempat yang belum pernah aku" dan bertengger pada halaman 76. Sangat khas Anya. Banyak puisi dibuatnya tak berjudul, seperti sebuah ketakperluan. Dalam puisi tersebut, aku merasakan bahwa rutinitas yang monoton amat begitu mengungkung orang-orang dewasa. Mereka jadi tidak bahagia atau, lebih buruknya lagi, berbohong untuk merasa bahagia. Mereka membutuhkan jalan-jalan, piknik, vakansi, apa pun itu sebutannya. Tapi, Anya sepertinya memberikan saran yang baik: ke tempat yang belum pernah dikunjungi. Bukan tempat-tempat yang setiap bulan atau beberapa bulan dikunjungi atau bahkan sudah dikunjungi. Bukahkah "setiap bulan atau beberapa bulan dikunjungi" juga merupakan rutinitas? Aku setuju dengan Anya tentang eksplorasi. Yuk, piknik!

17 Mei 2017

Tentang Impian dan Kenyataan dalam A Place You Belong

Judul : A Place You Belong
Pengarang : Nicco Machi
Penerbit: Jendela O'Publishing House
Tahun : 2016
Dibaca : 14 Mei 2017
Rating : ★★★★

Sebenarnya, walaupun suka membaca, aku asing dengan perpustakaan. Aku jarang mengunjungi perpustakaan. Dan ini mengingatkanku dengan perpustakaan Sekolah Dasar-ku di desa. Kondisi perpustakaan SD-ku dahulu bisa dibilang tidak layak. Boro-boro memiliki koleksi yang memadai, tempatnya saja menggunakan rumah bekas tempat tinggal penjaga sekolah. Berada di pojok belakang area sekolah, yang datang ke sana paling-paling siswa yang tidak punya uang jajan untuk dibelanjakan. Jangan tanya berapa banyak buku yang ada di sana, rak bukunya saja hanya ada dua buah yang bahkan tidak terisi penuh. Buku-bukunya kucel, berdebu, dan tidak menarik. Aku ingat sempat datang ke sana dan meminjam buku. Buku yang masih kuingat adalah cerita rakyat dari Indonesia. Entah ada angin apa aku meminjamnya padahal aku tidak begitu suka dengan cerita rakyat. Mungkin aku lupa membawa uang jajan atau barangkali sedang iseng saja.

***

Akhyar mengakhiri dongeng fabelnya. Cerita tentang belalang yang pemalas dan para semut yang amat giat bekerja memberikan penghiburan tersendiri bagi anak-anak di TK An-Nuur tempat Akhyar mendongeng kali ini. Sudah beberapa tahun sejak lulus kuliah dan ia masih setia dengan pekerjaannya yang merupakan passion-nya sejak lama: menjadi pendongeng. Ia bernaung di bawah Satriacarita, sebuah organisasi yang memberikan pelatihan-pelatihan mendongeng bagi yang berminat dan menyalurkan para pendongeng ke sekolah dan institusi yang membutuhkan jasa mendongeng. Penghasilan Satriacarita didapat dari sponsor, hasil kerja sama dengan pihak-pihak tertentu, CSR perusahaan, hingga donasi pribadi dari orang yang peduli. Setidaknya, Akhyar tahu apa passion-nya. Dan yang terpenting, ia menyenangi pekerjaannya itu.

Masih di dalam kelas, Akhyar terkejut ketika melihat Helia berdiri di depan pintu kelas. Akhyar buru-buru keluar dan bertanya kabar dengan teman sekelas di jurusannya itu. Helia makin cantik dan sepertinya sudah sukses. Tapi, kenapa cewek itu ada di sini di Semarang? Bukannya ia bekerja di Jakarta sebagai pustakawan? Apa yang membuatnya kembali ke kota tempatnya menuntut ilmu? Dan, kenapa ia tahu Akhyar sedang mendongeng di TK biasa-biasa saja seperti ini? Ada secercah harap yang merambati Akhyar untuk menyelesaikan apa yang tidak terselesaikan dahulu. Apakah ini takdirnya? Takdir mereka berdua?

