20 November 2016

Seri #YaTuhan, Ketika Doa Tak Lagi Khusyuk


Apa makna doa bagimu? Sebagian orang menganggap doa sebagai keharusan untuk dipanjatkan agar selamat di sepanjang hidupnya dan kehidupan setelah kematian. Sebagian yang lain menganggap berharap sesuatu yang baik di masa depan adalah sebuah doa. Arti doa memang begitu universal. Terutama bagi yang beragama, doa masih semacam perlakuan sakral agar manusia merasa hidup. Permohonan, harapan, pujian, terhadap apa pun menjadi pengingat bahwa yang memanjatkannya masih mengaku berpijak di atas tanah. Dan tentu saja, doa harus dipanjatkan dengan sungguh-sungguh agar terkabul. Tapi apa jadinya jika doa itu terasa tak lagi khusyuk? Apakah akan meluruhkan kesakralannya?

***

Serumpun buku serial bertajuk #YaTuhan diterbitkan untuk menjawab pertanyaan di atas. Adalah Adityayoga dan Zinnia yang berani mengusung tema doa dalam karya borongan yang mereka terbitkan awal November ini. Lima buku serupa konsep ini memiliki perbedaan topik yang jarang dimunculkan tetapi begitu melekat dalam masyarakat beberapa tahun belakangan. Keduanya memilih doa untuk menyampaikan kritik sosial yang terjadi di masyarakat melalui kata-kata lawak yang dipanjatkan kepada Tuhan. Lucunya, kedua penulis buku serial ini berprofesi sebagai desainer grafis. Dan mereka menyampaikan aspirasinya melalui kata-kata, bukan gambar visual.

Berawal dari sampul bukunya yang sederhana namun penuh teka-teki, aku tertarik untuk membaca seri #YaTuhan ini. Kesemua judulnya memiliki tiga nomina yang berakhiran kata "doa". Tentu aku menebak ini adalah buku non-fiksi dengan segala petuah-petuah agamis yang memberikan pencerahan bagi yang membacanya. Sebelum membaca, aku juga sempat berpikir bahwa kelima buku ini punya daya untuk mempengaruhi pembaca untuk lebih bersyukur atas doa yang disematkan di dalamnya. Tebakanku salah dan, seusai membaca semuanya, aku malah lebih merasa getir-getir sedap ketimbang bersyukur. Setelahnya, aku sadar bahwa aku telah dibohongi oleh buku serial kurang ajar ini!

***

Aku akan membeberkan kekesalanku pada buku ini satu per satu; tangis haruku, tawa-tawa getirku, dan hal-hal yang membuatku membatin, "Iya! Aku merasakan hal ini! Tapi kenapa tidak terpikir sebelumnya ya?!" Dan aku mengulasnya singkat, karena sesungguhnya buku ini tidak memberikan esensi yang berarti. Ini dia kelima buku serial #YaTuhan karya Adityayoga dan Zinnia. Oh ya, aku mengurutkannya menurut waktu bacaku, nomor satu untuk yang pertama dan begitu seterusnya sampai nomor lima untuk yang terakhir.

1. Monas, Macet, Doa (dibaca 13 November 2016, rating: 4/5)

Kritik sosial kentara sekali pada buku ini. Dari judulnya saja sudah tertebak doa apa yang akan dipanjatkan dalam buku bersampul oranye; yaitu tentang ibukota Jakarta yang kerasnya bagai kerak toilet yang tidak pernah disikat sejak bertahun-tahun lalu. Tapi sejujurnya, aku masih heran dengan stereotip bahwa Jakarta keras. Setelah lebih dari 5 tahun merantau, aku masih berpikir Jakarta tidak sekeras yang orang bayangkan. Dan aku merasa, buku ini bisa menjadi kudapan manis bagi orang-orang yang keluyuran di Jakarta sepertiku. Jadi, aku memulai pengembaraan tak pentingku dalam seri #YaTuhan dengan buku ini.

