13 Desember 2017

Dark Matter dan Obsesi Bahagia

Judul : Dark Matter
Pengarang : Blake Crouch
Penerbit: Noura Books
Tahun : 2017
Dibaca : 19 November 2017
Rating : ★★★★

"Bagaimana cara kamu menikmati hidup? Cara kamu berbahagia? Apakah dengan mengikuti orang lain yang tampak bahagia? Coba tanya pada lubuk hatimu yang paling dalam sekali lagi. Bahagia adalah tentang menerima apa yang kamu dapatkan. Setidaknya kamu bersyukur atas dirimu sendiri. Atas apa yang kamu punya."

Kutipan di atas sempat kutulis dalam ulasan "Happiness" karya Fakhrisina Amalia. Namun, sekarang aku melihatnya begitu naif—begitu klise. Benarkah bahwa bahagia adalah hanya tentang berterima dan bersyukur? Tentu tidak. Bahagia yang seperti itu sepertinya berkonotasi pada mereka yang tidak bisa melakukan apa saja yang mereka ingin lakukan, juga bagi mereka yang tidak bisa mendapatkan apa saja yang mereka ingin dapatkan. Namun, bagaimana jika seseorang bisa melakukan dan mendapatkan segala yang ia ingin lakukan dan dapatkan? Tentu taraf bahagianya berbeda. Mungkin orang itu akan merasa bahagia jika ia bisa mencentang semua keinginan yang sudah dicapainya. Ada juga seseorang yang bahagia setelah melakukan hal berguna bagi orang lain. Bahagia itu relatif, tergantung bagaimana seseorang memaknainya.

Bahagia juga dipengaruhi oleh pilihan-pilihan yang diambil selama hidup. Keputusan yang diambil akan memberikan dampak apakah kita merasa bahagia dengan hidup yang dijalani atau malah sebaliknya. Lalu, pernahkah berpikir untuk mencoba jalani pilihan kehidupan yang tidak diambil? Mungkin saja kehidupan itu akan membuat kita lebih bahagia. Atau mungkin tidak. Karena kita tidak akan pernah tahu karena kita tidak akan mengulanginya lagi. Namun, bagaimana jika kemajuan teknologi membuatmu bisa memilih bagian hidupmu yang lain? "Dark Matter" menjelaskan hal ini.

12 Desember 2017

Pertunjukan The Little Prince oleh Rumah Karya Sjuman

Edited by Me

"The Little Prince" kubaca sekitar dua tahun lalu. Kala itu, aku menyatakan dalam ulasanku bahwa aku tidak memahami arti cerita yang dikandungnya. Bahwa bahasanya terlalu metafora dan langsung. Tak lama berselang, "The Little Prince" versi filmnya tayang. Aku yang berusaha untuk memahami apa yang terjadi pada Pangeran Cilik ini nekat menonton filmnya. Tidak buruk, aku jadi mengerti apa yang dimaksud dari ceritanya. Versi film sedikit berbeda. Ada seorang anak perempuan sebagai tokoh utama dan ibunya yang keduanya tidak terceritakan di dalam buku. Menurutku, itu beralasan. Kisah dalam bukunya sedikit sulit untuk diterangkan secara visual sehingga penambahan tokoh anak perempuan dan ibunya bisa memudahkan penjelasan ceritanya. Seperti yang temanku bilang, "Kisah aslinya tidak dimaksudkan untuk ditafsirkan dengan mudah."

Melalui filmnya, aku mulai mengerti tentang apa yang ingin disampaikan oleh pengarang. Singkatnya, "The Little Prince" memperlihatkan dunia orang dewasa dari kacamata seorang anak-anak. Bahwa menjadi dewasa itu begitu rumit dan egois, mereka hanya fokus pada hal-hal yang mereka gemari. Mereka sombong. Mereka suka dengan kekuasaan, teori-teori, dan angka-angka. Hal ini membuat penikmat "The Little Prince" dihadang oleh masa kecil mereka. Mereka yang dewasa akan diingatkan tentang bagaimana menjadi anak-anak yang bebas dan tak dikekang apa pun. Beberapa di antaranya mungkin berkeinginan untuk kembali jadi anak-anak. Memunculkan sindrom Peter Pan dan sugestinya bahwa menjadi anak-anak akan selalu menyenangkan.