***

Sejak pertama mengetahui buku ini diterbitkan, aku merasa harus membacanya. Aku punya keyakinan bahwa buku ini memiliki sesuatu. Entah apa, tapi sesuatu. Satu hal yang kutahu tentang buku ini adalah tema perpustakaan yang diangkat oleh penulis yang juga seorang lulusan ilmu perpustakaan. Aku mendapati buku ini ternyata novel romance. Penasaran dengan kisah apa yang bisa diceritakan dengan tema perpustakaan, aku bakal merasa bosan jika premisnya adalah kisah pemustaka dan pustakawan yang sering bertemu di perpustakaan. Untungnya tidak. Benar bahwa tokoh utamanya seorang pustakawan, tapi ia tidak menyukai pemustaka. Bahkan latar ceritanya tidak di perpustakaan. Aku langsung tertarik. Mengingat bukunya tidak tebal-tebal amat, aku bisa menyelesaikannya kurang dari dua jam. Dan ternyata, kisahnya lebih dari sekadar kisah dua sejoli yang berkutat dengan perpustakaan.

12 Mei 2017

Pengalaman Pertama Baca Metropop Bersama Black.

Judul : Black.
Pengarang : Ruth Priscilia Angelina
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2017
Dibaca : 11 Mei 2017
Rating : ★★★

Kemarin lusa, salah satu editor Gramedia Pustaka Utama menghubungiku untuk menawarkan buku untuk diulas. Mengetahui dua novel yang disebutkannya berlabel Metropop, aku hampir urung diri mengambil tawarannya. Tapi, setelah diingat-ingat, aku belum pernah sekali pun coba membaca setidaknya satu paragraf novel Metropop. Tidak ada salahnya mencoba sesuatu yang baru, yang belum pernah dikecap sebelumnya. Walaupun ada rasa was-was karena akan kecewa atas waktu yang digunakan untuk membaca, aku juga mengantisipasi bila aku menyukainya. Aku akan membuka sebuah pintu untuk menikmati novel-novel Metropop lain yang selama ini selalu kututup. Kepada sang editor, aku bertanya berapa jumlah halaman kedua novel itu dan kapan aku harus sudah mengulasnya. Setelah merasa mampu untuk melakukannya, aku setuju dengan tawarannya. Salah satu novelnya adalah yang sedang kuulas kali ini.

Aku bukan tidak suka pada novel-novel dengan logo Metropop. Aku hanya menghindar. Tidak ada keinginan sama sekali untuk menyentuhnya walaupun beberapa di antara judul-judulnya begitu memikat dan blurb yang dihadirkan membuatku tertarik untuk membacanya. Sejauh pemahamanku, novel berlabel Metropop memiliki ciri-ciri kehidupan perkotaan yang khayali dengan tokoh-tokoh yang sempurna. Pria superganteng dan superkaya. Wanita cantik nan hobi belanja dan jalan-jalan di pusat perbelanjaan. Alur ceritanya paling-paling tentang ganjalan pernikahan atau kawin kontrak dengan bumbu drama ala sinetron. Geez, aku begitu skeptis dan berpikir kalau novel-novel semacam itu tidak layak kubaca. Sialnya, aku menelan ludahku sendiri. Ternyata, menyenangkan juga baca novel Metropop. Hahaha.

***

Inka punya hubungan yang tidak bagus dengan kedua orangtuanya. Terutama, ibunya. Setelah berselingkuh dengan pria lain dan membuat keluarganya kacau-balau, ibunya berencana untuk menikah dengan pria lain. Hal yang paling disesali Inka adalah menutupi keburukan ibunya itu sehingga keluarganya tidak bisa diselamatkan lagi. Ayahnya yang menerima dengan lapang dada perselingkuhan ibunya membuat Inka harus bisa mengendalikan diri. Sejak masalah itu, Inka lebih membela dan menginginkan untuk selalu bersama sang ayah ketimbang sang ibu. Namun, beberapa hari belakangan ini, ayahnya tidak bisa dikontak. Telepon tidak diangkat dan sms tidak dibalas. Padahal, ayahnya sudah berjanji mengantar Inka ke bandara hari ini. Inka akan terbang ke London dan menuntut ilmu S2 Creative Writing-nya di Cambridge University.

