13 April 2018

Menghidu Aroma Karsa

Edited by Me

"Bagi saya, parfum bagaikan asap rokok. Semakin orang tak peka menyemprotkan minyak wangi banyak-banyak, semakin jengkel orang-orang seperti saya," ujar Wendy Helfenbaum dalam tulisannya. Ia mengalami hiperosmia atau meningkatnya kepekaan pada indra penciuman. Hiperosmia tidak berkaitan secara langsung dengan masalah psikologis atau syaraf, tapi merupakan reaksi terhadap berbagai jenis bau yang biasanya tidak bisa dihidu oleh kebanyakan orang. Wendy pernah satu lift dengan seorang wanita karier dengan aroma parfum menyengat. Tenggorokan Wendy seketika meregang. Walaupun berada jauh dari sang wanita karier, Wendy merasa seperti sedang menelan bulat-bulat aroma bunga. Kepala Wendy berdenyut, gelombang mual menyergapnya. Wendy juga pernah berada dalam sebuah acara pesta keluarga dan tiba-tiba seorang wanita—yang sepertinya menyemprotkan seisi botol parfumnya—duduk di sampingnya. Wendy meminta pelayan memintanya wanita itu pindah secara halus. Saat hal itu ternyata, sang wanita menatap Wendy kebingungan seolah-olah berkata, "Siapa? Aku? Memakai terlalu banyak parfum? Aku bahkan tak menciumnya."

Lantas, apakah penderita hiperosmia sensitif hanya terhadap parfum? Tentu saja tidak. Segala bau-bauan pasti tercium secara masif sampai-sampai mereka merasakan sesak. Bagi yang tidak kuat, mual bahkan muntah-muntah. Biasanya, toleransi mereka akan sudah diambang batas saat memasuki tempat makan, studio bioskop, atau tempat yang begitu ramai. Beberapa orang bahkan tahu kehadiran seseorang dari baunya tanpa melihat dulu siapa seseorang itu. Hiperosmia juga membuat mereka yang menderitanya meminta atasan mereka untuk membatasi pemakaian produk di tempat kerja—terutama jika lingkungannya terbuka. Bagaimanapun, mereka dapat mengendus apa saja sepanjang hari. Akan tidak nyaman dan kurang fokus ketika mereka bertemu dengan aroma-aroma menyengat. Lebih jauh, sensitivitas terhadap bau ini mungkin bisa dimanfaatkan untuk meracik minyak asiri dalam industri parfum. Barangkali kepekaan mereka akan menghasilkan sebentuk aroma yang pas dan disukai banyak orang. Dua kalimat sebelum ini sebenarnya hanya imajinasi hasil dari cerita yang baru saja kunikmati—sebuah buku berjudul "Aroma Karsa".

06 April 2018

Masa Depan Versi Ready Player One

Edited by Me

Apa gambaran masa depan menurutmu? Bagi dunia yang dibangun John Krasinski dalam film terbarunya berjudul "A Quiet Place", masa depan dipenuhi makhluk asing yang buta tapi peka suara, haus darah, dan mematikan. Dengan penggambaran dunia seperti itu, manusia yang masih hidup terpaksa harus selalu tenang dan tidak berisik dalam berkeseharian. Sekali saja botol minummu jatuh tak sengaja, nyawamu benar-benar terancam. "A Quiet Place" memaksa para penontonnya berpikir: Mungkinkah hidup dalam keterbatasan seperti itu? Dapatkah seseorang melakukan segala aktivitas tanpa mengeluarkan bunyi apa pun? Keberadaan monster yang terus membayangi juga menjadi masalah sendiri. Itu seperti seseorang yang takut kecoak diharuskan hidup di sebuah ruangan yang berisi beberapa ekor kecoak. Bisa dibayangkan betapa waswasnya ia? Betapa ia harus terus terjaga dan amat berhati-hati agar kecoak tidak mendekat padanya lebih-lebih terbang ke arahnya. Ketegangan, kehati-hatian, dan keheningan adalah bentuk masa depan yang ditawarkan oleh "A Quiet Place".