08 Desember 2017

Ulasan Buku: A Thing Called Us

Judul : A Thing Called Us
Pengarang : Andry Setiawan
Penerbit: Haru
Tahun : 2017
Dibaca : 6 Desember 2017
Rating : ★★★

Muhammad sedang bermain dengan seorang anak sembari menggendongnya. Tiba-tiba anak tersebut buang air kecil dalam gendongan Beliau dan mengenai pakaiannya. Sang ibu menarik lalu memarahi anak itu. Melihat sang ibu kasar kepada anaknya, Beliau berkata, "Mengapa engkau memarahi dan merenggutnya dengan kasar? Sesungguhnya, baju yang kotor ini bisa dicuci dan dihilangkan kotorannya. Namun siapa yang bisa menghilangkan kekeruhan jiwa seorang anak atas bentakan dan renggutan yang kasar yang telah dilakukan kepadanya?" Sabda yang diriwayatkan Muslim tersebut menjadi pengingat betapa membentak anak adalah hal fatal. Ilmu pengetahuan pun menggenapinya bahwa suara keras dan bentakan yang ditujukan kepada anak-anak dapat menggugurkan sel otak yang sedang tumbuh. Ingatan seputar bentakan dari orang tua akan terngiang terus sampai sang anak dewasa.

***

Tiga orang sahabat itu sudah tak lagi bersatu sejak Shinji pergi tanpa kabar. Sesekali Shinji mengirimi Kotoha dan Shun kabar namun itu tidak bertahan lama. Kotoha masih meminta Shun terus mencari Shinji. Kotoha pikir perginya Shinji adalah kesalahannya. Seharusnya ia tidak menyatakan cintanya kepada pria yang selalu ia anggap kakak itu. Tentu saja Shinji tidak enak dengan status mereka sebagai pacar. Apa Kotoha tidak memikirkan perasaan Shun yang sebenarnya menyukainya juga? Kotoha begitu egois dengan perasaannya. Namun, benarkah karena itu Shinji pergi?

Shun tahu sudah waktunya untuk melanjutkan hidup. Itu berarti ia harus sudahi usahanya mencari-cari Shinji. Sahabat keparat yang tidak pernah mengabarinya sejak lima tahun lalu. Ke mana dia pergi? Kenapa Shinji meninggalkan Shun dan terutama Kotoha? Sekarang Shun-lah yang harus bergelut dengan perasaannya sendiri. Saat ia ingin Kotoha melupakan Shinji, Kotoha malah memintanya untuk terus mencari pria itu. Tahukah Kotoha apa yang dirasakannya? Mana yang lebih baik, terus-menerus menuruti keinginan Kotoha atau menyudahinya? Bagaimana dengan perasaannya yang dipendam selama ini?

23 November 2017

Kedai 100X Mimpi: Kisah 1001 Malam yang Gagal

Edited by Me

Apa yang kamu ketahui tentang "Kisah 1001 Mimpi"? Aladdin, Sindbad, dan Abu Nawas, adalah beberapa kisah populer di dalamnya. Cerita yang entah siapa pengarangnya ini berasal dari Timur Tengah dengan satu cerita besar yang memiliki cabang cerita-cerita kecil. Lalu, kenapa aku membahas "Kisah 1001 Malam"? Karena judul inilah yang xjadi inspirasi Valiant Budi—yang kemudian mari sebut saja dia Vabyo—untuk dua bukunya yang terkenal itu, "Kedai 1001 Mimpi" dan "Kedai 1002 Mimpi". Setelah membaca "Forgotten Colors", aku berniat untuk mengangkat sosok Vabyo di Jurnal Ruang. Karena masih kurang materi pembahasan, aku memaksa diri untuk baca dua buku itu. Tak dinyana, aku menikmatinya.