Muka Sigi merah padam setelah melihat Inka tiba pada detik-detik terakhir keberangkatan mereka setelah tiga kali nama mereka dipanggil melalui pengeras suara di ruang tunggu bandara. Pria yang bisa dibilang teman semasa hidup Inka itu juga akan kuliah di London. Bedanya, Sigi mendapatkan beasiswa sementara Inka harus membiayai kuliahnya sendiri. Inka tahu semua akan tidak mudah, hidup di London itu. Biaya hidup yang lumayan tinggi membuatnya harus ambil kerja sambilan sembari kuliah. Keinginan Inka sebenarnya hanya satu: tinggal di sana. Ia tak mau kembali ke Indonesia. Ia ingin pergi jauh-jauh dari masa lalunya yang kelam. Tak dinyana, di London, ia bertemu dengan Chesta, pria masa lalunya yang begitu ia inginkan namun harus ia lepaskan karena semuanya adalah guyonan masa kecil. Apakah bertemu kembali dengan Chesta sebuah pertanda baik atau malah mempergelap hitam hidupnya?

Karya-karya Paul Arden yang Mengalihkan Duniaku

Edited by Me

Bagi sebagian pembaca, pengetahuan tentang pengarang memengaruhi seberapa antusias mereka untuk membaca karyanya. Aku pernah begitu. Saat di toko buku, aku tidak melepaskan gadgetku yang terkoneksi internet untuk mencari tahu siapa pengarang dari setiap buku yang kupegang, walaupun tidak kubeli sekalipun. Tapi, biar kuberi informasi: aku mudah bosan. Aku tidak akan tahan dengan satu genre bacaan dalam durasi waktu tertentu kecuali bacaan tersebut adalah serial atau memang membuatku ketagihan. Seperti selama bulan Mei ini, aku membaca dari fiksi anak-anak, novel sastra, puisi, sampai nonfiksi. Itu menandakan aku suka mengeksplorasi jenis bacaanku. Bagaimana bisa bereksplorasi kalau harus mengetahui pengarang buku yang akan dibaca? Bagai sebuah kontradiksi. Aku sudah tidak pernah lagi mengecek si pengarang buku untuk buku yang akan kubaca karena melakukannya bagai membeberkan kejutan yang menyenangkan.

Siapa Paul Arden? Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu sebulan yang lalu. Aku bahkan akan berbalik tanya atau mungkin akan acuh tak acuh. Siapa peduli tentang Paul Arden? Hingga salah satu karyanya berada di halaman Beranda Goodreads paling atas karena seorang teman sedang membacanya. Aku penasaran. Semesta bagai mengalihkan perhatianku pada buku itu. Dan tepat pada detik ini, aku sudah membaca dua buku karyanya. Bagaimana bisa seseorang yang tidak kukenal memberikan dampak yang tidak sedikit untukku? Dua karyanya telah mengambil beberapa jam waktuku. Dua karyanya yang begitu khas juga telah memberiku pandangan baru tentang melihat hal-hal kecil yang dimiliki oleh diriku sendiri. Bagai orang asing yang masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu, Paul Arden memberikan bekas yang signifikan pada pemikiranku. Sudah saatnya aku mencari tahu siapa itu Paul Arden.

Aku terperengah saat mengetahui Paul Arden sudah berpulang lebih dari lima tahun yang lalu. Bahkan ia lahir beberapa tahun sebelum nenekku lahir. Lalu, aku teringat kutipan terkenal dari Pramoedya Ananta Toer. Ia mengatakan, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian." Aku percaya hal itu terjadi pada siapa saja yang menulis. Juga pada Paul Arden dengan karya-karyanya. Dua karyanya yang kubaca adalah "It's Not How Good You Are, It's How Good You Want To Be" dan "Whatever You Think, Think the Opposite". Dan mendapatkan keduanya memiliki kisahnya masing-masing. Aku mengulasnya dalam satu pos ulasan namun aku harus tetap membagi dengan porsinya dan perihal-pandangan-baru-yang-kusebutkan-di-atas secara sendiri-sendiri. Mari mulai dengan karya Paul Arden yang pertama kubaca.