Seperti yang kutulis di atas bahwa kritik sosial memang terlihat jelas pada buku ini. Tentang kemacetan, tentang fenomena ojek online, tentang Monas, tentang trotoar, tentang orang-orang bertato, tentang polisi, dan masih banyak lagi. Aku salut betapa doa-atau-sindiran-halus-atau-satir-atau-bisa-kausebut-apa-pun-sesukamu begitu banyak ditujukan kepada polisi. Polisi! Coba bayangkan! Wahai pasangan penulis, kalian seperti punya banyak nyawa saja. Ditilang karena tidak pakai helm SNI baru tahu rasa kalian! Tapi aku lebih terenyuh dengan doa-atau-sindiran-halus-atau-satir-atau-bisa-kausebut-apa-pun-sesukamu tentang trotoar pada doa nomor lima satu. Aku tahu betul rasanya karena hal itu benar-benar ada di lingkunganku. Ya Tuhan, kamu masih perlu bukti?

Ini Bukti

Ya Tuhan,

Ketika Kau sudah memberikan trotoar

yang bebas motor, sekarang mereka

hadirkan pot-pot tanaman raksasa

nan absurd yang memaksa kita tetap

turun dari trotoar ke jalanan....

2. Desain Grafis, Deadline, Doa (dibaca 16 November, rating: 3/5)

Sudah aku singgung tentang kedua penulis yang berprofesi sebagai desainer grafis sebelumnya? Ya, mereka membuat khusus tentang doa-atau-sindiran-halus-atau-satir-atau-bisa-kausebut-apa-pun-sesukamu yang biasa dialami oleh mereka. Sebenarnya pilihan-pilihan tersebut masih belum tepat, racauan-racauan lebih tepat. Sayangnya, menurutku buku ini memberikan hal-hal yang subjektif; sangat cocok untuk para desainer grafis atau para deadliners saja. Sehingga aku tidak berharap banyak untuk bisa terhibur dengan yang satu ini.

Dan benar saja, sebagian besar istilah tentang desain dikemukakan dalam buku ini. Aku yakin buku ini akan membuat para desainer grafis dan yang berkecimpung di dalamnya terpingkal-pingkal, tapi tidak bagi orang awam sepertiku. Sempat tertawa pada beberapa doa, namun lebih banyak geleng-geleng kepala karena tidak tahu apa maksudnya. Banyak istilah desain grafis yang tidak kuketahui dan itu menjadi kendala dalam menikmatinya. Aku yakin aku tahu tentang file corrupt atau pengertian lorem ipsum atau hal-hal seputar deadline, tapi aku tidak tahu tentang meletakkan bodytext di dalam grid, tentang Eric Widjaja Thinking*Room, atau tentang memperbesar logo menggunakan shift. Dan bahkan hanya dalam buku ini saja yang ada sabdanya! Tidak ada pada buku yang lainnya! Coba bayangkan! Ya Tuhan, kenapa kedua penulis ini begitu angkuh dengan profesi desain grafisnya?

Ya Tuhan,
Jangan Kauberikan ide kepada

klien kami, yang membuat

mereka memaksa kami untuk

memberi shadow di logonya.

Amin

3. Ponsel, .3gp, Doa (dibaca 17 November, rating: 3/5)

Karena begitu tidak sabar untuk menyelesaikan, sisa tiga buku yang lainnya aku babat habis dalam sehari. Mudah saja karena semua bukunya kurang dari 90 halaman. Tapi aku akan tetap mengulasnya satu per satu. Dan untuk yang ini, aku mulai merasa bosan karena konsep doa-atau-sindiran-halus-atau-satir-atau-bisa-kausebut-apa-pun-sesukamu itu tidak berubah. Walaupun begitu, aku masih terhibur dan terkadang geleng-geleng kepala membatin, "Kepikiran saja!". Tapi aku berusaha untuk tidak bosan, sungguh. Untung saja ada beberapa doa-atau-sindiran-halus-atau-satir-atau-bisa-kausebut-apa-pun-sesukamu yang masih bisa membuatku tertawa. Ya Tuhan, semoga kedua penulis dan pengunjung blogku juga tidak bosan membaca ulasan panjang ini.

