25 Juli 2017

Ulasan Buku: The Five People You Meet in Heaven

Judul : Meniti Bianglala
Judul Asli : The Five People You Meet in Heaven
Pengarang : Mitch Albom
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2014
Dibaca : 11 Juni 2017
Rating : ★★★★

"Orang-orang asing adalah keluarga yang masih belum kaukenal." (hal. 54)

Sadarkah kenapa aku baru menayangkan ulasan buku yang sudah dibaca hampir dua bulan lalu? Entah apa atau siapa yang merasuki, aku sendiri pun tidak tahu sampai aku menyadarinya. Aku terjangkit blogging slump! Kemerosotanku untuk menulis ulasan buku di blog kali ini sepertinya sudah mengkhawatirkan. Pada April lalu, semuanya masih baik-baik saja. Aku bahkan bisa menayangkan 11 pos bulan itu. Namun, gejala-gejalanya sudah mulai terlihat pada bulan berikutnya yang mana blog ini kuperbarui dengan empat pos saja. Semuanya semakin menjadi pada bulan Juni. Aku hanya menulis satu pos saja! Aku sedikit kecewa pada diriku, dan bertanya-tanya kenapa aku bisa terjangkit penyakit yang amat ditakuti setiap blogger. Pada awal Juli, aku bertekad untuk membagi waktu untuk mengejar ketertinggalan dengan menuliskan semua ulasan buku yang kubaca sejak Juni. Setidaknya satu buku demi satu buku. Sungguh, penyakit seperti ini memang tidak enak.

***

Sejak lahir hingga menjemput ajalnya, Eddie hidup di taman hiburan. Ia hanya sempat berada di tempat lain saat menjadi satu dari sekian banyak prajurit yang berperang di Filipina. Selain itu, sepanjang hidupnya, Eddie bekerja di sana, memperbaiki dan merawat berbagai wahana.

Hari itu terasa berbeda di taman hiburan. Diawali dengan seorang wanita gemuk yang membawa tas belanja yang meneriakkan, "Ya, Tuhan! Lihat!" Dilanjutkan dengan banyak orang yang berkerumun di sekitar Freddy's Free Fall, wahana baru yang menantang para pemberani laiknya jatuh dari menara tinggi. Wahana tersebut oleng, salah satu kabinnya terlihat miring. Empat penumpang yang terdiri atas dua lelaki dan dua perempuan tertahan palang pengaman, berpegang kuat-kuat pada apa pun yang bisa mereka pegang. Eddie, sebagai kepala perawatan di taman hiburan itu bergegas untuk menolong mereka. Ia tentu sekilas bertanya-tanya apa yang terjadi padahal ia sudah yakin betul bahwa wahana itu sudah terawat baik. Semua berjalan cepat hingga bersisa Eddie dan gadis cilik di sekitar tempat kejadian. Gadis cilik yang terkapar di landasan dan Eddie yang akan menyelamatkan serta kabin yang menggantung menunggu angin untuk menjatuhkannya.

17 Juli 2017

Blog Tour: Erstwhile + Giveaway

Judul : Erstwhile: Persekutuan Sang Waktu
Pengarang : Rio Haminoto
Penerbit: Koloni (imprint M&C!)
Tahun : 2017

Bicara soal artefak, aku teringat sebuah obrolan dengan rekan kerja yang amat suka sejarah. Ia sedang menggandrungi majalah dan koran zaman dahulu. Katanya, ia membeli dari salah satu pelapak daring yang ada di media sosial. Katanya, harga untuk satu koran lawas sekitar dua ratus lima puluh ribu rupiah. Nilai yang fantastis untuk lembaran yang maksimal hanya empat halaman saja. Ia pun bercerita bagaimana alur barang-barang lama itu sampai ke tangannya. Sebagian besar berasal dari kantor arsip daerah yang sudah mendigitalisasikan majalah dan koran sehingga mereka tidak memerlukan bentuk fisiknya lagi. Ada oknum pengepul yang mengumpulkan barang-barang itu dan dijual dengan harga murah. Kemudian, ada para pedagang yang membeli dan menjualnya kembali dengan nilai yang lumayan merogoh kocek. Hal ini terlihat ironis namun memang begitu realitasnya.

