13 Oktober 2016

3 "Keanehan" dalam Miss Peregrine's Home for Peculiar Children


Pertama-tama, mari kita panjatkan puji syukur karena Bibli bisa kembali berkontribusi pada blog ini. Sudah sekitar 8 bulan sejak Bibli membuat postingan perkara hari Kasih Sayang, kali ini Bibli akan menceritakan apa yang sudah Raafi bisikkan ke telinga Bibli tentang buku yang baru saja—nggak baru juga sih, udah beberapa hari yang lalu—Raafi baca, "Miss Peregrine's Home for Peculiar Children" atau yang penerbit-suka-terjemahin-judul ini terjemahkan menjadi "Rumah Miss Peregrine untuk Anak-Anak Aneh". Nah, sekarang terserah kamu mau pilih yang mana. Karena Bibli anaknya simpel banget, jadi Bibli sebut MPHfPC saja ya, biar sebelas-dua belas sama MPASI.

Jadi, Raafi bilang kalau buku ini sedikit lambat alurnya. Konflik cerita baru muncul pada beberapa halaman setelah setengah buku (ngerti kan maksud Bibli?). Lalu, dari halaman pertama sampai pertengahan isinya apa? Narasi tentang Jacob, sang tokoh utama, yang galau apakah dia harus percaya kata-kata sang kakek atau harus terus melanjutkan hidup sebagai anak magang "spesial" di supermarket milik keluarganya. Kemudian terjadilah hal tak terduga yang membuatnya bisa melihat hal "aneh", semacam monster. Awalnya dia terkejut dengan apa yang dilihatnya sampai ia menggambarkannya sendiri dan menyebutnya monster. Lalu? Dia dianggap gila! Gila kan orang-orang? Halo! Kalau memang dia "benar-benar" melihat monster, kenapa malah dianggap tidak waras?

Bibli tidak akan menceritakan lebih jauh tentang Jacob yang dianggap gila dan diharuskan periksa kepada psikiater tapi malah jalan-jalan ke sebuah pulau yang Raafi bilang mengingatkannya pada deskripsi pulau di buku "And Then There Were None". Oke. Baiklah. Terserahnya saja. Tapi setelah dipikir-pikir, terlepas dari alur yang lambat dan orang-orang gila yang menganggap orang-orang lainnya gila, ada tiga keanehan utama yang membuat buku ini unik dan "aneh". Apa saja?

1. Potret-potretnya Aneh

Keunikan utama dari MPHfPC adalah gambar-gambar yang berserakan pada sela-sela cerita dan bab. Penulis pandai membuatnya sebagai unsur tambahan yang memberikan kesan misterius dan sedikit mengerikan pada cerita. Jadi, ketika penulis mendeskripsikan satu persona yang biasanya unik dan aneh, potret dari persona tersebut terlampir pada halaman berikutnya.

Sepertinya mudah saja melampirkan potret-potret pada MPHfPC. Tapi kamu akan merasa takjub pada fakta bahwa lebih dari seratus ribu foto telah melewati tangannya ketika menciptakan buku ini. Malah sebenarnya, ide awal buku ini adalah dari kegemaran penulis mengumpulkan foto-foto zaman dulu. Selain mengorek-ngorek tumpukan foto lama di pasar-pasar loak dan toko-toko antik, penulis juga menghabiskan waktu berjam-jam di rumah beberapa kolektor dan mencari di dalam kotak-kotak, folder-folder, dan album-album yang sarat dengan foto-foto menakjubkan. Ini sedikit dikutip dari hasil wawancara yang disertakan pada edisi terjemahan MPHfPC.


Nah, sekarang Bibli mengerti betapa sebuah karya menakjubkan itu berawal dari sebuah kegemaran dan kaya akan riset. Tidak seperti karya yang baru seminggu ditulis lalu dibukukan atau karya asal jadi. Tidak salah sih, cuma berbeda; dari segi pengalaman membaca dan cerita menarik penulis tentang karyanya tersebut. Ralat: jauh berbeda.

2. Anak-anaknya Aneh

Seseorang punya kekuatan super? Itu lumrah terjadi dan begitu tipikal. Biasanya mereka seperti itu karena terkena cairan kimia A atau tersengat racun hewan B atau kelainan pada masa percobaan. Tapi anak-anak di MPHfPC ini berbeda. Mereka ditakdirkan memiliki bakat sedari lahir. Bakat yang kemudian orang-orang di sekitarnya menganggapnya aneh atau gila. Again, society. Mereka tidak tahu bahwa anak-anak ini ditakdirkan karena ... astaga, ini baru kepikiran! Di sini, misi anak-anak aneh itu untuk apa ya? Tetap ada dan berkembang di balik hinaan para manusia normal? Memperlambat kepunahan? Atau ... ada yang mau bantu Bibli jawab? Raafi sungguh tidak membantu.