07 Mei 2017

Ulasan Buku: Carisa dan Kiana

Judul : Carisa dan Kiana
Pengarang : Nisa Rahmah
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2017
Dibaca : 26 April 2017 (via SCOOP)
Rating : ★★★★

Harap-harap cemas. Begitulah yang dirasakan saat membaca buku debut. Meluangkan waktu untuk coba menikmati kisah dari penulis yang sama sekali belum tahu keabsahan tulisannya memang tantangan tersendiri. Kamu harus mengorbankan waktu bersama buku-buku karya penulis favoritmu demi mengetahui apakah karya pertama penulis itu masuk dalam radar kesukaanmu atau tidak. Perasaan harap-harap cemas itu semakin menjadi jika mengetahui bahwa penulis buku debut itu adalah temanmu. Tentu ada rasa tidak enak jika kamu mengetahui bahwa buku itu tidak kamu sukai. Bilang jujur, salah. Bilang tidak jujur, juga salah. Aku rasa perasaan harap-harap cemas juga melingkupi penerbit. Mereka benar-benar seperti melempar sebuah dadu dengan karya-karya debut. Seperti bermain judi, penerbit juga harus mengantisipasi kalau-kalau buku debut penulis itu tidak terlalu diminati pasar karena toh pada akhirnya penerbit juga melihat sisi bisnis dari buku yang diterbitkannya. Tapi, aku rasa tidak perlu khawatir dengan buku yang satu ini.

***

Carisa amat bisa bersosialisasi. Sejak kelas X SMA, ia sudah ikut berbagai macam organisasi di sekolahnya. Salah satunya OSIS. Melalui OSIS jugalah ia dekat dengan Rama. Dan menjadi semakin dekat setelah Rama mencalonkan diri dalam pemilihan ketua OSIS. Carisa bahkan menjadi pentolan tim sukses yang memiliki gagasan-gagasan cerdik dalam upaya memenangkan Rama. Berbeda dengan Carisa, Kiana lebih pandai dalam bidang akademis. Kiana adalah ketua ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR). Ia juga jagoan sains di SMA-nya. Sebenarnya, Kiana tidak peduli dengan pemilihan ketua OSIS. Hanya saja, teman dekatnya, Stella, adalah pacar Rico. Rico merupakan satu-satunya kandidat dalam pemilihan ketua OSIS yang berhadapan dengan Rama. Hal itu membuat Kiana harus berurusan dengan Carisa. Namun, ternyata, urusan mereka berdua tidak hanya sebatas masalah pemilihan ketua OSIS. Urusan Carisa dan Kiana lebih dari itu.

***

Aku harus katakan bahwa menghabiskan semalaman dengan buku ini adalah hal yang menyenangkan. Sama sekali tidak ada ekspektasi apa pun selain penulis adalah teman dunia maya dan satu komunitas. Harap-harap cemas kala mencoba novel debut memang ada namun setelah membaca lebih banyak ternyata aku bisa menikmati kisah Carisa dan Kiana. Mungkin kamu merasa skeptis, "Wah, pasti gara-gara penulisnya teman kamu, jadi kamu memuji-muji bukunya!" Yah, siapa peduli? Aku memiliki alasan kuat untuk membuat buku ini patut dipuji, pada akhirnya. Dengan ketebalan hanya 200 halaman lebih sedikit, membacanya hanya dalam sekali duduk plus tiduran di malam hari adalah mudah. Sebagai novel teenlit, gaya bahasanya tetap ringan dan amat remaja. Karakteristik anak SMA yang egois namun lugu dan merasa dirinya paling benar juga terlihat dan membuat kisah di dalam buku ini menjadi hidup dan lebih dari biasa-biasa saja. Dari segi isi, aku katakan bahwa untuk ukuran debut, buku ini menjanjikan. Dan aku berkeinginan membaca karya-karyanya selanjutnya.