Aku membicarakan barang-barang lawas karena mungkin dalam beberapa puluh bahkan ratus tahun mendatang akan menjadi begitu berharga. Itu mirip seperti artefak yang menjadi incaran para kolektor dan banyak oknum yang meraup keuntungan dari hasil lelang. Satu hal yang pasti: semakin berumur barang-barang itu, semakin mahallah harganya. Ini yang terjadi ketika Raphael Harijono atau biasa dipanggil Rafa yang begitu menggemari artefak. Ia ingin mengetahui lebih lanjut tentang masa kejayaan Kerajaan Majapahit melalui artefak-artefak yang dimilikinya.

Sudah dapat ditebak bahwa buku ini adalah fiksi yang menyatukan romansa dengan sejarah. Tak hanya itu, kisah ini pun dibalut dengan sedikit sentuhan fiksi ilmiah yaitu dengan perjalanan waktu. Dibawakan dengan dua sudut pandang berbeda, buku ini memberikan sentuhan berbeda dalam sebuah karya fiksi historis. Sudut pandang pertama dibawakan oleh Picaro Donevante dengan latar zaman tahun 1300-an dari Paris di benua biru sampai tanah nusantara. Picaro menggunakan sudut pandang orang pertama. Sudut pandang kedua dibawakan oleh Rafa dengan latar masa kini dan menggunakan sudut pandang orang ketiga. Perbedaan yang mencolok ini memberikan angin segar pada cerita dan menurutku malah membuatnya tidak membosankan. Itu yang penting bagi sebuah karya fiksi historis yang memerlukan banyak narasi dalam setiap penjelasannya.

15 Juni 2017

Ulasan Buku: Three Sisters

Judul : Three Sisters
Pengarang : Seplia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2017
Dibaca : 26 Mei 2017
Rating : ★★★★

Dalam vlog yang diunggahnya pada Oktober dua tahun lalu, Connor Franta membagikan pendapatnya tentang pertanyaan paling penting yang harus kamu tanyakan pada diri sendiri. Ada tiga pertanyaan yang harus ditelisik ketika kamu akan melakukan sesuatu: apa, bagaimana, dan mengapa. Connor mencobanya dengan pertanyaannya sendiri; apa video yang akan dibuat, bagaimana cara membuatnya, dan kenapa dia membuatnya. Pertanyaan terakhirlah yang amat penting sehingga menimbulkan berbagai macam pemikiran yang tidak bisa dijawab secara langsung dan cepat. Pertanyaan-pertanyaan "Mengapa kamu melakukan apa yang kamu lakukan?", "Mengapa kamu percaya apa yang kamu percayai?", dan "Mengapa kamu menganggap suatu hal benar atau salah?" menjadi contoh-contoh yang diajukan Connor dan membuktikan betapa menjawabnya butuh waktu tidak sebentar. Bila perlu, lakukan kontemplasi untuk tahu jawaban yang tepat.

***

Kedua orang tua Rera akan ke luar negeri selama beberapa bulan. Maminya berpesan agar Rera dan adik-adiknya akur selama ditinggal olehnya. Maminya juga meminta Rera untuk mengurus kedua adiknya. Tak lupa, papinya juga berpesan kepada kedua adik Rera untuk mendiskusikan masalah yang mereka miliki dengan si sulung. Itu pun bila ada. Dan masih banyak pesan dari Mami dan Papi kepada tiga bersaudari itu. Rera mungkin akan menganggapnya lumrah kalau saja kedua adiknya masih kecil atau remaja. Tapi Gina dan Yumi masing-masing sudah punya suami. Bahkan Gina sudah memiliki dua anak. Haruskah Rera benar-benar melakukan apa yang kedua orang tuanya minta itu?

***

Saat menulis ulasan "Black.", aku sempat bilang bahwa aku bakalan masuk jurang ke-Metropop-an yang penuh hal-hal khayali yang bikin aku ingin menyicipinya lagi. Dan, viola! Beberapa hari setelah menulis ulasan itu aku dihubungi oleh Seplia untuk mengulas buku terbarunya ini. Setelah sebelumnya menjajal "Black." sebagai novel Metropop pertama yang kubaca dan kuulas, aku tidak berpikir dua kali untuk menerima tawaran mengulas buku terbarunya yang masuk lini Metropop ini. Pengarang yang satu ini sudah kukenal sejak "Insecure". Keunikan mengambil tema remaja yang tidak biasa membuatku percaya bahwa novel berlini Metropop kali ini juga tidak biasa. Karena begitu penasaran, aku sudah membacanya terlebih dahulu beberapa halaman awal via digital. Dan sangkaanku benar, buku ini memang tidak biasa dan aku dibuat penasaran dengan ceritanya.