"Spesies manusia memiliki komposisi yang jauh lebih beragam ketimbang yang dikira oleh sebagian besar manusia. Taksonomi Homo Sapiens yang sesungguhnya adalah rahasia yang hanya diketahui segelintir orang." (hal. 219)

Nah, Jacob yang sudah terancam masuk Rumah Sakit Jiwa ini ternyata juga memiliki keanehan. Sama seperti anak-anak lain yang ia temukan di rumah Miss Peregrine. Dan Miss Peregrine sendiri? Yah, dia semacam ibu asuh di rumahnya itu dan dia bisa menstagnankan waktu. Dan seperti namanya, peregrine, ia juga bisa berubah wujud menjadi burung peregrine dan terbang. Lalu, anak-anak yang lain bisa apa?

3. Pembacanya Aneh

Bibli nggak habis pikir sama Raafi. Dia sungguh plin-plan. Saat pertama kali mendengar buku ini diadaptasi menjadi film, dia ingin segera membacanya. Dan ketika tahu buku ini diterjemahkan, dia langsung membelinya tanpa kenal timbunannya. Tapi seusai membacanya, Raafi malah urung datang ke bioskop untuk membeli tiket dan menontonnya. Ini karena satu hal yang dibencinya: perubahan bakat pada tokoh yang sungguh krusial baginya. Mana mungkin si A yang memilki bakat X dan si B dengan bakat Y di buku ditukar begitu saja di film. Bibli juga geram sih. Halo! Ini bukan sinetronnya Nikita Willy dan Rezky Aditya!

Setelah melihat ulasan dari teman-teman tentang filmnya yang menyatakan rada mengecewakan, Raafi akhirnya bersikukuh untuk tidak akan menonton film besutan Tim Burton ini. Huhuhu. Padahal Bibli mau lihat aktingnya mas Asa. Oke. Baiklah. Tidak apa-apa.

***

Sebenarnya susah untuk membuat MPHfPC menjadi favorit karena pertanyaan-pertanyaan di atas juga alurnya yang sempat membuat Raafi berhenti sejenak karena bosan. Tapi buku ini layak dibaca buat kamu yang suka dengan kisah fantasi yang mengimaji atau kamu yang suka dengan manusia berkekuatan super—yah, walaupun MPHfPC "keanehan" super. Konsep ceritanya pun cemerlang! Dan jangan lupakan potret-potretnya yang bakal bikin mengernyitkan dahi (bisa karena merasa aneh atau merasa takut). Akhir ceritanya pun membuat Raafi bertanya-tanya tentang apa yang terjadi berikutnya. Satu hal aneh lagi pada buku terjemahan ini, ada label Novel Dewasa pada sampul belakangnya. Bibli ingin menangis rasanya, karena sebenarnya buku ini ditujukan untuk para remaja.

Satu lagi kata Raafi: dia tidak akan merusak imajinasi tentang Jacob dan Emma yang sudah susah payah dibuatnya. Jadi, selamat membaca!


Judul : Rumah Miss Peregrine untuk Anak-Anak Aneh
Judul Asli : Miss Peregrine's Home for Peculiar Children
(Miss Peregrine’s Peculiar Children #1)
Pengarang : Ransom Riggs
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2016
Dibaca : 9 Oktober 2016
Rating : ★★★


Ulasan ini untuk tantangan:
1. FSFD Reading Challenge 2016 kategori [5] Crunchy Pillow.

11 komentar :

  1. Gue malah memutuskan untuk nonton filmnya dulu setelah baca review loe di goodreads. Soalnya gue lagi reading slump dan sepertinya blm sanggup baca buku dengan tempo lambat di awal. Makasih blibi dan Raafi reviewnya :) formatnya menarik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, sudah ada yang komentar beberapa saat setelah pos ini di-publish. Terima kasih ya, Hana!

      Hapus
  2. Belum nonton atau pun baca novelnya. Cuma baca review untuk pertimbangan. (Padahal adalah sedikit niatan untuk nyari semua novelnya di BBW) ����

    BalasHapus
  3. Aku tetep kepo sama novelnya sih, qaaa. :3

    BalasHapus
  4. Misi mereka? Simply just to stay alive, Raafi... Karena kalau berada lama2 di luar loop, mereka bisa tewas, entah itu karena rapid aging atau pun dimangsa hollows.

    BalasHapus
  5. Setelah baca ulasanmu, saya mending nonton filmnya saja sih ... habis keinget timbunan dan harganya mahal #eh


    ya ampun Nikita Willy dan Rezky Aditya, pasti lama nggak notnon MNC TV ya? Sekarang itu jamannya Senandung dan Nacita wkwkwk

    BalasHapus
  6. Hahaa.. penerbit itu... buku anak pun bisa dilabeli dewasa karena 'terlalu jujur' menampakkan pahitnya hidup

    BalasHapus
  7. Kalau saya lebih suka baca novelnya dulu baru nonton film nya . karena kalau baca novelnya jadi terimajinasikan. Jadi kita lebih tau cerita filmnua nnti

    BalasHapus
  8. Biasanya ketika saya sudah membaca novelnya, saya tidak akan menonton filmnya, begitu juga sebaliknya. Karena saya tidak ingin merasa kecewa akan perbedaannya, meskipun inti dari kisahnya tetap sama.

    Untuk kisah bergenre seperti ini, sebenarnya saya lebih suka menonton versi filmya. Ulasanmu membuat saya ingin membaca novelnya, tapi sayangnya saya terlalu malas untuk membeli novelnya. Hehehehe.... Thanks untuk ulasannya.

    BalasHapus