Pada 1999 di dunia nyata, penulis fiksi-ilmiah David Gerrold pernah memprediksi masa depan. Suatu saat pada masa depan akan ada alat yang ia namakan PITA (Personal Information Telecommunications Agent). "Saya memiliki telepon selular, tempat penyimpanan saku, penyeranta, kalkulator, kamera digital, perekam suara saku, pemutar musik, dan di suatu tempat di sekitar sini, saya dulu punya televisi berwarna," ujar David. Prediksinya tidak melenceng. Gadget pada masa sekarang bahkan memiliki fungsi melebihi alat-alat yang disebutkan David tersebut. Dari menunjukkan arah, menyimpan data, sampai sebagai alat pembayaran. Hampir dua dekade setelah prediksinya dibuat, baru-baru ini David membuat ramalan lagi tentang masa depan. Ia bilang bahwa masa depan akan diisi dengan robot yang dapat melakukan banyak tugas dan menjadi asisten digital bagi manusia. Walaupun sudah banyak diciptakan, fungsi robot pada masa sekarang masih terbatas untuk satu tugas. Sepertinya, jalan menuju masa depan seperti yang diramal David tidak akan lama lagi. Robot jadi bentuk masa depan yang ditawarkan David.

Menurutku sendiri, masa depan akan terbentuk atas teknologi yang semakin canggih, manusia yang semakin banyak, dan permasalahan yang semakin kompleks. Dan yang perlu diperhatikan secara serius adalah bentuk kedua dan ketiga. Baru-baru ini, sebuah artikel berdasar-data merilis informasi yang sulit untuk disangkal tentang angka populasi yang melejit. Para peneliti asal Kanada menaksir lebih dari 100 kota akan memiliki populasi lebih besar dari 5,5 juta orang hanya dalam 35 tahun. Apa yang terjadi pada kota-kota tersebut selama 30 tahun ke depan akan menentukan lingkungan global dan kualitas kehidupan dunia yang diproyeksikan menjadi 11 miliar orang. Bayangkan bagaimana dunia yang semakin menua ini mengemban jumlah manusia sebanyak itu. Belum lagi permasalahan yang terus terjadi dengan penambahan bentuk permasalahan-permasalahan baru. Sebagian penduduk dunia saat ini masih berjibaku dengan berbagai penyakit yang menyerang mereka. Sebagian penduduk dunia saat ini masih mencari suaka untuk terus bertahan hidup. Sebagian penduduk dunia saat ini sudah susah mendapatkan air bersih. Dan masih banyak permasalahan lain.

05 April 2018

Beginilah Seni untuk Bersikap Bodo Amat

Edited by Me

"Mark Manson adalah seorang blogger kenamaan dengan lebih dari 2 juta pembaca." Siapa pun yang baru saja menyelesaikan "The Subtle Art of Not Giving A F*ck" (mari kita singkat jadi TSAoNGAF saja?) akan bertemu dengan kalimat itu pada bagian "Mengenai Pengarang" di akhir buku. Hal itu membuatku langsung mencari tahu blognya. Aku menemukan tampilan muka yang jernih dan simpel dengan mengedepankan personal branding yang kuat—dengan kalimat "Hi. I'm Mark." dan gambar ilustrasi wajahnya. Setelah kutelusuri, banyak artikel menarik seputar pengembangan diri yang ingin kubaca. Itu mengingatkanku pada situs web seperti Lifehack dan Thought Catalog yang kontennya hampir mirip. Bedanya, beberapa artikel di blog Mark dikhususkan bagi pengunjung yang berlangganan berbayar. Kupikir, wow, ini keren sekali! Mark membuat orang yang ingin membaca teori dan pemikiran-pemikirannya dengan mengharuskan "membayar"-nya. Aku jadi ingat blog pribadi lain yang juga menyediakan layanan berbayar atau—diperhalus menjadi—donasi, Brain Pickings milik Maria Popova. Mustahilkah punya impian memiliki blog berbayar seperti milik Mark dan Maria?