30 April 2017

Memori Beli Buku, Middle Grade, dan Keriuhan MiGaring 2.0


Terkadang, sebuah peristiwa akan memantik memori pada masa lalu. Seorang anak SMA berkacamata menggandrungi sebuah buku dan meracuni teman semejanya untuk tertarik pada hal yang sama. Sejak awal si kacamata punya inisiatif mengajak teman semejanya itu membeli buku yang dibicarakan banyak orang itu. Entah amat baik atau terpaksa karena si kacamata adalah "teman"-nya, sang teman akhirnya mengiakan kala si kacamata memintanya untuk patungan membeli buku epik itu. Butuh beberapa waktu untuk mengumpulkan uang karena buku tersebut lumayan mahal dan bagi seorang anak yang tinggal di sebuah kota kabupaten dan jauh dari toko buku harus membelinya via internet. Kami harus menambahkan uang untuk ongkos kirim. Setelah pas, kami datang ke sebuah bank untuk melakukan transaksi. Si kacamata tahu itu kali pertamanya datang ke sebuah bank dan berhadapan langsung dengan petugas wanita di balik meja untuk membeli buku.

Penggalan di atas adalah secuplik memoriku. Entah bagaimana dengan temanku itu, tapi aku tidak terlalu ingat seberapa senangnya aku ketika mendapatkan buku itu. Buku itu adalah "Nibiru dan Kesatria Atlantis" karya Tasaro GK. Dan kembalinya memori itu dipantik oleh peristiwa yang baru saja diakhiri hari ini: MiGaring 2.0. Aku tak mempersiapkan apa pun untuk membicarakan masa lalu. Aku hanya menyampaikannya. Aku terpancing oleh perkenalan di awal acara yang mengharuskan setiap peserta yang hadir menceritakan tentang novel fantasi apa yang paling disuka. Bisa jadi aku melantur dari konteksnya. Tapi, siapa yang bisa tahan untuk tidak menyampaikan memori berkenaan dengan apa yang disuka? Aku yakin sulit untuk melakukannya.

Apa itu MiGaring 2.0?

Pengujung April, kami berkumpul di salah satu titik lokasi di Kebun Binatang Ragunan untuk melakukan acara yang sudah direncanakan matang-matang: MiGaring 2.0. Mungkin banyak yang bertanya akan acara tersebut. MiGaring 2.0 adalah sebuah perayaan sederhana yang digagas oleh para admin komunitas Penggemar Novel Fantasi Indonesia (PNFI). Tidak lumrah sebenarnya ketika sebuah perkumpulan tidak pernah bertatap muka satu sama lain dan hanya bisa saling berinteraksi di dunia maya saja. Dari keprihatinan tersebutlah admin membuat acara kumpul-kumpul kecil-kecilan yang bersifat sederhana namun tetap legit. Maka itulah disebut MiGaring yang adlaah kependekan dari Mini Gathering. Karena merupakan tahun kedua pelaksanaan, maka acara hari ini bernama MiGaring 2.0. Sungguh kreatif, ya?!

23 April 2017

Ulasan Buku: The Rest of Us Just Live Here

Judul : Yang Biasa-biasa Saja
Judul Asli : The Rest of Us Just Live Here
Pengarang : Patrick Ness
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2017
Dibaca : 22 April 2017
Rating : ★★★

"Tidak semua orang harus menjadi Sosok Pilihan. Tidak semua orang harus menjadi sosok yang menyelamatkan dunia. Kebanyakan orang hanya harus menjalani kehidupan mereka sebaik mungkin, melakukan hal-hal yang hebat bagi mereka, memiliki teman yang hebat, berusaha membuat hidup mereka lebih baik, mencintai orang dengan semestinya. Pada saat yang sama mereka juga menyadari bahwa dunia ini tak masuk akal tapi tetap saja berusaha mencari jalan untuk bahagia." (hal. 190)

