15 Oktober 2017

Ulasan Buku: Passion Stories + Wawancara Penulis

Judul : Passion Stories
Pengarang : Qalbinur Nawawi
Penerbit: Metagraf (imprint Tiga Serangkai)
Tahun : 2017
Dibaca : 13 Oktober 2017
Rating : ★★★

"Tenang, Bang. Kalaupun kita jatuh nanti, kita nggak bakal ngerasain sakit lagi." (hlm. 69)

Seorang tentara mengatakan hal itu ketika Arbain Rambey dan rombongan tentara Indonesia berada di atas pesawat Hercules pada 2004. Mereka sedang menuju Pakistan yang terkena gempa bumi untuk memberi bantuan beras. Kebocoran oli pada baling-baling pesawat terjadi saat perjalanan, tepatnya saat melintasi hutan. Rasa ketakutan hadir dalam diri Arbain waktu itu. Bagaimana tidak? Ia tahu bahwa tidak ada yang selamat dalam kecelakaan pesawat. Apalagi kondisi mereka yang berada di hutan. Pikirannya sudah kalut memikirkan tragedi pesawat dan keluarga yang belum tentu menemukan mayatnya. "Jujur, saya sudah pasrah," ungkap Arbain. Hingga mukjizat itu datang. Para tentara berinisiatif memperbaiki kerusakan. Mereka membongkar mesin di atas udara saat baling-baling masih berputar. Semua awak pesawat pun selamat.

Secuplik pengalaman di atas dan pengalaman-pengalaman seru nan inspiratif lain dapat kamu temukan dalam "Passion Stories". Buku ini mengangkat kisah para figur publik yang berhubungan dengan karier dan passion. Ada sepuluh figur publik sukses yang ditanyai oleh penulis. Mereka adalah pemilik Kebab Turki Baba Rafi Hendry Setiono, pebisnis yang kini menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno. gitaris Gigi Dewa Budjana, aktor Dion Wiyoko, fotografer Arbain Rambey, Puteri Indonesia 2013 Whulandary Herman, karateka Umar Syarief, penyanyi Rinni Wulandari, penulis Dewi Lestari, dan atlet bulu tangkis Taufik Hidayat. Kesemuanya ditanyai tentang karier dan bagaimana mereka mencapainya yang didasari passion. Setiap orang mengambil jalur hidupnya sendiri. Begitu juga mereka yang diwawancarai dalam buku ini. Walaupun temanya sama-sama perihal passion, namun masing-masing memiliki keseruan kisah dan pandangan yang berbeda.

14 Oktober 2017

Hanyutnya Ikan-Ikan Mati

Edited by Me

Melalui media sosial Twitter, aku tahu seorang teman menunggu-nunggu pergantian hari untuk mendengarkan salah satu lagu teranyar penyanyi favoritnya. Dari situlah aku tahu bahwa Louis Tomlison merilis lagu berjudul "Just Like You", tepatnya pada tanggal 12 lalu. Melalui media sosial Facebook, seorang teman yang lain membeberkan pendapatnya tentang lagu "Just Like You". Ia mengatakan bahwa lagu salah satu member One Direction itu amat berhubungan dengan dirinya yang hidup di tengah bombardir dunia maya. Sebuah tempat yang seolah-olah mengharuskan kita untuk "melakukan sesuatu" setiap hari. "Kita sebenarnya menjalani tekanan yang sama, kesepian yang sama, dan hasrat yang sama untuk dirayakan. Setidaknya melalui dunia maya. Karena di dunia nyata, kita bukan siapa-siapa. Sebegitu kesepiankah manusia di dunia digital?" pungkasnya mengakhiri statusnya.

Betapa media sosial menjadi medium penghubung. Kita bisa tahu opini orang lain, apa yang mereka lakukan, apa yang mereka inginkan, apa atau siapa yang mereka elu-elukan. Selanjutnya, aku coba mendengarkan "Just Like You". Dari liriknya, aku melihat Louis sedang menceritakan dirinya sendiri yang sudah mendapatkan segalanya. Namun, namanya juga manusia, ia juga merasakan apa yang semua orang rasanya. Parahnya, sebagai figur publik, tidak ada yang peduli ketika Louis merasa bosan, stres, dan jatuh. Ia pun mengatakan bahwa lagu ini benar-benar melekat padanya. "Anggapan tentang selebritas itu tidak bisa ditembus dan tidak manusiawi, tapi pada dasarnya, kita semua memiliki masalah yang sama. Patah hati terasa sama, kehilangan terasa sama, semua perasaan ini sama untuk kita semua," ujar Louis.