Kenapa aku mengambil vlog Connor Franta sebagai pengantar di atas? Karena apa yang disampaikan Connor dalam vlognya itu sedikit banyak berhubungan dengan apa yang tersirat dalam novel karya Seplia ini.

29 Mei 2017

Ulasan Buku: Non-Spesifik

Judul : Non-Spesifik
Pengarang : Gratiagusti Chananya Rompas
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2017
Dibaca : 25 Mei 2017
Rating : ★★★★

Apa yang akan kamu lakukan ketika hidupmu sepertinya begitu monoton? Rutinitas yang mengungkung setiap hari membuatmu tak lagi memiliki warna. Apa yang kamu idam-idamkan dahulu dilepaskan satu persatu sehingga yang tersisa hanya hitam dan putih. Tak ada lagi warna-warni. Kamu harus segera menguak cara untuk terlepas dari jerat kejenuhanmu itu. Kamu harus cari terobosan baru agar hidupmu tidak hitam-hitam amat atau putih-putih amat. Janganlah muluk berharap warna pelangi yang dahulu kamu miliki, tapi setidaknya warna oranye atau pink atau biru muda hadir. Dan kamu mulai merasakan warna-warna itu kembali merasuki tubuhmu. Kamu akan merasa bahagia sedikit demi sedikit. Walaupun tidak sama lagi, tapi setidaknya kamu merasa bahagia. Ada saran lebih baik: pergilah ke suatu tempat yang belum pernah kamu kunjungi. Mungkin warna-warni yang lenyap itu akan kamu temukan kembali di sana.

***

Bisa dikatakan, "Kota Ini Kembang Api" adalah kumpulan puisi yang membuatku beruntung. Aku mendapati bahwa sang penyair, Gratiagusti Chananya Rompas atau biasa dipanggil Anya, merasa senang dengan ulasan yang kubuat. Seperti yang dikatakan Anya pada kolom komentar ulasan bukunya, "Saya sangat terharu kamu menangkap banyak hal yang ingin saya (bahkan ilustrator saya) sampaikan lewat 'Kota Ini Kembang Api'." Apa yang dikatakannya secara tersurat itu membuatku beruntung sebagai seorang pengulas buku karena (1) hal yang paling membahagiakan bagi seorang pengulas buku adalah ulasannya diketahui oleh pengarang buku dan (2) ulasan yang dibuatnya menguak apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh pengarang buku. Hal bahagia lain setelah menulis ulasan "Kota Ini Kembang Api" adalah menjadi #ResensiPilihan untuk yang kedua kalinya pada tahun lalu.

Di atas, aku coba menginterpretasikan satu puisi yang menjadi favorit dalam "Non-Spesifik". Judulnya? Tidak ada. Tapi bait pertamanya berbunyi "aku ingin pergi ke tempat yang belum pernah aku" dan bertengger pada halaman 76. Sangat khas Anya. Banyak puisi dibuatnya tak berjudul, seperti sebuah ketakperluan. Dalam puisi tersebut, aku merasakan bahwa rutinitas yang monoton amat begitu mengungkung orang-orang dewasa. Mereka jadi tidak bahagia atau, lebih buruknya lagi, berbohong untuk merasa bahagia. Mereka membutuhkan jalan-jalan, piknik, vakansi, apa pun itu sebutannya. Tapi, Anya sepertinya memberikan saran yang baik: ke tempat yang belum pernah dikunjungi. Bukan tempat-tempat yang setiap bulan atau beberapa bulan dikunjungi atau bahkan sudah dikunjungi. Bukahkah "setiap bulan atau beberapa bulan dikunjungi" juga merupakan rutinitas? Aku setuju dengan Anya tentang eksplorasi. Yuk, piknik!