Awal mengetahui buku ini diterjemahkan, aku bertanya-tanya tentang judul bahasa Indonesia. Kenapa berubah sedemikian berbeda menjadi "Yang Biasa-biasa Saja"? Aku tahu mungkin jawabannya akan ditemukan seusai membaca bukunya. Namun, sebenarnya tidak juga. "The Rest of Us" secara harfiah berarti "kita semua". Dalam kondisi ini, "The Rest of Us" ternyata memiliki arti yang lebih spesifik yaitu "kita" yang awam. Seseorang bertanya pada sebuah forum tentang apa arti dari frasa "The Rest of Us". Salah satu jawaban yang direkomendasikan menjelaskan bahwa frasa tersebut ditujukan pada orang-orang yang tidak (setidaknya pada saat ini) memiliki pemahaman mendalam tentang subjek yang ada. Mereka hanya orang yang biasa-biasa saja yang tidak mengerti tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dalam konteks buku ini, mereka adalah yang biasa-biasa saja terhadap Para Abadi yang merangsek datang untuk mengambil alih bumi.

***

Mike tahu hidupnya biasa-biasa saja. Ia seorang siswa tingkat akhir di sekolah menengah atas yang biasa-biasa saja. Ia memiliki sahabat-sahabat yang sepertinya terlihat biasa-biasa saja. Bahkan salah satu di antara mereka adalah kakak perempuan kandungnya yang setingkat dengannya di sekolah. Ia dan sahabat-sahabatnya memiliki masalahnya masing-masing, yang sebenarnya juga biasa-biasa saja kecuali Jared. Mike memiliki Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) yang menyukai salah satu sahabatnya, Henna. Kakak perempuannya, Mel, pernah hampir mati karena anorexia nervosa yang dideritanya. Selepas kelulusan, Henna harus ikut bersama orang tuanya yang akan menjadi misionaris di Republik Afrika Tengah. Terakhir, Jared, yang keturunan Dewi Kucing, adalah gay yang tangannya diberkati karena memiliki kelebihan menyembuhkan. Oh, hampir lupa, ayah Mike seorang pemabuk berat dan ibunya adalah politikus yang berpengaruh di distriknya. 

Mike tinggal di sebuah kota kecil yang dikelilingi padang dan danau yang bahkan konser grup musik terkenal saja terkesan privat dan intim karena diselenggarakan di sebuah amfiteater yang biasa jadi tempat kompetisi hewan ternak selama pekan raya county. Lalu apa yang sebenarnya terjadi di antara Mike dan sahabat-sahabatnya dan orang tuanya dan penduduk di kota kecil itu sehingga kisah ini harus dikarang?

17 April 2017

Ulasan Buku: The Sleeper and the Spindle

Judul : Sang Putri dan Sang Pemintal
Judul Asli : The Sleeper and the Spindle
Pengarang : Neil Gaiman
Ilustrator : Chris Riddell
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2017
Dibaca : 13 April 2017 (SCOOP)
Rating : ★★★★

"Apa yang perlu ditakutkan tentang tidur? Itu kan hanya tidur. Kita semua melakukannya." (hal. 18)

Apa yang biasanya terjadi pada dongeng-dongeng kerajaan? Seorang raja dan ratu memiliki anak seorang pangeran. Sang pangeran merasa hidupnya begitu monoton dan penuh tuntutan, dari kecil hingga dewasa. Ia masih harus menikahi seorang putri dari kerajaan lain yang tidak dicintainya. Ia nekat kabur untuk mencari pujaan hatinya sendiri. Dan kala menemukan seorang gadis desa yang amat ia cintai, ia mulai menyadari bahwa kisah hidupnya tidak seperti itu. Sang pangeran harus tetap menikahi sang putri yang sudah dijodohkan untuknya bahkan sejak ia masih dibuai di dalam kandungan. Atau mungkin kisahnya lebih singkat. Sang pangeran harus menyelamatkan sang putri yang amat dicintainya karena diculik oleh penjahat desa yang menginginkan tebusan harta milik kerajaan. Sang pangeran yang sudah terlatih bela diri akhirnya menumpaskan para penjahat dan menyelamatkan sang putri. Mereka hidup bahagia selama-lamanya.