Kemajuan teknologi melalui media sosial membuat orang merasa penting. Penting untuk berswafoto lalu menyebarkannya. Penting untuk membagikan asal berita sebelum mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Penting untuk membeli barang-barang baru, menu makanan dan minuman baru, menonton film baru rilis, demi menjadi pionir tren. Juga dalam membeli buku baru terbit untuk difoto dan dibagikan walaupun ujung-ujungnya ditaruh di tumpukan timbunan paling atas. Hal-hal yang sebenarnya pada beberapa tahun sebelum ini tidak terlalu penting. Kepentingan yang membuat setiap orang mengorbankan beberapa hal agar tercapainya kepopuleran di media sosial. Tak dipungkiri, aku juga melakukan hal yang sama. Walaupun dengan jenis dan level yang berbeda. Lalu, apa hubungannya dengan "Ikan-Ikan Mati" karya Roy Saputra? Simak ulasan berikut sembari mendengarkan "Just Like You".

06 Oktober 2017

Merawat Kenangan Bersama Forgotten Colors

Edited by Me

"We are always remaking history. Our memory is always an interpretive reconstruction of the past, so is perspective." —Umberto Eco

Akhir-akhir ini, aku senang karena berteman dekat dengan periset sejarah. Nilai Sejarah waktu sekolah dulu tidak bagus-bagus amat tapi aku punya antusiasme tinggi akan apa yang terjadi pada masa lalu. Setelah diceritakan secara gamblang propaganda pemerintah akan Gestapu, beberapa hari lalu aku juga diberi tahu intrik-intrik Hari Sumpah Pemuda yang dicetuskan oleh Presiden Soekarno. Pada 28 Oktober 1928 adalah hari berlangsungnya Kongres Pemuda Kedua. Kongres tersebut tidak pernah menghasilkan keputusan apa pun. Apalagi menghasilkan tiga bait Sumpah Pemuda yang amat terkenal itu. Istilah Sumpah Pemuda baru dikenalkan pada masa pemerintahan Soekarno. Penuturan temanku itu didukung oleh artikel dari Inilah.com. Tulisan dua tahun lalu tersebut menjabarkan bahwa tidak ada dokumen dan bukti sejarah otentik perihal Sumpah Pemuda.

"History has been written by the victors." Adagium tersebut konon dilontarkan oleh Winston Churchill. Ada pula yang mengatakan itu sudah lebih dulu dinyatakan oleh Napoleon. Siapa pun yang mengungkapkannya, kita tidak bisa tidak setuju dengan hal tersebut. Lalu, apa hubungannya dengan "Forgotten Colors" karya Valiant Budi?

17 September 2017

Penerbit Indie dan Penerbit Mayor Jalan Berbarengan

Edited by Me

Saat berada di Jogja beberapa waktu lalu, aku sempat mengobrol dengan teman komunitas yang merupakan salah satu editor penerbitan di sana. Tidak ingat bahasan apa yang kami obrolkan waktu itu, tapi ada satu kepingan obrolan yang masing terngiang dalam benak. Aku bertanya tentang beberapa buku terjemahan dari penerbit-penerbit indie. Sepengetahuanku, beberapa penerbit indie tidak hanya menerbitkan terjemahan klasik yang hak penerjemahannya sudah jadi ranah publik (public domain), tetapi juga buku-buku yang baru belasan tahun lalu diterbitkan di negara asal mereka. Temanku itu mengatakan secara gamblang bahwa kebanyakan dari penerbit indie di Indonesia tidak memikirkan hak penerjemahannya. Mereka hanya terjemahkan dan terbitkan. Bukan lagi rahasia, hal yang sama pun disampaikan oleh Teddy W. Kusuma dalam acara Beranda Sastra #9 Sabtu kemarin.