Karena tertarik dengan kontennya, aku berlangganan surel mingguan blog Mark secara gratis. Sabtu kemarin, aku mendapatkan satu dengan subyek "You're not special". Isinya merujuk pada satu artikel yang ditulis Mark pada Agustus 2013 lalu (setidaknya tanggalnya tercatat begitu). Artikel ini berisi teori Mark tentang betapa sebenarnya menjadi spesial itu tidak spesial. Karena menjadi spesial pun akan tetap memiliki perasaan yang sama dengan yang tidak spesial. Yang patut digarisbawahi adalah bagaimana seseorang harus menemukan celah kecil untuk merasa bahagia. Dengan merasa bahagia, ia akan merasa spesial karena bahagia. Artikel ini juga merujuk pada bab 3 TSAoNGAF berjudul "Anda Tidak Istimewa". Menjadi "biasa-biasa saja" sudah menjadi standar baru kegagalan sehingga banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi istimewa dan spesial. Namun, banyak dari mereka juga lupa bahwa perlombaan itu hanya untuk tujuan, bukan sebagai proses yang mengilhami hasil. Nah, sudah mulai pusing? Mari lanjutkan.

19 Maret 2018

Sistem Perkuliahan dalam Departure

Edited by Me

Saking lamanya menunda-nunda untuk menulis ulasan ini, yang tersisa dalam memoriku akan buku ini adalah latar kehidupan kampusnya. Sejak bab pertama, tokoh-tokoh yang ditampilkan adalah mahasiswa dan mahasiswi kampus di dataran Tiongkok sana. Kalau tidak di area kampus; ruang kelas, perpustakaan, lapangan olahraga, cerita berjalan di sekitar asrama mahasiswa dan mahasiswi. Hal itu sedikit banyak membuatku berpikir tentang bagaimana kuliahku dulu. Berbeda dari Gifty, Lei Han, dan teman-temannya yang hidupnya terkungkung di dalam kampus dengan segudang kegiatan, aku paling lama di kampus adalah setengah hari alias enam jam. Kampusku tidak menyediakan banyak pilihan unit kegiatan atau organisasi. Bilapun ada, tidak kuminati. Aku termasuk mereka yang ke kampus hanya untuk kuliah dan tatap muka dengan dosen. Yah, mungkin akan lebih lama bila ada tugas kelompok dan mengharuskanku mengerjakannya di area kampus—yang mana itu jarang. Maka dari itu, aku memiliki banyak waktu luang. Ralat: amat banyak waktu luang.

Aku kagum sekaligus merasa kasihan kepada mahasiswa seperti Gifty dan Lei Han yang sehari-harinya berkutat di kampus, dari pagi sampai sore atau malam. Sistem perkuliahan dalam buku ini menganut sistem poin. Maksudnya, setiap mahasiswa harus mengumpulkan jumlah poin tertentu sebagai salah satu syarat kelulusan. Tiap-tiap dari mereka memiliki buku poin yang harus diisi dengan cap. Poin tersebut didapat dari beragam kegiatan yang dilakukan di dalam kampus, di luar kegiatan akademik mereka. Semakin aktif kamu mengikuti kegiatan, semakin cepat kamu mendapatkan poin, semakin lancar pula kamu untuk lulus. Kekagumanku timbul ketika mereka dapat benar-benar menggenapi seluruh poin mereka. Itu berarti banyak kegiatan yang mereka ikuti dan, secara tidak langsung, mereka memiliki lebih banyak koneksi dengan mahasiswa dan mahasiswi dari jurusan lain. Bandingkan denganku, mantan mahasiswa yang 'teng come teng go' ini.