Aku sebut "memaksa diri" di atas karena aku memang tidak begitu menggemari buku nonfiksi—seperti yang kuceritakan di sini. Namun, membaca dua karya Vabyo ini seperti sedang menikmati kisah yang dibuat-buat. Bagai dongeng. Banyak hal yang tak terduga sampai bertanya-tanya apa yang dituliskan pada buku ini benar-benar terjadi. Penuh kejutan—terutama tentang bagaimana bervariasinya orang-orang pribumi—maksudnya, penduduk asli—yang ditemui Vabyo di tempat kerjanya. Aku ragu Vabyo akan bisa menceritakan sebanyak ini kalau tidak bekerja di tempat itu dan sebagai posisi itu.

Berlatar Dammam, Arab Saudi, Vabyo bekerja sebagai pelayan sebuah kedai kopi franchise asal Amerika Serikat. Dengan anggapan pekerjaan itu tidak bikin kelelahan sehingga bisa bervakansi ke wilayah lain Timur Tengah, Vabyo menerima tawaran bekerja di sana. Tiba di kedai kopi menggunakan kaos hitam berkerah lalu diminta bersihkan kafe, resmilah Vabyo menjadi seorang pahlawan devisa atau Tenaga Kerja Indonesia. Hari-hari berganti, keseruan-keseruan (maaf, Vabyo, mungkin ini terlalu kasar bagimu, tapi aku melihatnya sebagai keseruan) bergulir di kedai kopi tempatnya kerja. Dan berbulan-bulan kemudian, Vabyo pulang ke Indonesia. Ia menuliskan catatan-catatannya selama di Dammam dan menerbitkan "Kedai 1001 Mimpi".

01 November 2017

Masa Kecil dalam Dua Karya Reda Gaudiamo

Edited by Me

Saat meriset untuk ulasan ini, aku melongo mendapati Reda Gaudiamo adalah personel AriReda yang terkenal menyanyikan puisi itu. Ari - Reda; Reda - Gaudiamo. Betapa seharusnya aku bisa menerka-nerkanya. Aku tidak begitu gandrung dengan AriReda, namun bukan berarti tidak pernah mendengarnya. Keterkejutan bodoh ini buatku mencari tahu lebih lanjut tentang siapa itu AriReda. Mereka sudah terbentuk sejak Oktober 1982. Sudah lebih dari 30 tahun dan mereka bersama dan tetap terus berkarya. Adakah yang mengira mereka suami-istri? Bukan, tentu saja. Mereka hanya dipaksa berduet di acara kampus pada Oktober 1982. Sejak itulah mereka terus bersama—maksudnya bernyanyi bersama—dan terus berkarya sampai kini. Hal terakhir yang kutahu mereka menyenandungkan puisi-puisinya Sapardi Djoko Damono.


Terima kasih kepada AriReda dan ketidakpekaanku sehingga bisa membuat separagraf pengantar. Mari kembali pada Reda Gaudiamo dan karya-karyanya "yang lain". Reda sudah menerbitkan beberapa buku yang kebanyakan adalah fiksi. Salah dua yang populer—setidaknya di Goodreads—adalah "Na Willa" dan "Aku, Meps, dan Beps". Keduanya diterbitkan secara indie. Yang satu pada 2012, satu lagi pada 2016. Tipikal keduanya: sama-sama cerita anak dari sudut pandang anak perempuan. Dan memang cerita anak menjadi spesialisasi Reda sampai-sampai ia membuka kelas penulisan cerita anak bersama Dewan Kesenian Jakarta beberapa waktu lalu. Yah, itu sudah menegaskannya, kan?

Berbeda dari cerita anak lain, aku melihat ada gaya penulisan khas dan penggunaan diksi yang sedikit "nyastra" dari kedua karyanya. Aku tidak banyak membaca cerita anak dari penulis-penulis lokal memang, tapi beberapa yang sudah kubaca tidak begitu "membekas". Lain dengan dua karya Reda ini, apalagi yang "Na Willa"—di bawah akan kujelaskan kenapa. Kusimpulkan sendiri bahwa karya-karya Reda tidak hanya cocok untuk dibaca anak-anak, tetapi juga cocok untuk para dewasa. Jalan tengahnya: para dewasa membacakannya kepada anak-anak. Ya, memang mirip dongeng namun lebih kontemporer. Mungkin sastra anak memang tepat untuk pengistilahan karya-karya Reda ini. Mungkin keunikan ini jugalah yang membuat Reda memilih untuk menerbitkannya melalui penerbit indie.