Ya Tuhan,
Berikan saya kesabaran mengajarkan

cara menggunakan mouse kepada

ibu saya seperti dia yang sabar

mengajarkan saya untuk bisa

makan sendiri pakai sendok.

Amin

4. Kamu, Aku, Doa (dibaca 17 November, rating: 3/5)

Sejujurnya, yang ini bikin sedikit membuatku terbawa perasaan. Mungkin karena tebakanku benar akan judulnya yaitu tentang cinta-cintaan atau. Yah, aku sedikit lagi benar dengan tebakanku sebenarnya, karena buku ini adalah tentang kegetiran yang berkenaan dengan cinta-cintaan. Dan lagi, aku merasa sedikit bosan dan, gawatnya, ada beberapa doa-atau-sindiran-halus-atau-satir-atau-bisa-kausebut-apa-pun-sesukamu yang membuatku membisu karena terlalu umum dan sangat biasa. Yang benar saja! Garing woy! Ya Tuhan, apakah kedua penulis ini sudah mulai kekurangan ide? Semoga saja tidak karena masih ada satu buku lagi.

Ya Tuhan,
Kukira ia ingin meraih tanganku,

ternyata dia cuma mau ambil

popcorn di pangkuanku... hatiku

rasanya hampa....

5. Lapar, Gosong, Doa (dibaca 17 November, rating: 3/5)

Sudah lebih dari seribu kata dan masih ada satu buku lagi untuk diulas. Dan sesuai judulnya, beberapa doa-atau-sindiran-halus-atau-satir-atau-bisa-kausebut-apa-pun-sesukamu benar-benar membuatku kelaparan. Dan sesungguhnya, yang ini lebih menghibur ketimbang tiga buku sebelumnya. Ya Tuhan, terima kasih karena aku sudah membaca serumpun buku serial bertajuk #YaTuhan ini.

Ya Tuhan,
Kangen masakan rumah...

***

Walaupun tidak banyak nonfiksi yang kubaca, aku yakin yang lain juga beranggapan sama. Bahwa, bisa dibilang, serial #YaTuhan ini adalah terobosan dalam genre nonfiksi. Dan memang aku benar-benar bingung menyebut kalimat-kalimat di dalam ini dengan apa. Doa? Tentu saja bukan! Ada sih beberapa yang benar-benar kuamini. Hanya saja, doa masih terlalu suci untuk kalimat-kalimat yang berderai dalam serial ini. Puisi? Tidak juga. Satir? Mungkin beberapa. Surat untuk Tuhan? Wow, aku lebih memilih untuk bermain-main dengan Tuhan. Yah, aku mungkin akan tetap menyebut kalimat-kalimat yang berderai dalam serial ini dengan doa-atau-sindiran-halus-atau-satir-atau-bisa-kausebut-apa-pun-sesukamu (tidak bisa dikategorikan).

Selamat membaca! Semoga terhibur dengan hal-hal nyeleneh di dalamnya. Dan ingat, jangan terlalu serius ketika membaca bukunya ya. Juga ketika membaca ulasan ini. Hehehe.

Ulasan menjadi #ResensiPilihan Gramedia pada 29 November 2016.

8 komentar :

  1. AKu sudah baca 3 buku tapi di toko buku hiks, kurang yang nomor 3 dan nomor 5. Btw, tulisanmu bagus ini, Fii. Kirimkan deh.

    BalasHapus
  2. Ini bukunya berseri kah? Judulnya apa aja ya kalo boleh tau? Mauuuu beliiii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Yulia! Ini buku berseri namun memiliki tema berbeda dalam setiap bukunya. Judulnya sudah disebutkan di atas kok. 😄

      Hapus
  3. Waaahh terimakasih buat tulisannya, keren....terimakasih kritiknya....jadi masukan yang penting bagi kami.

    Salam kenal

    Adityayoga

    BalasHapus
  4. Seorang Eric Widjaja di dunia desain grafis Indonesia itu seperti... Dewa. :))

    BalasHapus