Di sisi lain, aku bertanya-tanya apakah mereka memiliki waktu dan kegiatan di luar kampus. Walaupun mungkin kegiatan yang mereka ikuti beragam, pernahkan mereka merasa bosan dengan kampus dan tetek-bengeknya? Walaupun mungkin mereka memiliki waktu luang pada akhir pekan, tidakkah mereka berpikir untuk mengalirkan sebagian besar waktunya untuk minat dan bakat mereka? Lalu, pernahkah mereka merasa cemas dengan tuntutan poin yang mengejar-ngejar mereka?

05 Maret 2018

Ulasan Buku: When Breath Becomes Air


Judul : When Breath Becomes Air
Pengarang : Paul Kalanithi
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun : 2016
Dibaca : 5 Februari 2018
Rating : ★★★★

Perkenalan pertama dengan buku ini adalah saat bertemu dengan rekan kantor lama sekitar setahun yang lalu. Seperti biasa, pada setiap kesempatan bertemu, karena dia juga memang suka baca buku, aku bertanya buku apa yang sedang dia baca. Buku ini disebutnya. Saat itu aku tak tertarik, karena kupikir, aku tidak akan bertaruh untuk nonfiksi lebih-lebih sebuah memoar. Selain itu, masih banyak buku fiksi lain yang menanti untuk dilahap. Waktu bergulir dan aku masih tidak ingin membacanya sampai aku mengetahui bahwa buku ini ternyata sudah diterjemahkan ke versi bahasa Indonesia. Lalu, aku mulai membaca ulasan-ulasannya di Goodreads. Mengetahui jumlah halaman yang tidak tebal-tebal amat dan ulasan yang menjanjikan, aku kepincut dan segera mencari buku ini. Saat seorang rekan membawa satu kopi buku ini, aku seperti diingatkan untuk segera membacanya. Aku lantas membeli versi digitalnya lalu, merasa tidak puas, membeli versi cetaknya.

***

Paul tak akan pernah berpikir untuk memilih skenario hidup yang ini. Skenario yang membuat karier gilang-gemilangnya seperti tertabrak trailer dan tak terselamatkan. Skenario yang membuat hidupnya berbalik seratus delapan puluh derajat. Semua skenario masa depan yang dibayang-bayangkannya lenyap. Saat ia begitu jatuh cinta dengan kariernya sebagai ahli bedah saraf, saat banyak rumah sakit dan universitas ternama menawarinya jabatan penting, saat ia dan sang istri sedang memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk memiliki momongan. Paul mengidap kanker paru-paru stadium empat pada usia 36 tahun. Organ-organ pentingnya lumpuh. Pada saat-saat terakhirnya, Paul menuliskan pesan sederhana kepada putri mungilnya, Cady, yang baru lahir beberapa bulan. Pesan yang selanjutnya tidak hanya untuk putrinya ketika sudah bisa memahaminya kelak, tapi untuk mereka yang memungkasi "When Breath Becomes Air".

***

"Dengan Kesehatan Sempurna, Aku Memulai" adalah bagian pertama buku ini. Menjabarkan masa-masa Paul sebelum kanker menyerangnya. Bahwa Paul awalnya tak berkeinginan menjadi dokter walaupun hampir semua anggota keluarga yang lain berprofesi sebagai dokter. Saat kuliah, ia memilih kelas sastra juga kelas biologi dan ilmu saraf. Tentu ada alasan sendiri kenapa ia memilih dua bidang yang secara eksplisit terlihat berseberangan itu. "Satan: His Psychotherapy and Cure by the Unfortunate Dr. Kassler, J.S.P.S." karya Jeremy Leven membuat Paul memikirkan asumsi serampangan bahwa pikiran hanyalah hasil kerja otak—yang tentu saja benar karena untuk itulah otak bekerja. Lebih lanjut, Paul mengatakan, "Kesusastraan memberikan berbagai penuturan mengenai makna menjadi manusia; maka, otak adalah mesin yang entah bagaimana memungkinkan hal itu." (hlm. 29)