***

Intermeso sebelum melanjutkan topik penerbit indie itu. Belakangan ini, aku kerap menayangkan hal-hal yang menurutku penting untuk dibagi melalui Instagram Story. Saat acara Beranda Sastra #9, aku membagikan poster acara dengan catatan tambahan: "kalo nggak baca buku, nulis tentang buku, ya datang ke acara buku". Tak berapa lama, seseorang berkomentar "flat life". Di situ saya tertohok. Saya tahu dia, dia bahkan juga suka membaca. Mungkin itu adalah sikap impulsifnya. Atau mungkin dia bercanda. Banyak pengandaian yang saya pasang untuk mengurungkan rasa benci saya. Tapi, tidak bisa. Saya membalas, "Emang hidup lo nggak flat?"

Saking terpikirkannya pernyataan itu, saya sampai membagikan percakapan itu di Instagram Story. Beberapa teman pembaca meresponsnya. Seorang menimpali, "Kalau saya sih hidupnya round. Saya nggak percaya yang flat-flat. Apalagi flat earth." Sungguh respons yang bikin sedikit tergelak. Teman lain berujar, "Nggak tau sensasinya mungkin yang komentar, Raaf." Yang lain lagi berkata, "Kupikir itu malah seru banget. Beda orang beda kesukaan sih." Sampai pada pernyataan itu, aku diingatkan kembali betapa membaca buku adalah hobi. Sama dengan aku yang tidak hobi makan, rekan kerja saya itu juga tidak terlalu suka membaca. Satu respons terakhir dari seseorang yang menggenapi pernyataan sebelumnya: "balas gini aja, 'If I'm living pursuing things I like and love, how could it be flat?'" Lalu, apa intinya? Aku hanya ingin berbagi pengalaman saat suatu hal yang kamu sukai dinilai "flat life". Jadi, bijak-bijaklah dalam berkomentar.

13 September 2017

Mentertawakan Hidup Bersama Belajar Lucu dengan Serius

Judul : Belajar Lucu dengan Serius
Pengarang : Hasta Indriyana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2017
Dibaca : 12 September 2017 (via SCOOP)
Rating : ★★★★

"O, maaf, bagaimana kalian akrab
Dengan maaf? Apakah kalian
Teman-teman maaf?"

—Teman-Teman Maaf  (hal. 29)

Halo! Apa kabar, kawan? Menjadi orang yang punya resolusi dan harus menyesuaikan diri dengan keinginan tersebut sungguh melelahkan ya. Resolusi tahun ini untuk mempos ulasan lebih sering ternyata, bisa dibilang, gagal total. Tapi setidaknya, aku berusaha melakukannya minimal sekali sebulan. Tentu aku tidak menganggap resolusi dan menggenapinya adalah hal yang enteng. Malah aku hampir bertanya-tanya kenapa aku semakin jarang menulis padahal itulah keahlian yang seharusnya lebih banyak diasah. Bagaimana bisa terampil bila tidak dilakukan secara rutin dan kontinu? Lihat betapa hal itu harus dipikirkan. Aku tidak bisa tidak mengindahkan apa saja yang kuhadapi lebih-lebih masalah yang datang. Segalanya harus dipikirkan matang-matang. Rencana hari ini harus benar-benar jelas, harus ditulis di secarik kertas, agar tidak terlewat. Kalau tiba-tiba masalah datang, aku harus memiliki banyak jurus untuk menghadapinya dan menyelesaikannya.

Pandangan diriku yang kaku dan serius ditonjok begitu saja oleh "Belajar Lucu dengan Serius". Dinding kekakuan itu penyok dan membuatku harus cepat-cepat memilih jurus yang tepat untuk memperbaikinya. Itu yang seharusnya kulakukan. Tapi, dinding penyok itu sedikit demi sedikit kubiarkan. Toh hanya penyok kan? Tidak runtuh seluruhnya. Aku tidak bisa menjadikannya seperti semula. Pun ketika diperbaiki, pasti tidak akan sempurna seperti sedia kala. Aku hanya butuh membiarkannya, menerimanya, dan melanjutkan apa yang seharusnya kukerjakan. Atau bisa saja aku membuatnya lelucon. Atau membuat gambar dari hal penyok itu. Perlu rasanya untuk menertawakan diri sendiri bak Gusdur. Atau "menikmatinya dengan ringan sebagaimana punakawan" seperti yang disampaikan Hasta.