***

Tujuan utama para kurcaci pergi ke desa adalah membelikan kain sutra terbaik di Dorimar untuk sang ratu sebelum hari pernikahannya tiba. Setibanya di desa, para kurcaci mendapati para penduduk yang waswas karena ada wabah tidur. Salah satu dari mereka bertanya apa yang salah dengan tidur karena setiap dari semua makhluk pasti tidur. Para penduduk desa berspekulasi bahwa yang membuat wabah tidur adalah penyihir, peri jahat, atau pembaca mantra. Sang penyihir itu telah mengutuk seorang putri sejak lahir sehingga saat berumur delapan belas tahun jari gadis itu akan tertusuk dan membuatnya tidur selamanya. Dan orang-orang di istana juga ikut tertidur, selagi sang putri tertidur. Dan setelah berpuluh-puluh tahun, wabah tidur itu mulai menyebar hingga ke desa-desa lainnya dan membuat semua penduduk tertidur.

Sang ratu tahu bahwa dirinya akan segera melaksanakan pernikahan. Sang ratu berencana akan menikah dengan seorang pangeran, bahwa mereka akan tetap menikah, meskipun dia hanya pangeran sedangkan ia adalah ratu. Ia tidak memiliki pilihan karena ia sudah ditakdirkan untuk menikah dengan sang pangeran sampai pilihan lain menghampiri kala ketiga kurcaci membeberkan hal genting yang ditemui mereka di desa Giff. Sang ratu meminta baju perjalanannya disiapkan. Sang ratu meminta pedangnya disiapkan. Sang ratu meminta perbekalan disiapkan, juga untuk kudanya, kemudian ia menunggang kuda dan berderap keluar dari istana, menuju arah timur.

16 April 2017

Betapa Sulitnya Baca Nonfiksi + Giveaway

Edited by Me

Bulan ini adalah bulan bahagia bagi BBI karena memperingati hari jadinya yang ke-6 sekaligus bulan yang paling malas bagiku untuk menulis blog. Sangat disayangkan karena draf untuk menyemarakkan ulang tahun BBI sudah dibuat namun pada hari yang telah ditentukan draf tersebut tidak terselesaikan. Yah, siapa yang mau terjangkiti blogging slump? Bahkan beberapa artikel yang menguraikan langkah-langkah untuk keluar dari blogging slump masih kurang masuk akal untuk dilakukan. Sebagai upaya penyembuhan, aku coba angkat topik bacaan nonfiksi yang sudah beberapa waktu lalu dirumuskan dan memberikan opiniku tentangnya. Karena aku tahu, aku tidak begitu menyukai bacaan nonfiksi. Setidaknya, belum. Dan itu mungkin akan menjadi problem jika tidak dicari tahu lebih jauh. Pertanyaan utama yang sering berlalu lalang: apakah aku harus gemar membaca nonfiksi atau tetap dengan apa yang kusuka saja? Bila begitu, kenapa aku begitu sulit membaca nonfiksi? Apakah kamu memiliki pertanyaan yang sama untuk dirimu sendiri? Bila ya, ikuti terus jabaran berikut.

Mari mulai dengan pengertian nonfiksi. Bacaan nonfiksi adalah jenis bacaan yang bukan fiksi dan berdasarkan kenyataan. Dalam hal ini, seseorang yang menuliskan nonfiksi memiliki tanggung jawab atas kebenaran atau akurasi dari peristiwa, orang, dan/atau informasi yang disajikan. Nonfiksi tidak hanya buku-buku yang bersifat informatif dan persuasif yang biasanya disertai pembuktian ilmiah maupun opini dari pengarangnya. Jurnal-jurnal, fotografi, dan artikel-artikel ilmiah pada majalah atau media daring juga termasuk bagian dari nonfiksi bila memenuhi syarat-syarat yang disebutkan di atas. Setelah mengetahui hal ini, barulah mengerti bahwa bacaan nonfiksi ternyata luas dan bisa mengangkat topik apa saja.