17 Mei 2017

Tentang Impian dan Kenyataan dalam A Place You Belong

Judul : A Place You Belong
Pengarang : Nicco Machi
Penerbit: Jendela O'Publishing House
Tahun : 2016
Dibaca : 14 Mei 2017
Rating : ★★★★

Sebenarnya, walaupun suka membaca, aku asing dengan perpustakaan. Aku jarang mengunjungi perpustakaan. Dan ini mengingatkanku dengan perpustakaan Sekolah Dasar-ku di desa. Kondisi perpustakaan SD-ku dahulu bisa dibilang tidak layak. Boro-boro memiliki koleksi yang memadai, tempatnya saja menggunakan rumah bekas tempat tinggal penjaga sekolah. Berada di pojok belakang area sekolah, yang datang ke sana paling-paling siswa yang tidak punya uang jajan untuk dibelanjakan. Jangan tanya berapa banyak buku yang ada di sana, rak bukunya saja hanya ada dua buah yang bahkan tidak terisi penuh. Buku-bukunya kucel, berdebu, dan tidak menarik. Aku ingat sempat datang ke sana dan meminjam buku. Buku yang masih kuingat adalah cerita rakyat dari Indonesia. Entah ada angin apa aku meminjamnya padahal aku tidak begitu suka dengan cerita rakyat. Mungkin aku lupa membawa uang jajan atau barangkali sedang iseng saja.

***

Akhyar mengakhiri dongeng fabelnya. Cerita tentang belalang yang pemalas dan para semut yang amat giat bekerja memberikan penghiburan tersendiri bagi anak-anak di TK An-Nuur tempat Akhyar mendongeng kali ini. Sudah beberapa tahun sejak lulus kuliah dan ia masih setia dengan pekerjaannya yang merupakan passion-nya sejak lama: menjadi pendongeng. Ia bernaung di bawah Satriacarita, sebuah organisasi yang memberikan pelatihan-pelatihan mendongeng bagi yang berminat dan menyalurkan para pendongeng ke sekolah dan institusi yang membutuhkan jasa mendongeng. Penghasilan Satriacarita didapat dari sponsor, hasil kerja sama dengan pihak-pihak tertentu, CSR perusahaan, hingga donasi pribadi dari orang yang peduli. Setidaknya, Akhyar tahu apa passion-nya. Dan yang terpenting, ia menyenangi pekerjaannya itu.

Masih di dalam kelas, Akhyar terkejut ketika melihat Helia berdiri di depan pintu kelas. Akhyar buru-buru keluar dan bertanya kabar dengan teman sekelas di jurusannya itu. Helia makin cantik dan sepertinya sudah sukses. Tapi, kenapa cewek itu ada di sini di Semarang? Bukannya ia bekerja di Jakarta sebagai pustakawan? Apa yang membuatnya kembali ke kota tempatnya menuntut ilmu? Dan, kenapa ia tahu Akhyar sedang mendongeng di TK biasa-biasa saja seperti ini? Ada secercah harap yang merambati Akhyar untuk menyelesaikan apa yang tidak terselesaikan dahulu. Apakah ini takdirnya? Takdir mereka berdua?

***

Sejak pertama mengetahui buku ini diterbitkan, aku merasa harus membacanya. Aku punya keyakinan bahwa buku ini memiliki sesuatu. Entah apa, tapi sesuatu. Satu hal yang kutahu tentang buku ini adalah tema perpustakaan yang diangkat oleh penulis yang juga seorang lulusan ilmu perpustakaan. Aku mendapati buku ini ternyata novel romance. Penasaran dengan kisah apa yang bisa diceritakan dengan tema perpustakaan, aku bakal merasa bosan jika premisnya adalah kisah pemustaka dan pustakawan yang sering bertemu di perpustakaan. Untungnya tidak. Benar bahwa tokoh utamanya seorang pustakawan, tapi ia tidak menyukai pemustaka. Bahkan latar ceritanya tidak di perpustakaan. Aku langsung tertarik. Mengingat bukunya tidak tebal-tebal amat, aku bisa menyelesaikannya kurang dari dua jam. Dan ternyata, kisahnya lebih dari sekadar kisah dua sejoli yang berkutat dengan perpustakaan.