Dalam sebuah forum, seseorang bertanya tentang perbandingan antara membaca fiksi dan nonfiksi dengan meminta penjelasan manfaatnya. Bagiku pertanyaan ini sungguh dasar, seperti kau menanyakan manfaat air putih padahal kau sudah kehausan. Yah, tapi tidak ada salahnya juga untuk bertanya. Laiknya sebuah forum, beragam jawaban muncul namun hampir semuanya mengerucut pada keduanya yang tidak bisa dibandingkan dan sama-sama memberikan manfaat. Bahwa fiksi akan memberikan hiburan dan membangun imajinasi dan nonfiksi akan memberikan informasi dan membangun ilmu pengetahuan.

06 April 2017

Makna Reputasi dari Thirteen Reasons Why

Edited by Me

Setiap menyelesaikan sebuah buku, pasti ada satu atau dua adegan cerita di dalamnya yang terngiang dalam kepala dan tidak pernah pudar sampai beberapa waktu ke depan. Dari adegan cerita tersebut, kemudian tercipta gambaran kesan tentang keseluruhan isi cerita. Dan dalam karya Jas Asher ini, kesan utama yang termaktub dalam memori adalah reputasi. Kenapa reputasi? Karena dari awal sampai akhir cerita, penulis amat lihai membuat tokoh utama dalam bukunya sebagai korban dari reputasi yang tidak sengaja dibuat oleh orang-orang di sekitarnya, atau di buku ini adalah teman-teman di sekolahnya. Yah, bagaimana kalau kita membahas reputasi terlebih dahulu? Bagaimana reputasi mengubah strata kehidupan seseorang dan memengaruhinya secara keseluruhan?

Dikutip dari KBBI Daring, reputasi diartikan perbuatan dan sebagainya sebagai sebab mendapat nama baik, atau bisa juga disebut dengan nama baik. Dari pengertiannya saja reputasi atau nama baik berhubungan erat dengan kesuksesan. Orang-orang mengecap mereka yang sukses adalah mereka yang juga memiliki reputasi. Bila reputasinya buruk, kesuksesannya pun akan tercoreng. Bisa dibilang, reputasi adalah salah satu faktor kesuksesan seseorang.

Reputasi buatmu memikirkan apa kata orang lain terhadapmu

Petuah lama mengatakan untuk tidak peduli dengan apa yang orang lain katakan terhadapmu. Hal ini benar apabila kamu merasa bahwa apa yang dikatakan orang lain tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu. Namun, jangan langsung membabi buta untuk mengabaikan apa kata orang lain. Faktanya adalah bahwa yang menilai dirimu adalah orang lain dan merekalah yang akan menentukan bagaimana reputasimu. Apalagi pada era ini yang reputasi tidak hanya dinilai dari kehidupan di luar jaringan (offline), tetapi juga di dalam jaringan (online). Kalimat mutiaranya bukan lagi apa yang kamu baca mencerminkan dirimu tetapi apa yang kamu kicaukan di media sosialmu mencerminkan dirimu.

Sejak bergabung dan menjadi member Blogger Buku Indonesia pada 2014, aku berpedoman untuk selalu menulis ulasan buku dari buku yang sudah kubaca. Walaupun beberapa waktu terakhir ini aku selalu utamakan mengulas buku-buku yang lebih menarik dan ada sisi lain yang harus dibahasnya, aku tetap berusaha untuk mengulas setiap buku yang kubaca. Aku tetap berusaha konsisten. Dan dalam sebuah ulasan yang kubaca di Forbes, menjadi konsisten merupakan salah satu langkah untuk meningkatkan reputasi. Aku tidak bilang bahwa aku pengulas buku terbaik dan tersohor, masih banyak teman-teman pengulas yang lebih rajin mengulas buku sembari bagi-bagi buku kepada para pembaca setianya. Yang kutekankan di sini adalah setiap orang mengetahui namaku, mereka akan mengingatku sebagai pengulas buku. Membuat orang lain melakukan hal itu adalah usaha untuk membangun reputasi. (Benar, kan? Reputasi adalah tentang bagaimana kamu dinilai dan dianggap oleh orang lain.)